Saturday, April 18, 2020

Apa kabar 2020 ?



 bandara Kupang

Ngga kerasa sudah masuk bulan April aja ya. Sudah 1/3 tahun setelah 2019 berakhir. Udah ngapain aja? Udah kemana aja? Udah membuat memori apa aja? (kayanya) ngga ada deh.

Sudah pada tau semua kan sekarang corona virus lagi seru banget buat menyerang orang-orang tanpa terkecuali. Virus luar biasa ini cukup mantap untuk mengubah kebiasaan seseorang, sekelompok, bahkan sebuah bangsa dan dunia. Ngga main-main ya. Jadi apa kabar 2020 buat aku, kamu, dan anda sekalian? (mungkin) baik-baik saja, hanya bakalan dirumah aja.

Sudah lama banget aku ngga nulis. Pengen banget nulis. Buka-bukain galeri handphone ngga dapat apa-apa. Bukain Traveloka juga ngga ada guna. Ya, lagi ada larangan bepergian. Anjuran pemerintah dan kita harus nurut. Oke! Catat!

Mau keluar di sekitar pulau juga malasnya astaga. Sudah hampir sebulan ya jadwal kantor udah ngga jelas. Eh, jelas sih. Cuma seminggu WFH, seminggu WFO. Dikit lagi kalau ngga nambah berat badan, yah paling nambah pengalaman jadi master chef karena segala jenis youtube dan instagram lagi seru-serunya ngebahas tentang masak-masakan simpel untuk di rumah. Ya kan ya kan. Hmm..

Sebenernya Mau Bahas Apaan?

Random. Apa ajalah. Mungkin sekedar ingin menyapa orang-orang yang ngebuka blog-ku dan entah pas lagi search tentang apa. Semoga kalian suka ya sama blog aku. Isinya banyak ko. Ada tentang perjalananku beberapa tahun lalu. Mengenai percintaanku, sedikit kadang bahas pekerjaan, dan sisanya tentang isi pikiranku mengenai apa aja.

Nah, kali karna udah terlanjur random dengan judul “Apa kabar 2020” aku ingin membahas sedikit mengenai sudut pandang ku entah mengenai kehidupan pekerjaan, pengembangan diri, kehidupan sosial untuk keluarga dan pertemanan. Serta tak lain dan paling seru, yaitu kehidupan percintaan. There we go!

Career | Hai Para Pejuang Bersama!

Akhir bulan ini bapakku akan pensiun setelah entah sudah berapa puluh tahun beliau habiskan waktu berharganya di kantor, berpindah tempat, bekerja, dan mengabdikan dirinya sepenuhnya untuk pekerjaan. Ku salut dengan dirinya yang tahan.

Ngga mudah cuy ternyata bekerja di dunia kerja. Aku pindah dari Jakarta karena kerjaan sales berasa kejam dan aku ngga sanggup, kemudian aku berpikir bahwa bekerja di luar sales akan lebih mudah ternyata tidak. Niat baik hanya ingin menyelesaikan pekerjaan terkadang tak cukup untuk membuatmu bertahan memerlukan sikap bertahan dan beradaptasi yang tangguh. Disini prinsip yang kau miliki bisa berbelok dan dipatahkan sepihak oleh orang-orang yang mengangap dirimu hanya bagian tak penting.

Next! Aku bakalan bikin satu tulisan khusus untuk bapak yang akan segera pensiun. Semoga jadi ya.

 menara hutan Bakau - Rote

Makin atas posisimu maka makin kencang angin berhembus.
Baik dengan maksud membuatmu semakin berkibar atau berusaha membuatmu layu dengan berusaha mematahkan dahanmu.

Self-Development | Rela Deh Kucobain Banyak Hal

Dulu jaman masi di Kupang. Mulai dari mau les musik lagi, les bahasa inggris, melihara ikan cupang, sampe nyoba buat mesen-mesen mebel ya. Ngga itu aja. Dulu aku punya kosan yang ada ruang tamunya. Pernah pengen nyobain jualan di CFD, bikin studio foto, sampe mau ikutan jadi youtuber. Sumpah ngga jelas banget kan.

Nah, kalau belakangan ini. Aku lagi nyobain beli bibit tanaman dari online. Ngga pake nanggung. Langsung bibit lavender, bibit cabe warna-warni, papermint, parsley, dan bunga apa gitu. Bungkus depannya si gambar matahari. Bibit sudah di tangan, baru liatin youtube. Cara menanam lavender dan ternyata baru 5 tahun baru berbunga. Aku mau sampe tua dong baru liat bunganya :”)

sudut renovasi bandara

Aku sampe di titik yang mungkin aku suka dengan design rumah, menata, dan kuputuskan untuk belajar AUTOCAD. Kan siapa tau bisa sekalian bikin design buat kos-kosan idaman. 

Social Life | Makin Tua, Teman Makin Langka

Dulu temannya mulai dari ujung ke ujung. Pergi kemana, ketemu orang. Selalu disapa, sampe kadang bingung itu namanya siapa. Terus makin menjurus, makin sibuk, makin hilang dari peradaban dan akhirnya mungkin temanmu itu adalah pacarmu. Atau mungkin hanya teman kantor aja?

Kalau aku rasa memang kehidupan pertemanan itu ada jangka waktunya dan kadang dihalangi oleh perbedaan tempat juga. Agak susah kan mau akrab kalau satu di Rote, satu di Padang. Pas mau whatsapp udah pikiran banyak. Dibalas ga ya? Sibuk apa ya?

 malam cafe Nembrala

Makin tua kenapa makin langka temennya? Hidup kita mungkin bergeser ke kehidupan keluarga kecil atau malah teman-teman yang sudah sibuk untuk menjalani mimpi mereka masing-masing. Tetep keep contact pasti ngga mudah, tapi bukan ngga mungkin kan?

Love Story | Udah Lah Ya, Udah Tua.

Kalau denger kata love story. Aku pengen ngebayangin tentang hal-hal romantis atau sekedar cerita pesan tidak dibalas. Hal remeh temeh yang nyebelin tapi kadang rindu untuk dilakukan. Sekarang? Setdah, udah umur sis.

Tapi aku bersyukur ya. Ditengah jauh dari keluarga, kejamnya politik dunia pekerjaan, bahkan ditengah terkurung di Rote aku masih punya kisah lain. Bersama calon kawan hidup dan menghabiskan waktu bersama. Untungnya posisi kami berdekatan. Cuma ini yang masih bisa dipercaya untuk tidak akan menjatuhkan. Masih mungkin membuat sakit hati, namun pastinya dipercaya masih ada cinta kasih yang diberikan.

miring pala incess.
“Kenapa kejebak gini di Rote yak”. “Ya udah, terima aja si ya”. Oke.
Kamu ngga akan pernah sadar dengan siapa kisah cintamu bersandar, tapi percayalah apapun itu. Itu yang terbaik dan terpas untuk situasi anda saat ini. Makanya, kuterima aja terjebak dengan bapak satu ini. Hahaha..

Asri Vitaloka | Rote, Island.
nb: foto di blog hasil motret sendiri yang diedit dari sudut pandang yang sudah diputar ya
alias putar gadget anda buat liat fotonya.

Monday, December 30, 2019

2019 to 2020.

Asri Vitaloka, tahun 2019.

Actually I don’t remember too much moment at 2019. Bahkan mungkin ku malas mengingatnya. Lebih banyak kejadian menyebalkan. Semua berjalan begitu cepat. Sudah kebiasaanku untuk tidak mengingat momen saat ini. Sudah menjadi kekuranganku, untuk selalu memikirkan yang akan datang. Sehingga aku lupa menikmati saat ini, waktu ini, dengan orang disekitarku. Tapi satu momen yang masih melekat. Sebuah ucapan yang aku terima, yaitu “Disini dulu sama aku”.

Aku ngga pernah nyangka bisa sampai di tahap ini. Kukira aku bakalan kehabisan energi ditengah jalan layaknya game tembak-tembakan yang kehabisan amunisi. Kaya tokoh game yang punya batas nyawa. Tapi nyatanya aku masih ada. Dan kenyataan bahwa Tuhan tidak akan memberi cobaan diluar batas kemampuan kurasa benar. Hanya terkadang anda yang tidak sadar.

Kayanya masih belum terlambat untuk mengungkapkan perasaan syukur, terimakasih kepada banyak hal. Kepada seseorang, kepada sebuah tempat, atau bahkan sebuah momen. 

Momen penting yang dapat dinikmati seseorang di suatu tempat dan masih diingat oleh ingatan manusia yang terkadang lemah. Mungkin tidak semua momen 2019 dapat kuungkapkan tapi kuharap beberapa tulisanku dapat menyimpulkan seberapa luar biasanya tahun ini. 

Masih Menikmati Rote!

Bukan waktu yang sebentar, dan masih berlanjut. Rote menjadi tempatku mengisi hari dalam hampir 2 tahun belakangan. Banyak suka duka yang kualami. Perubahan dalam diri banyak terjadi sewaktu berada di Rote. 

Sampai di tahun ini aku masih dalam pencarian jati diri yang secara tidak sengaja malah mengantarkan aku pada pengalaman dan pencapaian-pencapaian menarik. Seperti tulisanku di “NgerasainIkut Pemilu di Selatan Indonesia”, pertama seumur hidup dan terjadi justru di pulau Rote.

Suratku untuk Rote.

Dear Rote. 
 Terimasih sudah mengajarkan aku bagaimana menjalin hubungan. Cuma disini tingkat emosi seakan lebih memuncak kemana-mana. Tidak mudah menjalani hari di pulau paling selatan Indonesia. Begitu beragam pula cerita yang terjadi di sekitarku, mulai dari patah hati, sakit bertubi-tubi, hingga stress pekerjaan dan juga lingkungan keluarga. Tapi, pernah dengar? Kita harus diuji terlebih dahulu hingga sanggup mendapatkan sesuatu yang besar.

Ya, kudapati hampir di setengah tahun 2019 aku dipertemukan dengan seseorang yang ternyata menemaniku di slot periode waktu saat ini. Masih luar biasa, namun menjadi kisah bahagia di sisi lainnya. So, Rote give me more than I need to be exist in this world. I just can say thank you for everything. But, please! Don’t hold me too long in this island. Haha..

Kutak Lagi Berkaki Kereta.

Ketika kau memulai untuk menulis sesuatu kepada dirimu sendiri. Ini berarti anda menyadari sesuatu yang sudah, sedang dan kemungkinan akan terjadi kedepannya. Ternyata 2019 menjadi satu tahun masih dalam proses mencari jati diri. Kesalahan dilakukan. Semoga tidak merugikan.

 Surat untuk Diriku.

Monday, November 11, 2019

Telaga Nirwana - Rote Island



Telaga Nirwana

Ada nih satu telaga di pulau Rote. Disebut-sebut namanya Telaga Nirwana. Kalau mau kesana mudah banget, akses gampang, dan ga perlu jalan jauh cam mau pingsan buat sampe disana. 

Sesungguhnya di umurku yang baru bulan lalu nyentuh 27 tahun, kaya malas aja gitu ya mau jalan kemana-mana. Mau berenang mikir nanti masuk angin. Mau tracking bukit, nanti takut engsel kaki copot. Mau ke pantai, takut kulit makin kusam. Haha.. emang dasar udah rada makin nambah umurnya, makin malas jalannya. Tapi kali ini kusuguhkan Telaga Nirwana ala jalan-jalan tipis di Pulau Rote. Yang ternyata saat itu satu kawan kami ultah dan dia ngga info. Men!!

Inginku menceritakan tempat yang seru, menyenangkan, dan penuh energi waktu datang kesana. Tapi tempat yang satu ini memberikan kesan berbeda. Satu telaga di pulau Rote, yang disebut dengan Telaga Nirwana. Berusaha memberikan sebuah warna di tengah heningnya suasana sekitar, namun tidak luput memberikan kesan mendalam sewaktu sampai di sana. 

Tidak Jauh Hanya 10 Menit, Kira-Kira.

Kukira aku akan berjalan jauh kedalam hutan. Jika anda akan pergi ke Telaga Nirwana, cukup datang kearah desa Oeseli. Naik kapal hanya 15 menit dan berjalan kaki sekitar 10 menit kearah dalam. Dan taram, anda sudah dapat menikmati Telaga Nirwana.


Ps. Mungkin naik kapal mau nyebrang kea rah Telaga Nirwananya ngga sampe setengah jam, tapi kalian juga harus mengeluarkan biaya perahu sekitar 300K hingga 500K kalau tidak salah. Maaf ye, udah tua rada lupaan.

Monday, September 16, 2019

Wanita dan 27 Tahunnya Yang Akan Datang.



Hai.

Pernah ada di masa yang lagi galau galaunya sebagai insan umat wanita. Mengenai kapan menikah? Sudah di umur berapa sekarang? Tidak hanya mengenai kapan menikah, kemudian muncul kepenatan-kepenatan di sela-sela sedang meniti karir. Yang kayanya kalau dilihat-lihat sudah habis masa menyenangkannya, dan hanya tersisa orang-orang menyebalkan juga tugas yang tak kunjung habis.

Kesempatan lalu. Lalu banget. Aku iseng aja jalan-jalan sendiri ke Bali. Pengen banget ngerasain jalan sendiri dengan harapan bisa refreshing. Namun, ditengah perjalanan ngga kusangka aku justru menemukan perbincangan sekilas dan tak panjang namun cukup bikin mikir saat itu. Jadi, kucoba mengingat apa aja percakapannya waktu itu ya.

Berusaha Menjadi Asing, Why Not?

Beneran deh, sebelumnya aku mungkin lagi mumet banget ya. Entah masalah percintaan yang ngga kunjung kelar-kelar. Entah kerjaan yang kayanya lagi ribet seribet-ribetnya. Hingga akhirnya kuputuskan untuk menghabiskan waktu beberapa hari di Ubud, Bali. Kucoba untuk memposisikan diriku layaknya backpacker ala bule-bule dan mencoba hal baru yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Kucoba untuk menemukan orang baru diluar lingkaran biasanya dan menjadi asing seasing-asingnya di kota orang. Ini nih seakan lagi melakukan reset kembali sama kehidupan yang sudah terlanjur kau selami. Cobain deh. Silahkan lakukan itu sekali-kali. Walaupun tak jarang kau akan tersesat dan menyerah. Namun paling tidak kamu sudah mencoba hal baru.

Saturday, May 11, 2019

Hai, Hidupku!


Terimakasih sudah bersabar dengan semua sifat yang ada. Terimakasih sudah mau ada diantara orang-orang yang mungkin tak harus hadir dihidup kau. Terimakasih sudah berwarna dengan segala bahagia dan sedih yang muncul silih berganti.

Segelas coklat Sturbucks dengan meja café ala ala selalu bikin hati ingin menulis sesuatu. Setelah berbagai kegalauan mengenai membuat hati orang lain bahagia, kuputuskan untuk tak selalu memusingkan semuanya. Kuputuskan minimal aku bahagia dijalanku. Entah orang lain turut bahagia atau tidak. Kemudian, aku pun kembali penasaran sesungguhnya apa yang membuat aku bahagia dan juga sedih. Momen yang jarang aku resapi dan sadari selalu bergilir bergantian untuk membuat hidupku berwarna. Let’s check selentingan momen dan pemikiran yang bikin aku mikir akhir2 ini!

Pernah ngga kalian search di google “Apa tujuan hidup seseorang?”, seakan ingin mencoba mencari jawaban singkat ngapain sih kita selama ini. Sendirian bersama seseorang dan merasa seakan menemukan sesuatu. Kemudian kembali merasa tersesat oleh sesuatu yang kadang juga ngga jelas karena apa.

Bahagiaku, Melihat Senyum dari Kawan Hidupku.

Perjalanan yang selalu kuidamkan semenjak memiliki uang sendiri kini masih ada, namun tak setajam dulu. Keinginan bepergian ke suatu tempat tak lagi menggairahkan. Pada saat sampai disuatu tempat. Aku tau apa yang kucari. Bukan suatu tempat, namun satu orang.

Thursday, April 18, 2019

Rasaku Ikut Pemilu di Selatan Indonesia

sudut potret pelabuhan Ba'a, Rote

Pertama kali nyoblos dalam pemilu Indonesia 2019 di pulau paling selatan Indonesia, yaitu Rote Ndao. Kebayang kaya apa mules dan deg-degannya?

Dari sekian banyak pro kontra akan memilih 01 atau 02, kubulatkan tekadku untuk tetap memilih salah satu diantara mereka. Paling tidak aku sudah mendapatkan satu hak dan juga kewajibanku untuk ikut bersuara untuk Indonesia dalam 5 tahun kedepannya. Nah, bedanya situasinya bukan di dekat rumah melainkan pulau paling selatan Indonesia. Jadi, aku mau share sedikit gimana sih perasaanku mengenai pemilu kemarin. Bukan perasaan tentang ebeb lo ya.

Pertamax Gan!

Kalian ngga akan bayangkan. Mau berangkat kantor aja bangunnya susah setengah mati. Tapi, demi memberikan satu suara berarti di Rote aku rela bangun jam 5 pagi. Mandi baru jam 6.15 sih. Demi hanya untuk merasakan sensasi men-coblos pertama kali seumur hidupku. Jadilah aku sudah di tempat pemilihan jam 7 teng! Jam 7 guys!

Drama Ga Terjadi Hanya di Korea, tapi ditempat TPS.

Awalnya si aku rada ngga percaya diri bisa nyoblos di 17 April 2019 kemarin. Tapi kunekatin aja pergi ke KPU sekitar seminggu sebelum pemilihan hanya untuk memastikan diriku dapat nyoblos di 17 April ini. Dan singkat cerita aku berhasil memegang surat A5. Surat sakti yang membuat namaku masuk dalam kategori DPTB (daftar pemilih tambahan) kira kira gitu singkatannya.

Sudah yakin banget bisa milih di hari pemilihan dari jam 7 pagi. Eh, ternyata bapak-bapak ketua TPS nya nyuru aku dating lagi jam 12. Rasanya kek miris kek mana gitu. Gagal sia-sia bangun pagi jam 5 pagiku. Hahaha…