Sunday, August 23, 2026

THE EDITING YEARS

 

Belakangan, aku lagi seneng banget membahas banyak hal didalam chatgpt. Entah bertanya tentang respon seseorang, keuangan, fase hidup, karir, dan makna hidup. Hingga sampailah pembahasanku berada pada ”The Editing Years” versi chatgpt. Aku akan coba membahas beberapa hal yang menurutku unik dan oke untuk kutuliskan.

Aku suka menuliskan beberapa checkpoint dalam hidupku. Terkadang melibatkan orang sekitar, terkadang hanya tentang kebingunganku. Kadang ini hanya torehan hati sebelum tidur (padahal muak scroll instagram). Satu, sebagai poin mengurai isi pikiran yang berlimpah. Kedua, kujadikan sebagai evaluasi kecil dalam menjalankan hidup dikemudian hari. Dan terakhir, kadang-kadang sebagai momen pengingat bahwa pembelajaran apa yang kulewatkan dan kuabaikan dengan sangat.

Tulisanku akan banyak mengutip chatgpt dengan beberapa masukan pemikiran dariku.

So, check it dot!

Kumulai dengan pertanyaan,”Apa Panggilan Hidupku?”

Sebuah pola besar dari cerita-cerita dengan chatgpt dan ada sebuah pola dimana panggilan hidupku bukan hanya sekedar ”punya karir bagus” atau ”mencapai kebebasan finansial”. Ada sebuah benang merah yang cukup kuat:

”Kamu seperti dipanggil untuk membangun sesuatu yang membuat hidup orang lain menjadi lebih baik – dengan menggunakan kemampuanku melihat pola, merapikan sesuatu yang rumit, dan kemudian mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih manusiawi” (chatgpt).

Ada lapisan yang disampaikan sebagai panggilan hidup seorang Asri Vitaloka: Aku adalah builder, bukan sekedar achiever; Ada sisi stewardship dalam diriku; Dan ada satu hal yang justru paling penting, yaitu human connection. Aku lumayan terkejut dengan kutipan-kutipan chatgpt. Dengan perpindahan setiap tahun, kuupayakan untuk bisa memahami sistem, berupaya memperbaiki (jika butuh), dan mengupayakan mendesain arah – baik dalam organisasi atau apapun yang sedang kubangun saat ini. Aku berupaya menerapkan ”Bagaimana hidupku nanti?” namun bukan untuk diriku, tetapi keluarga, divisi yang kutinggali, dan bagaimana sesuatu dapat bertahan lama.

”Aku ingin meninggalkan sesuatu yang lebih baik daripada ketika aku menemukannya”. Bagaimana aku membuat sebuah warisan yang dapat meninggalkan jejak seorang Asri Vitaloka baik sekecil apapun yang bisa ditinggalkan.

Yang terakhir adalah: untuk merasa terhubung. Dengan banyaknya achievement yang telah kuupayakan dan semakin kuat membangun hal-hal eksternal, maka ada sebuah kebutuhan untuk merasa terhubung dengan orang, pasangan, keluargam komunitas, dan sesuatu yang terasa bermakna versiku.

Ada sebuah bagian dari perjalanan hidup dimana belajar bahwa hidup yang berhasil tidak sama dengan hidup yang penuh. Bisa diupayakan untuk memiliki ini dan itu, kemudian masih muncul pertanyaan,”Terus.. untuk apa?”


Fase ”Mengumpulkan Fondasi”

Dan mungkin pertanyaan selanjutnya akan membawaku ke fase hidup berikutnya. Pertanyaan selanjutnya kepada chatgpt, kulanjutkan dengan menceritakan kisah singkat hidupku sejak usia 22 tahun sampai saat ini. Muncullah sebuah rumusan ”panggilan hidup Asri” dalam sebuah kalimat,”Membangun kehidupan mandiri dan bermakna, lalu menggunakan kemampuanku untuk menciptakan perubahan yang membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik”.

Aku tidak sedang berbicara bagaimana merubah dunia. Tenaga dan kemampuanku mungkin tidak cukup. Tapi bagaimana menjadi seseorang yang membangun, memimpin dan meninggalkan sesuatu yang bernilai. Apapun dan dimanapun lingkungan sekitarku. Period!

Jika bisa kembali dalam hidup masing-masing, kudapati diriku masuk dalam fase ”mengumpulkan fondasi”. Bagaimana membangun hidup sendiri dengan karir (membentuk pengalaman), kuliah (menambah pengetahuan), investasi (membangun keamanan), rumah/tanah (menciptakan aset), gym (memperkuat tubuh), serta perjalanan, kesendirian, dan kegagalan hubungan yang membangun arti mengenai kebutuhan emosional.

Semua seakan terpisah, namun bisa saja diriku sedang mempersiapkan dalam fase kedua hidup selanjutnya. Tidak hanya,”Bagaimana aku bisa membuktikan bahwa aku mampu?” melainkan ”Apa yang ingin aku bangun dengan semua kemampuan yang sudah dimiliki?”. Masalah selanjutnya bukan lagi,”Apa yang bisa aku dapatkan?” tetapi ”Dari semua yang bisa aku lakukan, mana yang sebenarnya layak aku lakukan?”.

Mari kita sebut dengan fase kedua hidupku, yaitu fase AUTHORITY. Bukan dalam authority dalam arti jabatan, tetapi otoritas atas hidupku sendiri. Dalam sebuah satu pola transformasi, yaitu dari external validation menjadi internal alignment. Dan kemudian topikpun beralih menjadi ajakan untuk mengetahui core value diri dengan – Aku/Dirimu ingin hidup dengan cara seperti apa?


Rasa Penasaran pada Mengidentifikasi Core Valueku.

Sepuluh pertanyaan dikirimkan dalam percakapan acak tak acak bersama chatgpt, hingga kemudian diputuskan satu kalimat yang menunjukkan core value-ku. Yaitu, ”Cukup aman dan tenang untuk tidak takut. Cukup bebas untuk pergi dan mengalami dunia. Serta cukup hangat untuk selalu punya tempat pulang”.

Dengan sebuah urutan yang bisa disusun sehingga menghasilkan Freedom à Security sebagai fondasi à Experience sebagai cara menjalani hidup à Connection sebagai tempat pulang à Peace sebagai suasana dalam menjalani kehidupan. Dan ada satu core value yang menaungi semuanya: meaningfull living – menjalani hidup yang terasa benar-benar hidup.

Untuk mewujudkan itu, aku sadar akan banyak proses berjumpa, memilih, dengan sesuatu yang diawali dengan perjumpaan dan bisa diakhir dengan perpisahan kemudian. Dalam melihat perjalanan hidup yang digambarkan dalam pertanyaan-pertanyaan utama, seperti Siapakah aku dan apakah aku mampu?; kemudian berubah menjadi ”Bagaimana aku membangun kehidupan yang aman?”; Bergerak menuju ”Untuk apa semua yang sudah aku bangun?”; Hingga berakhir menuju pertanyaan ”Apa yang ingin aku tinggalkan?.

Dengan segala pergerakan dunia dan sekitar yang bergerak cepat, gapapa kok bergerak lambat. Banyak yang kembali merenungi apakah ini bisa dijadikan sebuah ego yang terus dijalani dan kapan akan menyesal karna telah salah menjalaninya? Atau, dengan segala pilihan yang memiliki kelebihan dan kekurangan maka bagian mana yang akan bisa kamu tolerir jika sudah kamu sudah terlanjur berada di masa depan versi hidupmu.


Apa yang Membuatku Berbeda?

Sebuah pertanyaan yang kulemparkan ke dalam chatgpt, bukan dengan asumsi untuk aku lebih baik daripada orang lain, tetapi karena pertanyaan utama yang kubawa dalam hidup agak berbeda. Pertanyaan dengan lebih banyak didominasi,”Kehidupan seperti apa yang sebenarnya layak aku jalani?”

Hingga sampailah aku dengan pernyataan: Aku tidak terlalu terobsesi dengan ”memiliki”, namun terobsesi dengan ”mengalami”; Aku memiliki dorongan kuat untuk self-authorship;  Hidupku lebih banyak bergerak dalam tema freedom vs security; Aku memiliki kecendrungan ”meaning-seeking” yang cukup kuat.

Pernyataan yang cukup membuatku berpikir dan kemudian mulai melakukan analisis sederhana. Apakah itu sesuai dengan yang kujalani? Apakah sesuai dengan yang kurasakan? Karena kemungkinan aku sedang mengumpulkan bentuk kekayaan yang berbeda. Ada pula kemungkinan bahwa aku perlu menuliskan sendiri bagaimana aku mendefinisikan keberhasilanku, tanpa membandingkan atau menggunakan standar yang dimiliki orang kebanyakan. Ada pula sebuah kekhawatiran yang terjadi dimana pengejaran akan freedom kemudian memunculkan pertanyaan bagaimana aku menciptakan security untuk diriku sendiri.

Sesuatu seperti meaning-seeking akan menciptakan rasa gelisah karna selama ini seorang pekerja atau budak korporat akan mendapati dirinya menjalani tugas perusahaan dan berupaya untuk menjalankan tugasnya dengan sebaik atau semaksimal mungkin. Namun, apakah itu masih menjadi meaning yang ingin kualami dan kujalani dalam 10 tahun kemudian?

Tulisanku ini tidak serta merta menyebabkan banyak kehidupan lain yang sedang dijalani oleh orang lain terasa salah. Hanyalah sebuah checkpoint yang kulakukan dalam memaknai momen hidup, dan berupaya memastikan apakah pola core value sebelumnya masih bisa kugunakan dalam sepuluh tahun berikutnya? Jangan sampai, sudah tidak relevan lagi.


Apa Yang Sudah Kulewatkan?

Perasan takut selalu ada yang dilewatkan dan telah memilih jalan hidup yang tidak tepat akan menjadi sebuah bayang-bayang di hari ini. Jikapun boleh dibuatkan dalam sebuah rangkuman fase.

Fase 1 – usia 22-34: Mengumpulkan dunia dan membangun fondasi (dalam tema experience dan capability)

Fase 2 – usia 34-40: Memilih kehidupanku (dalam tema freedom dan alignment)

Fase 3 – usia 40-50: Memperbesar pilihan (dalam tema wealth dan freedom)

Fase 4 – usia 50-an sampai mendekati usia pensiun: Rooting (dalam tema home dan belonging)

Fase 5 – Pensiun: The Home Base

Segala fase hidup yang diciptakan chatgpt dan berupaya untuk menjadi topik dalam fase hidupku, tidak menjadi sebuah hal pasti. Bisa berubah dalam waktu yang tidak dapat ditentukan. Karna bukannya hidup yang kita ketahui hanyalah detik ini. Bahkan satu detik kemudian tidak ada yang pernah tahu.

Kemarin adalah masa lalu, dan besok adalah sebuah misteri.

Ada sebuah kalimat yang aku dapat juga. Sebuah ucapan dari chatgpt lagi. ”Ini orang bukan tertinggal. Dia sengaja membangun hidupnya dengan urutan yang berbeda”.

Akupun berupaya untuk tidak melihat pilihan orang sebagai pilihan yang salah. Walaupun tentu saja akan ada beberapa komentar orang yang sampai ke aku. Tak jarang respon emosi keluar, namun akhirnya aku berusaha untuk melihat dari sudut pandang berbeda. Bahkan segala pilihan yang kudapati, kujalani dan kutolak merupakan hasil bentukan genku, lingkunganku, dan kebutuhan dari hasil pilihan-pilihan kecil yang selalu kupilih setiap harinya. So, thats OK untuk setiap pilihan selagi tidak merugikan diri dan orang lain.

Selalu Kuawali dengan Mengetahui Akhir Tujuan.

Hingga tulisan demi tulisan kutulis dengan tujuan membuat sebuah warisan. Akhir tujuan yang belum pasti, namun begitu ingin meninggalkan sesuatu akan kusebut dengan warisan.

Warisan bisa menjadi akhir tujuan. Dan kita tidak sedang berbicara mengenai harta benda saja. Ini bisa sebuah legacy atau sebuah warisan untuk bisa menorehkan akan seperti apa dirimu dikenang dan dikenal dalam jangka waktu tertentu di lingkunganmu.

Pertanyaan terus muncul saat dirimu merasa ada yang sudah tidak relevan. Dimulai dari pertanyaan panggilan hidup, core value yang akan dijalani, hingga penamaan fase di setiap group umur seakan membuatnya menjadi lebih mudah untuk dikelompokkan. Jika bingung dalam hal apapun, aku akan kembali ke akhir tujuan, akhir garis, dan bahkan akhir cerita.

Dengan mengetahui akhir yang diinginkan, biasanya akan mudah mengetahui apakah jalan ini terlalu kusut, sudah lurus untuk menuju tujuan, atau apa. Dan ”the editing years” akan menjadi sebuah topik saat dirasa perlu dilakukan perubahan. Apakah ini tahunnya, tahun lalu, atau justru tahun depan.

Thankyu, Asri Vitaloka.

Sunday, July 19, 2026

Apa Yang Sebenarnya Perlu Ditakutkan?


Emang paling bahaya banget punya meja di kosan. Meja profer yang kamu bisa duduk sambil lihat ikan cupang dengan cahaya kamar yang sudah sedikit redup (karna sudah jam tidur harusnya). Jam jam takut dimana semua isi pikiran yang tersimpan sementara kemudian keluar. Kadang happy, kebanyakan bikin mellow.

Hingga akhirnya kuputuskan untuk bertanya pada diri sendiri, ”Apa yang sebenarnya perlu ditakutkan didalam dirimu?. Setiap pribadi akan berbeda, menyesuaikan trauma diri. Menyesuaikan kondisi saat ini, dari hasil pilihan di masa lalu. Menyesuaikan dari siapa keluarga, kawan, pasangannya. Bahkan menyesuaikan dari kondisinya saat ini. Maka, berikan kesempatan aku untuk bercerita.

Takut Naik Kelas

Ini beneran bukan karna naik level efek ditantang semesta atau akhirnya kamu naik level karna sudah dewasa ya. Tapi beneran takut naik kelas. Di rentang usia sekolah dulu, saat 7-19 tahun yang kutakutkan hanya apa bisa nanti di kelas selanjutnya? Masa SD sudah berpikir tentang SMP, saat SMP mikir SMA. Kemudian SMA aku sudah memikirkan kuliah.

Dan taraammm.. sebagian dari kita secara normal bisa melewatinya. Bahkan kini aku sudah menyelesaikan masa kuliah keduaku secara tepat waktu. Agak mendidih ya melihat perjuangan tidak terlihat dan sampai dimana kita sudah berpijak.

Masa sekolah aku beruntung tidak berpikir mengenai biaya. Hanya menyelesaikan dengan baik dan benar apapun yang sudah ditujukan, direncanakan kedua orang tua. Bahkan kesempatan untuk memilih sekolah versi keinginan sendiripun tak ada. Jalan itu sudah dibuatkan, tinggal keputusanku untuk membuatnya terlewati tanpa berbalik arah atau keluar dari jalur.

Disinilah aku, dengan bermodal doa dan sertifikat lulus. Jaman itu, aku bahkan tidak tertarik mendalami spesifik dunia teknik. Aku sudah berpikir, ”Aku hanya membutuhkan ijazahku”. Disitulah periode momen Jakarta dimulai.

Takut Tidak Makan sd Akhir Bulan

Serem banget. Tinggal di pinggiran Jakarta dan selalu didukung keuangan dari kedua orang tua. Ternyata periode itu bergerak menuju keuangan yang sama, namun dari hasil gajiku sendiri. Bayangin ya aku sebulan dapat 2.7 juta sebagai sales Genset di sebuah perusahaan daerah Cakung, Jakarta Timur.

Herannya aku ga pernah takut sampai akhir bulan. Berhasil bertahan hingga akhir bulan dengan apapun caranya. Setiap tanggal 15 uangku sudah habis, wkwkwkw. Ga ada tuh kepikiran buat pinjol atau minjem temen. Bahkan aku sudah ngga minta orang tua untuk kebutuhan bulananku. Salut.

Ga pernah mudah menjadi sales di kota besar seperti Jakarta. Apalagi anak perantau yang ingin tidak bergantung dengan orang tuanya. Kuhadapi bersama sekelompok kawan (Tuhan memang baik) yang tinggal tidak jauh dari Cakung. Dari mereka, aku akhirnya bertahan sampai akhir bulan.

Semoga sukses selalu ya kalian. Thankyu buat periode itu. Diriku bisa bertahan dikerasnya kota Jakarta, keamanan diri dipertaruhkan, dan persaingan sengit dimana-mana. Hingga kemudian masuk ke chapter Nusa Tenggara Timur.

Takut Lokasi Penempatan & Pelanggan

Chapter Nusa Tenggara Timur dimulai. Dan saat aku menulis ini aku sudah tinggal dan berpindah hampir menuju 11 tahun. Awal periode penempatan, kudapati diriku menangis kencang sebelum penempatan diumumkan. Kudapati diriku menggati nomer handphone dengan kartu Halo (karna takut gada sinyal). Segitu takutnya jauh dari rumah. Eh, malah sekarang ga pernah pulang kerumah.

Kalau kubayangkan diriku dulu, berjumpa banyak teman baru, berusaha beradaptasi dengan baik dan benar dengan pekerjaan, dan berupaya memasuki dunia perkantoran sesungguhnya. Karena 11 bulan di kota Jakarta ternyata menjadi modal awal pengalaman untuk menjalani masa 11 tahun selanjutnya di NTT. Dimulai dengan Kota Kupang dan apakah akan diakhiri dengan Kota Labuan Bajo?

Aku ingat selain penempatan, yang kutakutkan selanjutnya adalah saat ditanyain pelanggan Pol PP tentang rumahku dimana (waktu itu dia marah karna layanan kami dan sempat mengancamku). Apa yang kutakutkan? Sudah merantau, diancam orang, dan nangislah kemudian. Wkwkwk.

Kuhabiskan masa awalku dengan bekerja dan berteman dengan geng ”Generasi Why” hingga satu per satu melanjutkan chapternya masing-masing. Sehat selalu semua, semoga yang kalian inginkan bisa terjadi. Dimulai dengan bertahan hingga titik start dimulai untuk mulai berkeliling.

Takut Berpindah Setiap Tahun

Sejak awal aku agak lama bekerja di Kota Kupang dan Kota Ba’a, Rote. Hampir lebih dari 2.5 tahun lamanya barulah aku bergerak. Ngebatin, kok lama banget ya pindahnya. Eh, didengarlah oleh Tuhan kemudian dijadikan oleh Tuhan. Sejak tahun 2021, aku terus berpindah. Hanya melewatkan tahun 2024 dengan cobaan begitu berat. Dan kini tahun 2026, sedang dinantikan apakah akan menjadi tahun berpindah lagi atau bisa beristirahat sejenak.

Syukurlah Tuhan memberikan sebuah periode bersama dengan seseorang dengan kota dan tanggung jawab dalam bentuk jabatan. Setiap jalan kadang kuhadapi dengan hidup didalamnya. Tapi, tak dipungkiri terkadang kuhadapi dengan mode auto-pilot. Berjalan namun tidak berada didalamnya. Hidup bergerak dengan mencapai target, semester 1, dan begitu hingga memulai tahun selanjutnya.

Disinilah awal mula kopi menjadi harian dan penunjang kehidupan agar tidak diseret kakinya. Agar bisa berjalan hidupnya. Agar bisa membersamai (walaupun kayanya engga wkwkkw) bersama timku. Kudapati diriku kemudian berpikir bagaimana hidup nomaden dengan barang disekitar. Selalu berpindah dengan packing dan unpacking di suatu tempat.

Hidupku tidak menetap seperti kebanyakan pria dan wanita yang sudah kembali ke daerah asal. Belum dapat momen dimana hidup menetap dan menjajaki kebiasaan yang sama. Justru kebiasaan baru akan terbentuk menyesuaikan dengan lokasi tinggalmu saat ini. Entah kebiasaan kopimu, kebiasaan olahragamu, atau kebiasaan tempat nongkimu. Dan semua berubah. Kadang bersama kawan, tak jarang harus sendirian.

Takut 10 Tahun Kemudian

Belakangan aku lumayan konsen dengan 10 tahun pertama yang sudah kujalani. Apakah aku menjalani hidup yang benar? Atau kesalahan apa yang perlu kusesali? Adakah pelajaran hidup yang perlu disesuaikan? Apakah ini ataukah itu?

Sepuluh tahun kudapati diriku masih berpindah kesana dan kemari. Untung masih sendiri, kalau sudah memiliki anak dan suami mungkin aku akan gila karna meninggalkan mereka. Atau apakah aku sanggup? Kulihat kembali kawan-kawan lamaku yang sudah melanjutkan hidupnya dengan kisah indah serta perjuangan masing-masing.

Sepuluh tahun perjalanan hidup yang kudapati dengan pekerjaan, penghasilan, hobby, dan pengeluaran, atau situasi di sekitarku. Apakah masih relevan dengan sepuluh tahun kemudian yang akan datang? Akhirnya aku mulai mempertanyakan tentang pengeluaranku, kesehatanku, dan semua yang terjadi padaku.

Single, no child, and 30++ years old. Apa yang harus kuputuskan hari ini dan masa ini agar tidak terlalu kusesali di masa depan. Aku suka dengan cerita bepergianku. Aku menyesali ketidakberhasilan hubunganku. Aku menghargai tanggung jawab yang kudapat. Dan aku berupaya bisa memberikan sesuatu yang berharga untuk orang disekitarku (walau tidak banyak).

The Last but Not Least

Sama seperti podcast keuangan yang kudengarkan beberapa kali. Setiap keputusan keuangan investasi yang dibuat, ada yang memberikan keuntungan dan ada yang tidak. Bahkan seorang ahli keuangan sekalipun dalam merasakan efek dampak Covid atau perang, tidak semua merasakan keuntungan. Lalu, apalah seorang manusia dengan keahlian yang berbeda-beda?

Datang dari seorang ahli saja bisa memunculkan ketakutan pribadi. Lalu, apa yang kamu takutkan dengan banyak ketidakpastian dimuka bumi ini?

Tapi dengan banyaknya perjalanan yang kudapati. Aku sudah melihat sekitar dengan timeline kesuksesan versi mereka. Aku juga melihat kesuksesan versi orang yang bepergian. Tidak semua memutuskan satu garis yang sama. Kuputuskan untuk kembali kedalam diri. Apa yang sebenarnya kusukai dan akan menjadi pilihanku saat ini serta tidak terlalu kusesali dimasa depan?

Sesederhana: Kenapa kamu tidak membeli mobil? Kenapa kamu jarang pulang? Kenapa kamu tidak menikah? Ada sebuah pola kehidupan yang sedang kujalani dimana akhirnya aku memaknai hidupku dengan nuansa, kepemilikan, dan memilih bersama siapa.

Kadang, ada yang memaknai sendiri sebagai ketakutan yang banyak. Kemudian, kudapati tidak sedikit orang memiliki ego sendiri tanpa melukai orang lain. Selalu memilih dirinya yang utama sebelum yang lain. Bukan dalam maksud untuk egois, namun ia menjaga kedamaiannya. Berupaya tidak melukai dirinya, hanya untuk menyenangkan orang lain. Takut terhadap masa depan, boleh. Tapi jangan terlalu. Tidak takut terhadap masa depan, juga perlu dikurangi. Karna kita juga masih perlu bertanggung jawab demi diri sendiri.


So, just let it go. Segala yang sudah tidak relevan. So, just fix it. Semua yang sudah rusak dan masih bisa berpengaruh padamu. And, make it consistent. Untuk segala hal yang sudah kamu ketahui akan kamu sukai dan memberimu kehidupan baik di masa depan berdasarkan pemikiranmu hari ini atau di masa lalu.

Setiap masa ada chapternya. Setiap pribadi punya pilihan dan ketakutannya masing-masing. Jangan lewatkan satu tulisanku di masa lalu "Kau Akan Baik-Baik Saja". Thankyu for enjoying my writing.

Asri Vitaloka.

Sunday, June 7, 2026

3 Years Ago

 

Konon kata sebuah alur drama Korea menyebutkan sebuah dialog. Yaitu, seorang penulis harus menyelami banyak emosi untuk dapat menghasilkan tulisan yang bagus. Pernah kudapati diriku tidak memiliki bahan untuk menulis. Ternyata saat itu aku terlalu bahagia untuk bisa menulis. Ya, disaat sedang jatuh cinta.

Tulisan ini tidak bermaksud menyingung siapapun. Hanya sebuah torehan kata-kata untuk dikenang kemudian hari. Sebuah lagu ”Luruh” milik Isyana mengulik emosi terdalam yang sedang diupayakan agar tidak terkuak dan menganggu keseharian. Ya, sudah 3 tahun lamanya sejak saat itu. Di bulan Juni kala itu.

Luruh milik Isyana.

Sebuah alunan piano masuk diantara kepalaku melalui earbuds yang kugunakan. Hari itu, hari Minggu dimana aku sedang menikmati segelas kopi susu DCA kesukaanku. Di sela bergulirnya foto instagram di jari-jemariku, kudapati diriku terenyuh dengan lirik lagu Luruh. Biasanya kulanjutkan tanpa merasakan sesuatu. Tapi, kali ini berbeda.

”Luruh seluruh harapku. Luruh semua janjimu. Ketika jalanku dan jalanmu tak bertemu. Runtuh seluruh maknaku. Ketika inginku dan inginmu tak menyatu. Di dalam pusaranmu, adakah ruang untuk kau dan aku mengarung mencari titik temu.” – sebuah cuplikan lirik lagu tersebut.

Hanya kata demi kata namun seakan memberikan gambaran kejadian tak singkat namun tergambar jelas. Seketika sekumpulan emosi terendam kembali naik ke permukaan, walaupun sudah tiga tahun lamanya.

“Aku Jarang Melihatmu Menulis Lagi”

Sesungguhnya aku pun terheran dengan kondisi tersebut. Tapi, selayaknya musik populer dari seorang penyanyi yang menuliskan liriknya dikala sedang patah hati, sedih, rapuh, dan kecewa. Pun terjadi saat seseorang menuliskan kata menjadi sebuah kalimat hingga tergabung dalam sebuah paragraf.

Kusadari diriku sibuk mengalami, menjalani, dan meresapi segala momen bahagia, canggung, sedih, bahkan marah. Berjalan dalam sepi dan menyimpan bom waktu. Seakan menghitung mundur setiap peristiwa dan akan berpisah pada waktunya. Seakan semesta pun memberi petunjuk melalui rasa ragu dan menjadikannya saat sudah habis waktunya.

Ternyata aku disiapkan untuk menulis kembali saat sekitar sudah mulai tenang. Ternyata bukan karena sudah tak merasakan. Ini hanya perkara sudah terbiasa dengan rasa sakit dan menggantung. Sekelibat masih terasa seakan baru kemarin, namun sudah 3 tahun lamanya.

Mimpi Indah dengan Jelas.

Entah dimana aku melihat dan membaca sebuah kutipan. Jika sudah selesai ceritanya, maka akan berjumpa dalam mimpi. Entah apapun cerita didalam mimpinya. Tidak hanya sekali, mimpi dengan beragam cerita. Tak jarang kupikir apakah ini sebuah bawah sadar dengan makna tertentu. Atau hanya sekelibat bawah sadar dari alam pikiranku sendiri.

Pernah dalam bentuk bepergian dengan motor berdua. Pernah dalam bentuk dirimu dengan seorang sosok wanita lainnya. Tapi, mimpi terakhir justru menciptakan cuplikan drama berbeda. Yaitu, kita berdua berjalan kaki berdampingan sambil bercengkrama diatas trotoar. Berjalan setelah duduk di kafe. Itupun dirimu menghampiriku sesaat setelah melihatku dari beranda sebuah bangunan.

Jikapun sudah selesai kisahnya, atau sudah berakhir masanya. Maka, lepaskanlah dalam bentuk apapun kisah lama dan bersiaplah menghadapi kisah didepan. Dengan atau tanpamu.

Tok Tok Tok

Pernah tidak merasakan keinginan begitu dalam. Seseorang datang dan mengetuk pintu kamarmu. Berupaya menyapa dengan canggung dan memberi kesimpulan berbagai cerita yang dibuat oleh otak pikiranmu sendiri. Dan hingga saat ini, tidak ada ”Tok Tok Tok” yang diharapkan.

Tidak sesederhana sebuah tok tok tok untuk memanggil orang didalam ruangan. Ini bukan sekedar ingin masuk. Tapi lebih besar dari itu. Sebuah rasa ingin, kemudian dipatahkan dengan realita bahwa tidak ada yang mengetuk. Ini juga bukan sebuah tok tok tok hanya untuk melihatnya datang. Melainkan sebuah closure atau penutupan dari masa seseorang dalam jangka waktu terbatas.

Berupaya dengan sangat untuk menutup sebuah cerita. Tapi bahkan pintu berpasangan dengan gagang pintu agar bisa menutup. Tidak pernah sendirian. Bahkan kalimat pembuka perlu dibuatkan kalimat penutup agar memiliki kesan selesai. Tapi, ini tidak terlihat. Atau seakan tidak terasa tertutup dengan benar.

3 Years and still going…

Kusampaikan dengan tenang bahwa sudah tiga tahun lamanya. Senyum tipis hadir dalam wajahku saat mengenang banyak hal indah. Tapi tidak bisa kujanjikan tidak dilanjutkan dengan rasa sedih kemudian. Satu yang bisa kupastikan, yaitu kadar emosinya sudah mulai berkurang. Berkurang dengan terurai oleh waktu dan kesadaran dalam pelajaran.

Setiap masa memiliki pelajaran dan akan dalam jika diselingi rasa sedih hebat selepas perpisahannya. Sudah dipastikan dengan sangat bahwa tidak pernah berpisah jika belum selesai. Namun, semesta akan menjadikannya jika memang sudah selesai waktunya. Menjadikan diri dan dirinya berpisah. Apapun alasan dan penyebabnya.

Kupikir aku memiliki ingatan yang lemah. Nyatanya, aku sangat jelas mengingat hal indah atau menyedihkan jika mengenaimu. Tidak pernah terasa terlalu lama atau terlalu cepat. Semua mengalir dalam kenangan indah yang tersimpan disuatu memori.

Dearest gentle reader,

Tulisan ini kuafirmasi untuk orang-orang yang sedang berjuang dalam menyembuhkan hati. Jikapun penyesalan masih lebih kuat saat ini, percayalah keikhlasan akan muncul di kemudian hari. Jikapun kamu menyesali segala kisah yang sudah dilewati, percayalah kamu pernah berada di momen paling beruntung. Yaitu, saling mencintai satu sama lain.

Baik perpisahan jarak maupun perpisahan beda dunia, tetaplah berpisah. Setiap perasaan benar adanya. Bahkan jikapun sudah mengetahui akhir cerita, aku tidak keberatan untuk kembali mengulangnya. 

Bagiku, hidup adalah sebuah kisah ujian yang tak pernah tuntas. Maka, ijinkanlah sesekali perjalanan cintamu diselingi ujian. Disitulah kamu bisa mendapatkan rasa paling dalam, entah rasa bahagia atau malah rasa menyakitkan.

Kudoakan dengan sangat bagi orang-orang diluar sana yang masih berusaha menyembuhkan hatinya. Sekian tahun dihabiskan bersama, kemudian malah menyisakan sekian tahun untuk berupaya melupakannya. Tidak pernah berlaku sia-sia. Apapun yang pernah dijalankan bersama sang pujaan hati, akan memberimu kebijaksanaan lain saat berjumpa dengan pujaan hati selanjutnya.

Sebelumnya aku menuliskan beragam kegiatan random dalam "The Single Days" yang kali kali aja bisa memberi ide buat ngabisin waktu yang banyak ya.

Thankyu, Asri Vitaloka.