Friday, March 6, 2026

5 Kota Memanggil

 

Konon katanya kalau kamu merasa sesuatu kepada sebuah kota, bisa saja sudah ada kisah yang disiapkan akan dijalankan olehmu dikemudian hari. Terbersit kemudian aku merasa beberapa kota yang lumayan memanggil. Entah karna aku pernah tinggal atau akan tinggal disana. Lima kota kucoba mencari tau dari kota paling memanggil versi hidup aku di tahun 2026.

Setiap kota memiliki rasa dan makna tertentu. Mungkin bisa dijadikan sebuah refleksi apakah anda atau saya memiliki kota indah yang akan memanggil dikemudian hari. Apakah kota tersebut anda dapatkan dari celetukan teman, tak sengaja jatuh cinta dari sebuah film, atau hanya tertarik saja gitu.

#1 Kupang: Indah dengan Keberagaman

Kota Kupang, kota kasih. Sebenarnya kota ini lumayan ada keterikatan emosi antara aku dan bapak. Beliau kudengar pernah mendapatkan kesempatan untuk bisa pindah dan dinas di Kota Kupang, namun tidak pernah sampai. Entah karena belum rejeki, dan beliau tidak ingin pindah jauh dari keluarganya. Hingga, akhirnya kupikir anaknya menggantikan beliau. Ya, anaknya yaitu aku.

Pergi menjajaki dunia kerja sejak tahun 2014 di Jakarta. Tidak begitu lama. Begitu tiba tahun 2015, seorang Asri Vitaloka harus pindah dan menetap di Kota Kupang hingga saat ini. Sudah 10 tahun lebih lamanya. Kaget dengan orang-orang, lokasi, dan segala budaya. Namun, disinilah aku masih sangat mencintai NTT ditengah gempuran sekitar yang ingin kembali pulang ke rumah masing-masing.

Kupang bagiku: Sebuah kota cantik dengan toleransi tinggi. Untuk pertamakalinya kudapati kota dengan warung babi dimana-mana dan tidak menjadi sangat minoritas karena mayoritas disini adalah Kristen atau Katolik. Sebagai kota pertama, hidup sendiri sebagai Asri Vitaloka dan berdiri di kaki sendiri. Mencoba mencari tau, apa yang terjadi kemudian. Kota pertama berdiri mandiri dan mengusahakan apapun yang diinginkan. Adakah kota seperti itu bagimu?


#2 Rote: Tidak Tersentuh hingga Jatuh Cinta

Pulau Rote, dengan pelabuhan kota Ba’a. Selalu sulit menjelaskan sedang tinggal dimana ditengah banyaknya orang yang tidak mengenal pulau tersebut. Hingga sebuah kalimat paling ampuh dan lumayan menjelaskan, ”Pulau paling selatan Indonesia”. Dan selesai, orang didepanmu akan menjawab,”Haaa, oke tau”.

Sebagian perjalanan karirku dalam 10 tahun di Nusa Tenggara Timur dihabiskan di pulau tersebut. Menikmati perjalanan karir dengan menerapkan slow living namun dengan pikiran liar yang selalu bertanya,”Sampai kapan disini?”. Aku bahkan pernah membayangkan akan menghabiskan usia 30-an ku disana. Sebuah pulau tanpa ada hiruk pikuk berlebih. Bahkan menjadi pulau sepi tanpa kendaraan saat bensin lagi langka.

Rote bagiku: Sebuah pulau yang memberikan aku harapan, pelajaran, dan sebuah rasa kasih serta cinta. Aku menjadi seorang yang berbeda disana. Rote menjadi teman personal brandingku dalam perjalanan karirku. Aku mendapatkan supervisor dan manjerial pertama di pulau tersebut. Bahkan sempat kujalani kasih cinta dalam jangka waktu hampir 4 tahun saat bertugas disana (tumben). Thankyu Rote, seorang Asri belajar menjalani slow living dengan indah beragam rasa dendam, cinta, dan kasih dari keluarga besar baru disana.

#3 Sumba: Perasaan Akan Menetap 

Sumba sebagai sebuah kota pertama yang kutebak saat berada di Rote. Aku ingat aku sedang bersama teman di sebuah kafe 777, Baa. Dan kuselentingkan bahwa kemungkinan setelah ini akan ke Sumba Timur. Beberapa bulan kemudian terjadi.

Sumba menjadi sebuah pulau dengan kenangan indah, akrab, dan juga memberi kesan yang tidak akan terlupa. Kasih dengan pasangan, akrab sementara dengan beberapa teman, dan menjalin indahnya hubungan pekerjaan antara teman sekantor. Banyak perjuangan dan tidak mudah. Namun akan ringan jika tidak dijadikan beban.

Thankyu team. Tidak mudah perjalanannya. Dijauhkan dengan teman, dijauhkan dengan kekasih, dan diuji oleh malapetaka bencana yang tidak terelakkan. Kejadian Covid-19, Seroja, dan peristiwa meninggal dunia seseorang tak hanya memberi kesan mendalam dalam sebuah keinginan untuk menyerah, bertahan, dan keinginan untuk harus menguatkan sekitar padahal sendirinya juga rapuh.


#3,5 Labuan Bajo: Candu hingga Berulang Kembali

Kalimat pertama yang terlintas adalah sailing trip Labuan Bajo. Sejak kuliah, aku sudah mendengar tentang Labuan Bajo. Belum juga tiba karena untuk bisa kesana butuh biaya yang lumayan besar. Bahkan sekarangpun bisa dikatakan sebagai trip premium ya.

Begitu tiba di Kupang tahun 2015 dan kuputuskan untuk menjajaki Labuan Bajo segera dalam waktu sesingkat-singkatnya. Hingga 2016 tiba, akupun sampai disana. Datang, berlibur, dan merasakan sailing trip yang sangat diidamkan sejak lama. Tidak pernah aku mengetahui kota Labuan Bajo, hanya lautnya saja. Hingga kemudian aku memutuskan untuk datang kembali bahkan sebelum aku menuntaskan trip pertamaku disana.

Labuan Bajo bagiku: Sebagai pencinta laut dengan sailing dan snorkling, aku sadar bahwa semua karena Labuan Bajo. Sulit menolak cantiknya bawah laut Bajo. Kudapati diriku beberapa kali sailing kembali sejak trip pertamaku. Bersama teman, bersama kekasih, bahkan orang asing. Hingga kemudian semesta memutuskan aku untuk tinggal disini. Saat ini. Sejak 2025.


#4 Bandung: Crowded tapi Adem Rasanya.

Kota Bandung sebagai kota pertamaku merantau. Kota ini memberikan ijin untuk tinggal sejak pertama kali aku keluar dari rumah. Ya, aku kuliah disana. Dengan segala kehidupan anak mahasiswa, aku sadari tidak begitu mengenal dan menjelajah kota Bandung. Bagiku, (kabupaten) Bandung saat itu hanya tempatku kuliah. Berjuang dan berupaya lulus dengan cepat.

Hingga akhirnya aku kembali dinas ke Bandung tahun 2025. Sebenarnya aku ke Bogor, tapi mampir dulu. Di waktu singkat kudapati diriku mencoba untuk melihat Bandung dari sudut pandang berbeda. Bukan sebagai anak kuliahan, tapi sebagai Asri Vitaloka. Nuansa berbeda saat menikmati Bandung dengan gerimis hujan dan adem dari sebuah kafe di pinggir jalan. Ah, cantiknya Bandung.

Bandung bagiku: Aku bersyukur mendapati Bandung sebagai kota pertamaku keluar dari rumah untuk kuliah. Dan kota ini terasa seakan memanggil. Apakah aku mendapatkan kesempatan untuk tinggal disana? Lumayan ragu. Tapi, mari kita lihat apakah Bandung memberikan kesempatan untuk bisa menikmati padatnya kota tapi tetap memberikan rasa adem saat berada disana.

#5 Jakarta: Penuh Pengharapan dan Titik Balik.

Sebelas Bulan di Kota Jakarta. Singkat, padat, dan menjadi titik balik perjalanan karir Asri Vitaloka. Dimana Jakarta menjadi tempat aku ditolak sebuah perusahaan BUMN lain, sebut saja Telkom. Padahal aku lulusan dari Universitas Telkom. Belum berjodoh. Masih terngiang beberapa kali, saat aku harus berkeliling kompleks United Tractors sambil menangis akibat ditolak perusahaan tersebut. Haha.

Namun, di Jakarta aku tidak sendirian. Bahkan aku mendapatkan Bapak Asuh bagi muda-mudi Jakarta saat aktif dengan kegiatan Pura Rawamangun. Tidak pernah aku melupakan saran beliau. ”Pergilah bersembahyang di sudut pura disana (Pura Rawamangun) dan mintalah yang terbaik agar diberikan jalan yang mudah untuk mendapatkan pekerjaan”. Boom! Aku kembali ditolak Bea Cukai dan berhasil masuk di kantor BUMN saat ini. Terimakasih Tuhan.

Jakarta bagiku: Dengan kerasnya perjuangan tinggal di Jakarta, sebenarnya kota ini yang mengajarkan aku untuk berani pertama kali. Bahkan bukan Kupang atau Rote. Sebagai sales saat itu, berkeliaran dari Timur hingga Barat Jakarta. Naik motor melawan tingginya ban truk yang melintas di perbatasan Bekasi. Ah, seru banget.

Setiap tahun, ada saja kesempatan untuk bisa tiba kesana. Kembali datang ke Pura Rawamangun. Sweet.


(Tambahan Kota) Scotlandia: Terasa Tidak Asing.

Setelah asyik menimbang, mengingat, dan meresapi indahnya kota-kota di Indonesia yang berarti bagi hidup aku. Akhirnya kudapati diriku jatuh cinta pada kota lainnya. Bukan Paris, bukan Hanoi, atau mungkin Bangkok. Tapi, Scotlandia.

Apa karena para pria dari sana rupawan? Haha, bisa saja. Tapi, ada sebuah perasaan unik saat melihat rok motif kotak-kotak dengan nuansa merah yang terkenal digunakan oleh para pria. Tidak sedikit film-film Barat yang mengenalkan aku pada kota tersebut. Hingga jatuh cinta tidak pada pria, tapi pada sebuah kota. Semoga ada masanya, ada panggilannya, dan bisa tiba disana kemudian hari.

Scotlandia bagiku: Belum pernah sedekat itu dari sisi jarak. Terasa tidak begitu asing bahkan saat melihatnya dalam film-film. Bahkan aku merasa senang saat film Bridgerton menayangkan tarian khas Scotlandia didalamnya. Suka, tenang, dan menarik hati.

OK, Thankyu.

Kota tidak sembarang kota. Dengan perasaan unik saat berada didalamnya, aku bahkan merasa ada kota yang menerimaku dan ada yang hanya mengijinkan untuk melihat-lihat. Satu dua kota begitu berarti karena dibarengi dengan pengalaman dan pelajaran hidup. Satu dua kota menjadi berarti karena membuat aku mengenal beberapa orang yang sempat menemani hidupku dalam beberapa periode.

Lalu, bagaimana dengan kota versimu? Adakah kota yang memberikan perasaan ingin pulang, ingin mengulang, atau bahkan memberikan perasaan tenang karena kamu suka dengan kota tersebut. Atau adakah kota yang bahkan tidak kamu sukai? Yah, semua tentunya ada warna dan warni saat berada didalamnya. Saat menginjakkan kaki. Saat datang dan kemudian berpamitan.

Ada kota yang membuatnya berarti dikarenakan people didalamnya. Ada karena nuansanya. Ada karena masa indahnya. Mungkin satu dua refleksi kota bisa membuat kita tahu seperti apa kehidupan yang diinginkan. Hanya dari memori dan kenangan saat berada di sebuah kota.

Baru kemarin aku berjumpa dengan teman sekolahku. Satu ucapannya begitu membekas di hati. Ini saat terakhir kamu di NTT. Entah kenapa, ucapannya malah menyesakkan ya. Di satu sisi, aku juga merasa sudah akan habis waktunya. (Mungkin) Sudah saatnya menuju tempat baru dan peran baru.

Thankyu, Asri Vitaloka.

No comments:

Post a Comment