Sunday, August 23, 2026

THE EDITING YEARS

 

Belakangan, aku lagi seneng banget membahas banyak hal didalam chatgpt. Entah bertanya tentang respon seseorang, keuangan, fase hidup, karir, dan makna hidup. Hingga sampailah pembahasanku berada pada ”The Editing Years” versi chatgpt. Aku akan coba membahas beberapa hal yang menurutku unik dan oke untuk kutuliskan.

Aku suka menuliskan beberapa checkpoint dalam hidupku. Terkadang melibatkan orang sekitar, terkadang hanya tentang kebingunganku. Kadang ini hanya torehan hati sebelum tidur (padahal muak scroll instagram). Satu, sebagai poin mengurai isi pikiran yang berlimpah. Kedua, kujadikan sebagai evaluasi kecil dalam menjalankan hidup dikemudian hari. Dan terakhir, kadang-kadang sebagai momen pengingat bahwa pembelajaran apa yang kulewatkan dan kuabaikan dengan sangat.

Tulisanku akan banyak mengutip chatgpt dengan beberapa masukan pemikiran dariku.

So, check it dot!

Kumulai dengan pertanyaan,”Apa Panggilan Hidupku?”

Sebuah pola besar dari cerita-cerita dengan chatgpt dan ada sebuah pola dimana panggilan hidupku bukan hanya sekedar ”punya karir bagus” atau ”mencapai kebebasan finansial”. Ada sebuah benang merah yang cukup kuat:

”Kamu seperti dipanggil untuk membangun sesuatu yang membuat hidup orang lain menjadi lebih baik – dengan menggunakan kemampuanku melihat pola, merapikan sesuatu yang rumit, dan kemudian mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih manusiawi” (chatgpt).

Ada lapisan yang disampaikan sebagai panggilan hidup seorang Asri Vitaloka: Aku adalah builder, bukan sekedar achiever; Ada sisi stewardship dalam diriku; Dan ada satu hal yang justru paling penting, yaitu human connection. Aku lumayan terkejut dengan kutipan-kutipan chatgpt. Dengan perpindahan setiap tahun, kuupayakan untuk bisa memahami sistem, berupaya memperbaiki (jika butuh), dan mengupayakan mendesain arah – baik dalam organisasi atau apapun yang sedang kubangun saat ini. Aku berupaya menerapkan ”Bagaimana hidupku nanti?” namun bukan untuk diriku, tetapi keluarga, divisi yang kutinggali, dan bagaimana sesuatu dapat bertahan lama.

”Aku ingin meninggalkan sesuatu yang lebih baik daripada ketika aku menemukannya”. Bagaimana aku membuat sebuah warisan yang dapat meninggalkan jejak seorang Asri Vitaloka baik sekecil apapun yang bisa ditinggalkan.

Yang terakhir adalah: untuk merasa terhubung. Dengan banyaknya achievement yang telah kuupayakan dan semakin kuat membangun hal-hal eksternal, maka ada sebuah kebutuhan untuk merasa terhubung dengan orang, pasangan, keluargam komunitas, dan sesuatu yang terasa bermakna versiku.

Ada sebuah bagian dari perjalanan hidup dimana belajar bahwa hidup yang berhasil tidak sama dengan hidup yang penuh. Bisa diupayakan untuk memiliki ini dan itu, kemudian masih muncul pertanyaan,”Terus.. untuk apa?”


Fase ”Mengumpulkan Fondasi”

Dan mungkin pertanyaan selanjutnya akan membawaku ke fase hidup berikutnya. Pertanyaan selanjutnya kepada chatgpt, kulanjutkan dengan menceritakan kisah singkat hidupku sejak usia 22 tahun sampai saat ini. Muncullah sebuah rumusan ”panggilan hidup Asri” dalam sebuah kalimat,”Membangun kehidupan mandiri dan bermakna, lalu menggunakan kemampuanku untuk menciptakan perubahan yang membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik”.

Aku tidak sedang berbicara bagaimana merubah dunia. Tenaga dan kemampuanku mungkin tidak cukup. Tapi bagaimana menjadi seseorang yang membangun, memimpin dan meninggalkan sesuatu yang bernilai. Apapun dan dimanapun lingkungan sekitarku. Period!

Jika bisa kembali dalam hidup masing-masing, kudapati diriku masuk dalam fase ”mengumpulkan fondasi”. Bagaimana membangun hidup sendiri dengan karir (membentuk pengalaman), kuliah (menambah pengetahuan), investasi (membangun keamanan), rumah/tanah (menciptakan aset), gym (memperkuat tubuh), serta perjalanan, kesendirian, dan kegagalan hubungan yang membangun arti mengenai kebutuhan emosional.

Semua seakan terpisah, namun bisa saja diriku sedang mempersiapkan dalam fase kedua hidup selanjutnya. Tidak hanya,”Bagaimana aku bisa membuktikan bahwa aku mampu?” melainkan ”Apa yang ingin aku bangun dengan semua kemampuan yang sudah dimiliki?”. Masalah selanjutnya bukan lagi,”Apa yang bisa aku dapatkan?” tetapi ”Dari semua yang bisa aku lakukan, mana yang sebenarnya layak aku lakukan?”.

Mari kita sebut dengan fase kedua hidupku, yaitu fase AUTHORITY. Bukan dalam authority dalam arti jabatan, tetapi otoritas atas hidupku sendiri. Dalam sebuah satu pola transformasi, yaitu dari external validation menjadi internal alignment. Dan kemudian topikpun beralih menjadi ajakan untuk mengetahui core value diri dengan – Aku/Dirimu ingin hidup dengan cara seperti apa?


Rasa Penasaran pada Mengidentifikasi Core Valueku.

Sepuluh pertanyaan dikirimkan dalam percakapan acak tak acak bersama chatgpt, hingga kemudian diputuskan satu kalimat yang menunjukkan core value-ku. Yaitu, ”Cukup aman dan tenang untuk tidak takut. Cukup bebas untuk pergi dan mengalami dunia. Serta cukup hangat untuk selalu punya tempat pulang”.

Dengan sebuah urutan yang bisa disusun sehingga menghasilkan Freedom à Security sebagai fondasi à Experience sebagai cara menjalani hidup à Connection sebagai tempat pulang à Peace sebagai suasana dalam menjalani kehidupan. Dan ada satu core value yang menaungi semuanya: meaningfull living – menjalani hidup yang terasa benar-benar hidup.

Untuk mewujudkan itu, aku sadar akan banyak proses berjumpa, memilih, dengan sesuatu yang diawali dengan perjumpaan dan bisa diakhir dengan perpisahan kemudian. Dalam melihat perjalanan hidup yang digambarkan dalam pertanyaan-pertanyaan utama, seperti Siapakah aku dan apakah aku mampu?; kemudian berubah menjadi ”Bagaimana aku membangun kehidupan yang aman?”; Bergerak menuju ”Untuk apa semua yang sudah aku bangun?”; Hingga berakhir menuju pertanyaan ”Apa yang ingin aku tinggalkan?.

Dengan segala pergerakan dunia dan sekitar yang bergerak cepat, gapapa kok bergerak lambat. Banyak yang kembali merenungi apakah ini bisa dijadikan sebuah ego yang terus dijalani dan kapan akan menyesal karna telah salah menjalaninya? Atau, dengan segala pilihan yang memiliki kelebihan dan kekurangan maka bagian mana yang akan bisa kamu tolerir jika sudah kamu sudah terlanjur berada di masa depan versi hidupmu.


Apa yang Membuatku Berbeda?

Sebuah pertanyaan yang kulemparkan ke dalam chatgpt, bukan dengan asumsi untuk aku lebih baik daripada orang lain, tetapi karena pertanyaan utama yang kubawa dalam hidup agak berbeda. Pertanyaan dengan lebih banyak didominasi,”Kehidupan seperti apa yang sebenarnya layak aku jalani?”

Hingga sampailah aku dengan pernyataan: Aku tidak terlalu terobsesi dengan ”memiliki”, namun terobsesi dengan ”mengalami”; Aku memiliki dorongan kuat untuk self-authorship;  Hidupku lebih banyak bergerak dalam tema freedom vs security; Aku memiliki kecendrungan ”meaning-seeking” yang cukup kuat.

Pernyataan yang cukup membuatku berpikir dan kemudian mulai melakukan analisis sederhana. Apakah itu sesuai dengan yang kujalani? Apakah sesuai dengan yang kurasakan? Karena kemungkinan aku sedang mengumpulkan bentuk kekayaan yang berbeda. Ada pula kemungkinan bahwa aku perlu menuliskan sendiri bagaimana aku mendefinisikan keberhasilanku, tanpa membandingkan atau menggunakan standar yang dimiliki orang kebanyakan. Ada pula sebuah kekhawatiran yang terjadi dimana pengejaran akan freedom kemudian memunculkan pertanyaan bagaimana aku menciptakan security untuk diriku sendiri.

Sesuatu seperti meaning-seeking akan menciptakan rasa gelisah karna selama ini seorang pekerja atau budak korporat akan mendapati dirinya menjalani tugas perusahaan dan berupaya untuk menjalankan tugasnya dengan sebaik atau semaksimal mungkin. Namun, apakah itu masih menjadi meaning yang ingin kualami dan kujalani dalam 10 tahun kemudian?

Tulisanku ini tidak serta merta menyebabkan banyak kehidupan lain yang sedang dijalani oleh orang lain terasa salah. Hanyalah sebuah checkpoint yang kulakukan dalam memaknai momen hidup, dan berupaya memastikan apakah pola core value sebelumnya masih bisa kugunakan dalam sepuluh tahun berikutnya? Jangan sampai, sudah tidak relevan lagi.


Apa Yang Sudah Kulewatkan?

Perasan takut selalu ada yang dilewatkan dan telah memilih jalan hidup yang tidak tepat akan menjadi sebuah bayang-bayang di hari ini. Jikapun boleh dibuatkan dalam sebuah rangkuman fase.

Fase 1 – usia 22-34: Mengumpulkan dunia dan membangun fondasi (dalam tema experience dan capability)

Fase 2 – usia 34-40: Memilih kehidupanku (dalam tema freedom dan alignment)

Fase 3 – usia 40-50: Memperbesar pilihan (dalam tema wealth dan freedom)

Fase 4 – usia 50-an sampai mendekati usia pensiun: Rooting (dalam tema home dan belonging)

Fase 5 – Pensiun: The Home Base

Segala fase hidup yang diciptakan chatgpt dan berupaya untuk menjadi topik dalam fase hidupku, tidak menjadi sebuah hal pasti. Bisa berubah dalam waktu yang tidak dapat ditentukan. Karna bukannya hidup yang kita ketahui hanyalah detik ini. Bahkan satu detik kemudian tidak ada yang pernah tahu.

Kemarin adalah masa lalu, dan besok adalah sebuah misteri.

Ada sebuah kalimat yang aku dapat juga. Sebuah ucapan dari chatgpt lagi. ”Ini orang bukan tertinggal. Dia sengaja membangun hidupnya dengan urutan yang berbeda”.

Akupun berupaya untuk tidak melihat pilihan orang sebagai pilihan yang salah. Walaupun tentu saja akan ada beberapa komentar orang yang sampai ke aku. Tak jarang respon emosi keluar, namun akhirnya aku berusaha untuk melihat dari sudut pandang berbeda. Bahkan segala pilihan yang kudapati, kujalani dan kutolak merupakan hasil bentukan genku, lingkunganku, dan kebutuhan dari hasil pilihan-pilihan kecil yang selalu kupilih setiap harinya. So, thats OK untuk setiap pilihan selagi tidak merugikan diri dan orang lain.

Selalu Kuawali dengan Mengetahui Akhir Tujuan.

Hingga tulisan demi tulisan kutulis dengan tujuan membuat sebuah warisan. Akhir tujuan yang belum pasti, namun begitu ingin meninggalkan sesuatu akan kusebut dengan warisan.

Warisan bisa menjadi akhir tujuan. Dan kita tidak sedang berbicara mengenai harta benda saja. Ini bisa sebuah legacy atau sebuah warisan untuk bisa menorehkan akan seperti apa dirimu dikenang dan dikenal dalam jangka waktu tertentu di lingkunganmu.

Pertanyaan terus muncul saat dirimu merasa ada yang sudah tidak relevan. Dimulai dari pertanyaan panggilan hidup, core value yang akan dijalani, hingga penamaan fase di setiap group umur seakan membuatnya menjadi lebih mudah untuk dikelompokkan. Jika bingung dalam hal apapun, aku akan kembali ke akhir tujuan, akhir garis, dan bahkan akhir cerita.

Dengan mengetahui akhir yang diinginkan, biasanya akan mudah mengetahui apakah jalan ini terlalu kusut, sudah lurus untuk menuju tujuan, atau apa. Dan ”the editing years” akan menjadi sebuah topik saat dirasa perlu dilakukan perubahan. Apakah ini tahunnya, tahun lalu, atau justru tahun depan.

Thankyu, Asri Vitaloka.

No comments:

Post a Comment