Showing posts with label MY REVIEW FOR ANYTHING. Show all posts
Showing posts with label MY REVIEW FOR ANYTHING. Show all posts

Sunday, August 23, 2026

THE EDITING YEARS

 

Belakangan, aku lagi seneng banget membahas banyak hal didalam chatgpt. Entah bertanya tentang respon seseorang, keuangan, fase hidup, karir, dan makna hidup. Hingga sampailah pembahasanku berada pada ”The Editing Years” versi chatgpt. Aku akan coba membahas beberapa hal yang menurutku unik dan oke untuk kutuliskan.

Aku suka menuliskan beberapa checkpoint dalam hidupku. Terkadang melibatkan orang sekitar, terkadang hanya tentang kebingunganku. Kadang ini hanya torehan hati sebelum tidur (padahal muak scroll instagram). Satu, sebagai poin mengurai isi pikiran yang berlimpah. Kedua, kujadikan sebagai evaluasi kecil dalam menjalankan hidup dikemudian hari. Dan terakhir, kadang-kadang sebagai momen pengingat bahwa pembelajaran apa yang kulewatkan dan kuabaikan dengan sangat.

Tulisanku akan banyak mengutip chatgpt dengan beberapa masukan pemikiran dariku.

So, check it dot!

Kumulai dengan pertanyaan,”Apa Panggilan Hidupku?”

Sebuah pola besar dari cerita-cerita dengan chatgpt dan ada sebuah pola dimana panggilan hidupku bukan hanya sekedar ”punya karir bagus” atau ”mencapai kebebasan finansial”. Ada sebuah benang merah yang cukup kuat:

”Kamu seperti dipanggil untuk membangun sesuatu yang membuat hidup orang lain menjadi lebih baik – dengan menggunakan kemampuanku melihat pola, merapikan sesuatu yang rumit, dan kemudian mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih manusiawi” (chatgpt).

Ada lapisan yang disampaikan sebagai panggilan hidup seorang Asri Vitaloka: Aku adalah builder, bukan sekedar achiever; Ada sisi stewardship dalam diriku; Dan ada satu hal yang justru paling penting, yaitu human connection. Aku lumayan terkejut dengan kutipan-kutipan chatgpt. Dengan perpindahan setiap tahun, kuupayakan untuk bisa memahami sistem, berupaya memperbaiki (jika butuh), dan mengupayakan mendesain arah – baik dalam organisasi atau apapun yang sedang kubangun saat ini. Aku berupaya menerapkan ”Bagaimana hidupku nanti?” namun bukan untuk diriku, tetapi keluarga, divisi yang kutinggali, dan bagaimana sesuatu dapat bertahan lama.

”Aku ingin meninggalkan sesuatu yang lebih baik daripada ketika aku menemukannya”. Bagaimana aku membuat sebuah warisan yang dapat meninggalkan jejak seorang Asri Vitaloka baik sekecil apapun yang bisa ditinggalkan.

Yang terakhir adalah: untuk merasa terhubung. Dengan banyaknya achievement yang telah kuupayakan dan semakin kuat membangun hal-hal eksternal, maka ada sebuah kebutuhan untuk merasa terhubung dengan orang, pasangan, keluargam komunitas, dan sesuatu yang terasa bermakna versiku.

Ada sebuah bagian dari perjalanan hidup dimana belajar bahwa hidup yang berhasil tidak sama dengan hidup yang penuh. Bisa diupayakan untuk memiliki ini dan itu, kemudian masih muncul pertanyaan,”Terus.. untuk apa?”


Fase ”Mengumpulkan Fondasi”

Dan mungkin pertanyaan selanjutnya akan membawaku ke fase hidup berikutnya. Pertanyaan selanjutnya kepada chatgpt, kulanjutkan dengan menceritakan kisah singkat hidupku sejak usia 22 tahun sampai saat ini. Muncullah sebuah rumusan ”panggilan hidup Asri” dalam sebuah kalimat,”Membangun kehidupan mandiri dan bermakna, lalu menggunakan kemampuanku untuk menciptakan perubahan yang membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik”.

Aku tidak sedang berbicara bagaimana merubah dunia. Tenaga dan kemampuanku mungkin tidak cukup. Tapi bagaimana menjadi seseorang yang membangun, memimpin dan meninggalkan sesuatu yang bernilai. Apapun dan dimanapun lingkungan sekitarku. Period!

Jika bisa kembali dalam hidup masing-masing, kudapati diriku masuk dalam fase ”mengumpulkan fondasi”. Bagaimana membangun hidup sendiri dengan karir (membentuk pengalaman), kuliah (menambah pengetahuan), investasi (membangun keamanan), rumah/tanah (menciptakan aset), gym (memperkuat tubuh), serta perjalanan, kesendirian, dan kegagalan hubungan yang membangun arti mengenai kebutuhan emosional.

Semua seakan terpisah, namun bisa saja diriku sedang mempersiapkan dalam fase kedua hidup selanjutnya. Tidak hanya,”Bagaimana aku bisa membuktikan bahwa aku mampu?” melainkan ”Apa yang ingin aku bangun dengan semua kemampuan yang sudah dimiliki?”. Masalah selanjutnya bukan lagi,”Apa yang bisa aku dapatkan?” tetapi ”Dari semua yang bisa aku lakukan, mana yang sebenarnya layak aku lakukan?”.

Mari kita sebut dengan fase kedua hidupku, yaitu fase AUTHORITY. Bukan dalam authority dalam arti jabatan, tetapi otoritas atas hidupku sendiri. Dalam sebuah satu pola transformasi, yaitu dari external validation menjadi internal alignment. Dan kemudian topikpun beralih menjadi ajakan untuk mengetahui core value diri dengan – Aku/Dirimu ingin hidup dengan cara seperti apa?


Rasa Penasaran pada Mengidentifikasi Core Valueku.

Sepuluh pertanyaan dikirimkan dalam percakapan acak tak acak bersama chatgpt, hingga kemudian diputuskan satu kalimat yang menunjukkan core value-ku. Yaitu, ”Cukup aman dan tenang untuk tidak takut. Cukup bebas untuk pergi dan mengalami dunia. Serta cukup hangat untuk selalu punya tempat pulang”.

Dengan sebuah urutan yang bisa disusun sehingga menghasilkan Freedom à Security sebagai fondasi à Experience sebagai cara menjalani hidup à Connection sebagai tempat pulang à Peace sebagai suasana dalam menjalani kehidupan. Dan ada satu core value yang menaungi semuanya: meaningfull living – menjalani hidup yang terasa benar-benar hidup.

Untuk mewujudkan itu, aku sadar akan banyak proses berjumpa, memilih, dengan sesuatu yang diawali dengan perjumpaan dan bisa diakhir dengan perpisahan kemudian. Dalam melihat perjalanan hidup yang digambarkan dalam pertanyaan-pertanyaan utama, seperti Siapakah aku dan apakah aku mampu?; kemudian berubah menjadi ”Bagaimana aku membangun kehidupan yang aman?”; Bergerak menuju ”Untuk apa semua yang sudah aku bangun?”; Hingga berakhir menuju pertanyaan ”Apa yang ingin aku tinggalkan?.

Dengan segala pergerakan dunia dan sekitar yang bergerak cepat, gapapa kok bergerak lambat. Banyak yang kembali merenungi apakah ini bisa dijadikan sebuah ego yang terus dijalani dan kapan akan menyesal karna telah salah menjalaninya? Atau, dengan segala pilihan yang memiliki kelebihan dan kekurangan maka bagian mana yang akan bisa kamu tolerir jika sudah kamu sudah terlanjur berada di masa depan versi hidupmu.


Apa yang Membuatku Berbeda?

Sebuah pertanyaan yang kulemparkan ke dalam chatgpt, bukan dengan asumsi untuk aku lebih baik daripada orang lain, tetapi karena pertanyaan utama yang kubawa dalam hidup agak berbeda. Pertanyaan dengan lebih banyak didominasi,”Kehidupan seperti apa yang sebenarnya layak aku jalani?”

Hingga sampailah aku dengan pernyataan: Aku tidak terlalu terobsesi dengan ”memiliki”, namun terobsesi dengan ”mengalami”; Aku memiliki dorongan kuat untuk self-authorship;  Hidupku lebih banyak bergerak dalam tema freedom vs security; Aku memiliki kecendrungan ”meaning-seeking” yang cukup kuat.

Pernyataan yang cukup membuatku berpikir dan kemudian mulai melakukan analisis sederhana. Apakah itu sesuai dengan yang kujalani? Apakah sesuai dengan yang kurasakan? Karena kemungkinan aku sedang mengumpulkan bentuk kekayaan yang berbeda. Ada pula kemungkinan bahwa aku perlu menuliskan sendiri bagaimana aku mendefinisikan keberhasilanku, tanpa membandingkan atau menggunakan standar yang dimiliki orang kebanyakan. Ada pula sebuah kekhawatiran yang terjadi dimana pengejaran akan freedom kemudian memunculkan pertanyaan bagaimana aku menciptakan security untuk diriku sendiri.

Sesuatu seperti meaning-seeking akan menciptakan rasa gelisah karna selama ini seorang pekerja atau budak korporat akan mendapati dirinya menjalani tugas perusahaan dan berupaya untuk menjalankan tugasnya dengan sebaik atau semaksimal mungkin. Namun, apakah itu masih menjadi meaning yang ingin kualami dan kujalani dalam 10 tahun kemudian?

Tulisanku ini tidak serta merta menyebabkan banyak kehidupan lain yang sedang dijalani oleh orang lain terasa salah. Hanyalah sebuah checkpoint yang kulakukan dalam memaknai momen hidup, dan berupaya memastikan apakah pola core value sebelumnya masih bisa kugunakan dalam sepuluh tahun berikutnya? Jangan sampai, sudah tidak relevan lagi.


Apa Yang Sudah Kulewatkan?

Perasan takut selalu ada yang dilewatkan dan telah memilih jalan hidup yang tidak tepat akan menjadi sebuah bayang-bayang di hari ini. Jikapun boleh dibuatkan dalam sebuah rangkuman fase.

Fase 1 – usia 22-34: Mengumpulkan dunia dan membangun fondasi (dalam tema experience dan capability)

Fase 2 – usia 34-40: Memilih kehidupanku (dalam tema freedom dan alignment)

Fase 3 – usia 40-50: Memperbesar pilihan (dalam tema wealth dan freedom)

Fase 4 – usia 50-an sampai mendekati usia pensiun: Rooting (dalam tema home dan belonging)

Fase 5 – Pensiun: The Home Base

Segala fase hidup yang diciptakan chatgpt dan berupaya untuk menjadi topik dalam fase hidupku, tidak menjadi sebuah hal pasti. Bisa berubah dalam waktu yang tidak dapat ditentukan. Karna bukannya hidup yang kita ketahui hanyalah detik ini. Bahkan satu detik kemudian tidak ada yang pernah tahu.

Kemarin adalah masa lalu, dan besok adalah sebuah misteri.

Ada sebuah kalimat yang aku dapat juga. Sebuah ucapan dari chatgpt lagi. ”Ini orang bukan tertinggal. Dia sengaja membangun hidupnya dengan urutan yang berbeda”.

Akupun berupaya untuk tidak melihat pilihan orang sebagai pilihan yang salah. Walaupun tentu saja akan ada beberapa komentar orang yang sampai ke aku. Tak jarang respon emosi keluar, namun akhirnya aku berusaha untuk melihat dari sudut pandang berbeda. Bahkan segala pilihan yang kudapati, kujalani dan kutolak merupakan hasil bentukan genku, lingkunganku, dan kebutuhan dari hasil pilihan-pilihan kecil yang selalu kupilih setiap harinya. So, thats OK untuk setiap pilihan selagi tidak merugikan diri dan orang lain.

Selalu Kuawali dengan Mengetahui Akhir Tujuan.

Hingga tulisan demi tulisan kutulis dengan tujuan membuat sebuah warisan. Akhir tujuan yang belum pasti, namun begitu ingin meninggalkan sesuatu akan kusebut dengan warisan.

Warisan bisa menjadi akhir tujuan. Dan kita tidak sedang berbicara mengenai harta benda saja. Ini bisa sebuah legacy atau sebuah warisan untuk bisa menorehkan akan seperti apa dirimu dikenang dan dikenal dalam jangka waktu tertentu di lingkunganmu.

Pertanyaan terus muncul saat dirimu merasa ada yang sudah tidak relevan. Dimulai dari pertanyaan panggilan hidup, core value yang akan dijalani, hingga penamaan fase di setiap group umur seakan membuatnya menjadi lebih mudah untuk dikelompokkan. Jika bingung dalam hal apapun, aku akan kembali ke akhir tujuan, akhir garis, dan bahkan akhir cerita.

Dengan mengetahui akhir yang diinginkan, biasanya akan mudah mengetahui apakah jalan ini terlalu kusut, sudah lurus untuk menuju tujuan, atau apa. Dan ”the editing years” akan menjadi sebuah topik saat dirasa perlu dilakukan perubahan. Apakah ini tahunnya, tahun lalu, atau justru tahun depan.

Thankyu, Asri Vitaloka.

Friday, March 6, 2026

5 Kota Memanggil

 

Konon katanya kalau kamu merasa sesuatu kepada sebuah kota, bisa saja sudah ada kisah yang disiapkan akan dijalankan olehmu dikemudian hari. Terbersit kemudian aku merasa beberapa kota yang lumayan memanggil. Entah karna aku pernah tinggal atau akan tinggal disana. Lima kota kucoba mencari tau dari kota paling memanggil versi hidup aku di tahun 2026.

Setiap kota memiliki rasa dan makna tertentu. Mungkin bisa dijadikan sebuah refleksi apakah anda atau saya memiliki kota indah yang akan memanggil dikemudian hari. Apakah kota tersebut anda dapatkan dari celetukan teman, tak sengaja jatuh cinta dari sebuah film, atau hanya tertarik saja gitu.

#1 Kupang: Indah dengan Keberagaman

Kota Kupang, kota kasih. Sebenarnya kota ini lumayan ada keterikatan emosi antara aku dan bapak. Beliau kudengar pernah mendapatkan kesempatan untuk bisa pindah dan dinas di Kota Kupang, namun tidak pernah sampai. Entah karena belum rejeki, dan beliau tidak ingin pindah jauh dari keluarganya. Hingga, akhirnya kupikir anaknya menggantikan beliau. Ya, anaknya yaitu aku.

Pergi menjajaki dunia kerja sejak tahun 2014 di Jakarta. Tidak begitu lama. Begitu tiba tahun 2015, seorang Asri Vitaloka harus pindah dan menetap di Kota Kupang hingga saat ini. Sudah 10 tahun lebih lamanya. Kaget dengan orang-orang, lokasi, dan segala budaya. Namun, disinilah aku masih sangat mencintai NTT ditengah gempuran sekitar yang ingin kembali pulang ke rumah masing-masing.

Kupang bagiku: Sebuah kota cantik dengan toleransi tinggi. Untuk pertamakalinya kudapati kota dengan warung babi dimana-mana dan tidak menjadi sangat minoritas karena mayoritas disini adalah Kristen atau Katolik. Sebagai kota pertama, hidup sendiri sebagai Asri Vitaloka dan berdiri di kaki sendiri. Mencoba mencari tau, apa yang terjadi kemudian. Kota pertama berdiri mandiri dan mengusahakan apapun yang diinginkan. Adakah kota seperti itu bagimu?


#2 Rote: Tidak Tersentuh hingga Jatuh Cinta

Pulau Rote, dengan pelabuhan kota Ba’a. Selalu sulit menjelaskan sedang tinggal dimana ditengah banyaknya orang yang tidak mengenal pulau tersebut. Hingga sebuah kalimat paling ampuh dan lumayan menjelaskan, ”Pulau paling selatan Indonesia”. Dan selesai, orang didepanmu akan menjawab,”Haaa, oke tau”.

Sebagian perjalanan karirku dalam 10 tahun di Nusa Tenggara Timur dihabiskan di pulau tersebut. Menikmati perjalanan karir dengan menerapkan slow living namun dengan pikiran liar yang selalu bertanya,”Sampai kapan disini?”. Aku bahkan pernah membayangkan akan menghabiskan usia 30-an ku disana. Sebuah pulau tanpa ada hiruk pikuk berlebih. Bahkan menjadi pulau sepi tanpa kendaraan saat bensin lagi langka.

Rote bagiku: Sebuah pulau yang memberikan aku harapan, pelajaran, dan sebuah rasa kasih serta cinta. Aku menjadi seorang yang berbeda disana. Rote menjadi teman personal brandingku dalam perjalanan karirku. Aku mendapatkan supervisor dan manjerial pertama di pulau tersebut. Bahkan sempat kujalani kasih cinta dalam jangka waktu hampir 4 tahun saat bertugas disana (tumben). Thankyu Rote, seorang Asri belajar menjalani slow living dengan indah beragam rasa dendam, cinta, dan kasih dari keluarga besar baru disana.

#3 Sumba: Perasaan Akan Menetap 

Sumba sebagai sebuah kota pertama yang kutebak saat berada di Rote. Aku ingat aku sedang bersama teman di sebuah kafe 777, Baa. Dan kuselentingkan bahwa kemungkinan setelah ini akan ke Sumba Timur. Beberapa bulan kemudian terjadi.

Sumba menjadi sebuah pulau dengan kenangan indah, akrab, dan juga memberi kesan yang tidak akan terlupa. Kasih dengan pasangan, akrab sementara dengan beberapa teman, dan menjalin indahnya hubungan pekerjaan antara teman sekantor. Banyak perjuangan dan tidak mudah. Namun akan ringan jika tidak dijadikan beban.

Thankyu team. Tidak mudah perjalanannya. Dijauhkan dengan teman, dijauhkan dengan kekasih, dan diuji oleh malapetaka bencana yang tidak terelakkan. Kejadian Covid-19, Seroja, dan peristiwa meninggal dunia seseorang tak hanya memberi kesan mendalam dalam sebuah keinginan untuk menyerah, bertahan, dan keinginan untuk harus menguatkan sekitar padahal sendirinya juga rapuh.


#4 Labuan Bajo: Candu hingga Berulang Kembali

Kalimat pertama yang terlintas adalah sailing trip Labuan Bajo. Sejak kuliah, aku sudah mendengar tentang Labuan Bajo. Belum juga tiba karena untuk bisa kesana butuh biaya yang lumayan besar. Bahkan sekarangpun bisa dikatakan sebagai trip premium ya.

Begitu tiba di Kupang tahun 2015 dan kuputuskan untuk menjajaki Labuan Bajo segera dalam waktu sesingkat-singkatnya. Hingga 2016 tiba, akupun sampai disana. Datang, berlibur, dan merasakan sailing trip yang sangat diidamkan sejak lama. Tidak pernah aku mengetahui kota Labuan Bajo, hanya lautnya saja. Hingga kemudian aku memutuskan untuk datang kembali bahkan sebelum aku menuntaskan trip pertamaku disana.

Labuan Bajo bagiku: Sebagai pencinta laut dengan sailing dan snorkling, aku sadar bahwa semua karena Labuan Bajo. Sulit menolak cantiknya bawah laut Bajo. Kudapati diriku beberapa kali sailing kembali sejak trip pertamaku. Bersama teman, bersama kekasih, bahkan orang asing. Hingga kemudian semesta memutuskan aku untuk tinggal disini. Saat ini. Sejak 2025.

#5 Jakarta: Penuh Pengharapan dan Titik Balik.

Sebelas Bulan di Kota Jakarta. Singkat, padat, dan menjadi titik balik perjalanan karir Asri Vitaloka. Dimana Jakarta menjadi tempat aku ditolak sebuah perusahaan BUMN lain, sebut saja Telkom. Padahal aku lulusan dari Universitas Telkom. Belum berjodoh. Masih terngiang beberapa kali, saat aku harus berkeliling kompleks United Tractors sambil menangis akibat ditolak perusahaan tersebut. Haha.

Namun, di Jakarta aku tidak sendirian. Bahkan aku mendapatkan Bapak Asuh bagi muda-mudi Jakarta saat aktif dengan kegiatan Pura Rawamangun. Tidak pernah aku melupakan saran beliau. ”Pergilah bersembahyang di sudut pura disana (Pura Rawamangun) dan mintalah yang terbaik agar diberikan jalan yang mudah untuk mendapatkan pekerjaan”. Boom! Aku kembali ditolak Bea Cukai dan berhasil masuk di kantor BUMN saat ini. Terimakasih Tuhan.

Jakarta bagiku: Dengan kerasnya perjuangan tinggal di Jakarta, sebenarnya kota ini yang mengajarkan aku untuk berani pertama kali. Bahkan bukan Kupang atau Rote. Sebagai sales saat itu, berkeliaran dari Timur hingga Barat Jakarta. Naik motor melawan tingginya ban truk yang melintas di perbatasan Bekasi. Ah, seru banget.

Setiap tahun, ada saja kesempatan untuk bisa tiba kesana. Kembali datang ke Pura Rawamangun. Sweet.


(Tambahan Kota) Scotlandia: Terasa Tidak Asing.

Setelah asyik menimbang, mengingat, dan meresapi indahnya kota-kota di Indonesia yang berarti bagi hidup aku. Akhirnya kudapati diriku jatuh cinta pada kota lainnya. Bukan Paris, bukan Hanoi, atau mungkin Bangkok. Tapi, Scotlandia.

Apa karena para pria dari sana rupawan? Haha, bisa saja. Tapi, ada sebuah perasaan unik saat melihat rok motif kotak-kotak dengan nuansa merah yang terkenal digunakan oleh para pria. Tidak sedikit film-film Barat yang mengenalkan aku pada kota tersebut. Hingga jatuh cinta tidak pada pria, tapi pada sebuah kota. Semoga ada masanya, ada panggilannya, dan bisa tiba disana kemudian hari.

Scotlandia bagiku: Belum pernah sedekat itu dari sisi jarak. Terasa tidak begitu asing bahkan saat melihatnya dalam film-film. Bahkan aku merasa senang saat film Bridgerton menayangkan tarian khas Scotlandia didalamnya. Suka, tenang, dan menarik hati.

OK, Thankyu.

Kota tidak sembarang kota. Dengan perasaan unik saat berada didalamnya, aku bahkan merasa ada kota yang menerimaku dan ada yang hanya mengijinkan untuk melihat-lihat. Satu dua kota begitu berarti karena dibarengi dengan pengalaman dan pelajaran hidup. Satu dua kota menjadi berarti karena membuat aku mengenal beberapa orang yang sempat menemani hidupku dalam beberapa periode.

Lalu, bagaimana dengan kota versimu? Adakah kota yang memberikan perasaan ingin pulang, ingin mengulang, atau bahkan memberikan perasaan tenang karena kamu suka dengan kota tersebut. Atau adakah kota yang bahkan tidak kamu sukai? Yah, semua tentunya ada warna dan warni saat berada didalamnya. Saat menginjakkan kaki. Saat datang dan kemudian berpamitan.

Ada kota yang membuatnya berarti dikarenakan people didalamnya. Ada karena nuansanya. Ada karena masa indahnya. Mungkin satu dua refleksi kota bisa membuat kita tahu seperti apa kehidupan yang diinginkan. Hanya dari memori dan kenangan saat berada di sebuah kota.

Baru kemarin aku berjumpa dengan teman sekolahku. Satu ucapannya begitu membekas di hati. Ini saat terakhir kamu di NTT. Entah kenapa, ucapannya malah menyesakkan ya. Di satu sisi, aku juga merasa sudah akan habis waktunya. (Mungkin) Sudah saatnya menuju tempat baru dan peran baru.

Terlepas dengan banyak kota dan kenangan yang akan diukir dalam memori, tak jarang memberi rasa kesan mendalam mengenai bagaimana "Menjalani Setengah Hidup (lagi)". Dengan begitu, segala penuh rasa syukur akan diucapkan, segala bentuk tindakan akan dilakukan, dan banyak hal positif yang akan dipikirkan.

Thankyu, Asri Vitaloka.

Wednesday, February 4, 2026

Menjalani Setengah Hidup (lagi)

 

Aku pernah menyapa mbak dan mas barista di salah satu coffe shop Labuan Bajo. Sering sih malah. Satu dua menit kurang momen ngobrol yang enteng dan tanpa ada tujuan tertentu di akhir pembicaraan. Seakan sudah lama aku tidak basa basi dan ingin membahas sesuatu yang lumayan dalam.

Satu pertanyaan bermula dari,”Apa hasrat terdalam yang ingin kau capai?”. Sebuah pertanyaan yang kudapati aku sampaikan kepada mba barista. Dengan penuh semangat dia mulai mengeluarkan segala jawaban yang kurasa membangkitkan gairah akan mimpi-mimpinya. Mimpi yang dengan semangat ingin diwujudkan dengan upaya kerja keras.

Hingga kemudian, kulanjutnya dengan pertanyaan lainnya.

Sebuah Intro.

Aku coba membuka sebuah situasi dan kondisi. Hampir sebelas tahun bekerja dan kudapatkan diriku sudah berjalan jauh entah berada dimana. Pikiranku berkeliaran setelah kembali melihat sebuah pinguin yang memutuskan mencari jalan lain dari gerombolan. Aku pun sulit untuk hidup bergerombolan. Belakangan itu menjadi hal yang semakin sulit.

Usia sudah tak muda, tapi juga tak tua. Teman semakin sibuk dalam memantaskan dirinya di lingkungannya. Sesuatu yang dikejar dengan sangat mulai tidak mengairahkan. Bahkan mulai membuat jengah. Ada beberapa situasi dan kondisi yang seharusnya menjauh, namun semesta seakan tak lelah mendekatkan sedikit sebelum dijauhkan kembali. Intinya, mari membuat sebuah pola baru untuk menghadapi hari demi hari.

Pergerakan dunia yang begitu cepat tak lagi membuat bahagia. Apakah gairah yang sering ada karena hal sederhana masih menciptakan spark di dalam jiwa? Atau kini kuhadapi dengan dunia orang dewasa yang flat dan berupaya mencari sesuatu untuk diperjuangkan. Sambil berjuang tidak merasa sepi di dunia yang sangat padat.


Ceritakan Hasratmu, Please.

Pantas saja dulu aku sempat berpikir. Sepertinya tidak begitu menyenangkan menjadi orang dewasa atau usia yang semakin matang. Setiap orang yang sedang berjuang dalam jalur trackingnya sendiri. Berupaya melihat jalur tetangga dan terkadang ingin menikung, mencoba, serta mengambil jalur tersebut. Tanpa paham bahwa tidak semua jalur sesuai dengan kebutuhanmu.

”Coba sebutkan apa sebenarnya hasratmu saat ini?”, tanyaku kepada salah seorang barista berusia kurang lebih 20an tahun. Dengan mata berbinar kemudian dia menyampaikan semua hal menyenangkan yang belum terwujud dan ingin dicapainya. Tanpa sadar aku membuat sebuah list tak kasat mata. Sebagian besar sudah kujalani dengan mantap di masa lalu. Kini, itu sudah tak lagi menggairahkan. Semua ada masanya dan semua masa ada batasnya.

Sangat kurindukan mata berbinar saat berbicara dengan seseorang. Berupaya menceritakan hal antusias dan menyebalkan yang terjadi di hari tersebut. Terkadang pernah kudapati diriku mengulang hal-hal yang membuat bosan lawan bicaraku. Bahkan satu diantaranya dengan gamblang mengatakan dirinya lelah mendengarkan (MDP). Lalu, apa hasrat terdalammu saat ini Asri Vitaloka?


Mata Berbinar = Bahagia?

Pertanyaanku kemudian bergerak dari hasrat menjadi hal bahagia. Aku pernah mendapatkan hawa rutinitas dan kemampuan untuk bertahan membuat para orang dewasa bergerak dengan kaku, tidak bahagia, serta marah-marah (kadang-kadang). Apakah aku sudah sampai disana?

Kulanjutkan pertanyaanku kepada mba barista,”Lalu apa itu bahagia?”. Kudapatkan beberapa jawaban seperti bahagia adalah saat kita sudah tidak perlu memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan kita. Namun, apa sebenarnya kebutuhan yang sangat diinginkan? Aku kembali berputar terhadap kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan yang sangat diinginkan jiwa.

Tak sulit kadang untuk mendapatkan satu hal yang terukur, seperti harta, keinginan menonton konser, dan sejenisnya. Yang sulit menurutku, disaat dirimu merasa cukup dan tidak tahu lagi menginginkan apa. Apakah ada rasa bahagia? Aku rasa tidak. Atau sebenarnya bukan apa yang dibutuhkan? Jangan sampai, rasa sepi karna sendirian? Tapi apakah bersama seseorang atau lebih bisa membuat dirimu cukup. Kurasa juga tidak.

Keinginan apa yang benar diinginkan.

Pernah ga sih merasa lelah dengan berupaya mendapatkan semua hal. Bahkan hingga saat ini aku merasa kewalahan jika memiliki satu barang besar yang harus dirawat secara terus-menerus. Bukan bermaksud menyalahkan orang-orang. Tapi, banyak orang yang kujumpai dengan aura merasakan keinginan untuk menjadi kaya dan memiliki segalanya.

Kemudian, muncul satu pertanyaan. Setelah hampir sebelas tahun bekerja dan hidup sendiri di kaki sendiri. Sesungguhnya keinginan apa yang benar-benar kuinginkan? Apakah memiliki keluarga, anak, melanjutkan sekolah, memiliki rumah, mobil, motor, atau apa? Entahlah.

Usia kebanyakan manusia mungkin rata-rata di 70-80 tahun. Itupun jika hidup sangat sehat dan tidak memiliki penyakit atau kejadian yang begitu luar biasa. Kini sedang kujalani usia 34 tahun. Aku baru setengah jalan. Lalu, setengah jalan lagi akan kujalani dengan cara apa?

Kudapati diriku bekerja dan berupaya mengusahakan gym dengan rutin. Kemudian kudapati diriku mulai bepergian baik sendiri maupun bersama teman. Lalu apa? Berupaya mendapatkan karir dan mengejar semuanya, kurasa agak melelahkan. Kemudian apa? Entahlah.

Menjalani Setengah Hidup (lagi).

Kuputuskan untuk kembali berdamai dengan diri sendiri. Berupaya tidak hanya mencari rasa ramai semu. Aku duduk sebentar di kafe dan berjalan tanpa arah di pusat keramaian. Berada di sekitar banyak kawanpun ternyata tidak membuat sesuatu terasa penuh.

Ingatanku kembali diantara sebelas tahun perjalananku saat sudah bekerja. Jika pilihan paling mudah kuinginkan untuk memilih mengulang perjalanan hidup yang mana? Sepertinya aku ingin mengulang kehidupanku di 2018-2022. Hidupku tidak ramai, namun aku merasa lengkap. Thankyu MDP.

Aku bukan wanita independen yang menginginkan semua hal ambisius. Kudapati diriku hanya bekerja cukup keras untuk bisa memperjuangkan satu-satunya hal stabil yang bisa kupegang, yaitu semangat bekerjaku. Sampai pada titik semesta seakan memberikan hadiah-hadiah kecil berupaya satu-dua pencapaian. Hingga aku tiba di langkahku pada hari ini.

Suatu saat chapter hidup bergerak. Kuinginkan untuk mengulang kembali periode tahun tertentu. Tapi, aku sadar. Setiap pribadi tak pernah sama, walaupun orangnya sama. Setiap perjalanan akan dirasakan berbeda walaupun lokasinya sama. Tapi hasil tempaan semesta sudah menghasilkan pribadi yang berbeda. Akupun sudah berubah. Anda juga berubah.

(Kembali) pada Topik Setengah Hidup Lagi.

Aku ingin sekali berjumpa dengan orang-orang luar biasa dengan pengalaman hidup beragam. Pengalaman hidup orang lain adalah sebuah cerita paling mudah untuk mendapatkan pelajaran tanpa harus menjalaninya. Jika sulit mungkin akan kudapati diriku mulai membuka youtube dan mencari hal yang disesali saat usia menyentuh usia yang matang.

Apakah ada yang akan kusesali? Apakah kaya menjadi hal yang harus kukejar? Apakah aku perlu mengupayakan untuk menciptakan sebuah keluarga? Apakah aku harus mengantungkan diriku kepada orang lain. Siapkah menghadapi rasa kecewa yang akan muncul kemudian. Ah, capek kali kurasa.

Satu hal yang kuingat. Seorang yang pernah kupercaya dengan sangat mengajarkanku untuk bisa menikmati saat ini. Duduk dan diam. Tidak melakukan apa-apa. Mencoba menikmati waktu berdua yang saat itu tidak kupahami maknanya. Seakan dia sudah memahami bahwa momen tersebut akan sulit untuk dipertahankan selamanya. Hingga akhirnya dia muak dan kami pun berpisah.

Sampai tulisan ini dibuat, seorang aku juga masih kesulitan mencari makna hidup yang mana untuk dikejar dan dijalani dalam setengah sisa hidup (yang kalau dikasi umur panjang). Akan kujalani hidup dengan berupaya tidak membuat orang lain kewalahan dengan diriku. (Kayanya sulit). Akan kupastikan diriku lumayan berguna bagi orang lain. (Jika masih ada kesempatannya).

(Out of Topic) Kembali Sering Bermimpi.

Ditengah pergulatan diri antara mencari makna hidup di antara usia 34 tahun yang sedang dijalani, aku kembali sering mendapatkan mimpi-mimpi aneh. Tak jarang orang terkasih yang pernah menemani hadir satu per satu. Konon katanya jika hadir dalam mimpi, ada sebuah proses pembersihan jiwa terjadi. Alam bawah sadar melakukan kegiatan sibuk dalam mencerna, menyembuhkan, dan menyadari rasa di masa lalu.

Aku pernah mendapatkan diriku sampai begitu takut tidur karena beragam mimpi aneh dan melelahkan. Hingga belakangan, ini terjadi lagi. Satu dua kali masuk bersama orang-orang yang pernah hadir. Kemudian muncul orang asing. Hingga mimpi acak yang tidak bisa dipahami secara gamblang. Konon katanya, alam bawah sadar berupaya memproses banyak hal agar tidak bertumpahan saking penuhnya.

Di segala rasa lelah secara fisik dan pikiran saat ini, ada alam bawah sadar yang juga lelah membersihkan dan mengupayakan banyak hal agar tetap stabil. Bahkan ditengah hari rutinitas sudah mengerogoti, paling tidak mimpi di malam hari cukup ramai untuk dipikirkan ketika bangun.

So, buat anda yang sedang mencari makna hidup. Aku juga. Justru ini hadir disaat sepi. Justru ini hadir disaat tidak ada yang menemani. Akan seperti apa dirimu dalam menjalani setengah hidupmu lagi? 

Akankah kita hanya mengulang yang pernah ada? Apakah lelah? Bisakah memilih hal lain yang lebih sejalan dengan makna dan tugas jiwa? Tapi bagaimana cara menemukannya. Ada juga tulisanku berjudul "Modal Menghadapi 2026" agar diri dipenuhi oleh rasa, momen, dan kehangatan di masa lalu sehingga cukup kuat dalam menjalani tahun di masa depan.

 Asri Vitaloka.

Sunday, October 26, 2025

Hey, 33.

Asri, si batita.

Kusampaikan sepucuk surat buat diriku. “Thankyu, Asri sudah berjuang sejauh ini. Bergerak dengan mode penuh dalam posisi bertahan. Karna ada rasa tak sanggup, namun tetap bergerak. Memilih untuk tidak menyerah dengan cobaan dan ujian yang dicoba-cobain. Tarik napas panjang jika lelah. Bersyukurlah jika ingin menyerah. Dan berupayalah jika tak ingin menyesal. Sudah sejauh ini, sudah tak perlu dipertanyakan lagi. Usahamu sudah luar biasa, silahkan duduk menunggu dan melihat hasil panen terbaikmu.”

Peran wanita single masih mendominasi. Walaupun harapan banyak akan sedikit bergerak menjadi wanita karir dengan partner hidup dan baby-baby lucu dalam sebuah keluarga. Mengelitik sedikit melihat sekitar dengan ingatan,”Oh, ini yang dulu pernah kuinginkan”. So, kusapa dengan lembut usia baru 33 tahun dengan segala dilemma dan romantika dunia “Onty” (aku) belakangan.

Adakah yang berubah?

Yap. Lokasi tempatku tinggal. Labuan bajo akhirnya menjadi tempat ke-4 di Nusa Tenggara Timur. Memberi warna berbeda setelah Kupang, Rote, dan Sumba. Akhirnya kudapati diriku berada di tempat yang dulunya ingin kudatangi lebih dari sekali. Tapi ini bukan tentang tempat.

Aku rasa kita butuh satu titik poin istirahat untuk mengetahui sudah sejauh mana berjalan, sudah sejauh mana perubahan dalam diri, dan akan bepergian kemana setelah ini. Menuju arah hidup yang mana dan seperti apa? Jika sudah mulai mempertanyakan, bisa saja jalan hidup lama sudah tak sejalan dengan jalan hidup di kemudian hari. Ini bisa mengenai kebiasaan, orang sefrekuensi disekitar, atau bahkan setiap pilihan yang dipilih.

Adakah yang berubah? Yap, ada. Setiap kesalahan, kepergian, dan keputusan salah benar di sebelum hari ini telah terjadi. Dan itu terus berupaya merubah pola untuk membuatmu bergerak dan tak hanya memilih sesuatu yang tak tepat di kemudian hari. Membuatmu memiliki pilihan untuk menjadi orang baru di kemudian hari.

 

Apakah yang pernah disesali dengan sangat?

Sudah masuk ke pertanyaan yang mulai menoreh emosi ya. Aku sesali kenapa tidak bisa berdiam diri dengan beberapa orang sama dalam jangka waktu lama. Kusesali diriku hanya punya waktu terbatas. Entah itu orang tua, mantan pasangan, kawan lama, atau partner kerja.

Makin kesini, makin disadari bahwa setiap manusia punya cobaan, ujian, atau rasa baru tidak nyaman yang dihadirkan guna mengubah seseorang dengan sangat patah sehingga menjadi baru dan lebih kuat. Bahkan, pasangan pun tak pernah menjadi kekal dalam waktu. Terkadang cinta yang begitu dalam bisa berubah wujud menjadi asing dan lebih jauh dari musuh bebuyutan.

Nulisnya aja sudah mulai nangis deh. Kezel banget. Ditambah lagi nyambi dengerin lagu Raisa yang lagi potek hatinya sama si Hamish. Jadi, apa yang kusesali? Waktu terbatas dengan keluarga, orang baru rasa keluarga, dan bahkan hubungan yang diakhiri perpisahan dengan tujuan pembelajaran. Dan akhirnya selalu ada awal mula baru lagi, sendirian.

Bagaimana caramu bersyukur hingga hari ini?

Kadang aku mengeluh dengan banyak gaya. Tidak sekali, dan tidak sedikit. Kudapati diriku selalu diingatkan untuk bersyukur. Ada saja cara semesta menyampaikan satu dua hal yang sulit kupahami. Orang asing dan teman lama tak sedikit yang mengucapkan,” Kamu senang ngobrol ya, ramah”, “Positive vibes banget”, “Tidak sedang tertinggal kok”.

Akhirnya kudapati diriku sedang disadarkan bahwa tak sedikitpun yang dilakukan bisa saja memberi dampak bagi orang lain. Tak hanya semua tentang diri ini. Dan tidak sekali kupahami bahwa ada tim, teman, dan sekitar yang membutuhkan energiku.

Kusyukuri dengan sangat apapun yang hadir sebagai penyemangat, pembelajar, atau pemberi arahan. Setiap hal yang sedang dijalani saat ini bisa saja yang kuinginkan dengan sangat di beberapa waktu lalu. Jikapun dapat kesempatan untuk bisa memberikan energi lebih dalam bentuk hal positif, baik itu di lingkungan pekerjaan atau lingkar kecil di sekitarku. Aku akan sangat bersyukur.


Siapakah yang ingin dijumpai di masa depan?

Aku penasaran seperti apa the partner of my life. Adakah orangnya? Siapakah orangnya? Yang siap menjalani hidup berdua untuk bisa saling memberi, menerima, memaafkan, dan memulai kembali. Pernah kudapati momen jatuh cinta dengan sangat, ternyata juga memberikan sakit hati paling parah. Tapi, apakah memang suka selalu disandingkan dengan duka? Jika iya, maka aku rela.

Aku pun percaya tidak pernah ada perasaan bahagia yang begitu dalam jika tak menghadirkan kekecewaan dan kesedihan mendalam di kemudian hari. Ditengah berbagai kisah perpisahan baik di lingkungan dekat maupun di berita ya, masih banyak harapan untuk berjumpa dengan satu orang terkasih dikemudian hari. Love.

Siapakah yang ingin dijumpai? Pasangan hidup yang membuat hidup aman, nyaman, penuh kasih. Tidak menuntut sesuatu yang sama setiap saat. Karna hidup penuh gejolak. Tapi, putuskanlah satu jika sudah memilih dan memiliki seorang pasangan. Dengan harapan sehati dan sekata hingga akhir hayat.

Karena perasaan paling dalam dari cinta sejati tidak bisa hilang, namun dapat berubah wujud dalam perasaan menghargai dengan sangat bahwa pernah mencintai sebegitu dalamnya.


Satu Dua Penyemangat.

“Cinta begitu dalam tidak pernah bisa menghilang, hanya berubah menjadi rasa syukur pernah memberi rasa sedalam itu. Tidak pernah kurang sesuatu dalam diri, dirimu hanya berada bersama seseorang yang tidak ditakdirkan bersama. Semua memiliki cerita dan peran berbeda, jangan pernah berharap memiliki kisah sama. Bahkan orang lain tak jarang menginginkan kisah yang kau Jalani. Tidak perlu menjadi setengah, mantapkan diantara nol dan satu. Ini membuatmu tidak sia-sia atau menyesal dengan keputusanmu. Semua bergerak tidak secara acak. Semua masalah bisa diselesaikan, beberapa hanya perlu waktu untuk selesai”.

Jadi, topik usia 33?

Tidak pernah secara acak dan berantakan sesuatu terjadi dan bersama siapa. Usia 33 tahun menjadi usia yang kuharapkan tidak lagi berlari dengan sangat kencang walaupun masih berlari kecil. Tidak lagi terlalu lelah, walaupun satu dua kali dibutuhkan upaya dengan sangat. Tidak terlalu bergantung pada orang lain, walaupun masih ada harapan ingin bergantung pada seseorang.

Usia 33 tahun menjadi titik tolak sehingga selalu berupaya memilih diri sendiri yang utama kemudian bersyukur jika bisa memberikan dampak kepada orang lain. Tidak pernah bisa memberikan hal baik dan bahagia jika dirimu belum selesai terisi.

Usia menuju matang dengan harapan bisa berjumpa dengan orang-orang sefrekuensi dengan penuh cinta, hangat, dan bersahaja. Di manapun berada. Tidak perlu mengejar banyak hal. Butuh momen cantik, langka dalam perjalanan satu dua kali. Berupaya tidak diam dan tenggelam dalam hal yang tidak bisa diubah. Selalu ceria dan berikan apapun secara maksimal dengan kapasitas yang bisa diberikan. 

Lemme talk about love. Tanpa cinta, terkadang hidup sepi. Tanpa cinta, tidak tercipta karya. Tanpa cinta, kadang-kadang rasa memiliki diripun kurang. Maka, its all "About Love".

Penuh cinta, Asri Vitaloka.


Friday, July 18, 2025

About Love.

 


















About love.

Ada beberapa momen seseorang menorehkan karyanya. Satu, dalam keadaan super sedih. Dua, sedih dikarenakan mau bulanannya. Aku seorang wanita. Yang selalu berupaya menemukan rumah. Diantara beberapa lokasi dan beberapa orang yang datang juga pergi. Semua bergerak dalam sebuah periode hari, bulan, bahkan tahun. Hingga kubayangkan bersama seseorang memiliki batas waktu dan juga garis tutup diakhir penghujung hari. Dalam satu hari entah kapan. Dan itulah yang selalu kupikirkan.

Menjadi seseorang yang selalu terlihat harus kuat dan mengupayakan banyak hal untuk membuat diri merasa pantas. Justru datang dari seseorang yang ingin dianggap sesuatu pada awalnya, kemudian bergerak menjadi entah apa yang kulakukan jika tidak bergerak.

Kuupayakan diriku selalu bergerak membuat senang banyak orang. Hingga kuputuskan untuk menjadi egois dan ngga papa.




















About love.

Tidak hanya satu kali kujalani hidup berdampingan dengan beberapa orang. Satu, bersama seseorang yang kupikirkan akan menemaniku entah untuk apa. Dua, bersama seseorang yang kurasakan rasa kasih dan cintanya. Tiga, hingga kudapati diriku jatuh cinta sangat jatuh hingga terluka cukup parah tanpa darah.

Setiap perpisahan kuakui memiliki rasa sakit beragam dan semakin sakit belakangan. Kemelekatan diantara dua orang. Aku dan orang lain. Sesuatu dan seseorang yang kuharap menjadi rumah aman serta kembali. Namun, tidak terjadi. Entah karena aku yang tidak siap menciptakan rumah. Atau orang lain yang belum merasa fit denganku.

Sunday, June 29, 2025

Mau Bilang Apa?

Sudah lama kali ya engga nulis apapun ya. Cuma mau bilang, ternyata lintas Rote-Sumba sudah closing di Mei 2025 buat perjalanan trip ala karir eyke. Labuan bajo jadi the next destination buat hidup aku. Yang belakangan strees, bangga, duduk, berdiri. Ketawa ketiwi, eh malah sudah disini.

Rada kota dengan vibes liburan. Biasa kesini jalan-jalan ini malah kerja. Jadi aku cuma mau bilang,”Selamat Asri, kamu sudah melanjutkan hidup ke chapter selanjutnya!”. Ngga cuma selamat buat aku. Kuucapkan selamat buat kalian yang lagi gedubrag gedubreg, lagi santai, habis pindah rumah, pindah kerja, habis married, habis lahiran, atau bahkan yang sedang berjuang dengan problemnya.

Cuma mau bilang. Semangat! Hidup jalan terus, kalau ruwet tidur bentar. Kalau ga bisa tidur, jalan kaki. Ngga kuat sendiri? Maka mintalah pertolongan. Ngga ada yang dimintain tolong? Berdoa yuk.

Disaat Jatuh, Mendadak Rajin Ibadah.

Aku pernah rajin bener ibadahnya, pernah melalang lintas waktu ibadahnya. Tergantung tempat biasanya. Tapi disaat satu momen kudapati diriku anteng tanpa cobaan dan kemudian boom! Mendadak semesta memberi kerjaan, ujian, dan cobaan. Dalam sedalam-dalamnya. Aku belum bahas hati ya. Ini tentang kerjaan.

Singkat cerita, kudapati diriku disalahkan atas banyak hal. Karena sesuatu yang merenggut jiwa di dunia kerja hingga kehilangan banyak tim secara mendadak. Mendadak ganti bos, mendadak ganti teman sejawat, dan mendadak harus berdiri tegar ditengah tim sekitar yang butuh dikuatkan.

Disana kusadari bahwa. Beberapa momen terpaksa tegar dan kudapati diriku beribadah dengan sangat khusyuk. Teduh, sedih, dan begitu dekat dengan Tuhan. Jadi, cuma mau bilang: “Dimulai lagi yuk, dengan khusyuk dan teduh untuk berjumpa dan rindu dengan Tuhan”. Dan aku sampe berpikir, dikasi cobaan soalnya Tuhan rindu sama kamu.

Disaat Pintu Terbuka, Mendadak Semua Seakan Mudah.

Kudapati aku pernah mencap diriku bahwa,”Ngga akan aku dengan mudah mendapatkan apapun yang kuinginkan dimuka bumi ini”. Boom! Sudah lama menanti, menunggu, dan kudapati bahwa ngga ada yang ngga mungkin. Begitu tertulis rejekinya buat kamu, percayalah apapun situasinya seakan mengalir menuju pada dirimu.

Aku mau ini. Ngga dapat. Pengen itu? Kelewat. Sampai sekarang, ngga ada pengenku satu satu. Lah, seakan semesta memberikan satu per satu paket cerita kehidupan yang keluar dengan indah, cantik, dan sesuai kemampuanku. Konon katanya rejeki dan cobaan setiap orang berbeda. Maka kuterima rejeki luar biasaku dengan lapang hati dan berupaya tidak membandingkan apapun yang sudah diterima di waktu yang tepat.

Satu hal yang dulu sempat kuyakini dengan sangat. Dan aku cuma mau bilang,”Jika berebut untuk mendapatkannya, maka akan kulepaskan dengan Ikhlas. Jika mudah dan special buatku peruntukannya, maka seberapa besarpun orang berupaya mengagalkannya maka akan kembali kepadaku dengan mudah”.


Disaat Jatuh Cinta, Mendadak Buta Sekitarnya.

Kalau orang bilang kutak jatuh cinta? Mungkin satu kekuranganku adalah syulit bertahan dan menemukan sang pujaan hati yang menetap. Terkadang kulari, dan tak jarang pasangannya yang lari. Wkwkwk. Namun, begitu mudah jatuh cinta dan dalam merasakannya, kemudian seketika semua mendadak buta dibuatnya.

Friday, April 18, 2025

Indah dalam Pertanyaan

 

Aku lagi duduk di Es Teh Indonesia dan berharap bisa mengerjakan proposal thesis. Namun, bukannya bisa mengerjakannya, aku malah terpikir untuk bisa menuliskan sesuatu. Pertanyaan yang kadang ditanyakan orang lain. Baik ditanyakan secara langsung atau kudengar dari orang lain.

Terakhir tadi malam ada sebuah pertanyaan,”Kota mana yang paling ingin untuk kamu tinggalin?”. Dan ternyata pertanyaannya sulit ya. Aku coba berikan beberapa pertanyaan yang sering muncul di hidupku belakangan. Atau sekedar menjadi pertanyaan bagi diriku. Mungkin terkesan seperti memberitahu dunia tentang hal yang seharusnya private. Namun, bagiku ini sebagai pengurai apakah jawabanku sudah menuju ke hal tepat yang paling kuinginkan dalam hidup.

Mari kita coba mulai.

Anak yang baik? Atau Kepala Keluarga yang baik?

Aku pernah mendengar kata-kata ini. Dan menjadi seorang laki laki ternyata tidak mudah untuk berada dalam pilihan menjadi anak yang baik. Jika terlalu dominan maka kau akan menjadi anak. Tapi, jika kesempatan menjadi kepala keluarga diberikan maka itu adalah hal utama yang harus difokuskan.

Tidak bisa dijadikan dalam satu pilihan karena tidak apple to apple. Herannya sering terjadi dalam dimensi waktu yang sama (seakan sama) padahal sesungguhnya tidak. Berjalan seiringan dan terpisah. Kuharap kudapati seseorang yang tidak bingung dalam menentukan posisi serta menerima tanggung jawabnya dalam level dan kualitas selanjutnya.

Kota Indah mana yang paling ingin ditinggali?

Kalau keuangan sudah tidak menjadi masalah. Mungkin kupilih Rote sebagai tempat tinggal. Haha. Sebagai seseorang yang tidak berupaya mencari yang paling baik namun cukup, kudapati diriku sudah cukup dengan pulau. Tentu tidak semua memiliki jawaban yang sama.

Tapi ini bukan tentang kota, namun tentang siapa yang berada di kota tersebut. Aku pernah tinggal di kota besar, kota sedang, dan pulau sekalipun. Semakin sedikit ketersediaan yang ada di sekitar, keinginanmu semakin terbatas dengan menurunkan ekspektasi dan ternyata cukup.

Ingin kusapa lebih dulu, partner of my life? Sudah selesai pencariannya?

Aku sungguh penasaran dengan partner hidup yang bisa berbagi rasa, suka dan duka bersama. Bukan hanya untuk menjawab pertanayaan kapan menikah, kapan punya anak, dan kapan meninggal? Eh. Tapi memiliki pasangan yang bebannya adalah pilihanku. Keberadaanku adalah penyemangat dan tantangannya. Dan tidak berpikir untuk berpindah, walaupun lelah dan muak bersama.

Ada yang bisa berbagi berdua dalam cinta kasih dengan segala suka, duka, dan murka. Tidak ada pelanggi sebelum merasakan badai minimal hujan? Tidak pernah terang benderang, jika tak merasakan panas. Aku sungguh penasaran bersama siapa waktu akan dihabiskan. Dalam menjalani hidup berdua dengan anak sebagai bonus (jika diinjinkan).

Sunday, March 30, 2025

Me-Nyepi

 

Hai, aku tidak akan membahas mengenai hari raya Nyepi. Belakangan aku mendapat sebuah momen dimana kudapati diriku mulai berhenti sejenak, mempertanyakan beberapa hal, melihat sekitar dan berupaya melihat apa yang tidak terlihat.

Duduk menyepi di sebuah taman di atas mall yang lumayan besar di Kawasan Beach Walk, Bali. Kulihat lampu sangat terang disana, namun sangat gelap disekitar taman. Bahkan aku tidak dapat melihat wajah pengunjung lain di sekitarku saat itu. Kudapati diriku duduk sampai melihat banyak orang berjalan cepat dengan tas belanjaan. Mencoba mengejar sesuatu, hingga kusadari tidak ada yang perlu dikejar.

Beberapa pertanyaan random hadir seketika didalam momen tersebut dan beberapa momen setelahnya.

 (Teman) Kuterus memimpikan kawan lamaku, entah karna pengaruh apa.

Sejujurnya aku tidak terlalu paham dengan hubungan pertemanan. Di masa sekarang dengan segala untung dan ruginya, kudapati diriku berupaya memilah pertemanan yang semurni mungkin. Alih-alih mendapatkannya. Hanya tersisa, hubungan pertemanan yang berupaya tidak merasa iri dengan posisi kawannya, tidak merasa terasingkan dengan kehidupan keluarganya, atau sesederhana tidak terusik dengan komentar mengenai gaya hidup.

Namun, kudapati ada satu kawanku yang lebih sering dari sering masuk kedalam mimpiku. Bahkan saat aku sedang memiliki kekasih. Kurasa tak wajar memimpikannya, bahkan disaat tak berpikir tentangnya. Berupaya berpikir bahwa ini sekedar bunga tidur dimana tak ada makna didalamnya. Dan lambat laun, kudapati mimpi-mimpiku mulai memberikan informasi sesuatu. Kemudian kuputuskan untuk menyampaikannya.  

Benang merah dari sebuah hubungan. Yang lebih dekat dari pasangan dan saudara. Kudapati mungkin terdapat sebuah karma, karma di masa lalu. Atau ada sebuah peran yang dituntut satu sama lainnya. Kuakhiri dengan sebuah harapan tidak ada hal luar biasa menakutkan setelahnya.


(Mantan) Setiap beberapa kata-kata di media sosial mengarahkanku pada satu mantan lama yang tak kupedulikan lagi lawaknya.

Beberapa kawan mungkin tahu, bahwa aku memiliki pasangan yang telah kandas setelah hampir 4 tahun menjalaninya. Kini dua tahun lamanya. Kudapati diriku terus mengingat ucapannya,”Butuh orang baru untuk melupakan orang lama”. Dan tidak terjadi padaku saat ini.

Aku percaya apapun yang kubaca dan kuterima, baik dari media sosial maupun bacaan sebuah buku. Biasa memberikan sebuah petuah dan pesan tertentu. Aku mendapatkan sebuah pesan yang sering terngiang dan kudapati diriku menenangkan hati dengan beberapa kalimat.

Tidak pernah terjadi jika tidak harus terjadi; Tuhan menjauhkanmu dari hal-hal yang tidak kau dengarkan dibelakangmu; dan sesuatu untukmu akan dengan mudah menemukanmu. Maka, tenanglah hatiku dengan segala kesehatan dan keberlimpahanku.

(Ortu) Apakah hanya anak manusia yang bisa durhaka? Apakah orang tua tidak?

Disaat semua orang merasa bahwa anak yang selalu durhaka, namun bagaimana dengan orang tua yang selalu memberikan hal yang tidak sehat kepada anaknya. Tidak mungkin tanpa penyebab. Takut deh ngobrol panjang tentang topik ini.