Belakangan, aku lagi seneng banget membahas banyak
hal didalam chatgpt. Entah bertanya tentang respon seseorang, keuangan, fase
hidup, karir, dan makna hidup. Hingga sampailah pembahasanku berada pada
”The Editing Years” versi chatgpt. Aku akan coba membahas beberapa hal yang menurutku unik dan oke untuk kutuliskan.
Aku suka menuliskan beberapa checkpoint dalam
hidupku. Terkadang melibatkan orang sekitar, terkadang hanya tentang kebingunganku.
Kadang ini hanya torehan hati sebelum tidur (padahal muak scroll instagram). Satu,
sebagai poin mengurai isi pikiran yang berlimpah. Kedua, kujadikan sebagai evaluasi kecil dalam
menjalankan hidup dikemudian hari. Dan terakhir, kadang-kadang sebagai momen
pengingat bahwa pembelajaran apa yang kulewatkan dan kuabaikan dengan sangat.
Tulisanku akan banyak mengutip chatgpt dengan
beberapa masukan pemikiran dariku.
So, check it dot!
Kumulai dengan pertanyaan,”Apa Panggilan Hidupku?”
Sebuah pola besar
dari cerita-cerita dengan chatgpt dan ada sebuah pola dimana panggilan hidupku
bukan hanya sekedar ”punya karir bagus” atau ”mencapai kebebasan finansial”.
Ada sebuah benang merah yang cukup kuat:
”Kamu seperti dipanggil untuk membangun sesuatu
yang membuat hidup orang lain menjadi lebih baik – dengan menggunakan kemampuanku
melihat pola, merapikan sesuatu yang rumit, dan kemudian mengubahnya menjadi
sesuatu yang lebih manusiawi” (chatgpt).
Ada lapisan yang
disampaikan sebagai panggilan hidup seorang Asri Vitaloka: Aku adalah builder,
bukan sekedar achiever; Ada sisi stewardship dalam diriku; Dan ada
satu hal yang justru paling penting, yaitu human connection. Aku lumayan
terkejut dengan kutipan-kutipan chatgpt. Dengan perpindahan setiap tahun,
kuupayakan untuk bisa memahami sistem, berupaya memperbaiki (jika butuh), dan
mengupayakan mendesain arah – baik dalam organisasi atau apapun yang sedang
kubangun saat ini. Aku berupaya menerapkan ”Bagaimana hidupku nanti?” namun bukan
untuk diriku, tetapi keluarga, divisi yang kutinggali, dan bagaimana sesuatu dapat
bertahan lama.
”Aku ingin meninggalkan sesuatu yang lebih baik
daripada ketika aku menemukannya”. Bagaimana aku membuat sebuah warisan yang
dapat meninggalkan jejak seorang Asri Vitaloka baik sekecil apapun yang bisa
ditinggalkan.
Yang terakhir
adalah: untuk merasa terhubung. Dengan banyaknya achievement yang telah
kuupayakan dan semakin kuat membangun hal-hal eksternal, maka ada sebuah
kebutuhan untuk merasa terhubung dengan orang, pasangan, keluargam komunitas,
dan sesuatu yang terasa bermakna versiku.
Ada sebuah bagian dari perjalanan hidup dimana
belajar bahwa hidup yang berhasil tidak sama dengan hidup yang penuh. Bisa
diupayakan untuk memiliki ini dan itu, kemudian masih muncul pertanyaan,”Terus..
untuk apa?”
Dan mungkin pertanyaan
selanjutnya akan membawaku ke fase hidup berikutnya. Pertanyaan selanjutnya
kepada chatgpt, kulanjutkan dengan menceritakan kisah singkat hidupku
sejak usia 22 tahun sampai saat ini. Muncullah sebuah rumusan ”panggilan hidup
Asri” dalam sebuah kalimat,”Membangun kehidupan mandiri dan bermakna, lalu
menggunakan kemampuanku untuk menciptakan perubahan yang membuat kehidupan
orang lain menjadi lebih baik”.
Aku tidak sedang berbicara bagaimana merubah
dunia. Tenaga dan kemampuanku mungkin tidak cukup. Tapi bagaimana menjadi
seseorang yang membangun, memimpin dan meninggalkan sesuatu yang bernilai.
Apapun dan dimanapun lingkungan sekitarku. Period!
Jika bisa kembali
dalam hidup masing-masing, kudapati diriku masuk dalam fase ”mengumpulkan
fondasi”. Bagaimana membangun hidup sendiri dengan karir (membentuk
pengalaman), kuliah (menambah pengetahuan), investasi (membangun keamanan),
rumah/tanah (menciptakan aset), gym (memperkuat tubuh), serta perjalanan,
kesendirian, dan kegagalan hubungan yang membangun arti mengenai kebutuhan
emosional.
Semua seakan
terpisah, namun bisa saja diriku sedang mempersiapkan dalam fase kedua hidup
selanjutnya. Tidak hanya,”Bagaimana aku bisa membuktikan bahwa aku mampu?” melainkan
”Apa yang ingin aku bangun dengan semua kemampuan yang sudah dimiliki?”. Masalah
selanjutnya bukan lagi,”Apa yang bisa aku dapatkan?” tetapi ”Dari semua yang
bisa aku lakukan, mana yang sebenarnya layak aku lakukan?”.
Mari kita sebut
dengan fase kedua hidupku, yaitu fase AUTHORITY. Bukan dalam authority dalam arti jabatan, tetapi
otoritas atas hidupku sendiri. Dalam sebuah satu pola transformasi, yaitu dari
external validation menjadi internal alignment. Dan kemudian topikpun beralih
menjadi ajakan untuk mengetahui core value diri dengan – Aku/Dirimu ingin hidup
dengan cara seperti apa?
Sepuluh
pertanyaan dikirimkan dalam percakapan acak tak acak bersama chatgpt,
hingga kemudian diputuskan satu kalimat yang menunjukkan core value-ku. Yaitu,
”Cukup aman dan tenang untuk tidak takut. Cukup bebas untuk pergi dan mengalami dunia. Serta
cukup hangat untuk selalu punya tempat pulang”.
Dengan sebuah urutan
yang bisa disusun sehingga menghasilkan Freedom à Security sebagai fondasi à Experience sebagai cara menjalani
hidup à Connection
sebagai tempat pulang à Peace sebagai suasana dalam menjalani
kehidupan. Dan ada satu core value yang menaungi semuanya: meaningfull
living – menjalani hidup yang terasa benar-benar hidup.
Untuk mewujudkan
itu, aku sadar akan banyak proses berjumpa, memilih, dengan sesuatu yang
diawali dengan perjumpaan dan bisa diakhir dengan perpisahan kemudian. Dalam melihat
perjalanan hidup yang digambarkan dalam pertanyaan-pertanyaan utama, seperti Siapakah
aku dan apakah aku mampu?; kemudian berubah menjadi ”Bagaimana aku
membangun kehidupan yang aman?”; Bergerak menuju ”Untuk apa semua yang
sudah aku bangun?”; Hingga berakhir menuju pertanyaan ”Apa yang ingin
aku tinggalkan?.
Dengan segala pergerakan dunia dan sekitar yang
bergerak cepat, gapapa kok bergerak lambat. Banyak yang kembali merenungi
apakah ini bisa dijadikan sebuah ego yang terus dijalani dan kapan akan
menyesal karna telah salah menjalaninya? Atau, dengan segala pilihan yang
memiliki kelebihan dan kekurangan maka bagian mana yang akan bisa kamu tolerir
jika sudah kamu sudah terlanjur berada di masa depan versi hidupmu.
Sebuah pertanyaan
yang kulemparkan ke dalam chatgpt, bukan dengan asumsi untuk aku lebih
baik daripada orang lain, tetapi karena pertanyaan utama yang kubawa dalam
hidup agak berbeda. Pertanyaan dengan lebih banyak didominasi,”Kehidupan
seperti apa yang sebenarnya layak aku jalani?”
Hingga sampailah
aku dengan pernyataan: Aku tidak terlalu terobsesi dengan ”memiliki”, namun
terobsesi dengan ”mengalami”; Aku memiliki dorongan kuat untuk self-authorship;
Hidupku lebih banyak bergerak dalam
tema freedom vs security; Aku memiliki kecendrungan ”meaning-seeking”
yang cukup kuat.
Pernyataan yang
cukup membuatku berpikir dan kemudian mulai melakukan analisis sederhana.
Apakah itu sesuai dengan yang kujalani? Apakah sesuai dengan yang kurasakan? Karena
kemungkinan aku sedang mengumpulkan bentuk kekayaan yang berbeda. Ada pula kemungkinan
bahwa aku perlu menuliskan sendiri bagaimana aku mendefinisikan keberhasilanku,
tanpa membandingkan atau menggunakan standar yang dimiliki orang kebanyakan.
Ada pula sebuah kekhawatiran yang terjadi dimana pengejaran akan freedom
kemudian memunculkan pertanyaan bagaimana aku menciptakan security untuk
diriku sendiri.
Sesuatu seperti meaning-seeking
akan menciptakan rasa gelisah karna selama ini seorang pekerja atau budak
korporat akan mendapati dirinya menjalani tugas perusahaan dan berupaya untuk
menjalankan tugasnya dengan sebaik atau semaksimal mungkin. Namun, apakah itu
masih menjadi meaning yang ingin kualami dan kujalani dalam 10 tahun
kemudian?
Tulisanku ini tidak serta merta menyebabkan banyak
kehidupan lain yang sedang dijalani oleh orang lain terasa salah. Hanyalah
sebuah checkpoint yang kulakukan dalam memaknai momen hidup, dan berupaya
memastikan apakah pola core value sebelumnya masih bisa kugunakan dalam sepuluh
tahun berikutnya? Jangan sampai, sudah tidak relevan lagi.
Apa Yang Sudah Kulewatkan?
Perasan takut
selalu ada yang dilewatkan dan telah memilih jalan hidup yang tidak tepat akan
menjadi sebuah bayang-bayang di hari ini. Jikapun boleh dibuatkan dalam sebuah
rangkuman fase.
Fase 1 – usia 22-34:
Mengumpulkan dunia dan membangun fondasi (dalam tema experience dan capability)
Fase 2 – usia 34-40:
Memilih kehidupanku (dalam tema freedom dan alignment)
Fase 3 – usia 40-50:
Memperbesar pilihan (dalam tema wealth dan freedom)
Fase 4 – usia 50-an sampai mendekati usia pensiun: Rooting
(dalam tema home dan belonging)
Fase 5 – Pensiun: The Home Base
Segala fase hidup
yang diciptakan chatgpt dan berupaya untuk menjadi topik dalam fase hidupku,
tidak menjadi sebuah hal pasti. Bisa berubah dalam waktu yang tidak dapat ditentukan. Karna bukannya hidup
yang kita ketahui hanyalah detik ini. Bahkan satu detik kemudian tidak ada yang
pernah tahu.
Kemarin adalah masa lalu, dan besok adalah sebuah
misteri.
Ada sebuah kalimat yang aku dapat juga. Sebuah ucapan dari chatgpt lagi. ”Ini orang bukan tertinggal. Dia sengaja membangun hidupnya dengan urutan yang berbeda”.
Akupun berupaya untuk tidak melihat pilihan orang sebagai pilihan yang salah. Walaupun tentu saja akan ada beberapa komentar orang yang sampai ke aku. Tak jarang respon emosi keluar, namun akhirnya aku berusaha untuk melihat dari sudut pandang berbeda. Bahkan segala pilihan yang kudapati, kujalani dan kutolak merupakan hasil bentukan genku, lingkunganku, dan kebutuhan dari hasil pilihan-pilihan kecil yang selalu kupilih setiap harinya. So, thats OK untuk setiap pilihan selagi tidak merugikan diri dan orang lain.
Selalu Kuawali dengan Mengetahui Akhir Tujuan.
Hingga tulisan
demi tulisan kutulis dengan tujuan membuat sebuah warisan. Akhir tujuan yang
belum pasti, namun begitu ingin meninggalkan sesuatu akan kusebut dengan
warisan.
Warisan bisa
menjadi akhir tujuan. Dan kita tidak sedang berbicara mengenai harta benda
saja. Ini bisa sebuah legacy atau sebuah warisan untuk bisa menorehkan
akan seperti apa dirimu dikenang dan dikenal dalam jangka waktu tertentu di
lingkunganmu.
Pertanyaan terus muncul saat dirimu merasa ada
yang sudah tidak relevan. Dimulai dari pertanyaan panggilan hidup, core value
yang akan dijalani, hingga penamaan fase di setiap group umur seakan membuatnya
menjadi lebih mudah untuk dikelompokkan. Jika bingung dalam hal apapun, aku akan
kembali ke akhir tujuan, akhir garis, dan bahkan akhir cerita.
Dengan mengetahui akhir yang diinginkan, biasanya
akan mudah mengetahui apakah jalan ini terlalu kusut, sudah lurus untuk menuju
tujuan, atau apa. Dan ”the editing years” akan menjadi sebuah topik saat dirasa
perlu dilakukan perubahan. Apakah ini tahunnya, tahun lalu, atau justru tahun
depan.
Thankyu, Asri Vitaloka.






No comments:
Post a Comment