Showing posts with label MY WORD. Show all posts
Showing posts with label MY WORD. Show all posts

Wednesday, February 4, 2026

Menjalani Setengah Hidup (lagi)

 

Aku pernah menyapa mbak dan mas barista di salah satu coffe shop Labuan Bajo. Sering sih malah. Satu dua menit kurang momen ngobrol yang enteng dan tanpa ada tujuan tertentu di akhir pembicaraan. Seakan sudah lama aku tidak basa basi dan ingin membahas sesuatu yang lumayan dalam.

Satu pertanyaan bermula dari,”Apa hasrat terdalam yang ingin kau capai?”. Sebuah pertanyaan yang kudapati aku sampaikan kepada mba barista. Dengan penuh semangat dia mulai mengeluarkan segala jawaban yang kurasa membangkitkan gairah akan mimpi-mimpinya. Mimpi yang dengan semangat ingin diwujudkan dengan upaya kerja keras.

Hingga kemudian, kulanjutnya dengan pertanyaan lainnya.

Sebuah Intro.

Aku coba membuka sebuah situasi dan kondisi. Hampir sebelas tahun bekerja dan kudapatkan diriku sudah berjalan jauh entah berada dimana. Pikiranku berkeliaran setelah kembali melihat sebuah pinguin yang memutuskan mencari jalan lain dari gerombolan. Aku pun sulit untuk hidup bergerombolan. Belakangan itu menjadi hal yang semakin sulit.

Usia sudah tak muda, tapi juga tak tua. Teman semakin sibuk dalam memantaskan dirinya di lingkungannya. Sesuatu yang dikejar dengan sangat mulai tidak mengairahkan. Bahkan mulai membuat jengah. Ada beberapa situasi dan kondisi yang seharusnya menjauh, namun semesta seakan tak lelah mendekatkan sedikit sebelum dijauhkan kembali. Intinya, mari membuat sebuah pola baru untuk menghadapi hari demi hari.

Pergerakan dunia yang begitu cepat tak lagi membuat bahagia. Apakah gairah yang sering ada karena hal sederhana masih menciptakan spark di dalam jiwa? Atau kini kuhadapi dengan dunia orang dewasa yang flat dan berupaya mencari sesuatu untuk diperjuangkan. Sambil berjuang tidak merasa sepi di dunia yang sangat padat.


Ceritakan Hasratmu, Please.

Pantas saja dulu aku sempat berpikir. Sepertinya tidak begitu menyenangkan menjadi orang dewasa atau usia yang semakin matang. Setiap orang yang sedang berjuang dalam jalur trackingnya sendiri. Berupaya melihat jalur tetangga dan terkadang ingin menikung, mencoba, serta mengambil jalur tersebut. Tanpa paham bahwa tidak semua jalur sesuai dengan kebutuhanmu.

”Coba sebutkan apa sebenarnya hasratmu saat ini?”, tanyaku kepada salah seorang barista berusia kurang lebih 20an tahun. Dengan mata berbinar kemudian dia menyampaikan semua hal menyenangkan yang belum terwujud dan ingin dicapainya. Tanpa sadar aku membuat sebuah list tak kasat mata. Sebagian besar sudah kujalani dengan mantap di masa lalu. Kini, itu sudah tak lagi menggairahkan. Semua ada masanya dan semua masa ada batasnya.

Sangat kurindukan mata berbinar saat berbicara dengan seseorang. Berupaya menceritakan hal antusias dan menyebalkan yang terjadi di hari tersebut. Terkadang pernah kudapati diriku mengulang hal-hal yang membuat bosan lawan bicaraku. Bahkan satu diantaranya dengan gamblang mengatakan dirinya lelah mendengarkan (MDP). Lalu, apa hasrat terdalammu saat ini Asri Vitaloka?


Mata Berbinar = Bahagia?

Pertanyaanku kemudian bergerak dari hasrat menjadi hal bahagia. Aku pernah mendapatkan hawa rutinitas dan kemampuan untuk bertahan membuat para orang dewasa bergerak dengan kaku, tidak bahagia, serta marah-marah (kadang-kadang). Apakah aku sudah sampai disana?

Kulanjutkan pertanyaanku kepada mba barista,”Lalu apa itu bahagia?”. Kudapatkan beberapa jawaban seperti bahagia adalah saat kita sudah tidak perlu memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan kita. Namun, apa sebenarnya kebutuhan yang sangat diinginkan? Aku kembali berputar terhadap kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan yang sangat diinginkan jiwa.

Tak sulit kadang untuk mendapatkan satu hal yang terukur, seperti harta, keinginan menonton konser, dan sejenisnya. Yang sulit menurutku, disaat dirimu merasa cukup dan tidak tahu lagi menginginkan apa. Apakah ada rasa bahagia? Aku rasa tidak. Atau sebenarnya bukan apa yang dibutuhkan? Jangan sampai, rasa sepi karna sendirian? Tapi apakah bersama seseorang atau lebih bisa membuat dirimu cukup. Kurasa juga tidak.

Keinginan apa yang benar diinginkan.

Pernah ga sih merasa lelah dengan berupaya mendapatkan semua hal. Bahkan hingga saat ini aku merasa kewalahan jika memiliki satu barang besar yang harus dirawat secara terus-menerus. Bukan bermaksud menyalahkan orang-orang. Tapi, banyak orang yang kujumpai dengan aura merasakan keinginan untuk menjadi kaya dan memiliki segalanya.

Kemudian, muncul satu pertanyaan. Setelah hampir sebelas tahun bekerja dan hidup sendiri di kaki sendiri. Sesungguhnya keinginan apa yang benar-benar kuinginkan? Apakah memiliki keluarga, anak, melanjutkan sekolah, memiliki rumah, mobil, motor, atau apa? Entahlah.

Usia kebanyakan manusia mungkin rata-rata di 70-80 tahun. Itupun jika hidup sangat sehat dan tidak memiliki penyakit atau kejadian yang begitu luar biasa. Kini sedang kujalani usia 34 tahun. Aku baru setengah jalan. Lalu, setengah jalan lagi akan kujalani dengan cara apa?

Kudapati diriku bekerja dan berupaya mengusahakan gym dengan rutin. Kemudian kudapati diriku mulai bepergian baik sendiri maupun bersama teman. Lalu apa? Berupaya mendapatkan karir dan mengejar semuanya, kurasa agak melelahkan. Kemudian apa? Entahlah.

Menjalani Setengah Hidup (lagi).

Kuputuskan untuk kembali berdamai dengan diri sendiri. Berupaya tidak hanya mencari rasa ramai semu. Aku duduk sebentar di kafe dan berjalan tanpa arah di pusat keramaian. Berada di sekitar banyak kawanpun ternyata tidak membuat sesuatu terasa penuh.

Ingatanku kembali diantara sebelas tahun perjalananku saat sudah bekerja. Jika pilihan paling mudah kuinginkan untuk memilih mengulang perjalanan hidup yang mana? Sepertinya aku ingin mengulang kehidupanku di 2018-2022. Hidupku tidak ramai, namun aku merasa lengkap. Thankyu MDP.

Aku bukan wanita independen yang menginginkan semua hal ambisius. Kudapati diriku hanya bekerja cukup keras untuk bisa memperjuangkan satu-satunya hal stabil yang bisa kupegang, yaitu semangat bekerjaku. Sampai pada titik semesta seakan memberikan hadiah-hadiah kecil berupaya satu-dua pencapaian. Hingga aku tiba di langkahku pada hari ini.

Suatu saat chapter hidup bergerak. Kuinginkan untuk mengulang kembali periode tahun tertentu. Tapi, aku sadar. Setiap pribadi tak pernah sama, walaupun orangnya sama. Setiap perjalanan akan dirasakan berbeda walaupun lokasinya sama. Tapi hasil tempaan semesta sudah menghasilkan pribadi yang berbeda. Akupun sudah berubah. Anda juga berubah.

(Kembali) pada Topik Setengah Hidup Lagi.

Aku ingin sekali berjumpa dengan orang-orang luar biasa dengan pengalaman hidup beragam. Pengalaman hidup orang lain adalah sebuah cerita paling mudah untuk mendapatkan pelajaran tanpa harus menjalaninya. Jika sulit mungkin akan kudapati diriku mulai membuka youtube dan mencari hal yang disesali saat usia menyentuh usia yang matang.

Apakah ada yang akan kusesali? Apakah kaya menjadi hal yang harus kukejar? Apakah aku perlu mengupayakan untuk menciptakan sebuah keluarga? Apakah aku harus mengantungkan diriku kepada orang lain. Siapkah menghadapi rasa kecewa yang akan muncul kemudian. Ah, capek kali kurasa.

Satu hal yang kuingat. Seorang yang pernah kupercaya dengan sangat mengajarkanku untuk bisa menikmati saat ini. Duduk dan diam. Tidak melakukan apa-apa. Mencoba menikmati waktu berdua yang saat itu tidak kupahami maknanya. Seakan dia sudah memahami bahwa momen tersebut akan sulit untuk dipertahankan selamanya. Hingga akhirnya dia muak dan kami pun berpisah.

Sampai tulisan ini dibuat, seorang aku juga masih kesulitan mencari makna hidup yang mana untuk dikejar dan dijalani dalam setengah sisa hidup (yang kalau dikasi umur panjang). Akan kujalani hidup dengan berupaya tidak membuat orang lain kewalahan dengan diriku. (Kayanya sulit). Akan kupastikan diriku lumayan berguna bagi orang lain. (Jika masih ada kesempatannya).

(Out of Topic) Kembali Sering Bermimpi.

Ditengah pergulatan diri antara mencari makna hidup di antara usia 34 tahun yang sedang dijalani, aku kembali sering mendapatkan mimpi-mimpi aneh. Tak jarang orang terkasih yang pernah menemani hadir satu per satu. Konon katanya jika hadir dalam mimpi, ada sebuah proses pembersihan jiwa terjadi. Alam bawah sadar melakukan kegiatan sibuk dalam mencerna, menyembuhkan, dan menyadari rasa di masa lalu.

Aku pernah mendapatkan diriku sampai begitu takut tidur karena beragam mimpi aneh dan melelahkan. Hingga belakangan, ini terjadi lagi. Satu dua kali masuk bersama orang-orang yang pernah hadir. Kemudian muncul orang asing. Hingga mimpi acak yang tidak bisa dipahami secara gamblang. Konon katanya, alam bawah sadar berupaya memproses banyak hal agar tidak bertumpahan saking penuhnya.

Di segala rasa lelah secara fisik dan pikiran saat ini, ada alam bawah sadar yang juga lelah membersihkan dan mengupayakan banyak hal agar tetap stabil. Bahkan ditengah hari rutinitas sudah mengerogoti, paling tidak mimpi di malam hari cukup ramai untuk dipikirkan ketika bangun.

So, buat anda yang sedang mencari makna hidup. Aku juga. Justru ini hadir disaat sepi. Justru ini hadir disaat tidak ada yang menemani. Akan seperti apa dirimu dalam menjalani setengah hidupmu lagi? 

Akankah kita hanya mengulang yang pernah ada? Apakah lelah? Bisakah memilih hal lain yang lebih sejalan dengan makna dan tugas jiwa? Tapi bagaimana cara menemukannya. Ada juga tulisanku berjudul "Modal Menghadapi 2026" agar diri dipenuhi oleh rasa, momen, dan kehangatan di masa lalu sehingga cukup kuat dalam menjalani tahun di masa depan.

 Asri Vitaloka.

Saturday, January 31, 2026

Modal Menghadapi 2026

 

Sebut saja kita berhasil melewati tahun 2025. Apa yang sudah kamu lewati? Apa yang sedang dipertaruhkan? Adakah yang merasakan kehilangan, atau malah kebahagiaan? Adakah sesuatu atau seseorang yang sedang kamu ragukan?

Akupun terus merasa ragu bahkan hingga saat kini. Cobalah untuk berhenti sejenak. Sudah sejauh mana sudah bergerak. Sudah seperti apa perjuangan yang telah dilakukan. Apakah sudah membuatmu cukup? Atau malah membuatmu semakin jauh dari apa yang sesungguhnya kau inginkan? Atau justru dirimu tak paham apa yang sebenarnya kau inginkan di hari ini dan di kemudian hari.

6 bulan terakhir 2025

Susah payah kucoba untuk menyimpan, mengingat dan mengemas kenangan indah serta buruk yang bisa terjadi. Kemudian sadar bahkan ingatan tadi pagi saja terkadang tak menempel di pikiranku. Kucoba untuk kembali membuka galeri foto pada henponku dan mencoba mengingat beberapa hal, momen, dan perasaan.

Gejolak baru ya. Aku berpindah (lagi) ke tempat baru, yaitu Labuan Bajo. Berupaya mencoba tinggal dan kerja di tempat yang biasanya tempat berlibur. Berupaya beradaptasi dengan kerjaan baru, dengan upaya menuntaskan tesisku, dan mencoba menghibur diri dengan bepergian ke tempat-tempat. Oke, Boom! Semesta mewujudkan semua dalam satu kedipan yang seakan tak berkedip. Haha..

Dalam setiap perjalanan, kurasa aku mendapatkan beberapa pemahaman dan kucoba untuk mengingat satu per satu ya.

Kudapati diriku berupaya membuat hidup terus berjalan dengan menyisakan sedikit rasa menyesal di akhir hari, akhir minggu, dan bulan. Setiap tahun memberi rasa, upaya, dan perjuangan yang berbeda. Setiap periode memberi kawan dan lawan sebagai pemanis jalan kehidupan. Thankyu, universe.


Tempat Baru ditemani Kenangan Lama.

Ternyata perpisahan memang harus digantikan dengan orang baru (kadang-kadang). Memorinya menempel kuat seakan tak lekang waktu walau hampir tiga tahun lamanya. Bahkan kenangannya tak hanya muncul saat berada di lokasi yang pernah bersama. Ini muncul di tempat yang sama sekali baru, saat sendiri, dan pikiran lain tak sedang hinggap. Luar biasa deh.

Beberapa kisah kasih yang datang, menetap, dan kemudian kembali gagal. Setiap kisah memberi rasa suka sekaligus duka. Bukannya tak pernah ada kebahagiaan yang tak didampingi dengan rasa kepedihan? Apalagi jika masih kuat ketergantunganmu dengan manusia lainnya.

Patut kusadari terkadang orang terakhir memberi kenangan kuat dan susah untuk dilupakan. Terlebih lagi kau terus mengupayakan penganti ditengah momen sembuh yang sedang diupayakan. Begitu indah cinta sekaligus memberi rasa lelah, marah, dan menyedihkan dalam satu rasa.

Tahun baru, hari baru. Kita doakan saja setiap manusia yang berjuang menyembuhkan hatinya segera pulih. Yah, minimal bisa mengurangi rasa pedih serta melanjutkan hidup walaupun sedang berupaya sembuh dalam satu waktu.


Tak Perlu Memaksa Seseorang Pulang.

Sekilas terbersit di ingatanku. Seseorang meminta ijin untuk pulang dan berjumpa dengan orang tuanya. ”Kasih aku pulang dulu ya”, ucap seorang kekasih pada masanya. Aku lupa apa yang kupikirkan saat itu. Rasa ego kuat menjawab cepat untuk tidak mengizinkan. Dan rasa iba justru membuat diriku merasa orang paling kurang di seluruh dunia.

Disaat ada orang yang selalu mengupayakan untuk dekat dengan rumah dan mengupayakan dirinya kembali ke sekitar orang tuanya. Ditengah orang luar mencibir untuk aku agar kembali pulang. Kupahami bahwa tak semua rumah terasa rumah.

Ada beberapa orang yang justru merasa rumah tak aman bagi ketenangan diri dan mentalnya. Ada yang tak aman (benar-benar tidak aman secara real fisik) dan ada juga yang aman secara tempat, namun hatinya selalu dibuat terluka lagi dan lagi. Seakan teriris secara perlahan secara gesture, ucapan, dan perlakuan yang didapatnya.

Setiap sikap penolakan anak atau diri dari rumahnya merupakan sebuah jawaban sikap dan perilaku yang terbentuk dari hasil mendapatkan perlakuan, sikap, dan rasa kurang kasih sayang dalam jangka waktu bertahun-tahun. Jangan pernah berharap pulih dalam hitungan hari bahkan minggu.



Dinginnya Lantai Rumah Justru Membuat Hangat.

Belakangan aku kembali teringat disaat hari tak dipenuhi dengan upaya menjawab Whatsapp secara cepat dan segera. Disaat diri tak berupaya mencari waktu dan mengupayakan jam makan, minum kopi, dan rutinitas lain terjadi dalam satu hari. Tak berupaya mengejar waktu dan segala kesibukan orang dewasa pada usia 30 keatas. Akhirnya, ada momen-momen rindu dan sederhana yang mengundang banyak memori lama.

Kurasakan duduk di lantai dingin dari sebuah kamar kosan yang belakangan baru kutempati sekitar tujuh bulan lamanya. Duduk sambil memegang henpon dan mencoba mencari tempat untuk melipat kaki, serta merengangkan badan. Kemudian, sebuah memori masa sekolah hadir dimana aku duduk di rumah Danau Buyan sambil menunggu Bapak atau Emak membawa sesuatu dari luar rumah. Makanan atau apapun.

Aku tidak bisa menyadari kesibukan diri di usia sekarang tanpa paham lagi berada di fasa sibuk tersebut. Hingga kudapati diriku melihat kawanku yang lain. Dengan wajah tegang (ciri usia 30an keatas) selalu berupaya serius menghadapi kehidupan dengan gelutan dunia politik per-manusia-an ini, dunia keinginan untuk memiliki semuanya. Serta kesibukan segala hal yang di ada-adain.

Tak jarang kita perlu menarik mundur kembali. Berupaya menjadi anak kecil di usia dewasa. Walaupun terkadang tidak juga membuat hidup lebih sederhana, mudah, dan langsung berhasil. Namun, berdebat, berantem, kemudian menangis, dan bisa kembali bermain kemudiannya. Sederhana banget kan masa kecil itu.



Berupaya Meresapi Rasa Sepi-Damai di Usia 30-an.

Jangan pernah meragukan aura orang di usia 30-an dengan segala rasa pahit (kata orang tua dulu) yang sudah dijalani. Aku pernah melihat aura seorang wanita begitu dalam yang diam aja sudah bisa menunjukkan bahwa auranya mahal dan didapatkan dari perjalanan panjang. Perjalanan yang tak hanya memberikan kemenangan tapi juga kekalahan berkali-kali. Kekalahan yang tak hanya datang dari orang luar, tapi juga datang dari dirinya sendiri.

Ia kalah melawan ego dirinya. Ia tak sengaja membuat dirinya yakin telah kalah dengan berbagai hal. Seperti selalu berupaya keras terhadap dirinya, selalu merasa bersalah jika beristirahat, dan merasa yakin segala hal harus diantisipasi dan mencoba menang di semua kesempatan. Hingga akhirnya aura wanita dewasa yang pernah kujumpai seakan memberikan aku bayangan di masa depan bagaimana hasil tempaan semesta hadir untuk membuatmu menjadi seseorang.

Semakin bertambah usia kudapati semakin sedikit lingkar pertemanannya. Bahkan perlu ada pertanyaan ”Apa yang diinginkannya?” saat sedang berada di suatu lingkar pertemanan. Semakin sepi lingkarannya, namun anehnya semakin damai. Sedih pasti. Tapi berkurang dramanya. Wkwkw.



Modal menghadapi 2026 versi Aku.

Belakangan sungguh lelah mencoba membuat orang puas dengan dirimu. Maka, jadilah dirimu sendiri tanpa mencoba merebut hak orang lain. Berupaya memberikan yang terbaik dengan tidak menggadaikan dirimu dari berbagai sisi, seperti kesehatan mental dan fisik. Selalu menyadari peranmu di hidupmu sendiri, karir, dan keluarga. Jika tak bisa ketiganya, aku rasa it’s okay.

Hidup sendiri okay, hidup berdampingan luar biasa. Cukupkan dirimu untuk bisa bersama orang lain. Tak pernah tersesat dan tertukar jalan hidupmu. Tak pernah secara tidak sengaja, orang hadir tanpa tujuan di hidupmu. Tak pernah terlalu terlambat apapun segala keterlambatan dan segala yang hadir lebih dulu.

Modal paling tidak berat versi aku dalam menghadapi 2026 adalah kontrol apapun yang kau bisa kendalikan, seperti respon dirimu terhadap keadaan di luar. Berikan apapun yang ingin diberikan dan simpan secara teratur energi yang tidak seharusnya kau keluarkan. Berharap semua orang merasa dirimu baik adalah hal yang tidak mungkin. Maka jangan pernah percaya dan bertumpu pada yang tidak mungkin.

Jadikan kenangan di masa lalu sebagai fondasi untuk membentuk mental dari kenangan kuat yang sesekali hadir untuk menemani dirimu saat sedang berjuang di masa kini. Rasa tenang dan damai yang pernah terjadi seakan sebagai trailer untuk bisa membentuk rasa damai versi baru di masa kini dan masa depan yang diharapkan.

Kemudian, sekali lagi ucapkan thankyu 2025 dan mari sekali lagi berdiri serta mengupayakan 2026 berjalan dengan damai, aman, serta harmoni. Baik berperan sendiri, atau menjalankan peran pasangan seseorang di kemudian hari. Oiya, next aku akan menceritakan kepergian mendadak ke Eropa bersama beberapa kawan baik yang mendukung kelancaran selama persiapan hingga bisa sampai disana. Don't miss it!

Jangan lupa juga untuk menyimak "Hey, 33" bagi dirimu yang sedang berupaya melewati 33 tahun. Aku menulisnya sebagai seruan dalam tulisan bagaimana aku membuat topik lucu di usiaku ke-33. Mungkin saja ada insight yang serupa bagi dirimu. Enjoy.


Thankyu, Asri Vitaloka.


Sunday, October 26, 2025

Hey, 33.

Asri, si batita.

Kusampaikan sepucuk surat buat diriku. “Thankyu, Asri sudah berjuang sejauh ini. Bergerak dengan mode penuh dalam posisi bertahan. Karna ada rasa tak sanggup, namun tetap bergerak. Memilih untuk tidak menyerah dengan cobaan dan ujian yang dicoba-cobain. Tarik napas panjang jika lelah. Bersyukurlah jika ingin menyerah. Dan berupayalah jika tak ingin menyesal. Sudah sejauh ini, sudah tak perlu dipertanyakan lagi. Usahamu sudah luar biasa, silahkan duduk menunggu dan melihat hasil panen terbaikmu.”

Peran wanita single masih mendominasi. Walaupun harapan banyak akan sedikit bergerak menjadi wanita karir dengan partner hidup dan baby-baby lucu dalam sebuah keluarga. Mengelitik sedikit melihat sekitar dengan ingatan,”Oh, ini yang dulu pernah kuinginkan”. So, kusapa dengan lembut usia baru 33 tahun dengan segala dilemma dan romantika dunia “Onty” (aku) belakangan.

Adakah yang berubah?

Yap. Lokasi tempatku tinggal. Labuan bajo akhirnya menjadi tempat ke-4 di Nusa Tenggara Timur. Memberi warna berbeda setelah Kupang, Rote, dan Sumba. Akhirnya kudapati diriku berada di tempat yang dulunya ingin kudatangi lebih dari sekali. Tapi ini bukan tentang tempat.

Aku rasa kita butuh satu titik poin istirahat untuk mengetahui sudah sejauh mana berjalan, sudah sejauh mana perubahan dalam diri, dan akan bepergian kemana setelah ini. Menuju arah hidup yang mana dan seperti apa? Jika sudah mulai mempertanyakan, bisa saja jalan hidup lama sudah tak sejalan dengan jalan hidup di kemudian hari. Ini bisa mengenai kebiasaan, orang sefrekuensi disekitar, atau bahkan setiap pilihan yang dipilih.

Adakah yang berubah? Yap, ada. Setiap kesalahan, kepergian, dan keputusan salah benar di sebelum hari ini telah terjadi. Dan itu terus berupaya merubah pola untuk membuatmu bergerak dan tak hanya memilih sesuatu yang tak tepat di kemudian hari. Membuatmu memiliki pilihan untuk menjadi orang baru di kemudian hari.

 

Apakah yang pernah disesali dengan sangat?

Sudah masuk ke pertanyaan yang mulai menoreh emosi ya. Aku sesali kenapa tidak bisa berdiam diri dengan beberapa orang sama dalam jangka waktu lama. Kusesali diriku hanya punya waktu terbatas. Entah itu orang tua, mantan pasangan, kawan lama, atau partner kerja.

Makin kesini, makin disadari bahwa setiap manusia punya cobaan, ujian, atau rasa baru tidak nyaman yang dihadirkan guna mengubah seseorang dengan sangat patah sehingga menjadi baru dan lebih kuat. Bahkan, pasangan pun tak pernah menjadi kekal dalam waktu. Terkadang cinta yang begitu dalam bisa berubah wujud menjadi asing dan lebih jauh dari musuh bebuyutan.

Nulisnya aja sudah mulai nangis deh. Kezel banget. Ditambah lagi nyambi dengerin lagu Raisa yang lagi potek hatinya sama si Hamish. Jadi, apa yang kusesali? Waktu terbatas dengan keluarga, orang baru rasa keluarga, dan bahkan hubungan yang diakhiri perpisahan dengan tujuan pembelajaran. Dan akhirnya selalu ada awal mula baru lagi, sendirian.

Bagaimana caramu bersyukur hingga hari ini?

Kadang aku mengeluh dengan banyak gaya. Tidak sekali, dan tidak sedikit. Kudapati diriku selalu diingatkan untuk bersyukur. Ada saja cara semesta menyampaikan satu dua hal yang sulit kupahami. Orang asing dan teman lama tak sedikit yang mengucapkan,” Kamu senang ngobrol ya, ramah”, “Positive vibes banget”, “Tidak sedang tertinggal kok”.

Akhirnya kudapati diriku sedang disadarkan bahwa tak sedikitpun yang dilakukan bisa saja memberi dampak bagi orang lain. Tak hanya semua tentang diri ini. Dan tidak sekali kupahami bahwa ada tim, teman, dan sekitar yang membutuhkan energiku.

Kusyukuri dengan sangat apapun yang hadir sebagai penyemangat, pembelajar, atau pemberi arahan. Setiap hal yang sedang dijalani saat ini bisa saja yang kuinginkan dengan sangat di beberapa waktu lalu. Jikapun dapat kesempatan untuk bisa memberikan energi lebih dalam bentuk hal positif, baik itu di lingkungan pekerjaan atau lingkar kecil di sekitarku. Aku akan sangat bersyukur.


Siapakah yang ingin dijumpai di masa depan?

Aku penasaran seperti apa the partner of my life. Adakah orangnya? Siapakah orangnya? Yang siap menjalani hidup berdua untuk bisa saling memberi, menerima, memaafkan, dan memulai kembali. Pernah kudapati momen jatuh cinta dengan sangat, ternyata juga memberikan sakit hati paling parah. Tapi, apakah memang suka selalu disandingkan dengan duka? Jika iya, maka aku rela.

Aku pun percaya tidak pernah ada perasaan bahagia yang begitu dalam jika tak menghadirkan kekecewaan dan kesedihan mendalam di kemudian hari. Ditengah berbagai kisah perpisahan baik di lingkungan dekat maupun di berita ya, masih banyak harapan untuk berjumpa dengan satu orang terkasih dikemudian hari. Love.

Siapakah yang ingin dijumpai? Pasangan hidup yang membuat hidup aman, nyaman, penuh kasih. Tidak menuntut sesuatu yang sama setiap saat. Karna hidup penuh gejolak. Tapi, putuskanlah satu jika sudah memilih dan memiliki seorang pasangan. Dengan harapan sehati dan sekata hingga akhir hayat.

Karena perasaan paling dalam dari cinta sejati tidak bisa hilang, namun dapat berubah wujud dalam perasaan menghargai dengan sangat bahwa pernah mencintai sebegitu dalamnya.


Satu Dua Penyemangat.

“Cinta begitu dalam tidak pernah bisa menghilang, hanya berubah menjadi rasa syukur pernah memberi rasa sedalam itu. Tidak pernah kurang sesuatu dalam diri, dirimu hanya berada bersama seseorang yang tidak ditakdirkan bersama. Semua memiliki cerita dan peran berbeda, jangan pernah berharap memiliki kisah sama. Bahkan orang lain tak jarang menginginkan kisah yang kau Jalani. Tidak perlu menjadi setengah, mantapkan diantara nol dan satu. Ini membuatmu tidak sia-sia atau menyesal dengan keputusanmu. Semua bergerak tidak secara acak. Semua masalah bisa diselesaikan, beberapa hanya perlu waktu untuk selesai”.

Jadi, topik usia 33?

Tidak pernah secara acak dan berantakan sesuatu terjadi dan bersama siapa. Usia 33 tahun menjadi usia yang kuharapkan tidak lagi berlari dengan sangat kencang walaupun masih berlari kecil. Tidak lagi terlalu lelah, walaupun satu dua kali dibutuhkan upaya dengan sangat. Tidak terlalu bergantung pada orang lain, walaupun masih ada harapan ingin bergantung pada seseorang.

Usia 33 tahun menjadi titik tolak sehingga selalu berupaya memilih diri sendiri yang utama kemudian bersyukur jika bisa memberikan dampak kepada orang lain. Tidak pernah bisa memberikan hal baik dan bahagia jika dirimu belum selesai terisi.

Usia menuju matang dengan harapan bisa berjumpa dengan orang-orang sefrekuensi dengan penuh cinta, hangat, dan bersahaja. Di manapun berada. Tidak perlu mengejar banyak hal. Butuh momen cantik, langka dalam perjalanan satu dua kali. Berupaya tidak diam dan tenggelam dalam hal yang tidak bisa diubah. Selalu ceria dan berikan apapun secara maksimal dengan kapasitas yang bisa diberikan. 

Lemme talk about love. Tanpa cinta, terkadang hidup sepi. Tanpa cinta, tidak tercipta karya. Tanpa cinta, kadang-kadang rasa memiliki diripun kurang. Maka, its all "About Love".

Penuh cinta, Asri Vitaloka.


Friday, July 18, 2025

About Love.

 


















About love.

Ada beberapa momen seseorang menorehkan karyanya. Satu, dalam keadaan super sedih. Dua, sedih dikarenakan mau bulanannya. Aku seorang wanita. Yang selalu berupaya menemukan rumah. Diantara beberapa lokasi dan beberapa orang yang datang juga pergi. Semua bergerak dalam sebuah periode hari, bulan, bahkan tahun. Hingga kubayangkan bersama seseorang memiliki batas waktu dan juga garis tutup diakhir penghujung hari. Dalam satu hari entah kapan. Dan itulah yang selalu kupikirkan.

Menjadi seseorang yang selalu terlihat harus kuat dan mengupayakan banyak hal untuk membuat diri merasa pantas. Justru datang dari seseorang yang ingin dianggap sesuatu pada awalnya, kemudian bergerak menjadi entah apa yang kulakukan jika tidak bergerak.

Kuupayakan diriku selalu bergerak membuat senang banyak orang. Hingga kuputuskan untuk menjadi egois dan ngga papa.




















About love.

Tidak hanya satu kali kujalani hidup berdampingan dengan beberapa orang. Satu, bersama seseorang yang kupikirkan akan menemaniku entah untuk apa. Dua, bersama seseorang yang kurasakan rasa kasih dan cintanya. Tiga, hingga kudapati diriku jatuh cinta sangat jatuh hingga terluka cukup parah tanpa darah.

Setiap perpisahan kuakui memiliki rasa sakit beragam dan semakin sakit belakangan. Kemelekatan diantara dua orang. Aku dan orang lain. Sesuatu dan seseorang yang kuharap menjadi rumah aman serta kembali. Namun, tidak terjadi. Entah karena aku yang tidak siap menciptakan rumah. Atau orang lain yang belum merasa fit denganku.

Sunday, June 29, 2025

Mau Bilang Apa?

Sudah lama kali ya engga nulis apapun ya. Cuma mau bilang, ternyata lintas Rote-Sumba sudah closing di Mei 2025 buat perjalanan trip ala karir eyke. Labuan bajo jadi the next destination buat hidup aku. Yang belakangan strees, bangga, duduk, berdiri. Ketawa ketiwi, eh malah sudah disini.

Rada kota dengan vibes liburan. Biasa kesini jalan-jalan ini malah kerja. Jadi aku cuma mau bilang,”Selamat Asri, kamu sudah melanjutkan hidup ke chapter selanjutnya!”. Ngga cuma selamat buat aku. Kuucapkan selamat buat kalian yang lagi gedubrag gedubreg, lagi santai, habis pindah rumah, pindah kerja, habis married, habis lahiran, atau bahkan yang sedang berjuang dengan problemnya.

Cuma mau bilang. Semangat! Hidup jalan terus, kalau ruwet tidur bentar. Kalau ga bisa tidur, jalan kaki. Ngga kuat sendiri? Maka mintalah pertolongan. Ngga ada yang dimintain tolong? Berdoa yuk.

Disaat Jatuh, Mendadak Rajin Ibadah.

Aku pernah rajin bener ibadahnya, pernah melalang lintas waktu ibadahnya. Tergantung tempat biasanya. Tapi disaat satu momen kudapati diriku anteng tanpa cobaan dan kemudian boom! Mendadak semesta memberi kerjaan, ujian, dan cobaan. Dalam sedalam-dalamnya. Aku belum bahas hati ya. Ini tentang kerjaan.

Singkat cerita, kudapati diriku disalahkan atas banyak hal. Karena sesuatu yang merenggut jiwa di dunia kerja hingga kehilangan banyak tim secara mendadak. Mendadak ganti bos, mendadak ganti teman sejawat, dan mendadak harus berdiri tegar ditengah tim sekitar yang butuh dikuatkan.

Disana kusadari bahwa. Beberapa momen terpaksa tegar dan kudapati diriku beribadah dengan sangat khusyuk. Teduh, sedih, dan begitu dekat dengan Tuhan. Jadi, cuma mau bilang: “Dimulai lagi yuk, dengan khusyuk dan teduh untuk berjumpa dan rindu dengan Tuhan”. Dan aku sampe berpikir, dikasi cobaan soalnya Tuhan rindu sama kamu.

Disaat Pintu Terbuka, Mendadak Semua Seakan Mudah.

Kudapati aku pernah mencap diriku bahwa,”Ngga akan aku dengan mudah mendapatkan apapun yang kuinginkan dimuka bumi ini”. Boom! Sudah lama menanti, menunggu, dan kudapati bahwa ngga ada yang ngga mungkin. Begitu tertulis rejekinya buat kamu, percayalah apapun situasinya seakan mengalir menuju pada dirimu.

Aku mau ini. Ngga dapat. Pengen itu? Kelewat. Sampai sekarang, ngga ada pengenku satu satu. Lah, seakan semesta memberikan satu per satu paket cerita kehidupan yang keluar dengan indah, cantik, dan sesuai kemampuanku. Konon katanya rejeki dan cobaan setiap orang berbeda. Maka kuterima rejeki luar biasaku dengan lapang hati dan berupaya tidak membandingkan apapun yang sudah diterima di waktu yang tepat.

Satu hal yang dulu sempat kuyakini dengan sangat. Dan aku cuma mau bilang,”Jika berebut untuk mendapatkannya, maka akan kulepaskan dengan Ikhlas. Jika mudah dan special buatku peruntukannya, maka seberapa besarpun orang berupaya mengagalkannya maka akan kembali kepadaku dengan mudah”.


Disaat Jatuh Cinta, Mendadak Buta Sekitarnya.

Kalau orang bilang kutak jatuh cinta? Mungkin satu kekuranganku adalah syulit bertahan dan menemukan sang pujaan hati yang menetap. Terkadang kulari, dan tak jarang pasangannya yang lari. Wkwkwk. Namun, begitu mudah jatuh cinta dan dalam merasakannya, kemudian seketika semua mendadak buta dibuatnya.

Friday, April 18, 2025

Indah dalam Pertanyaan

 

Aku lagi duduk di Es Teh Indonesia dan berharap bisa mengerjakan proposal thesis. Namun, bukannya bisa mengerjakannya, aku malah terpikir untuk bisa menuliskan sesuatu. Pertanyaan yang kadang ditanyakan orang lain. Baik ditanyakan secara langsung atau kudengar dari orang lain.

Terakhir tadi malam ada sebuah pertanyaan,”Kota mana yang paling ingin untuk kamu tinggalin?”. Dan ternyata pertanyaannya sulit ya. Aku coba berikan beberapa pertanyaan yang sering muncul di hidupku belakangan. Atau sekedar menjadi pertanyaan bagi diriku. Mungkin terkesan seperti memberitahu dunia tentang hal yang seharusnya private. Namun, bagiku ini sebagai pengurai apakah jawabanku sudah menuju ke hal tepat yang paling kuinginkan dalam hidup.

Mari kita coba mulai.

Anak yang baik? Atau Kepala Keluarga yang baik?

Aku pernah mendengar kata-kata ini. Dan menjadi seorang laki laki ternyata tidak mudah untuk berada dalam pilihan menjadi anak yang baik. Jika terlalu dominan maka kau akan menjadi anak. Tapi, jika kesempatan menjadi kepala keluarga diberikan maka itu adalah hal utama yang harus difokuskan.

Tidak bisa dijadikan dalam satu pilihan karena tidak apple to apple. Herannya sering terjadi dalam dimensi waktu yang sama (seakan sama) padahal sesungguhnya tidak. Berjalan seiringan dan terpisah. Kuharap kudapati seseorang yang tidak bingung dalam menentukan posisi serta menerima tanggung jawabnya dalam level dan kualitas selanjutnya.

Kota Indah mana yang paling ingin ditinggali?

Kalau keuangan sudah tidak menjadi masalah. Mungkin kupilih Rote sebagai tempat tinggal. Haha. Sebagai seseorang yang tidak berupaya mencari yang paling baik namun cukup, kudapati diriku sudah cukup dengan pulau. Tentu tidak semua memiliki jawaban yang sama.

Tapi ini bukan tentang kota, namun tentang siapa yang berada di kota tersebut. Aku pernah tinggal di kota besar, kota sedang, dan pulau sekalipun. Semakin sedikit ketersediaan yang ada di sekitar, keinginanmu semakin terbatas dengan menurunkan ekspektasi dan ternyata cukup.

Ingin kusapa lebih dulu, partner of my life? Sudah selesai pencariannya?

Aku sungguh penasaran dengan partner hidup yang bisa berbagi rasa, suka dan duka bersama. Bukan hanya untuk menjawab pertanayaan kapan menikah, kapan punya anak, dan kapan meninggal? Eh. Tapi memiliki pasangan yang bebannya adalah pilihanku. Keberadaanku adalah penyemangat dan tantangannya. Dan tidak berpikir untuk berpindah, walaupun lelah dan muak bersama.

Ada yang bisa berbagi berdua dalam cinta kasih dengan segala suka, duka, dan murka. Tidak ada pelanggi sebelum merasakan badai minimal hujan? Tidak pernah terang benderang, jika tak merasakan panas. Aku sungguh penasaran bersama siapa waktu akan dihabiskan. Dalam menjalani hidup berdua dengan anak sebagai bonus (jika diinjinkan).

Sunday, March 30, 2025

Me-Nyepi

 

Hai, aku tidak akan membahas mengenai hari raya Nyepi. Belakangan aku mendapat sebuah momen dimana kudapati diriku mulai berhenti sejenak, mempertanyakan beberapa hal, melihat sekitar dan berupaya melihat apa yang tidak terlihat.

Duduk menyepi di sebuah taman di atas mall yang lumayan besar di Kawasan Beach Walk, Bali. Kulihat lampu sangat terang disana, namun sangat gelap disekitar taman. Bahkan aku tidak dapat melihat wajah pengunjung lain di sekitarku saat itu. Kudapati diriku duduk sampai melihat banyak orang berjalan cepat dengan tas belanjaan. Mencoba mengejar sesuatu, hingga kusadari tidak ada yang perlu dikejar.

Beberapa pertanyaan random hadir seketika didalam momen tersebut dan beberapa momen setelahnya.

 (Teman) Kuterus memimpikan kawan lamaku, entah karna pengaruh apa.

Sejujurnya aku tidak terlalu paham dengan hubungan pertemanan. Di masa sekarang dengan segala untung dan ruginya, kudapati diriku berupaya memilah pertemanan yang semurni mungkin. Alih-alih mendapatkannya. Hanya tersisa, hubungan pertemanan yang berupaya tidak merasa iri dengan posisi kawannya, tidak merasa terasingkan dengan kehidupan keluarganya, atau sesederhana tidak terusik dengan komentar mengenai gaya hidup.

Namun, kudapati ada satu kawanku yang lebih sering dari sering masuk kedalam mimpiku. Bahkan saat aku sedang memiliki kekasih. Kurasa tak wajar memimpikannya, bahkan disaat tak berpikir tentangnya. Berupaya berpikir bahwa ini sekedar bunga tidur dimana tak ada makna didalamnya. Dan lambat laun, kudapati mimpi-mimpiku mulai memberikan informasi sesuatu. Kemudian kuputuskan untuk menyampaikannya.  

Benang merah dari sebuah hubungan. Yang lebih dekat dari pasangan dan saudara. Kudapati mungkin terdapat sebuah karma, karma di masa lalu. Atau ada sebuah peran yang dituntut satu sama lainnya. Kuakhiri dengan sebuah harapan tidak ada hal luar biasa menakutkan setelahnya.


(Mantan) Setiap beberapa kata-kata di media sosial mengarahkanku pada satu mantan lama yang tak kupedulikan lagi lawaknya.

Beberapa kawan mungkin tahu, bahwa aku memiliki pasangan yang telah kandas setelah hampir 4 tahun menjalaninya. Kini dua tahun lamanya. Kudapati diriku terus mengingat ucapannya,”Butuh orang baru untuk melupakan orang lama”. Dan tidak terjadi padaku saat ini.

Aku percaya apapun yang kubaca dan kuterima, baik dari media sosial maupun bacaan sebuah buku. Biasa memberikan sebuah petuah dan pesan tertentu. Aku mendapatkan sebuah pesan yang sering terngiang dan kudapati diriku menenangkan hati dengan beberapa kalimat.

Tidak pernah terjadi jika tidak harus terjadi; Tuhan menjauhkanmu dari hal-hal yang tidak kau dengarkan dibelakangmu; dan sesuatu untukmu akan dengan mudah menemukanmu. Maka, tenanglah hatiku dengan segala kesehatan dan keberlimpahanku.

(Ortu) Apakah hanya anak manusia yang bisa durhaka? Apakah orang tua tidak?

Disaat semua orang merasa bahwa anak yang selalu durhaka, namun bagaimana dengan orang tua yang selalu memberikan hal yang tidak sehat kepada anaknya. Tidak mungkin tanpa penyebab. Takut deh ngobrol panjang tentang topik ini.

Saturday, February 22, 2025

You Know What? Big Five!

Sesuatu yang selalu dipercaya belakangan. Setiap orang memiliki intuisi dan sensitifitas yang berbeda. Aku percaya pada mimpiku. Percaya pada setiap momen film yang memberikan kata-kata serta kalimat yang sangat relate dengan keadaan. Hingga belakangan, kuputuskan untuk menuliskan beberapa hal. Lima hal yang kucoba tuangkan sebentar lagi.

Sebelum lanjut ya. Aku cukup excited dengan usia yang bertambah. Metabolisme yang melambat, badan yang lebih susah dijaga, dan sakit badan serta lupa-lupa anak muda juga mulai terjadi. Dan entah kenapa, aku suka menjadi tua. Melihat segala perubahan dan siap menyatakan,”Aku sudah merasakan asam manis kehidupan”. Walaupun belum juga menyentuh usia 33 tahun.

Masalahnya bukan tinggal dimana, namun bersama siapa.

Sudah lama aku tinggal jauh merantau di Nusa Tenggara Timur. Kudapati rumahku mulai berpindah. Kucari rumah berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Hingga kusadari, masalahnya bukan tempat bertinggal. Namun bersama siapa waktu dihabiskan. Kusesali bahwa, tidak pernah sadar akan setiap momen dan peristiwa selalu memiliki batas waktu.

Hingga kudapati, aku pernah menyadari bahwa setiap hidupku seakan memiliki periode tertentu. Dengan setiap periode seakan episode dalam sebuah film. Dimana peran datang dan pergi, tergantung kisah yang akan diceritakan. Yang kusesali kembali, tidak mudah merasakan saat ini dan kini. Seakan berlari walaupun tidak bergerak. Mencoba mencari sesuatu diluar. Namun lupa untuk melihat sekitar.

So, sorry. Bagi sekitarku yang terlupa kuperhatikan. Setiap orang hanya berupaya bertahan dengan setiap peristiwa yang diciptakan oleh pikiran, ucapan dan perilakunya.

 


Kalau tidak dikasi yang kamu mau, jangan maksa dan jika dikasi yang kita butuh, jangan menolak.

Pernah kudapati diriku sangat susah mendapatkan banyak hal. Hingga kupikir,”Ah, paling tidak dapat juga”. Kemudian, kembali ke masa dimana sekitarku menyebutkan apapun yang kuinginkan kembali kudapatkan. Semudah itu? Atau sepercaya itu?

Kusapa kembali kedalam diriku untuk melihat apa yang diijinkan untuk datang dan apa yang dijauhkan dengan sangat mudah. Diri sendiri hanya bisa melihat masa lalu dan masa kini. Bahkan sedetik kemudian hanya akan diketahui jika kita sudah melewatinya. Kemudian kupercayai satu hal,”Jangan memaksa sesuatu yang tidak datang dan terima dengan Ikhlas apa yang datang”.

Dengan berpikir seperti itu, ditengah semua orang ingin mendapatkan semuanya maka jalan hidupmu akan lebih ringan. Tidak mendapatkan semuanya, namun kau membutuhkan apa yang dibutuhkan.


Semurni apapun hubunganmu dengan orang lain, ini mengenai transaksi entah mengenai material dan non-material.

Jika kita kembali ke masa anak kecil, sekolah, dan belum memikirkan adult things. Kudapatkan bahwa sepolosnya anak kecil yang berteman dengan sekitarnya. Polos, sederhana, dan tidak menginginkan sesuatu dengan mengupayakan cara politik apapun. Berbeda dengan seorang wanita, belum menikah, dan kini berusia diatas 30 tahun. Semua tidak pernah mudah.

Tuesday, January 28, 2025

Pov 30++ Tahun

 

Memanggil seluruh wanita dari segala jenis kalangan dengan usia sudah melewati 30++ tahun dan sedang berjuang dengan segala keruwetan serta kebahagiaan hidup. Tak jarang mengalami perasaan seakan menaiki roller coaster dan dengan tidak bermaksud menantang, namun seakan bersiap serta berkata,”Cobaan mana lagi yang akan datang Tuhan?”. (Ampun).

Ku spoiler dulu. Tulisan yang akan aku tulis ini merupakan pengalamanku selama bekerja setelah lulus kuliah di tahun 2014. Baru merasakan menjalani hidup yang kadang bersama teman. Yah, kadang sendirian juga. Kadang dikasi teman berdua. Namun, kemudian kembali sendirian. Memiliki kesempatan untuk bekerja mulai dari kerasnya Jakarta, sepinya Rote, hingga menggeloranya Sumba.

Jadi, apa POV aku tentang hidup di 30++ tahun ini?

Temannya Ada, Duitnya Ngga.

Tema: Berjuang Mencukupi Kebutuhan Satu Bulan. Aku baru merasakan bekerja di usia 22 tahun. Dulu yah, aku bisa merasa sangat cukup dengan gaji 2,6 juta di Cakung, Jakarta Timur. Padahal, kalau sudah tanggal belasan udah teriak minta ditraktir teman. Aku bertahan selama 11 bulan. Hingga akhirnya beralih ke pekerjaan baru di salah satu BUMN.

Dalam perjalanan pencarian karir. Aku dulu sempat mencicipi pekerjaan menjadi sales genset Komatsu dengan harga sekitar 1,5 Milyar dan berkeliling Jakarta menaiki sebuah Vario pada saat itu. Oiya, namanya Mimi (si Vario). Jadi gimana? Sudah bisa membayangkan ya. Harga jualan 1.5 M dengan si sales yang pakai motor saat itu, siapa coba yang mau beli?

Ditengah perjuangan mencukupi diri dalam kebutuhan satu bulan. Aku berjuang dengan perasaan,”Orang kerja gini banget ya”. Tanpa takut, bersama teman rasa saudara di tanah Rantau dan kerasnya kota Jakarta. Tapi, aku tidak sendirian. Thanyou, teman-teman BC saat itu. Ditemukan dengan komunitas anak muda Hindu Rawamangun. Seakan kusiap menghadapi dunian.

Aku bertahan hingga Tuhan berkata,”Asri, sudah cukup di Jakarta dan bergeraklah ke timur Indonesia”. Waktu itu, kukira begitulah. Kalau dirimu sedang berjuang dalam mencukupi kebutuhan satu bulan. Just please, perhatikan hati dan pikiranmu. Perhatikan sekitarmu, apa yang diberikan untuk menemanimu? Berikan perasaan legowo dan keluarkan kepada semesta,”Bahwa anda siap menerima yang lebih besar dari saat ini”.

Usia 20’an, Waktu Terbaik Dirimu Untuk Bepergian.

Tema: Bepergian dengan Kekuatan Penuh & Tanpa Perlu Merasa Bersalah. Dengan segala keindahan alam dan keinginan untuk mendatanginya. Kupasrahkan hati dan jiwa untuk memberikan panggilan alam kemana serta bersama siapa akan bepergian. Kudapati diriku menginjakkan kaki di tempat-tempat yang dulunya tidak mungkin kudatangi. Yah, kupastikan mimpi indah yang tidak bisa terwujud waktu lampau kembali datang untuk menagih agar bisa terwujud.

Selama usia 20 tahunan, kurasakan diriku melihat kehidupan di Nusa Tenggara Timur. Menemukan teman perantauan dan berupaya merasakan indahnya sekitar. Terimakasih teman-temanku yang waktu itu mau kubangunin di hari libur (padahal masih capek dari weekdays).

Kuajak bermain, entah itu di jarak dekat atau jauh. Hingga kulihat, hanya sisa aku yang bermain di taman bermain yang terpisah. Aku bisa H-1 bepergian mendaki bukit di Pulau Timor. Tidak perlu berpikir terlalu panjang. Seindah itu, usia 20 tahunan. Bepergian, tanpa takut dianggap tidak dewasa dan meninggalkan tanggung jawab. Dengan badan mendukung untuk kegiatan full day dan tidak encok kemudian.

Dulu, aku selalu takut kehabisan waktu. Kubawa diriku selalu berlari hingga tak jarang melewatkan masa kini. Sibuk mengevaluasi masa lalu dan merencanakan masa depan. Siapa yang begitu?



30’an, Sepertinya Semesta Memilih Jalur Karir Untukku.

Tema: Semesta memilihkan jalan terbaik untukmu. Menurutku, hidup baru dimulai sejak mendapatkan karir pertama pada akhir tahun 2025. Dimulai dengan bekerja di Nusa Tenggara Timur hingga mulai meracik masa depan seperti apa yang diinginkan. Kudapati diriku di saat ini, tidak mendapatkan kesempatan untuk masuk di era wanita menikah dan mengurus anak. Kurasakan semesta memilih jalan hidup berbeda.