Konon katanya kalau kamu merasa sesuatu kepada sebuah kota, bisa saja sudah ada kisah yang disiapkan akan dijalankan olehmu dikemudian hari. Terbersit kemudian aku merasa beberapa kota yang lumayan memanggil. Entah karna aku pernah tinggal atau akan tinggal disana. Lima kota kucoba mencari tau dari kota paling memanggil versi hidup aku di tahun 2026.
Setiap kota memiliki rasa dan makna tertentu.
Mungkin bisa dijadikan sebuah refleksi apakah anda atau saya memiliki kota
indah yang akan memanggil dikemudian hari. Apakah kota tersebut anda dapatkan
dari celetukan teman, tak sengaja jatuh cinta dari sebuah film, atau hanya
tertarik saja gitu.
#1 Kupang: Indah
dengan Keberagaman
Kota Kupang, kota
kasih. Sebenarnya kota ini lumayan ada keterikatan emosi antara aku dan bapak.
Beliau kudengar pernah mendapatkan kesempatan untuk bisa pindah dan dinas di
Kota Kupang, namun tidak pernah sampai. Entah karena belum rejeki, dan beliau
tidak ingin pindah jauh dari keluarganya. Hingga, akhirnya kupikir anaknya
menggantikan beliau. Ya, anaknya yaitu aku.
Pergi menjajaki
dunia kerja sejak tahun 2014 di Jakarta. Tidak begitu lama. Begitu tiba tahun
2015, seorang Asri Vitaloka harus pindah dan menetap di Kota Kupang hingga saat
ini. Sudah 10 tahun lebih lamanya. Kaget dengan orang-orang, lokasi, dan segala
budaya. Namun, disinilah aku masih sangat mencintai NTT ditengah gempuran
sekitar yang ingin kembali pulang ke rumah masing-masing.
Kupang bagiku: Sebuah kota cantik dengan toleransi
tinggi. Untuk pertamakalinya kudapati kota dengan warung babi dimana-mana dan
tidak menjadi sangat minoritas karena mayoritas disini adalah Kristen atau
Katolik. Sebagai kota pertama, hidup sendiri sebagai Asri Vitaloka dan berdiri
di kaki sendiri. Mencoba mencari tau, apa yang terjadi kemudian. Kota pertama
berdiri mandiri dan mengusahakan apapun yang diinginkan. Adakah kota seperti
itu bagimu?
Pulau Rote,
dengan pelabuhan kota Ba’a. Selalu sulit menjelaskan sedang tinggal dimana
ditengah banyaknya orang yang tidak mengenal pulau tersebut. Hingga sebuah
kalimat paling ampuh dan lumayan menjelaskan, ”Pulau paling selatan Indonesia”.
Dan selesai, orang didepanmu akan menjawab,”Haaa, oke tau”.
Sebagian
perjalanan karirku dalam 10 tahun di Nusa Tenggara Timur dihabiskan di pulau
tersebut. Menikmati perjalanan karir dengan menerapkan slow living namun
dengan pikiran liar yang selalu bertanya,”Sampai kapan disini?”. Aku bahkan
pernah membayangkan akan menghabiskan usia 30-an ku disana. Sebuah pulau tanpa
ada hiruk pikuk berlebih. Bahkan menjadi pulau sepi tanpa kendaraan saat bensin
lagi langka.
Rote bagiku: Sebuah pulau yang memberikan aku
harapan, pelajaran, dan sebuah rasa kasih serta cinta. Aku menjadi seorang yang
berbeda disana. Rote menjadi teman personal brandingku dalam perjalanan
karirku. Aku mendapatkan supervisor dan manjerial pertama di pulau tersebut.
Bahkan sempat kujalani kasih cinta dalam jangka waktu hampir 4 tahun saat
bertugas disana (tumben). Thankyu Rote, seorang Asri belajar menjalani slow
living dengan indah beragam rasa dendam, cinta, dan kasih dari keluarga besar
baru disana.
#3 Sumba: Perasaan Akan Menetap
Sumba sebagai sebuah kota pertama yang kutebak saat berada di Rote. Aku ingat aku sedang bersama teman di sebuah kafe 777, Baa. Dan kuselentingkan bahwa kemungkinan setelah ini akan ke Sumba Timur. Beberapa bulan kemudian terjadi.
Sumba menjadi sebuah pulau dengan kenangan indah, akrab, dan juga memberi kesan yang tidak akan terlupa. Kasih dengan pasangan, akrab sementara dengan beberapa teman, dan menjalin indahnya hubungan pekerjaan antara teman sekantor. Banyak perjuangan dan tidak mudah. Namun akan ringan jika tidak dijadikan beban.
Thankyu team. Tidak mudah perjalanannya. Dijauhkan dengan teman, dijauhkan dengan kekasih, dan diuji oleh malapetaka bencana yang tidak terelakkan. Kejadian Covid-19, Seroja, dan peristiwa meninggal dunia seseorang tak hanya memberi kesan mendalam dalam sebuah keinginan untuk menyerah, bertahan, dan keinginan untuk harus menguatkan sekitar padahal sendirinya juga rapuh.
Kalimat pertama yang terlintas adalah sailing trip Labuan Bajo. Sejak
kuliah, aku sudah mendengar tentang Labuan Bajo. Belum juga tiba karena untuk
bisa kesana butuh biaya yang lumayan besar. Bahkan sekarangpun bisa dikatakan
sebagai trip premium ya.
Begitu tiba di Kupang tahun 2015 dan kuputuskan untuk menjajaki Labuan Bajo
segera dalam waktu sesingkat-singkatnya. Hingga 2016 tiba, akupun sampai
disana. Datang, berlibur, dan merasakan sailing trip yang sangat
diidamkan sejak lama. Tidak pernah aku mengetahui kota Labuan Bajo, hanya
lautnya saja. Hingga kemudian aku memutuskan untuk datang kembali bahkan
sebelum aku menuntaskan trip pertamaku disana.
Labuan Bajo bagiku: Sebagai pencinta laut dengan
sailing dan snorkling, aku sadar bahwa semua karena Labuan Bajo. Sulit menolak
cantiknya bawah laut Bajo. Kudapati diriku beberapa kali sailing kembali sejak
trip pertamaku. Bersama teman, bersama kekasih, bahkan orang asing. Hingga
kemudian semesta memutuskan aku untuk tinggal disini. Saat ini. Sejak 2025.
Kota Bandung
sebagai kota pertamaku merantau. Kota ini memberikan ijin untuk tinggal sejak
pertama kali aku keluar dari rumah. Ya, aku kuliah disana. Dengan segala
kehidupan anak mahasiswa, aku sadari tidak begitu mengenal dan menjelajah kota
Bandung. Bagiku, (kabupaten) Bandung saat itu hanya tempatku kuliah. Berjuang
dan berupaya lulus dengan cepat.
Hingga akhirnya
aku kembali dinas ke Bandung tahun 2025. Sebenarnya aku ke Bogor, tapi mampir
dulu. Di waktu singkat kudapati diriku mencoba untuk melihat Bandung dari sudut
pandang berbeda. Bukan sebagai anak kuliahan, tapi sebagai Asri Vitaloka. Nuansa
berbeda saat menikmati Bandung dengan gerimis hujan dan adem dari sebuah kafe
di pinggir jalan. Ah, cantiknya Bandung.
Bandung bagiku: Aku bersyukur mendapati Bandung
sebagai kota pertamaku keluar dari rumah untuk kuliah. Dan kota ini terasa
seakan memanggil. Apakah aku mendapatkan kesempatan untuk tinggal disana?
Lumayan ragu. Tapi, mari kita lihat apakah Bandung memberikan kesempatan untuk
bisa menikmati padatnya kota tapi tetap memberikan rasa adem saat berada
disana.
#5 Jakarta: Penuh Pengharapan dan Titik Balik.
Sebelas Bulan di
Kota Jakarta. Singkat, padat, dan menjadi titik balik perjalanan karir Asri
Vitaloka. Dimana Jakarta menjadi tempat aku ditolak sebuah perusahaan BUMN
lain, sebut saja Telkom. Padahal aku lulusan dari Universitas Telkom. Belum
berjodoh. Masih terngiang beberapa kali, saat aku harus berkeliling kompleks
United Tractors sambil menangis akibat ditolak perusahaan tersebut. Haha.
Namun, di Jakarta
aku tidak sendirian. Bahkan aku mendapatkan Bapak Asuh bagi muda-mudi Jakarta
saat aktif dengan kegiatan Pura Rawamangun. Tidak pernah aku melupakan saran
beliau. ”Pergilah bersembahyang di sudut pura disana (Pura Rawamangun) dan
mintalah yang terbaik agar diberikan jalan yang mudah untuk mendapatkan
pekerjaan”. Boom! Aku kembali ditolak Bea Cukai dan berhasil masuk di
kantor BUMN saat ini. Terimakasih Tuhan.
Jakarta bagiku: Dengan kerasnya perjuangan tinggal
di Jakarta, sebenarnya kota ini yang mengajarkan aku untuk berani pertama kali.
Bahkan bukan Kupang atau Rote. Sebagai sales saat itu, berkeliaran dari Timur
hingga Barat Jakarta. Naik motor melawan tingginya ban truk yang melintas di
perbatasan Bekasi. Ah, seru banget.
Setiap tahun, ada saja kesempatan untuk bisa tiba
kesana. Kembali datang ke Pura Rawamangun. Sweet.
Setelah asyik
menimbang, mengingat, dan meresapi indahnya kota-kota di Indonesia yang berarti
bagi hidup aku. Akhirnya kudapati diriku jatuh cinta pada kota lainnya. Bukan
Paris, bukan Hanoi, atau mungkin Bangkok. Tapi, Scotlandia.
Apa karena para
pria dari sana rupawan? Haha, bisa saja. Tapi, ada sebuah perasaan unik saat
melihat rok motif kotak-kotak dengan nuansa merah yang terkenal digunakan oleh
para pria. Tidak sedikit film-film Barat yang mengenalkan aku pada kota
tersebut. Hingga jatuh cinta tidak pada pria, tapi pada sebuah kota. Semoga ada
masanya, ada panggilannya, dan bisa tiba disana kemudian hari.
Scotlandia bagiku: Belum pernah sedekat itu dari
sisi jarak. Terasa tidak begitu asing bahkan saat melihatnya dalam film-film.
Bahkan aku merasa senang saat film Bridgerton menayangkan tarian khas
Scotlandia didalamnya. Suka, tenang, dan menarik hati.
OK, Thankyu.
Kota tidak
sembarang kota. Dengan perasaan unik saat berada didalamnya, aku bahkan merasa
ada kota yang menerimaku dan ada yang hanya mengijinkan untuk melihat-lihat.
Satu dua kota begitu berarti karena dibarengi dengan pengalaman dan pelajaran
hidup. Satu dua kota menjadi berarti karena membuat aku mengenal beberapa orang
yang sempat menemani hidupku dalam beberapa periode.
Lalu, bagaimana
dengan kota versimu? Adakah kota yang memberikan perasaan ingin pulang, ingin
mengulang, atau bahkan memberikan perasaan tenang karena kamu suka dengan kota
tersebut. Atau adakah kota yang bahkan tidak kamu sukai? Yah, semua tentunya
ada warna dan warni saat berada didalamnya. Saat menginjakkan kaki. Saat datang
dan kemudian berpamitan.
Ada kota yang membuatnya berarti dikarenakan
people didalamnya. Ada karena nuansanya. Ada karena masa indahnya. Mungkin satu
dua refleksi kota bisa membuat kita tahu seperti apa kehidupan yang diinginkan.
Hanya dari memori dan kenangan saat berada di sebuah kota.
Baru kemarin aku berjumpa dengan teman sekolahku. Satu ucapannya begitu membekas di hati. Ini saat terakhir kamu di NTT. Entah kenapa, ucapannya malah menyesakkan ya. Di satu sisi, aku juga merasa sudah akan habis waktunya. (Mungkin) Sudah saatnya menuju tempat baru dan peran baru.
Thankyu, Asri Vitaloka.






No comments:
Post a Comment