Sunday, December 27, 2020

Harapan Baru dibalik Terang kala Malam di Pulau Ndao

 

 Cerita mengenai pengalaman di pulau Ndao ternyata tidak hanya menunjukan harapan baru yang bisa didapatkan masyarakat disana. Harapan baru yang muncul seiring dengan masuknya aliran listrik di pulau tersebut, ternyata juga mampu mengubah pandangan saya mengenai melayani pelanggan hingga di ujung pulau. Pandangan yang seakan memunculkan semangat serta harapan baru bagi pribadi saya untuk menjalani kewajiban di perusahaan PLN dengan sepenuh hati. 

Dulu saya kira PLN hanya ada di perkotaan. Tidak pernah terbayang akan bekerja di daerah yang ternyata masih ada “daerah belum berlistrik” ataupun menyala sebatas 12 jam/hari. Dan kini saya pun menyaksikan dan merasakan langsung semenjak bertugas di pulau Rote Ndao.

Mari simak lebih lanjut!

Lima tahun lamanya bergabung dengan perusahaan PLN, namun tidak menyangka berbagai pengalaman berhasil didapatkan. Baik itu pengalaman dalam bekerja, berpindah tempat tinggal, dan banyak hal. Sebagai seorang wanita tentunya menjadi sebuah pengalaman luar biasa untuk tinggal berpindah-pindah. Pernah mendapatkan pengalaman menjalani on job trainee PLN di Pekanbaru, penempatan di Kupang, hingga mendapat tanggung jawab sebagai supervisor di ULP Rote Ndao.

Saat ini saya berada di divisi Transaksi Energi, dimana pekerjaan mengharuskan saya untuk melakukan pengecekan pada titik-titik transaksi energi. Memastikan pengukuran energi di bagian pembangkit hingga APP pelanggan berlangsung dengan baik. Entah pelanggan yang berada di Pulau Rote dan juga Ndao. Saat ini memang untuk supervisor Transaksi Energi di Area Kupang hanya saya saja yang wanita dan inilah yang kemudian memunculkan predikat sebagai Pejuang Srikandi. Sebutan tersebut datang dari mantan atasan saya sewaktu di Kupang. Sebutan pejuang Srikandi memang sederhana namun memberikan kesan kuat dan semangat yang dapat membuat saya mantap untuk melaksanakan tugas dan kewajiban selama di Rote Ndao.

Sekitar dua tahun lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi Pulau Ndao. Disinilah saya merasakan bahwa sangat bersyukur dapat menikmati listrik selama perjalanan hidup. Merasakan listrik di saat siang maupun malam hari.

Untuk pergi ke Ndao kita harus menyebrang menggunakan kapal penumpang dan berlayar sekitar satu jam lamanya. Pemandangan yang disuguhkan luar biasa. Pemandangan pantai dengan pasir putih dan birunya air laut. Mungkin kalau buat travelling akan menyenangkan, tapi rasanya untuk tinggal disana belum tentu anda betah. Kenapa?

Karena Ndao hanya menyala listrik selama 12 jam.

RASAKAN LISTRIK 12 JAM MENYALA

Saat tinggal di sebuah rumah warga, saya melihat sendiri perbedaan hiruk pikuk kehidupan disana. Saat siang keluarga akan menghabiskan waktu bersama atau sekedar menghabiskan kegiatan dengan hewan piaraan. Tidak ada nonton  TV di siang hari. Tidak ada gadget diantara kami. Yah, maklum sinyal di Ndao lumayan parah jika berada ditengah desa.

Dengan segala keterbatasan yang ada, saya melihat sekilas kehidupan mereka dengan listrik yang terbatas. Listrik menyala saat matahari mulai tenggelam di jam 6 sore dan kembali menyala saat matahari mulai menampakan dirinya di jam 6 pagi keesokan hari. Dalam dua hari satu malam, tanpa sadar saya ikut menjalani kehidupan dimana listrik hanya menyala 12 jam. Bagi saya, itu tidak mudah namun saya rasa bagi mereka itu sudah menjadi kebiasaan.

Saat bermalam di Pulau Ndao, saya merasakan langsung kedekatan keluarga mama Since dan bapa Abet. Mereka menghabiskan waktu bersama saat siang. Ruang tamu mama Since penuh dengan kain tenun. Halaman pun ada seekor kambing mungil lalu lalang dengan seikat tali yang menjaga. Kemudian saya merasakan satu momen saat pagi hari. Tiba-tiba mama Since berteriak,”Aduh, listrik su padam ko? Mama pung nasi belum matang.”.

Ternyata listrik sudah padam lebih dulu satu jam sebelum waktu yang ditentukan. Sebelum akhirnya menyala kembali beberapa saat kemudian. Disini saya mulai berpikir. Dijaman lebih banyak orang yang tinggal dengan listrik menyala 24 jam. Tinggal colok sana, colok sini. Ingin masak dijam berapa pun tinggal pencet. Mau charge baterai HP tinggal colok. Ternyata masih ada sebagian orang yang tidak mendapat kemudahan itu.

Tak hanya itu. Di kejauhan terdengar suara masyarakat sedang mengolah kayu dengan alat sekap. Terbersit sekilas di benak saya,”Mereka mulai bekerja dari jam berapa?”. Aliran listrik baru menyala di jam 6 sore, padam kembali di jam 6 pagi. Hmm, apakah ada yang bekerja di malam hari saat sebagian orang beristirahat?


HARAPAN BARUKU DAN MEREKA

Bagi PLN mungkin bukan hal mudah dalam menyediakan listrik hingga pelosok negri, seperti salah satunya Pulau Ndao. Tapi bisa dikatakan mulai dari secercah cahaya dalam lampu yang menyala di malam hari dapat mengubah kehidupan banyak orang di Ndao.

Sedikit demi sedikit masyarakat Ndao mulai mengubah kebiasaannya dari yang tidak memungkinkan melakukan kegiatan dimalam hari menjadi hal yang biasa. Seperti salah satu pegawai yang pernah bertugas di Ndao, bernama Willfrid. Dia mengatakan warga Ndao dikala malam hanya dihabiskan untuk beristirahat karena tidak banyak yang bisa dilakukan. Sungguh berbeda dengan sekarang. Anak sekolah masih bisa belajar, ibu-ibu bisa menenun lebih lama, dan bapak-bapak yang sekedar mendengarkan musik menggunakan speaker. Dan semua kegiatan tidak hanya dilakukan pada siang hari, namun masih dapat dilakukan pada malam hari.

Sungguh luar biasa. Hal yang terlihat sederhana bagi orang awam tapi berdampak besar pada kehidupan orang banyak. Disaat saya mendapatkan penugasan di Pulau Rote tentunya ada sebuah rasa tidak yakin pada diri untuk dapat tinggal disana. Rasa tidak mampu dalam menjalankan pekerjaan dan merasa ragu untuk sanggup memberikan pelayanan pada pelanggan. Namun kenyataan tidak seperti itu.

Tentu saja saya buka satu-satunya wanita yang berada di dalam perusahaan PLN dan sedang berjuang dalam menjalankan tugas serta kewajiban di ujung negri. Sebagai sesama wanita yang sedang sama-sama berusaha melalui tulisan ini saya ingin memberikan rasa penguatan satu sama lain.

TETAP PERCAYA PADA DIRI SENDIRI

Sudah hampir dua tahun berada di sebuah pulau dan mengemban sebagai supervisor Transaksi Energi. Setiap hari berlangsung dan dijalani dengan baik. Walaupun mengelak untuk percaya akan bisa menjalani di awal penempatan, ternyata malah berbuah hasil yang baik. Hanya perlu berbekal yakin dan menikmati setiap perjalanan yang ada. Nyatanya hanya karena penempatan di Rote, saya dapat melihat “daerah belum berlistrik” atau pulau Ndao yang menyala 12 jam. Sebuah pengalaman yang belum tentu saya dapatkan jika berada di tempat lain.

TIDAK KERJA SENDIRI, TAPI SATU TIM

Kita tidaklah sendirian. Sebagai seorang wanita, tentunya ada beberapa pekerjaan yang tidak mungkin dikerjakan sendirian. Selama bekerja akan ada bapak/ibu di sekitar kita untuk saling mendukung dalam sebuah tim kerja.

PELANGGAN MENANTI ANDA

Pelanggan menunggu kehadiran kita sebagai perwakilan PLN. Siapa yang membayangkan kita dapat turut melayani pelanggan hingga Pulau Ndao. Pelanggan menanti kita untuk dapat melayani mereka, seperti sekedar membuat aliran listrik sampai di rumah mereka, membuat terang rumah mereka, hingga akhirnya mereka mendapatkan kehidupan yang lebih baik melalui listrik di rumah mereka. Dari sebuah penerangan akhirnya menciptakan sebuah kesempatan untuk membuat hidup yang lebih baik.

Dalam tulisan ini saya menyadari bahwa listrik tidak sekedar memberikan terang di kala malam, namun seakan memberikan kesempatan & harapan baru yang lebih baik bagi mereka yang tinggal di ujung pulau. Tak hanya itu, sebagai wanita yang awalnya tak percaya dapat mengemban tugas di pelosok pulau kini saya merasa.

Disaat yakin pada diri sendiri, percaya bahwa kita berada dalam satu team, dan menyadari ada pelanggan yang menanti pengabdian kita maka pasti dapat melewatinya dengan baik.

Salam dari pejuang Srikandi di ujung pulau selatan Indonesia

| Asri Vitaloka

video and picture taken by. Arif JR

nb. tulisan diatas dibuat sewaktu mengikuti kegiatan INFEST 2020 yang diselengarakan oleh internal PLN



Friday, October 23, 2020

KOREKSI TUH DIRIMU DI TAHUN 28!

Aku lagi di bandara lagi. Melarikan diri. Dari orang-orang dan tempat toxic yang bikin diri pusing tujuh keliling. Tapi, kamu yakin bisa lari? Kayanya selama handphone masi menempel di sekitar badan, kayanya dirimu g bakal bisa jauh dari toxic people dan toxic place! Cuma yakin karna faktor eksternal, jangan sampe dirimu nih yang lagi ngga positif. Bawaannya pengen ngomel mulu, jadi koreksi tuh dirimu!

Menghitung hari menuju usia 28 ya. Tercetus judul “Koreksi tuh dirimu di tahun 28” yang sebenarnya mengarah ke diri aku sendiri. Tapi ditengah segala hal yang terjadi dan ga habis-habis bikin hati, jiwa dan pikiran stress. Harus ada yang diputar kembali untuk mengingatkan begitu banyak rasa syukur yang harus diucapkan sampai hari ini.

MISALNYA NANYA KE DIRI SENDIRI.

Beberapa pertanyaan perlu kutanyakan pada diri, untuk mengetahui sedalam apa kita mengenal diri kita. Cobain deh, kamu ngga bakal tau jawaban yang sebenarnya dari dalam diri. Jangan menjawab untuk terlihat baik, sesungguhnya kita ingin mengetahui apa yang perlu dikoreksi di usia yang tak lagi muda.

Nah, kira-kira begini pertanyaan kepada diriku.

Ngomel mulu sih sri, ngga capek?

Buset dah katanya mau lebih tenang dalam menjalani hari-hari. Boro-boro ya, mau tenang dikit liat WA Group bawaanku mau nyakar orang. Dikit-dikit minta ini, minta itu. Begitu lama dikit udah keluar kata-kata pedes dari mereka yang kubayangin dalam hati mereka pasti mencaci maki diriku. Nah, perlu deh dikit ngomel biar legaan gitu.

Makan terus, ngga takut melar?

Banyak banget si keinginanku buat menjaga badan. Tapi sumpah dah, kalau sudah ngomel tambah mikir dikit kerjaan dan sekaligus ga tau mau ngapain buat pelampiasan. Kujamin asli, pasti langsung ku cari tempat makan terenak dan ngga sadar terus mengunyah. Gimana tuh?

Jalan mulu, duit ngga takut habis?

Aku doyan banget jalan-jalan karna tak mudah mendapatkan sebuah rutinitas yang kusudah tau di akhir hari akan seperti apa. Memang si duit habis, tapi aku sangat rela. Aku bisa menghabiskan waktu diluar lingkungan yang toxic dan tidak ada udara segarnya. Berganti suasana selagi memungkinkan dengan pemandangan laut, danau, atau sekedar kamar penginapan. Beda banget, cobain deh.

Apa sih yang paling kamu bete dari orang?

Dari pengalamanku menjabat hampir 3 tahun, aku sadar kerja ngga cuma kerja. Aku benci dengan orang bermuka dua, ngga bisa kerja tapi songong, dan merendahkan orang lain hanya untuk membuat tinggi dirinya. Ku tak sanggup. Mending ku menghindar atau berharap didoakan segera pindah agar tak berjumpa. Bye.

Apa sih yang paling kamu respect dari orang?

Sekian banyak orang yang membuat bete, tapi tak sedikit orang yang kujadikan panutan bahkan segan kepadanya. Sebuah tim dengan orang-orang pilihan yang dapat saling menerima dan saling memberitahukan dengan cara terbaik seperti apa dirimu. Memberikan sesuatu bukan hanya untuk menjatuhkan, namun kita dapat paham bahwa maksud dari orang tersebut didasari rasa peduli dan kasih sayang selayaknya keluarga.

NOH, MASI MAU NANYA APA?

Apa ya? Mungkin masi banyak yang bisa digali lagi. Cuma satu/dua pertanyaan terakhir biar rada nyambung dengan judulnya..

Ayo, mau bersyukur tentang apa ditahun 2020?

Dengan polos dan jujur kuakan bersyukur kepada Tuhan sudah diberikan kesempatan banyak masi bernapas ditengah orang-orang berjuang untuk bertahan hidup. Walaupun tak dekat, kuharap keluarga dan pasangan masih bisa bersama dan sekedar telepati untuk mengetahui bahwa kita masih dalam satu lingkar ikatan keluarga. Karna ku malas ngetiknya, dan masih banyak lagi yang lainnya..

Kalau bisa dikoreksi, ingin seperti apa koreksi untuk dirimu?

Jelas aku tidak akan mengkoreksi sikap, sifat dasar. Mengubah menjadi lebih baik bagi diri mungkin, tapi tidak berubah untuk membuat orang lain senang. Bagiku kita memiliki kesempatan untuk menunjukan ego diri agar dapat menciptakan filter luar biasa di sekitar lingkungan pertemanan atau pekerjaan.

Loosein ajah! Tidak semua dapat merasakan kebebasan kalau ada sesuatu dibelakang yang ingin dikejarnya. Ya, ngga?

Aku sadar si ya. Usia makin tua, tak berarti seiring dengan bertambah dewasanya seseorang. Kita bebas egois untuk menciptakan filter ketat pada dunia luar. Menentukan topeng mana yang ingin dilihat orang atau sekedar memutuskan untuk masih bersama siapa kita saat ini.

Gitu aja sih ya. Kok, tulisannya aneh?

Entahlah aku juga bingung.

Nengok Nanggung.


Tengok Kanan.


Tengok Depan.

Asri Vitaloka | Warinding, Sumba Island.

Saturday, October 3, 2020

Will Sumba be The Next?

 

Aku pernah sekali dalam hidupku mendapati sebuah momen beruntun yang aneh. Momen dimana sekali lagi alam semesta seakan memberi waktu dan tempat. Membuat semua seakan sudah memang direncanakan dan kini terlihat jelas dari sudut pandang aku sebagai manusia biasa.

“Will Sumba be the next place?”, sekilas dari pikiranku. Sama seperti Rote. Aku memiliki sedikit perasaan lebih saat mendengar Rote dan disinilah aku hampir selama 2,5 tahun lamanya. Menjalani kehidupan luar biasa dengan segala pertemanan, kehidupan pribadi, dan pertikaian teman sejawat. Tapi ditengah isu corona di kejauhan pulau ternyata aku masi diberikan kesempatan untuk menjajaki Sumba. 

Kucoba buat share ceritanya ya.

Sebelum mulai aku mau ngucapin thankyou banget buat kawan IG yang sekarang sedang tugas di Sumba. Dia nyapa aku lewat IG dan ngenalin aku sewaktu lagi makan di Sirkey. Ternyata mba Sari udah ngikutin tulisan aku belakangan ini. Senang sekali ya dengernya. Haha.. semoga anda tidak sesat ya dengan tulisan aku.

Okey, Go back to Sumba! Asli padahal ngga pernah mau jalan jauh ke Sumba. Sudah ngebayangin buat duduk di mobil, jalan darat, dan berjam-jam ya mending aku duduk dan keliling pulau lewat youtube. Tapi, disinilah aku terbang, duduk, dan berjalan dari satu tempat ke tempat lainnya di Sumba.

PLACE 1 : THE ETHNIC “PRAIJING VILLAGE”

Aku pernah jatuh cinta banget sama sebuah desa di sekitaran Ende-Maumere. Namanya desa Wologai. Karena itu desa adat pertama yang pernah aku kunjungi, coba aja cek di “Sedang di Ende? Bisa Coba Beberapa Tempat Ini!”

Nah, begitu ada kesempatan ke Sumba langsung muncul nama Praijing. Dan begitu liat fotonya aku harus sampai disana!

Kenapa aku bilang “The ethnic “Praijing Village”? karena disini masi nuansa desa adat dimana sekitar 40 bangunan rumah didominasi oleh bambu ya. Rumah bahan bambu dengan atap khas yang menjunjung keatas. Biasanya atap rumah digunakan untuk menyimpan bahan makanan. Kemudian barulah warga tinggal di bagian tengah rumah dan terkadang meletakan kadang hewan di bagian bawah panggung rumah. Menarik kan?




Udah umur kali ya. Aku kesana masuk layaknya desa wisata ada biaya masuk. Berjalan sedikit. Kemudian langsung nyari tempat duduk, berharap awan agak banyak biar jangan panas. Pesen makan dan minum sambil sedikit bercengkrama dengan salah satu warga. Duduk lagi melihat ke sekeliling dan berharap tempat foto khalayak umum sepi jadi bisa giliran buat ngambil foto.

Tetep ya. Turis banget. Foto!

PLACE 2 : THE BEAUTIFULL “WARINDING HILL”

Lebih dari apapun aku malah sudah jatuh cinta duluan dengan Bukit Warinding ya. Bisa dibilang ini kali kedua aku kesana. Ngga tau kenapa. Kalian bisa cek “One Day At EastSumba”!

Tapi, perjalanan aku ke sana agak mepet dengan waktu sunset. Begitu sampai disana hari sudah agak gelap. Namun masih sepersekian momen terlihat cantiknya perbukitan di Warinding dengan kuda-kuda di beberapa tempat. Kayanya disewain buat foto si kudanya.

Monday, July 6, 2020

Pindah Haluan Profesi


Loh judulnya kok “Pindah Haluan Profesi” ? Emang udah pindah kerja? Bukannya terakhir masih sebagai anak pulau di selatan Indonesia dengan kegiatan seputaran meter dan clear tamper. Nanti, kapan-kapan kuceritain deh secara umum tentang kerjaanku di sini ya.

Jadi, seketika corona mendadak merebak di seantero Indonesia. Dimulai dari 2 orang menjadi puluhan ribu dan kemudian ketakutan melanda, ruang gerak menjadi terbatas, dan intinya kita tidak bisa kemana-mana. Maka, disinilah kucetuskan untuk “Pindah Haluan Profesi”. Bukan bener-bener pindah haluan, cuma nambah hobby baru si. Hehe..

Aku liat blog yang udah ngga keurus lama banget ini, udah ga pernah keisi tulisan apa lagi. Sebenernya aku lagi fokus mengerjakan pekerjaan rumah di Rote Ndao. Kadang sampai kebawa mimpi kerjaan. Ya, mimpiin meteran atau sekedar mimpiin P2TL. Ngga punya bahan deh buat nulis di blog.

Hingga akhirnya kuputuskan untuk mencoba sesuatu yang baru. Banyak dari kalian yang work from home pasti pada akhirnya mencoba semua yang baru. Keliatan si dari insta story kawan-kawan di media sosial. Ngga ya mulai memasak, menanam tanaman hias, sampe ngias ruangan. Semua dilakukan. Aku juga.

Kumulai dengan Menanam Tanaman Kecil.

Tanaman kecil disini bukan bentuknya kecil ya. Eh, bentuknya memang kecil si. Tapi, aku nanam mulai dari biji! Kuplototin tuh Tokopedia dengan harapan bisa nemuin tanaman yang bisa dirawat. Terus ide banget buat mencoba nanam lavender, parsley, mint, dan sejenisnya di Pulau Rote. Alhasil?

Jelas gagal.


Aku saranin aja ya. Buat orang-orang bertangan panas kaya aku. Mending kalian jangan nanem dari biji. Itu jelas perawatannya heboh banget. Extra diinget nyiram kapan, seberapa banyak dan perlakuannya kaya aku. 

Aku ni udah ngulang 3x men buat nanam itu biji! Gagal semua. Kepanen sebelum keluar daun (padahal tumbuh aja belum).

Kayanya Masak adalah Passion-ku!

Dubidu-bidu. Kumulai tuh dari Instagram, youtube, hingga pinterest semua tentang masakan mulai dari susah hingga paling gampang. Dari kue kering sampe makanan osengan khas emak-emak beburu mau jalan ke kantor. Dapat satu dua masakan yang bisa ditiru, akhirnya kuputuskan untuk berpesta di area dapur.

Dapat si beberapa menu. Yang kuingat : masak nasi jeruk, dan sambel bawang. Hmm


Yeay, dengan semangat membara didalam jiwa raga aku putuskan untuk menjajaki hobi baru. Yaitu masak. Satu kali masak, dua kali masak, dan ketiganya… Ku Lelah dengan urusan mencuci piring. Sekali kemarin sempat ngebet beli tepung terigu efek liat bahan ig bikin kue mudah.

Saturday, April 18, 2020

Apa kabar 2020 ?



 bandara Kupang

Ngga kerasa sudah masuk bulan April aja ya. Sudah 1/3 tahun setelah 2019 berakhir. Udah ngapain aja? Udah kemana aja? Udah membuat memori apa aja? (kayanya) ngga ada deh.

Sudah pada tau semua kan sekarang corona virus lagi seru banget buat menyerang orang-orang tanpa terkecuali. Virus luar biasa ini cukup mantap untuk mengubah kebiasaan seseorang, sekelompok, bahkan sebuah bangsa dan dunia. Ngga main-main ya. Jadi apa kabar 2020 buat aku, kamu, dan anda sekalian? (mungkin) baik-baik saja, hanya bakalan dirumah aja.

Sudah lama banget aku ngga nulis. Pengen banget nulis. Buka-bukain galeri handphone ngga dapat apa-apa. Bukain Traveloka juga ngga ada guna. Ya, lagi ada larangan bepergian. Anjuran pemerintah dan kita harus nurut. Oke! Catat!

Mau keluar di sekitar pulau juga malasnya astaga. Sudah hampir sebulan ya jadwal kantor udah ngga jelas. Eh, jelas sih. Cuma seminggu WFH, seminggu WFO. Dikit lagi kalau ngga nambah berat badan, yah paling nambah pengalaman jadi master chef karena segala jenis youtube dan instagram lagi seru-serunya ngebahas tentang masak-masakan simpel untuk di rumah. Ya kan ya kan. Hmm..

Sebenernya Mau Bahas Apaan?

Random. Apa ajalah. Mungkin sekedar ingin menyapa orang-orang yang ngebuka blog-ku dan entah pas lagi search tentang apa. Semoga kalian suka ya sama blog aku. Isinya banyak ko. Ada tentang perjalananku beberapa tahun lalu. Mengenai percintaanku, sedikit kadang bahas pekerjaan, dan sisanya tentang isi pikiranku mengenai apa aja.

Nah, kali karna udah terlanjur random dengan judul “Apa kabar 2020” aku ingin membahas sedikit mengenai sudut pandang ku entah mengenai kehidupan pekerjaan, pengembangan diri, kehidupan sosial untuk keluarga dan pertemanan. Serta tak lain dan paling seru, yaitu kehidupan percintaan. There we go!

Career | Hai Para Pejuang Bersama!

Akhir bulan ini bapakku akan pensiun setelah entah sudah berapa puluh tahun beliau habiskan waktu berharganya di kantor, berpindah tempat, bekerja, dan mengabdikan dirinya sepenuhnya untuk pekerjaan. Ku salut dengan dirinya yang tahan.

Ngga mudah cuy ternyata bekerja di dunia kerja. Aku pindah dari Jakarta karena kerjaan sales berasa kejam dan aku ngga sanggup, kemudian aku berpikir bahwa bekerja di luar sales akan lebih mudah ternyata tidak. Niat baik hanya ingin menyelesaikan pekerjaan terkadang tak cukup untuk membuatmu bertahan memerlukan sikap bertahan dan beradaptasi yang tangguh. Disini prinsip yang kau miliki bisa berbelok dan dipatahkan sepihak oleh orang-orang yang mengangap dirimu hanya bagian tak penting.

Next! Aku bakalan bikin satu tulisan khusus untuk bapak yang akan segera pensiun. Semoga jadi ya.

 menara hutan Bakau - Rote

Makin atas posisimu maka makin kencang angin berhembus.
Baik dengan maksud membuatmu semakin berkibar atau berusaha membuatmu layu dengan berusaha mematahkan dahanmu.

Self-Development | Rela Deh Kucobain Banyak Hal

Dulu jaman masi di Kupang. Mulai dari mau les musik lagi, les bahasa inggris, melihara ikan cupang, sampe nyoba buat mesen-mesen mebel ya. Ngga itu aja. Dulu aku punya kosan yang ada ruang tamunya. Pernah pengen nyobain jualan di CFD, bikin studio foto, sampe mau ikutan jadi youtuber. Sumpah ngga jelas banget kan.

Nah, kalau belakangan ini. Aku lagi nyobain beli bibit tanaman dari online. Ngga pake nanggung. Langsung bibit lavender, bibit cabe warna-warni, papermint, parsley, dan bunga apa gitu. Bungkus depannya si gambar matahari. Bibit sudah di tangan, baru liatin youtube. Cara menanam lavender dan ternyata baru 5 tahun baru berbunga. Aku mau sampe tua dong baru liat bunganya :”)

sudut renovasi bandara

Aku sampe di titik yang mungkin aku suka dengan design rumah, menata, dan kuputuskan untuk belajar AUTOCAD. Kan siapa tau bisa sekalian bikin design buat kos-kosan idaman. 

Social Life | Makin Tua, Teman Makin Langka

Dulu temannya mulai dari ujung ke ujung. Pergi kemana, ketemu orang. Selalu disapa, sampe kadang bingung itu namanya siapa. Terus makin menjurus, makin sibuk, makin hilang dari peradaban dan akhirnya mungkin temanmu itu adalah pacarmu. Atau mungkin hanya teman kantor aja?

Monday, December 30, 2019

2019 to 2020.

Asri Vitaloka, tahun 2019.

Actually I don’t remember too much moment at 2019. Bahkan mungkin ku malas mengingatnya. Lebih banyak kejadian menyebalkan. Semua berjalan begitu cepat. Sudah kebiasaanku untuk tidak mengingat momen saat ini. Sudah menjadi kekuranganku, untuk selalu memikirkan yang akan datang. Sehingga aku lupa menikmati saat ini, waktu ini, dengan orang disekitarku. Tapi satu momen yang masih melekat. Sebuah ucapan yang aku terima, yaitu “Disini dulu sama aku”.

Aku ngga pernah nyangka bisa sampai di tahap ini. Kukira aku bakalan kehabisan energi ditengah jalan layaknya game tembak-tembakan yang kehabisan amunisi. Kaya tokoh game yang punya batas nyawa. Tapi nyatanya aku masih ada. Dan kenyataan bahwa Tuhan tidak akan memberi cobaan diluar batas kemampuan kurasa benar. Hanya terkadang anda yang tidak sadar.

Kayanya masih belum terlambat untuk mengungkapkan perasaan syukur, terimakasih kepada banyak hal. Kepada seseorang, kepada sebuah tempat, atau bahkan sebuah momen. 

Momen penting yang dapat dinikmati seseorang di suatu tempat dan masih diingat oleh ingatan manusia yang terkadang lemah. Mungkin tidak semua momen 2019 dapat kuungkapkan tapi kuharap beberapa tulisanku dapat menyimpulkan seberapa luar biasanya tahun ini. 

Masih Menikmati Rote!

Bukan waktu yang sebentar, dan masih berlanjut. Rote menjadi tempatku mengisi hari dalam hampir 2 tahun belakangan. Banyak suka duka yang kualami. Perubahan dalam diri banyak terjadi sewaktu berada di Rote. 

Sampai di tahun ini aku masih dalam pencarian jati diri yang secara tidak sengaja malah mengantarkan aku pada pengalaman dan pencapaian-pencapaian menarik. Seperti tulisanku di “NgerasainIkut Pemilu di Selatan Indonesia”, pertama seumur hidup dan terjadi justru di pulau Rote.

Suratku untuk Rote.

Dear Rote. 
 Terimasih sudah mengajarkan aku bagaimana menjalin hubungan. Cuma disini tingkat emosi seakan lebih memuncak kemana-mana. Tidak mudah menjalani hari di pulau paling selatan Indonesia. Begitu beragam pula cerita yang terjadi di sekitarku, mulai dari patah hati, sakit bertubi-tubi, hingga stress pekerjaan dan juga lingkungan keluarga. Tapi, pernah dengar? Kita harus diuji terlebih dahulu hingga sanggup mendapatkan sesuatu yang besar.

Ya, kudapati hampir di setengah tahun 2019 aku dipertemukan dengan seseorang yang ternyata menemaniku di slot periode waktu saat ini. Masih luar biasa, namun menjadi kisah bahagia di sisi lainnya. So, Rote give me more than I need to be exist in this world. I just can say thank you for everything. But, please! Don’t hold me too long in this island. Haha..

Kutak Lagi Berkaki Kereta.

Ketika kau memulai untuk menulis sesuatu kepada dirimu sendiri. Ini berarti anda menyadari sesuatu yang sudah, sedang dan kemungkinan akan terjadi kedepannya. Ternyata 2019 menjadi satu tahun masih dalam proses mencari jati diri. Kesalahan dilakukan. Semoga tidak merugikan.

 Surat untuk Diriku.