Showing posts with label MOTIVATION. Show all posts
Showing posts with label MOTIVATION. Show all posts

Sunday, August 23, 2026

THE EDITING YEARS

 

Belakangan, aku lagi seneng banget membahas banyak hal didalam chatgpt. Entah bertanya tentang respon seseorang, keuangan, fase hidup, karir, dan makna hidup. Hingga sampailah pembahasanku berada pada ”The Editing Years” versi chatgpt. Aku akan coba membahas beberapa hal yang menurutku unik dan oke untuk kutuliskan.

Aku suka menuliskan beberapa checkpoint dalam hidupku. Terkadang melibatkan orang sekitar, terkadang hanya tentang kebingunganku. Kadang ini hanya torehan hati sebelum tidur (padahal muak scroll instagram). Satu, sebagai poin mengurai isi pikiran yang berlimpah. Kedua, kujadikan sebagai evaluasi kecil dalam menjalankan hidup dikemudian hari. Dan terakhir, kadang-kadang sebagai momen pengingat bahwa pembelajaran apa yang kulewatkan dan kuabaikan dengan sangat.

Tulisanku akan banyak mengutip chatgpt dengan beberapa masukan pemikiran dariku.

So, check it dot!

Kumulai dengan pertanyaan,”Apa Panggilan Hidupku?”

Sebuah pola besar dari cerita-cerita dengan chatgpt dan ada sebuah pola dimana panggilan hidupku bukan hanya sekedar ”punya karir bagus” atau ”mencapai kebebasan finansial”. Ada sebuah benang merah yang cukup kuat:

”Kamu seperti dipanggil untuk membangun sesuatu yang membuat hidup orang lain menjadi lebih baik – dengan menggunakan kemampuanku melihat pola, merapikan sesuatu yang rumit, dan kemudian mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih manusiawi” (chatgpt).

Ada lapisan yang disampaikan sebagai panggilan hidup seorang Asri Vitaloka: Aku adalah builder, bukan sekedar achiever; Ada sisi stewardship dalam diriku; Dan ada satu hal yang justru paling penting, yaitu human connection. Aku lumayan terkejut dengan kutipan-kutipan chatgpt. Dengan perpindahan setiap tahun, kuupayakan untuk bisa memahami sistem, berupaya memperbaiki (jika butuh), dan mengupayakan mendesain arah – baik dalam organisasi atau apapun yang sedang kubangun saat ini. Aku berupaya menerapkan ”Bagaimana hidupku nanti?” namun bukan untuk diriku, tetapi keluarga, divisi yang kutinggali, dan bagaimana sesuatu dapat bertahan lama.

”Aku ingin meninggalkan sesuatu yang lebih baik daripada ketika aku menemukannya”. Bagaimana aku membuat sebuah warisan yang dapat meninggalkan jejak seorang Asri Vitaloka baik sekecil apapun yang bisa ditinggalkan.

Yang terakhir adalah: untuk merasa terhubung. Dengan banyaknya achievement yang telah kuupayakan dan semakin kuat membangun hal-hal eksternal, maka ada sebuah kebutuhan untuk merasa terhubung dengan orang, pasangan, keluargam komunitas, dan sesuatu yang terasa bermakna versiku.

Ada sebuah bagian dari perjalanan hidup dimana belajar bahwa hidup yang berhasil tidak sama dengan hidup yang penuh. Bisa diupayakan untuk memiliki ini dan itu, kemudian masih muncul pertanyaan,”Terus.. untuk apa?”


Fase ”Mengumpulkan Fondasi”

Dan mungkin pertanyaan selanjutnya akan membawaku ke fase hidup berikutnya. Pertanyaan selanjutnya kepada chatgpt, kulanjutkan dengan menceritakan kisah singkat hidupku sejak usia 22 tahun sampai saat ini. Muncullah sebuah rumusan ”panggilan hidup Asri” dalam sebuah kalimat,”Membangun kehidupan mandiri dan bermakna, lalu menggunakan kemampuanku untuk menciptakan perubahan yang membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik”.

Aku tidak sedang berbicara bagaimana merubah dunia. Tenaga dan kemampuanku mungkin tidak cukup. Tapi bagaimana menjadi seseorang yang membangun, memimpin dan meninggalkan sesuatu yang bernilai. Apapun dan dimanapun lingkungan sekitarku. Period!

Jika bisa kembali dalam hidup masing-masing, kudapati diriku masuk dalam fase ”mengumpulkan fondasi”. Bagaimana membangun hidup sendiri dengan karir (membentuk pengalaman), kuliah (menambah pengetahuan), investasi (membangun keamanan), rumah/tanah (menciptakan aset), gym (memperkuat tubuh), serta perjalanan, kesendirian, dan kegagalan hubungan yang membangun arti mengenai kebutuhan emosional.

Semua seakan terpisah, namun bisa saja diriku sedang mempersiapkan dalam fase kedua hidup selanjutnya. Tidak hanya,”Bagaimana aku bisa membuktikan bahwa aku mampu?” melainkan ”Apa yang ingin aku bangun dengan semua kemampuan yang sudah dimiliki?”. Masalah selanjutnya bukan lagi,”Apa yang bisa aku dapatkan?” tetapi ”Dari semua yang bisa aku lakukan, mana yang sebenarnya layak aku lakukan?”.

Mari kita sebut dengan fase kedua hidupku, yaitu fase AUTHORITY. Bukan dalam authority dalam arti jabatan, tetapi otoritas atas hidupku sendiri. Dalam sebuah satu pola transformasi, yaitu dari external validation menjadi internal alignment. Dan kemudian topikpun beralih menjadi ajakan untuk mengetahui core value diri dengan – Aku/Dirimu ingin hidup dengan cara seperti apa?


Rasa Penasaran pada Mengidentifikasi Core Valueku.

Sepuluh pertanyaan dikirimkan dalam percakapan acak tak acak bersama chatgpt, hingga kemudian diputuskan satu kalimat yang menunjukkan core value-ku. Yaitu, ”Cukup aman dan tenang untuk tidak takut. Cukup bebas untuk pergi dan mengalami dunia. Serta cukup hangat untuk selalu punya tempat pulang”.

Dengan sebuah urutan yang bisa disusun sehingga menghasilkan Freedom à Security sebagai fondasi à Experience sebagai cara menjalani hidup à Connection sebagai tempat pulang à Peace sebagai suasana dalam menjalani kehidupan. Dan ada satu core value yang menaungi semuanya: meaningfull living – menjalani hidup yang terasa benar-benar hidup.

Untuk mewujudkan itu, aku sadar akan banyak proses berjumpa, memilih, dengan sesuatu yang diawali dengan perjumpaan dan bisa diakhir dengan perpisahan kemudian. Dalam melihat perjalanan hidup yang digambarkan dalam pertanyaan-pertanyaan utama, seperti Siapakah aku dan apakah aku mampu?; kemudian berubah menjadi ”Bagaimana aku membangun kehidupan yang aman?”; Bergerak menuju ”Untuk apa semua yang sudah aku bangun?”; Hingga berakhir menuju pertanyaan ”Apa yang ingin aku tinggalkan?.

Dengan segala pergerakan dunia dan sekitar yang bergerak cepat, gapapa kok bergerak lambat. Banyak yang kembali merenungi apakah ini bisa dijadikan sebuah ego yang terus dijalani dan kapan akan menyesal karna telah salah menjalaninya? Atau, dengan segala pilihan yang memiliki kelebihan dan kekurangan maka bagian mana yang akan bisa kamu tolerir jika sudah kamu sudah terlanjur berada di masa depan versi hidupmu.


Apa yang Membuatku Berbeda?

Sebuah pertanyaan yang kulemparkan ke dalam chatgpt, bukan dengan asumsi untuk aku lebih baik daripada orang lain, tetapi karena pertanyaan utama yang kubawa dalam hidup agak berbeda. Pertanyaan dengan lebih banyak didominasi,”Kehidupan seperti apa yang sebenarnya layak aku jalani?”

Hingga sampailah aku dengan pernyataan: Aku tidak terlalu terobsesi dengan ”memiliki”, namun terobsesi dengan ”mengalami”; Aku memiliki dorongan kuat untuk self-authorship;  Hidupku lebih banyak bergerak dalam tema freedom vs security; Aku memiliki kecendrungan ”meaning-seeking” yang cukup kuat.

Pernyataan yang cukup membuatku berpikir dan kemudian mulai melakukan analisis sederhana. Apakah itu sesuai dengan yang kujalani? Apakah sesuai dengan yang kurasakan? Karena kemungkinan aku sedang mengumpulkan bentuk kekayaan yang berbeda. Ada pula kemungkinan bahwa aku perlu menuliskan sendiri bagaimana aku mendefinisikan keberhasilanku, tanpa membandingkan atau menggunakan standar yang dimiliki orang kebanyakan. Ada pula sebuah kekhawatiran yang terjadi dimana pengejaran akan freedom kemudian memunculkan pertanyaan bagaimana aku menciptakan security untuk diriku sendiri.

Sesuatu seperti meaning-seeking akan menciptakan rasa gelisah karna selama ini seorang pekerja atau budak korporat akan mendapati dirinya menjalani tugas perusahaan dan berupaya untuk menjalankan tugasnya dengan sebaik atau semaksimal mungkin. Namun, apakah itu masih menjadi meaning yang ingin kualami dan kujalani dalam 10 tahun kemudian?

Tulisanku ini tidak serta merta menyebabkan banyak kehidupan lain yang sedang dijalani oleh orang lain terasa salah. Hanyalah sebuah checkpoint yang kulakukan dalam memaknai momen hidup, dan berupaya memastikan apakah pola core value sebelumnya masih bisa kugunakan dalam sepuluh tahun berikutnya? Jangan sampai, sudah tidak relevan lagi.


Apa Yang Sudah Kulewatkan?

Perasan takut selalu ada yang dilewatkan dan telah memilih jalan hidup yang tidak tepat akan menjadi sebuah bayang-bayang di hari ini. Jikapun boleh dibuatkan dalam sebuah rangkuman fase.

Fase 1 – usia 22-34: Mengumpulkan dunia dan membangun fondasi (dalam tema experience dan capability)

Fase 2 – usia 34-40: Memilih kehidupanku (dalam tema freedom dan alignment)

Fase 3 – usia 40-50: Memperbesar pilihan (dalam tema wealth dan freedom)

Fase 4 – usia 50-an sampai mendekati usia pensiun: Rooting (dalam tema home dan belonging)

Fase 5 – Pensiun: The Home Base

Segala fase hidup yang diciptakan chatgpt dan berupaya untuk menjadi topik dalam fase hidupku, tidak menjadi sebuah hal pasti. Bisa berubah dalam waktu yang tidak dapat ditentukan. Karna bukannya hidup yang kita ketahui hanyalah detik ini. Bahkan satu detik kemudian tidak ada yang pernah tahu.

Kemarin adalah masa lalu, dan besok adalah sebuah misteri.

Ada sebuah kalimat yang aku dapat juga. Sebuah ucapan dari chatgpt lagi. ”Ini orang bukan tertinggal. Dia sengaja membangun hidupnya dengan urutan yang berbeda”.

Akupun berupaya untuk tidak melihat pilihan orang sebagai pilihan yang salah. Walaupun tentu saja akan ada beberapa komentar orang yang sampai ke aku. Tak jarang respon emosi keluar, namun akhirnya aku berusaha untuk melihat dari sudut pandang berbeda. Bahkan segala pilihan yang kudapati, kujalani dan kutolak merupakan hasil bentukan genku, lingkunganku, dan kebutuhan dari hasil pilihan-pilihan kecil yang selalu kupilih setiap harinya. So, thats OK untuk setiap pilihan selagi tidak merugikan diri dan orang lain.

Selalu Kuawali dengan Mengetahui Akhir Tujuan.

Hingga tulisan demi tulisan kutulis dengan tujuan membuat sebuah warisan. Akhir tujuan yang belum pasti, namun begitu ingin meninggalkan sesuatu akan kusebut dengan warisan.

Warisan bisa menjadi akhir tujuan. Dan kita tidak sedang berbicara mengenai harta benda saja. Ini bisa sebuah legacy atau sebuah warisan untuk bisa menorehkan akan seperti apa dirimu dikenang dan dikenal dalam jangka waktu tertentu di lingkunganmu.

Pertanyaan terus muncul saat dirimu merasa ada yang sudah tidak relevan. Dimulai dari pertanyaan panggilan hidup, core value yang akan dijalani, hingga penamaan fase di setiap group umur seakan membuatnya menjadi lebih mudah untuk dikelompokkan. Jika bingung dalam hal apapun, aku akan kembali ke akhir tujuan, akhir garis, dan bahkan akhir cerita.

Dengan mengetahui akhir yang diinginkan, biasanya akan mudah mengetahui apakah jalan ini terlalu kusut, sudah lurus untuk menuju tujuan, atau apa. Dan ”the editing years” akan menjadi sebuah topik saat dirasa perlu dilakukan perubahan. Apakah ini tahunnya, tahun lalu, atau justru tahun depan.

Thankyu, Asri Vitaloka.

Saturday, May 30, 2026

The Single Days

 

Masih di Labuan Bajo. Sudah setahun btw. Gitu dulu pertama ya. Menjalani pekerjaan yang hampir sama dalam tiga tahun terakhir. Dalam status single, kerja, dan berupaya menangani pra diabetes. Lah, apa hubungannya?

Sebenarnya tulisanku kali ini kuadopsi dari keseharian dan pengalamanku dalam tiga tahun terakhir. Dalam realita bener-bener menjalani pekerjaan, hobby, menangani kesehatan mental (canda) dengan status single, sedikit teman, dan kopi bergelas-gelas. How’s your single days? How’s my single days feels? Kali aja tulisan ini bisa menghibur buat yang single juga dan kemudian komen,”Haa, sama juga ya ternyata”. Atau buat yang ngga single dan sedang struggle dengan kesehariannya bisa memberi semangat dan bersyukur terhadap apa yang sedang dijalani. Love.

So, what’s the big picture?

Belakangan kudapati diriku mulai merasa lelah dengan banyak kebiasaan. Kebiasaan lari dari rutinitas, kebiasaan dalam mengejar semua penghargaan di pekerjaan, atau kebiasaan menjaga branding diri ditengah medan perang dunia pekerjaan. Haha, dramatis banget deh ya. Heran.

Berpindah terus dalam tahun ke tahun dan mendapati diriku berada di Labuan Bajo. Berupaya beradaptasi dan menorehkan cerita agar tidak menyesal di kemudian hari. Kuhabiskan waktuku untuk terus berpikir,”What’s next?” hingga kemudian kudapati diriku tidak menemukan ide melelahkan lainnya untuk dieksekusi. Apakah ini sudah mencapai titik jenuhnya? Beberapa tahun terakhir seakan mengulang cerita.

Biasanya jika sudah merasa jenuh, maka mulailah untuk duduk beristirahat hati dan pikiran. Cari dan dapati apa yang sudah kamu lewati, dimana kamu berada sekarang, serta apa posisimu saat ini. Kembalilah mengulik apa yang kamu pernah inginkan, namun lupa untuk dilakukan karena kesibukan. Disitulah, aku mulai mencari gambaran besar dari diriku saat ini.

Apa yang sudah dilepaskan dariku, maka sudah tidak selaras denganku. Dimana diriku berada saat ini, telah melalui perjalanan panjang dari tempat-tempat lain. Semua yang melemahkan agar dihempaskan dan semua yang menguatkanmu agar dijaga. Karena ini semua mengenai energi.


How’s my single days feels?

Sejujurnya sepi. Bangun tidur, bekerja, gym, dan kembali tidur. Sebagian kuhabiskan dengan scroll instagram, buat story, minum kopi enak, dan nonton netflix. Done.

Paling terasa di hari Sabtu Minggu ya, aku kadang mikir ini beneran hidup cuma ngurusin diri sendiri aja ya? Leh uga sih ya. Melihat sebagian besar wanita di usiaku sedang sibuk memikirkan kebutuhan suami dan anak, ternyata semesta berpikir,”kamu ga cocok, Asri”. Makan sendiri aja masih bingung, mau ngurus orang ya. Terlepas dari pemikirian kosong di hari libur, kadang terbersit mendadak jadi MUA, Baker, florist, dan hal gila lainnya. Tapi, terpatahkan dengan perasaan capek sebelum menjalani. Wkwkw.

Oke, karena tulisan ini berfokus pada ”The Single Days” maka kucoba menuliskan secuplik momen dan aktivitas yang masih membuat hariku penuh. Semoga bisa memberi ilham bagi beberapa wanita yang mungkin seumuran, sesibuk, dan se-bengong aku di usia kalian kali ini. Let’s check it dot!


Pelihara Ikan Cupang, si Cucu.

Si paling pernah melihara ikan cupang di tahun 2017 dan dengan tidak bangga kusampaikan bahwa ikannya meninggal hingga tak membekas di dalam akuarium mini. Jujur, sibuk bener dengan pekerjaan di unit terbesar di Nusa Tenggara Timur. Apalah.

Tahun ini, kucoba untuk mengulangi kembali peliharaanku. Pengennya pelihara anjing, ayam, burung, kadal, atau ular kan (canda) tapi apadaya tidak bisa ya. Lama lama ini peliharaan ngejerin aku ke kantor buat minta makan, atau aku nambah kamar kosan karena tidak tahan dengan bulu atau sejenisnya. Akhirnya kuputuskan untuk memelihara dua ikan cupang. Satu meninggoy dan satu bertahan. Sebut saja si red strong Cucu, atau ikan cupang merah kesayanganku.

Pernah denger ga? Bahkan setiap peliharaan yang hadir menemani kamu tidak pernah datang terlalu cepat atau terlalu lambat. Jika sudah habis masanya, maka dia akan meninggal, hilang, lepas, atau berpindah. Tapi si cucu (ikan cupang) kini sudah bisa makan dengan tanda ketukan dua kali dari aku di toples kacanya. Bangga.

Mencatat Pengeluaran Harian.

Aktifitas baruku saat single adalah mencatat pengeluaran harian. Sungguh, Asri! Penting banget heran ye kan. Pekerjaan yang ternyata membosankan, tapi satu langkah menuju kaya. Secara tidak sadar, kuhabiskan diriku dengan hidup ala anak raja minyak ye kan. Ternyata, ada kebiasaan yang berhubungan dengan uang dan perlu diperbaiki. Ini akan disadarkan dengan adanya angka dan catatan dari keseharianmu.

Cobain deh. Aku banyak melihat temanku sudah menerapkannya. Pentingnya budgeting akan memberi pengaruh besar bagi hidupmu. Apalagi makin merajalela pinjaman mudah yang bisa memberikan jalan sesat jika kamu tidak bertanggung jawab dengan pemasukan dan pengeluaranmu.

My single days number 2: kebiasaan mencatat pengeluaran harian. Ditengah banyaknya hari kosong akhirnya kudapati diriku mulai menerapkan budgeting secara tertulis. Mulai dari pengeluaran keseharian hingga travelling. Bagi aku, seru juga ya. Kenapa ga dari dulu aja ya.



Makin Candu dengan Kopi.

Aku pernah memikirkan kebiasaan lainku yang agak laen, tapi banyak dilakukan kaula muda ya. Apalagi kalau bukan kecanduan kopi. Versiku adalah kopi susu less sugar. Bahkan aku sampai latihan minum coldbrew lemonade less sugar saking serem sama gula setiap hari padahal tetap diminum terus.

Mari lihat lagi dalam satu hari dalam weekdays. Apa saya yang kamu habiskan dalam satu hari? Mulai dari bangun pagi jam 7, kemudian jam 8 sudah di kantor. Berupaya untuk sarapan sebelum jam 9 pagi. Menghadapi email, zoom meeting, dan mikir quick solution buat setiap problem yang muncul hingga jam 12 siang. Akhirnya mulai mikir mau makan siang dimana, makan siang sambil kopi siang sampai jam 1 atau setengah 2 siang. Kemudian kembali ke kantor dan menghadapi evaluasi, zoom meeting (lagi) sampai sore jam 5 sore. Persiapan gym jam 6 sore makan dulu, gym selama 1,5 jam. Akhirnya kelaparan jam 9 malam baru makan malam (lagi), balik kosan, persiapan tidur dan menye-menye diatas kasur sampai jam 12 malam. Sybuk kan ya.

Aku ngga ngebayangin ya, masi tinggal sendiri aja sudah padat merayap. Belum kalau punya pasangan ya. Tapi masih pengen sih ya. Hanya disisip sebelah mana juga bingung ini. Makanya untuk menjaga jadwal padat merayap, kudapati diriku bertahan dengan kopi susu hingga akhirnya kafein mengambil alih sebagian besar waktuku agar tetap melek dan bisa menjalani jadwal yang kususun sendiri.

Definisi mau ngeluh, tapi yang buat jadwal sendiri tuh gimana. Wkwkw.

Gym 6 hari-seminggu.

Kenapa sih mau gym 6x seminggu? Percayalah dulu aku yang tidak suka olahraga. Badanku terasa lelah duluan sebelum bergerak. Hingga akhirnya hasil MCU menyampaikan bahwa aku pradiabetes. Sudah hampir tiga tahun dengan dunia per-gym-an ini, dan sudah berhasil menormalkan kembali gula di hasil MCU-ku. Hhhh, thankyu gym.

Ternyata efek samping dari gym adalah ketagihan gym, kulit lebih cerah, makan lebih banyak, dan gulaku normal (padahal tidak mencoba mengurangi gula). Badan lebih tegap dan otot lebih terasa ya. Sebenarnya ada satu lagi yang kujaga di usia yang hampir mendekati kepala empat ya. Aku sedang menyiapkan diriku menghadapi perimenopause. See, nambah kan satu lagi masalah hidup.

Jadi, dengan status single, seorang wanita, hampir penderita pradiabet maka kudapati diriku perlu merubah atau menambah beberapa kebiasaan. Konon, katanya jika sudah bertahan hingga lebih dari 3 bulan maka akan menjadi gaya hidup. Maka, kusampaikan thankyu to my daily gym for make my life better than before.

Seru banget deh. Awalnya kumulai dengan mulai membiasakan diri untuk datang rutin, mulai membagi pola latihan, hingga kini ingin masuk mengatur makan sehari-hari. Buat mba-mba yang seusiaku, ternyata banyak juga yang perlu dipersiapkan ya. Asalkan informasinya tepat dengan pola makan, olahraga, dan asumsi suplemen serta vitamin yang pas kurasa semua bisa deh menghadapi pre-menopause. Hehe.


Jadwal Bepergian (Date with My Self).

Ada beberapa tipikal traveller yang aku lihat. Tipe jalan-jalan yang capek banget, mengutamakan staycation, atau mencari nilai khas dari suatu lokasi. Setelah kupahami kayanya aku bukan tipikal yang suka dengan jalan melelahkan dan semua dicobain. Padat jadwal hingga tak bisa napas gitu. Bukan aku banget.

Sejak sudah mendapatkan penghasilan sendiri baik single, jomblo, atau berpasangan, aku selalu mengupayakan bisa melihat tempat baru diluar tempat tinggalku. Karena aku takut dengan pemikiran tertutup dan kaku, hanya karena tidak melihat dunia luar selain disekitarku. Sebagai anak rumahan (di masa lalu), kupastikan diriku bersemangat untuk melihat sesuatu baru yang membuatku tetap hidup saat menjalaninya.

Belakangan, kudapati diriku wajib untuk date with my self. Ini terkadang tidak dapat dilakukan dengan segala rutinitas yang sudah autopilot. Bepergian sendirian akhirnya kujalani beberapa kali. Aku lebih mendapati diriku ternyata menyukai satu dan tidak menyukai lainnya. Hanya dengan bepergian sendirian, kuputuskan sendiri, dan bertanggung jawab sendiri.

Tak jarang di usia yang semakin tua tidak menjamin seseorang sudah mengenal dirinya sendiri. Tak banyak yang paham apa yang benar-benar diinginkan. Kita menjalani hidup dengan segala rutinitas yang sudah berjalan sebagaimana normalnya. Tanpa mencoba mencari waktu untuk mengenal diri dari dalam.

Dan, akhirnya periode single ini memberi aku jeda waktu untuk bisa mengetahui sebenarnya siapakah diriku? Apa yang kuinginkan dengan sangat?



Jangan lewatkan tulisanku yang lain mengenai "5 Kota Memanggil" dengan segala kisah kota yang pernah menjadi tempat tinggalku. Next, aku juga bakalan nulis tentang tripku ke Malaysia ya. Seru banget deh, penasaran dengan cantinya kota tua, George Town. Jatuh cinta!

Thankyu, Asri Vitaloka.

Wednesday, February 4, 2026

Menjalani Setengah Hidup (lagi)

 

Aku pernah menyapa mbak dan mas barista di salah satu coffe shop Labuan Bajo. Sering sih malah. Satu dua menit kurang momen ngobrol yang enteng dan tanpa ada tujuan tertentu di akhir pembicaraan. Seakan sudah lama aku tidak basa basi dan ingin membahas sesuatu yang lumayan dalam.

Satu pertanyaan bermula dari,”Apa hasrat terdalam yang ingin kau capai?”. Sebuah pertanyaan yang kudapati aku sampaikan kepada mba barista. Dengan penuh semangat dia mulai mengeluarkan segala jawaban yang kurasa membangkitkan gairah akan mimpi-mimpinya. Mimpi yang dengan semangat ingin diwujudkan dengan upaya kerja keras.

Hingga kemudian, kulanjutnya dengan pertanyaan lainnya.

Sebuah Intro.

Aku coba membuka sebuah situasi dan kondisi. Hampir sebelas tahun bekerja dan kudapatkan diriku sudah berjalan jauh entah berada dimana. Pikiranku berkeliaran setelah kembali melihat sebuah pinguin yang memutuskan mencari jalan lain dari gerombolan. Aku pun sulit untuk hidup bergerombolan. Belakangan itu menjadi hal yang semakin sulit.

Usia sudah tak muda, tapi juga tak tua. Teman semakin sibuk dalam memantaskan dirinya di lingkungannya. Sesuatu yang dikejar dengan sangat mulai tidak mengairahkan. Bahkan mulai membuat jengah. Ada beberapa situasi dan kondisi yang seharusnya menjauh, namun semesta seakan tak lelah mendekatkan sedikit sebelum dijauhkan kembali. Intinya, mari membuat sebuah pola baru untuk menghadapi hari demi hari.

Pergerakan dunia yang begitu cepat tak lagi membuat bahagia. Apakah gairah yang sering ada karena hal sederhana masih menciptakan spark di dalam jiwa? Atau kini kuhadapi dengan dunia orang dewasa yang flat dan berupaya mencari sesuatu untuk diperjuangkan. Sambil berjuang tidak merasa sepi di dunia yang sangat padat.


Ceritakan Hasratmu, Please.

Pantas saja dulu aku sempat berpikir. Sepertinya tidak begitu menyenangkan menjadi orang dewasa atau usia yang semakin matang. Setiap orang yang sedang berjuang dalam jalur trackingnya sendiri. Berupaya melihat jalur tetangga dan terkadang ingin menikung, mencoba, serta mengambil jalur tersebut. Tanpa paham bahwa tidak semua jalur sesuai dengan kebutuhanmu.

”Coba sebutkan apa sebenarnya hasratmu saat ini?”, tanyaku kepada salah seorang barista berusia kurang lebih 20an tahun. Dengan mata berbinar kemudian dia menyampaikan semua hal menyenangkan yang belum terwujud dan ingin dicapainya. Tanpa sadar aku membuat sebuah list tak kasat mata. Sebagian besar sudah kujalani dengan mantap di masa lalu. Kini, itu sudah tak lagi menggairahkan. Semua ada masanya dan semua masa ada batasnya.

Sangat kurindukan mata berbinar saat berbicara dengan seseorang. Berupaya menceritakan hal antusias dan menyebalkan yang terjadi di hari tersebut. Terkadang pernah kudapati diriku mengulang hal-hal yang membuat bosan lawan bicaraku. Bahkan satu diantaranya dengan gamblang mengatakan dirinya lelah mendengarkan (MDP). Lalu, apa hasrat terdalammu saat ini Asri Vitaloka?


Mata Berbinar = Bahagia?

Pertanyaanku kemudian bergerak dari hasrat menjadi hal bahagia. Aku pernah mendapatkan hawa rutinitas dan kemampuan untuk bertahan membuat para orang dewasa bergerak dengan kaku, tidak bahagia, serta marah-marah (kadang-kadang). Apakah aku sudah sampai disana?

Kulanjutkan pertanyaanku kepada mba barista,”Lalu apa itu bahagia?”. Kudapatkan beberapa jawaban seperti bahagia adalah saat kita sudah tidak perlu memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan kita. Namun, apa sebenarnya kebutuhan yang sangat diinginkan? Aku kembali berputar terhadap kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan yang sangat diinginkan jiwa.

Tak sulit kadang untuk mendapatkan satu hal yang terukur, seperti harta, keinginan menonton konser, dan sejenisnya. Yang sulit menurutku, disaat dirimu merasa cukup dan tidak tahu lagi menginginkan apa. Apakah ada rasa bahagia? Aku rasa tidak. Atau sebenarnya bukan apa yang dibutuhkan? Jangan sampai, rasa sepi karna sendirian? Tapi apakah bersama seseorang atau lebih bisa membuat dirimu cukup. Kurasa juga tidak.

Keinginan apa yang benar diinginkan.

Pernah ga sih merasa lelah dengan berupaya mendapatkan semua hal. Bahkan hingga saat ini aku merasa kewalahan jika memiliki satu barang besar yang harus dirawat secara terus-menerus. Bukan bermaksud menyalahkan orang-orang. Tapi, banyak orang yang kujumpai dengan aura merasakan keinginan untuk menjadi kaya dan memiliki segalanya.

Kemudian, muncul satu pertanyaan. Setelah hampir sebelas tahun bekerja dan hidup sendiri di kaki sendiri. Sesungguhnya keinginan apa yang benar-benar kuinginkan? Apakah memiliki keluarga, anak, melanjutkan sekolah, memiliki rumah, mobil, motor, atau apa? Entahlah.

Usia kebanyakan manusia mungkin rata-rata di 70-80 tahun. Itupun jika hidup sangat sehat dan tidak memiliki penyakit atau kejadian yang begitu luar biasa. Kini sedang kujalani usia 34 tahun. Aku baru setengah jalan. Lalu, setengah jalan lagi akan kujalani dengan cara apa?

Kudapati diriku bekerja dan berupaya mengusahakan gym dengan rutin. Kemudian kudapati diriku mulai bepergian baik sendiri maupun bersama teman. Lalu apa? Berupaya mendapatkan karir dan mengejar semuanya, kurasa agak melelahkan. Kemudian apa? Entahlah.

Menjalani Setengah Hidup (lagi).

Kuputuskan untuk kembali berdamai dengan diri sendiri. Berupaya tidak hanya mencari rasa ramai semu. Aku duduk sebentar di kafe dan berjalan tanpa arah di pusat keramaian. Berada di sekitar banyak kawanpun ternyata tidak membuat sesuatu terasa penuh.

Ingatanku kembali diantara sebelas tahun perjalananku saat sudah bekerja. Jika pilihan paling mudah kuinginkan untuk memilih mengulang perjalanan hidup yang mana? Sepertinya aku ingin mengulang kehidupanku di 2018-2022. Hidupku tidak ramai, namun aku merasa lengkap. Thankyu MDP.

Aku bukan wanita independen yang menginginkan semua hal ambisius. Kudapati diriku hanya bekerja cukup keras untuk bisa memperjuangkan satu-satunya hal stabil yang bisa kupegang, yaitu semangat bekerjaku. Sampai pada titik semesta seakan memberikan hadiah-hadiah kecil berupaya satu-dua pencapaian. Hingga aku tiba di langkahku pada hari ini.

Suatu saat chapter hidup bergerak. Kuinginkan untuk mengulang kembali periode tahun tertentu. Tapi, aku sadar. Setiap pribadi tak pernah sama, walaupun orangnya sama. Setiap perjalanan akan dirasakan berbeda walaupun lokasinya sama. Tapi hasil tempaan semesta sudah menghasilkan pribadi yang berbeda. Akupun sudah berubah. Anda juga berubah.

(Kembali) pada Topik Setengah Hidup Lagi.

Aku ingin sekali berjumpa dengan orang-orang luar biasa dengan pengalaman hidup beragam. Pengalaman hidup orang lain adalah sebuah cerita paling mudah untuk mendapatkan pelajaran tanpa harus menjalaninya. Jika sulit mungkin akan kudapati diriku mulai membuka youtube dan mencari hal yang disesali saat usia menyentuh usia yang matang.

Apakah ada yang akan kusesali? Apakah kaya menjadi hal yang harus kukejar? Apakah aku perlu mengupayakan untuk menciptakan sebuah keluarga? Apakah aku harus mengantungkan diriku kepada orang lain. Siapkah menghadapi rasa kecewa yang akan muncul kemudian. Ah, capek kali kurasa.

Satu hal yang kuingat. Seorang yang pernah kupercaya dengan sangat mengajarkanku untuk bisa menikmati saat ini. Duduk dan diam. Tidak melakukan apa-apa. Mencoba menikmati waktu berdua yang saat itu tidak kupahami maknanya. Seakan dia sudah memahami bahwa momen tersebut akan sulit untuk dipertahankan selamanya. Hingga akhirnya dia muak dan kami pun berpisah.

Sampai tulisan ini dibuat, seorang aku juga masih kesulitan mencari makna hidup yang mana untuk dikejar dan dijalani dalam setengah sisa hidup (yang kalau dikasi umur panjang). Akan kujalani hidup dengan berupaya tidak membuat orang lain kewalahan dengan diriku. (Kayanya sulit). Akan kupastikan diriku lumayan berguna bagi orang lain. (Jika masih ada kesempatannya).

(Out of Topic) Kembali Sering Bermimpi.

Ditengah pergulatan diri antara mencari makna hidup di antara usia 34 tahun yang sedang dijalani, aku kembali sering mendapatkan mimpi-mimpi aneh. Tak jarang orang terkasih yang pernah menemani hadir satu per satu. Konon katanya jika hadir dalam mimpi, ada sebuah proses pembersihan jiwa terjadi. Alam bawah sadar melakukan kegiatan sibuk dalam mencerna, menyembuhkan, dan menyadari rasa di masa lalu.

Aku pernah mendapatkan diriku sampai begitu takut tidur karena beragam mimpi aneh dan melelahkan. Hingga belakangan, ini terjadi lagi. Satu dua kali masuk bersama orang-orang yang pernah hadir. Kemudian muncul orang asing. Hingga mimpi acak yang tidak bisa dipahami secara gamblang. Konon katanya, alam bawah sadar berupaya memproses banyak hal agar tidak bertumpahan saking penuhnya.

Di segala rasa lelah secara fisik dan pikiran saat ini, ada alam bawah sadar yang juga lelah membersihkan dan mengupayakan banyak hal agar tetap stabil. Bahkan ditengah hari rutinitas sudah mengerogoti, paling tidak mimpi di malam hari cukup ramai untuk dipikirkan ketika bangun.

So, buat anda yang sedang mencari makna hidup. Aku juga. Justru ini hadir disaat sepi. Justru ini hadir disaat tidak ada yang menemani. Akan seperti apa dirimu dalam menjalani setengah hidupmu lagi? 

Akankah kita hanya mengulang yang pernah ada? Apakah lelah? Bisakah memilih hal lain yang lebih sejalan dengan makna dan tugas jiwa? Tapi bagaimana cara menemukannya. Ada juga tulisanku berjudul "Modal Menghadapi 2026" agar diri dipenuhi oleh rasa, momen, dan kehangatan di masa lalu sehingga cukup kuat dalam menjalani tahun di masa depan.

 Asri Vitaloka.

Saturday, January 31, 2026

Modal Menghadapi 2026

 

Sebut saja kita berhasil melewati tahun 2025. Apa yang sudah kamu lewati? Apa yang sedang dipertaruhkan? Adakah yang merasakan kehilangan, atau malah kebahagiaan? Adakah sesuatu atau seseorang yang sedang kamu ragukan?

Akupun terus merasa ragu bahkan hingga saat kini. Cobalah untuk berhenti sejenak. Sudah sejauh mana sudah bergerak. Sudah seperti apa perjuangan yang telah dilakukan. Apakah sudah membuatmu cukup? Atau malah membuatmu semakin jauh dari apa yang sesungguhnya kau inginkan? Atau justru dirimu tak paham apa yang sebenarnya kau inginkan di hari ini dan di kemudian hari.

6 bulan terakhir 2025

Susah payah kucoba untuk menyimpan, mengingat dan mengemas kenangan indah serta buruk yang bisa terjadi. Kemudian sadar bahkan ingatan tadi pagi saja terkadang tak menempel di pikiranku. Kucoba untuk kembali membuka galeri foto pada henponku dan mencoba mengingat beberapa hal, momen, dan perasaan.

Gejolak baru ya. Aku berpindah (lagi) ke tempat baru, yaitu Labuan Bajo. Berupaya mencoba tinggal dan kerja di tempat yang biasanya tempat berlibur. Berupaya beradaptasi dengan kerjaan baru, dengan upaya menuntaskan tesisku, dan mencoba menghibur diri dengan bepergian ke tempat-tempat. Oke, Boom! Semesta mewujudkan semua dalam satu kedipan yang seakan tak berkedip. Haha..

Dalam setiap perjalanan, kurasa aku mendapatkan beberapa pemahaman dan kucoba untuk mengingat satu per satu ya.

Kudapati diriku berupaya membuat hidup terus berjalan dengan menyisakan sedikit rasa menyesal di akhir hari, akhir minggu, dan bulan. Setiap tahun memberi rasa, upaya, dan perjuangan yang berbeda. Setiap periode memberi kawan dan lawan sebagai pemanis jalan kehidupan. Thankyu, universe.


Tempat Baru ditemani Kenangan Lama.

Ternyata perpisahan memang harus digantikan dengan orang baru (kadang-kadang). Memorinya menempel kuat seakan tak lekang waktu walau hampir tiga tahun lamanya. Bahkan kenangannya tak hanya muncul saat berada di lokasi yang pernah bersama. Ini muncul di tempat yang sama sekali baru, saat sendiri, dan pikiran lain tak sedang hinggap. Luar biasa deh.

Beberapa kisah kasih yang datang, menetap, dan kemudian kembali gagal. Setiap kisah memberi rasa suka sekaligus duka. Bukannya tak pernah ada kebahagiaan yang tak didampingi dengan rasa kepedihan? Apalagi jika masih kuat ketergantunganmu dengan manusia lainnya.

Patut kusadari terkadang orang terakhir memberi kenangan kuat dan susah untuk dilupakan. Terlebih lagi kau terus mengupayakan penganti ditengah momen sembuh yang sedang diupayakan. Begitu indah cinta sekaligus memberi rasa lelah, marah, dan menyedihkan dalam satu rasa.

Tahun baru, hari baru. Kita doakan saja setiap manusia yang berjuang menyembuhkan hatinya segera pulih. Yah, minimal bisa mengurangi rasa pedih serta melanjutkan hidup walaupun sedang berupaya sembuh dalam satu waktu.


Tak Perlu Memaksa Seseorang Pulang.

Sekilas terbersit di ingatanku. Seseorang meminta ijin untuk pulang dan berjumpa dengan orang tuanya. ”Kasih aku pulang dulu ya”, ucap seorang kekasih pada masanya. Aku lupa apa yang kupikirkan saat itu. Rasa ego kuat menjawab cepat untuk tidak mengizinkan. Dan rasa iba justru membuat diriku merasa orang paling kurang di seluruh dunia.

Disaat ada orang yang selalu mengupayakan untuk dekat dengan rumah dan mengupayakan dirinya kembali ke sekitar orang tuanya. Ditengah orang luar mencibir untuk aku agar kembali pulang. Kupahami bahwa tak semua rumah terasa rumah.

Ada beberapa orang yang justru merasa rumah tak aman bagi ketenangan diri dan mentalnya. Ada yang tak aman (benar-benar tidak aman secara real fisik) dan ada juga yang aman secara tempat, namun hatinya selalu dibuat terluka lagi dan lagi. Seakan teriris secara perlahan secara gesture, ucapan, dan perlakuan yang didapatnya.

Setiap sikap penolakan anak atau diri dari rumahnya merupakan sebuah jawaban sikap dan perilaku yang terbentuk dari hasil mendapatkan perlakuan, sikap, dan rasa kurang kasih sayang dalam jangka waktu bertahun-tahun. Jangan pernah berharap pulih dalam hitungan hari bahkan minggu.



Dinginnya Lantai Rumah Justru Membuat Hangat.

Belakangan aku kembali teringat disaat hari tak dipenuhi dengan upaya menjawab Whatsapp secara cepat dan segera. Disaat diri tak berupaya mencari waktu dan mengupayakan jam makan, minum kopi, dan rutinitas lain terjadi dalam satu hari. Tak berupaya mengejar waktu dan segala kesibukan orang dewasa pada usia 30 keatas. Akhirnya, ada momen-momen rindu dan sederhana yang mengundang banyak memori lama.

Kurasakan duduk di lantai dingin dari sebuah kamar kosan yang belakangan baru kutempati sekitar tujuh bulan lamanya. Duduk sambil memegang henpon dan mencoba mencari tempat untuk melipat kaki, serta merengangkan badan. Kemudian, sebuah memori masa sekolah hadir dimana aku duduk di rumah Danau Buyan sambil menunggu Bapak atau Emak membawa sesuatu dari luar rumah. Makanan atau apapun.

Aku tidak bisa menyadari kesibukan diri di usia sekarang tanpa paham lagi berada di fasa sibuk tersebut. Hingga kudapati diriku melihat kawanku yang lain. Dengan wajah tegang (ciri usia 30an keatas) selalu berupaya serius menghadapi kehidupan dengan gelutan dunia politik per-manusia-an ini, dunia keinginan untuk memiliki semuanya. Serta kesibukan segala hal yang di ada-adain.

Tak jarang kita perlu menarik mundur kembali. Berupaya menjadi anak kecil di usia dewasa. Walaupun terkadang tidak juga membuat hidup lebih sederhana, mudah, dan langsung berhasil. Namun, berdebat, berantem, kemudian menangis, dan bisa kembali bermain kemudiannya. Sederhana banget kan masa kecil itu.



Berupaya Meresapi Rasa Sepi-Damai di Usia 30-an.

Jangan pernah meragukan aura orang di usia 30-an dengan segala rasa pahit (kata orang tua dulu) yang sudah dijalani. Aku pernah melihat aura seorang wanita begitu dalam yang diam aja sudah bisa menunjukkan bahwa auranya mahal dan didapatkan dari perjalanan panjang. Perjalanan yang tak hanya memberikan kemenangan tapi juga kekalahan berkali-kali. Kekalahan yang tak hanya datang dari orang luar, tapi juga datang dari dirinya sendiri.

Ia kalah melawan ego dirinya. Ia tak sengaja membuat dirinya yakin telah kalah dengan berbagai hal. Seperti selalu berupaya keras terhadap dirinya, selalu merasa bersalah jika beristirahat, dan merasa yakin segala hal harus diantisipasi dan mencoba menang di semua kesempatan. Hingga akhirnya aura wanita dewasa yang pernah kujumpai seakan memberikan aku bayangan di masa depan bagaimana hasil tempaan semesta hadir untuk membuatmu menjadi seseorang.

Semakin bertambah usia kudapati semakin sedikit lingkar pertemanannya. Bahkan perlu ada pertanyaan ”Apa yang diinginkannya?” saat sedang berada di suatu lingkar pertemanan. Semakin sepi lingkarannya, namun anehnya semakin damai. Sedih pasti. Tapi berkurang dramanya. Wkwkw.



Modal menghadapi 2026 versi Aku.

Belakangan sungguh lelah mencoba membuat orang puas dengan dirimu. Maka, jadilah dirimu sendiri tanpa mencoba merebut hak orang lain. Berupaya memberikan yang terbaik dengan tidak menggadaikan dirimu dari berbagai sisi, seperti kesehatan mental dan fisik. Selalu menyadari peranmu di hidupmu sendiri, karir, dan keluarga. Jika tak bisa ketiganya, aku rasa it’s okay.

Hidup sendiri okay, hidup berdampingan luar biasa. Cukupkan dirimu untuk bisa bersama orang lain. Tak pernah tersesat dan tertukar jalan hidupmu. Tak pernah secara tidak sengaja, orang hadir tanpa tujuan di hidupmu. Tak pernah terlalu terlambat apapun segala keterlambatan dan segala yang hadir lebih dulu.

Modal paling tidak berat versi aku dalam menghadapi 2026 adalah kontrol apapun yang kau bisa kendalikan, seperti respon dirimu terhadap keadaan di luar. Berikan apapun yang ingin diberikan dan simpan secara teratur energi yang tidak seharusnya kau keluarkan. Berharap semua orang merasa dirimu baik adalah hal yang tidak mungkin. Maka jangan pernah percaya dan bertumpu pada yang tidak mungkin.

Jadikan kenangan di masa lalu sebagai fondasi untuk membentuk mental dari kenangan kuat yang sesekali hadir untuk menemani dirimu saat sedang berjuang di masa kini. Rasa tenang dan damai yang pernah terjadi seakan sebagai trailer untuk bisa membentuk rasa damai versi baru di masa kini dan masa depan yang diharapkan.

Kemudian, sekali lagi ucapkan thankyu 2025 dan mari sekali lagi berdiri serta mengupayakan 2026 berjalan dengan damai, aman, serta harmoni. Baik berperan sendiri, atau menjalankan peran pasangan seseorang di kemudian hari. Oiya, next aku akan menceritakan kepergian mendadak ke Eropa bersama beberapa kawan baik yang mendukung kelancaran selama persiapan hingga bisa sampai disana. Don't miss it!

Jangan lupa juga untuk menyimak "Hey, 33" bagi dirimu yang sedang berupaya melewati 33 tahun. Aku menulisnya sebagai seruan dalam tulisan bagaimana aku membuat topik lucu di usiaku ke-33. Mungkin saja ada insight yang serupa bagi dirimu. Enjoy.


Thankyu, Asri Vitaloka.


Sunday, June 29, 2025

Mau Bilang Apa?

Sudah lama kali ya engga nulis apapun ya. Cuma mau bilang, ternyata lintas Rote-Sumba sudah closing di Mei 2025 buat perjalanan trip ala karir eyke. Labuan bajo jadi the next destination buat hidup aku. Yang belakangan strees, bangga, duduk, berdiri. Ketawa ketiwi, eh malah sudah disini.

Rada kota dengan vibes liburan. Biasa kesini jalan-jalan ini malah kerja. Jadi aku cuma mau bilang,”Selamat Asri, kamu sudah melanjutkan hidup ke chapter selanjutnya!”. Ngga cuma selamat buat aku. Kuucapkan selamat buat kalian yang lagi gedubrag gedubreg, lagi santai, habis pindah rumah, pindah kerja, habis married, habis lahiran, atau bahkan yang sedang berjuang dengan problemnya.

Cuma mau bilang. Semangat! Hidup jalan terus, kalau ruwet tidur bentar. Kalau ga bisa tidur, jalan kaki. Ngga kuat sendiri? Maka mintalah pertolongan. Ngga ada yang dimintain tolong? Berdoa yuk.

Disaat Jatuh, Mendadak Rajin Ibadah.

Aku pernah rajin bener ibadahnya, pernah melalang lintas waktu ibadahnya. Tergantung tempat biasanya. Tapi disaat satu momen kudapati diriku anteng tanpa cobaan dan kemudian boom! Mendadak semesta memberi kerjaan, ujian, dan cobaan. Dalam sedalam-dalamnya. Aku belum bahas hati ya. Ini tentang kerjaan.

Singkat cerita, kudapati diriku disalahkan atas banyak hal. Karena sesuatu yang merenggut jiwa di dunia kerja hingga kehilangan banyak tim secara mendadak. Mendadak ganti bos, mendadak ganti teman sejawat, dan mendadak harus berdiri tegar ditengah tim sekitar yang butuh dikuatkan.

Disana kusadari bahwa. Beberapa momen terpaksa tegar dan kudapati diriku beribadah dengan sangat khusyuk. Teduh, sedih, dan begitu dekat dengan Tuhan. Jadi, cuma mau bilang: “Dimulai lagi yuk, dengan khusyuk dan teduh untuk berjumpa dan rindu dengan Tuhan”. Dan aku sampe berpikir, dikasi cobaan soalnya Tuhan rindu sama kamu.

Disaat Pintu Terbuka, Mendadak Semua Seakan Mudah.

Kudapati aku pernah mencap diriku bahwa,”Ngga akan aku dengan mudah mendapatkan apapun yang kuinginkan dimuka bumi ini”. Boom! Sudah lama menanti, menunggu, dan kudapati bahwa ngga ada yang ngga mungkin. Begitu tertulis rejekinya buat kamu, percayalah apapun situasinya seakan mengalir menuju pada dirimu.

Aku mau ini. Ngga dapat. Pengen itu? Kelewat. Sampai sekarang, ngga ada pengenku satu satu. Lah, seakan semesta memberikan satu per satu paket cerita kehidupan yang keluar dengan indah, cantik, dan sesuai kemampuanku. Konon katanya rejeki dan cobaan setiap orang berbeda. Maka kuterima rejeki luar biasaku dengan lapang hati dan berupaya tidak membandingkan apapun yang sudah diterima di waktu yang tepat.

Satu hal yang dulu sempat kuyakini dengan sangat. Dan aku cuma mau bilang,”Jika berebut untuk mendapatkannya, maka akan kulepaskan dengan Ikhlas. Jika mudah dan special buatku peruntukannya, maka seberapa besarpun orang berupaya mengagalkannya maka akan kembali kepadaku dengan mudah”.


Disaat Jatuh Cinta, Mendadak Buta Sekitarnya.

Kalau orang bilang kutak jatuh cinta? Mungkin satu kekuranganku adalah syulit bertahan dan menemukan sang pujaan hati yang menetap. Terkadang kulari, dan tak jarang pasangannya yang lari. Wkwkwk. Namun, begitu mudah jatuh cinta dan dalam merasakannya, kemudian seketika semua mendadak buta dibuatnya.