Friday, October 23, 2020

HBD Asri.

Sebelum aku upload tulisanku selanjutnya, nikmati dulu foto lama aku di Sumba ya.

As soon as possible, I upload the next blog!




 

Saturday, October 3, 2020

Will Sumba be The Next?

 

Aku pernah sekali dalam hidupku mendapati sebuah momen beruntun yang aneh. Momen dimana sekali lagi alam semesta seakan memberi waktu dan tempat. Membuat semua seakan sudah memang direncanakan dan kini terlihat jelas dari sudut pandang aku sebagai manusia biasa.

“Will Sumba be the next place?”, sekilas dari pikiranku. Sama seperti Rote. Aku memiliki sedikit perasaan lebih saat mendengar Rote dan disinilah aku hampir selama 2,5 tahun lamanya. Menjalani kehidupan luar biasa dengan segala pertemanan, kehidupan pribadi, dan pertikaian teman sejawat. Tapi ditengah isu corona di kejauhan pulau ternyata aku masi diberikan kesempatan untuk menjajaki Sumba. 

Kucoba buat share ceritanya ya.

Sebelum mulai aku mau ngucapin thankyou banget buat kawan IG yang sekarang sedang tugas di Sumba. Dia nyapa aku lewat IG dan ngenalin aku sewaktu lagi makan di Sirkey. Ternyata mba Sari udah ngikutin tulisan aku belakangan ini. Senang sekali ya dengernya. Haha.. semoga anda tidak sesat ya dengan tulisan aku.

Okey, Go back to Sumba! Asli padahal ngga pernah mau jalan jauh ke Sumba. Sudah ngebayangin buat duduk di mobil, jalan darat, dan berjam-jam ya mending aku duduk dan keliling pulau lewat youtube. Tapi, disinilah aku terbang, duduk, dan berjalan dari satu tempat ke tempat lainnya di Sumba.

PLACE 1 : THE ETHNIC “PRAIJING VILLAGE”

Aku pernah jatuh cinta banget sama sebuah desa di sekitaran Ende-Maumere. Namanya desa Wologai. Karena itu desa adat pertama yang pernah aku kunjungi, coba aja cek di “Sedang di Ende? Bisa Coba Beberapa Tempat Ini!”

Nah, begitu ada kesempatan ke Sumba langsung muncul nama Praijing. Dan begitu liat fotonya aku harus sampai disana!

Kenapa aku bilang “The ethnic “Praijing Village”? karena disini masi nuansa desa adat dimana sekitar 40 bangunan rumah didominasi oleh bambu ya. Rumah bahan bambu dengan atap khas yang menjunjung keatas. Biasanya atap rumah digunakan untuk menyimpan bahan makanan. Kemudian barulah warga tinggal di bagian tengah rumah dan terkadang meletakan kadang hewan di bagian bawah panggung rumah. Menarik kan?




Udah umur kali ya. Aku kesana masuk layaknya desa wisata ada biaya masuk. Berjalan sedikit. Kemudian langsung nyari tempat duduk, berharap awan agak banyak biar jangan panas. Pesen makan dan minum sambil sedikit bercengkrama dengan salah satu warga. Duduk lagi melihat ke sekeliling dan berharap tempat foto khalayak umum sepi jadi bisa giliran buat ngambil foto.

Tetep ya. Turis banget. Foto!

PLACE 2 : THE BEAUTIFULL “WARINDING HILL”

Lebih dari apapun aku malah sudah jatuh cinta duluan dengan Bukit Warinding ya. Bisa dibilang ini kali kedua aku kesana. Ngga tau kenapa. Kalian bisa cek “One Day At EastSumba”!

Tapi, perjalanan aku ke sana agak mepet dengan waktu sunset. Begitu sampai disana hari sudah agak gelap. Namun masih sepersekian momen terlihat cantiknya perbukitan di Warinding dengan kuda-kuda di beberapa tempat. Kayanya disewain buat foto si kudanya.

Dan bayangin aku ketemu lagi dengan adik-adik yang sudah ngga kecil lagi yang biasa diajak foto kalau kalian main ke bukit Warinding. Haloo, adik-adik ku sini main sama tante!



Bagi aku Warinding ini cocok buat kalian yang pengen travelling adem tapi ngga butuh effort yang payah untuk jalan kaki kesananya. Cuma jauh naik mobil, tapi deket kalau berangkat dari Sumba timur. Trus cuma jalan sekitar 3 menit agak nanjak untuk dapat liat cantiknya alam sekitar. Kalau beruntung kalian bisa ketemu Febby dan beberapa anak kecil yang tinggal disekitar situ.

Yah, akhirnya aku sudah kesana 2x. Kamu?

PLACE 3 : THE CROWDED “WEEKURI”

Bisa search deh di Instagram dan kamu pasti bakal ngeliat juga kalau Weekuri menjadi salah satu tempat yang wajib dikunjungi. Disini lebih nuansa pantai ya dengan batu-batu besar dan seakan air pantai terkurung dalam satu Kawasan besar.

Untuk dapat kesana jalannya mudah dan tidak perlu tracking yang begitu susah. Terbiasa dengan alam pantai yang sepi membuatku melihat daerah Weekuri begitu crowded dengan suasana pengunjung, pedagang kain, dan warung kecil yang menghiasi sekitar area Weekuri.

Terlepas dari itu, kalian bisa nyoba untuk muterin area Weekuri. Kebetulan ada sebuah jembatan panjang dimana kita bisa melihat deburan ombak gede yang menghantam batu-batu karang besar disekitar. Dan dijamin ya, kalian akan terpesona dengan birunya air laut disana. Seakan melihat air laut dari ujung jurang. Tjakep!



Aku liat orang-orang pada seru banget buat berenang dan bahkan lompat indah di Weekuri ya. Kalau aku? Jangankan berenang, kesana aja tutupan kain pake topi dan masker. Astaga, kurasa aku sudah kehilangan semangat berpanas-panasan!

Tapi kalau kalian suka banget sama suasana pantai kurasa kalian harus nyobain Pantai Mbuwana, sepertinya masih satu jalur dengan Weekuri. Itu lebih sepi dan ikonik si menurutku. Sayangnya aku belum sempat kesana.

PLACE 4 : THE LAST AND MYSTERIOUS “RATENGGARO”

Terakir di hari itu, aku disuguhkan perjalanan yang begitu menegangkan. Masih ada beberapa daerah yang masi dekat dengan desa adat pedalaman. Kan ngga lucu ya, kalau orang baru kaya kita malah salah ngelangkah di tempat orang.

Aku ngelewati satu jalan yang ditunjuk map. Ide banget emang buat milih jalan paling deket. Dan kalian bayangin sepanjang perjalanan, ada beberapa tempat yang penuh banget dengan kuburan tinggi di kanan kiri jalan. Banyak! Sebagai orang baru gimana tuh perasaan kalian?

Singkat cerita kami sampai disana, dan ini lah perjalanan kami disana.


Jadi, pas kesana aku bisa melihat sekilas atap-atap desa Ratenggaro. Dengan ombak keras dan angin kencang disekitar area pantai, kami berdua berusaha mengabadikan momen dalam sebuah foto. Suer ya, itu perasaanku ngga nyaman banget. Mohon maaf komennya gini. Karna beda banget suasananya. Begitu misterius dan begitu asing bagi aku.

Tapi jangan pernah takut ke tempat baru. Selagi kita sopan dan tidak ada niatan buruk pasti akan aman. Hanya saja akan lebih baik membawa orang Sumbanya langsung selama perjalanan.

Jadi, kalian pilih tempat yang mana?

Aku sengaja memberikan predikat didepan nama tempat yang dikunjungi. Pasti kalian ngga mungkin si memilih salah satu ya. Kalau sudah di Sumba kenapa ngga dikunjungi semua yakan?

Aku pun sempat berpikir kalaupun disuru memilih keempat tempat diatas. Pilihanku tetap jatuh pada The Beautifull Warinding Hill. Suasana yang tenang dan aura sekitar menyejukan bagi aku. As you know yah semua. Sewaktu balik dari Ratenggaro aku tuh sampe ketindih dan kebawa mimpi tentang perjalanan kesana. Saking kepikiran dan berkesan seremnya. Hahaha..

Oke, itu dia! Jadi kalian sudah siap dengan Sumba??

Kalau belum segera rasakan sensasi wisata ke Sumba. Oiya, dalam kurang dari sebulan aku akan menulis sebuah tulisan mengenai usiaku di 28 kaya tulisanku "Wanita dan Usia 27 Tahunnya Yang Akan Datang". Semoga tulisannya jadi dan aku akan upload dalam beberapa minggu kedepan. See ya.

Dan buat temen-temen yang senang baca tulisanku. Let’s share your impression about my blog. Please say hallo at my IG asri_vitaloka. I am glad to know you more. Maybe we can be a good friends.

Asri Vitaloka | Rote, Island.

nb: most of picture was captured by Made Darsika

Monday, July 6, 2020

Pindah Haluan Profesi


Loh judulnya kok “Pindah Haluan Profesi” ? Emang udah pindah kerja? Bukannya terakhir masih sebagai anak pulau di selatan Indonesia dengan kegiatan seputaran meter dan clear tamper. Nanti, kapan-kapan kuceritain deh secara umum tentang kerjaanku di sini ya.

Jadi, seketika corona mendadak merebak di seantero Indonesia. Dimulai dari 2 orang menjadi puluhan ribu dan kemudian ketakutan melanda, ruang gerak menjadi terbatas, dan intinya kita tidak bisa kemana-mana. Maka, disinilah kucetuskan untuk “Pindah Haluan Profesi”. Bukan bener-bener pindah haluan, cuma nambah hobby baru si. Hehe..

Aku liat blog yang udah ngga keurus lama banget ini, udah ga pernah keisi tulisan apa lagi. Sebenernya aku lagi fokus mengerjakan pekerjaan rumah di Rote Ndao. Kadang sampai kebawa mimpi kerjaan. Ya, mimpiin meteran atau sekedar mimpiin P2TL. Ngga punya bahan deh buat nulis di blog.

Hingga akhirnya kuputuskan untuk mencoba sesuatu yang baru. Banyak dari kalian yang work from home pasti pada akhirnya mencoba semua yang baru. Keliatan si dari insta story kawan-kawan di media sosial. Ngga ya mulai memasak, menanam tanaman hias, sampe ngias ruangan. Semua dilakukan. Aku juga.

Kumulai dengan Menanam Tanaman Kecil.

Tanaman kecil disini bukan bentuknya kecil ya. Eh, bentuknya memang kecil si. Tapi, aku nanam mulai dari biji! Kuplototin tuh Tokopedia dengan harapan bisa nemuin tanaman yang bisa dirawat. Terus ide banget buat mencoba nanam lavender, parsley, mint, dan sejenisnya di Pulau Rote. Alhasil?

Jelas gagal.


Aku saranin aja ya. Buat orang-orang bertangan panas kaya aku. Mending kalian jangan nanem dari biji. Itu jelas perawatannya heboh banget. Extra diinget nyiram kapan, seberapa banyak dan perlakuannya kaya aku. 

Aku ni udah ngulang 3x men buat nanam itu biji! Gagal semua. Kepanen sebelum keluar daun (padahal tumbuh aja belum).

Kayanya Masak adalah Passion-ku!

Dubidu-bidu. Kumulai tuh dari Instagram, youtube, hingga pinterest semua tentang masakan mulai dari susah hingga paling gampang. Dari kue kering sampe makanan osengan khas emak-emak beburu mau jalan ke kantor. Dapat satu dua masakan yang bisa ditiru, akhirnya kuputuskan untuk berpesta di area dapur.

Dapat si beberapa menu. Yang kuingat : masak nasi jeruk, dan sambel bawang. Hmm


Yeay, dengan semangat membara didalam jiwa raga aku putuskan untuk menjajaki hobi baru. Yaitu masak. Satu kali masak, dua kali masak, dan ketiganya… Ku Lelah dengan urusan mencuci piring. Sekali kemarin sempat ngebet beli tepung terigu efek liat bahan ig bikin kue mudah.

Saturday, April 18, 2020

Apa kabar 2020 ?



 bandara Kupang

Ngga kerasa sudah masuk bulan April aja ya. Sudah 1/3 tahun setelah 2019 berakhir. Udah ngapain aja? Udah kemana aja? Udah membuat memori apa aja? (kayanya) ngga ada deh.

Sudah pada tau semua kan sekarang corona virus lagi seru banget buat menyerang orang-orang tanpa terkecuali. Virus luar biasa ini cukup mantap untuk mengubah kebiasaan seseorang, sekelompok, bahkan sebuah bangsa dan dunia. Ngga main-main ya. Jadi apa kabar 2020 buat aku, kamu, dan anda sekalian? (mungkin) baik-baik saja, hanya bakalan dirumah aja.

Sudah lama banget aku ngga nulis. Pengen banget nulis. Buka-bukain galeri handphone ngga dapat apa-apa. Bukain Traveloka juga ngga ada guna. Ya, lagi ada larangan bepergian. Anjuran pemerintah dan kita harus nurut. Oke! Catat!

Mau keluar di sekitar pulau juga malasnya astaga. Sudah hampir sebulan ya jadwal kantor udah ngga jelas. Eh, jelas sih. Cuma seminggu WFH, seminggu WFO. Dikit lagi kalau ngga nambah berat badan, yah paling nambah pengalaman jadi master chef karena segala jenis youtube dan instagram lagi seru-serunya ngebahas tentang masak-masakan simpel untuk di rumah. Ya kan ya kan. Hmm..

Sebenernya Mau Bahas Apaan?

Random. Apa ajalah. Mungkin sekedar ingin menyapa orang-orang yang ngebuka blog-ku dan entah pas lagi search tentang apa. Semoga kalian suka ya sama blog aku. Isinya banyak ko. Ada tentang perjalananku beberapa tahun lalu. Mengenai percintaanku, sedikit kadang bahas pekerjaan, dan sisanya tentang isi pikiranku mengenai apa aja.

Nah, kali karna udah terlanjur random dengan judul “Apa kabar 2020” aku ingin membahas sedikit mengenai sudut pandang ku entah mengenai kehidupan pekerjaan, pengembangan diri, kehidupan sosial untuk keluarga dan pertemanan. Serta tak lain dan paling seru, yaitu kehidupan percintaan. There we go!

Career | Hai Para Pejuang Bersama!

Akhir bulan ini bapakku akan pensiun setelah entah sudah berapa puluh tahun beliau habiskan waktu berharganya di kantor, berpindah tempat, bekerja, dan mengabdikan dirinya sepenuhnya untuk pekerjaan. Ku salut dengan dirinya yang tahan.

Ngga mudah cuy ternyata bekerja di dunia kerja. Aku pindah dari Jakarta karena kerjaan sales berasa kejam dan aku ngga sanggup, kemudian aku berpikir bahwa bekerja di luar sales akan lebih mudah ternyata tidak. Niat baik hanya ingin menyelesaikan pekerjaan terkadang tak cukup untuk membuatmu bertahan memerlukan sikap bertahan dan beradaptasi yang tangguh. Disini prinsip yang kau miliki bisa berbelok dan dipatahkan sepihak oleh orang-orang yang mengangap dirimu hanya bagian tak penting.

Next! Aku bakalan bikin satu tulisan khusus untuk bapak yang akan segera pensiun. Semoga jadi ya.

 menara hutan Bakau - Rote

Makin atas posisimu maka makin kencang angin berhembus.
Baik dengan maksud membuatmu semakin berkibar atau berusaha membuatmu layu dengan berusaha mematahkan dahanmu.

Self-Development | Rela Deh Kucobain Banyak Hal

Dulu jaman masi di Kupang. Mulai dari mau les musik lagi, les bahasa inggris, melihara ikan cupang, sampe nyoba buat mesen-mesen mebel ya. Ngga itu aja. Dulu aku punya kosan yang ada ruang tamunya. Pernah pengen nyobain jualan di CFD, bikin studio foto, sampe mau ikutan jadi youtuber. Sumpah ngga jelas banget kan.

Nah, kalau belakangan ini. Aku lagi nyobain beli bibit tanaman dari online. Ngga pake nanggung. Langsung bibit lavender, bibit cabe warna-warni, papermint, parsley, dan bunga apa gitu. Bungkus depannya si gambar matahari. Bibit sudah di tangan, baru liatin youtube. Cara menanam lavender dan ternyata baru 5 tahun baru berbunga. Aku mau sampe tua dong baru liat bunganya :”)

sudut renovasi bandara

Aku sampe di titik yang mungkin aku suka dengan design rumah, menata, dan kuputuskan untuk belajar AUTOCAD. Kan siapa tau bisa sekalian bikin design buat kos-kosan idaman. 

Social Life | Makin Tua, Teman Makin Langka

Dulu temannya mulai dari ujung ke ujung. Pergi kemana, ketemu orang. Selalu disapa, sampe kadang bingung itu namanya siapa. Terus makin menjurus, makin sibuk, makin hilang dari peradaban dan akhirnya mungkin temanmu itu adalah pacarmu. Atau mungkin hanya teman kantor aja?

Monday, December 30, 2019

2019 to 2020.

Asri Vitaloka, tahun 2019.

Actually I don’t remember too much moment at 2019. Bahkan mungkin ku malas mengingatnya. Lebih banyak kejadian menyebalkan. Semua berjalan begitu cepat. Sudah kebiasaanku untuk tidak mengingat momen saat ini. Sudah menjadi kekuranganku, untuk selalu memikirkan yang akan datang. Sehingga aku lupa menikmati saat ini, waktu ini, dengan orang disekitarku. Tapi satu momen yang masih melekat. Sebuah ucapan yang aku terima, yaitu “Disini dulu sama aku”.

Aku ngga pernah nyangka bisa sampai di tahap ini. Kukira aku bakalan kehabisan energi ditengah jalan layaknya game tembak-tembakan yang kehabisan amunisi. Kaya tokoh game yang punya batas nyawa. Tapi nyatanya aku masih ada. Dan kenyataan bahwa Tuhan tidak akan memberi cobaan diluar batas kemampuan kurasa benar. Hanya terkadang anda yang tidak sadar.

Kayanya masih belum terlambat untuk mengungkapkan perasaan syukur, terimakasih kepada banyak hal. Kepada seseorang, kepada sebuah tempat, atau bahkan sebuah momen. 

Momen penting yang dapat dinikmati seseorang di suatu tempat dan masih diingat oleh ingatan manusia yang terkadang lemah. Mungkin tidak semua momen 2019 dapat kuungkapkan tapi kuharap beberapa tulisanku dapat menyimpulkan seberapa luar biasanya tahun ini. 

Masih Menikmati Rote!

Bukan waktu yang sebentar, dan masih berlanjut. Rote menjadi tempatku mengisi hari dalam hampir 2 tahun belakangan. Banyak suka duka yang kualami. Perubahan dalam diri banyak terjadi sewaktu berada di Rote. 

Sampai di tahun ini aku masih dalam pencarian jati diri yang secara tidak sengaja malah mengantarkan aku pada pengalaman dan pencapaian-pencapaian menarik. Seperti tulisanku di “NgerasainIkut Pemilu di Selatan Indonesia”, pertama seumur hidup dan terjadi justru di pulau Rote.

Suratku untuk Rote.

Dear Rote. 
 Terimasih sudah mengajarkan aku bagaimana menjalin hubungan. Cuma disini tingkat emosi seakan lebih memuncak kemana-mana. Tidak mudah menjalani hari di pulau paling selatan Indonesia. Begitu beragam pula cerita yang terjadi di sekitarku, mulai dari patah hati, sakit bertubi-tubi, hingga stress pekerjaan dan juga lingkungan keluarga. Tapi, pernah dengar? Kita harus diuji terlebih dahulu hingga sanggup mendapatkan sesuatu yang besar.

Ya, kudapati hampir di setengah tahun 2019 aku dipertemukan dengan seseorang yang ternyata menemaniku di slot periode waktu saat ini. Masih luar biasa, namun menjadi kisah bahagia di sisi lainnya. So, Rote give me more than I need to be exist in this world. I just can say thank you for everything. But, please! Don’t hold me too long in this island. Haha..

Kutak Lagi Berkaki Kereta.

Ketika kau memulai untuk menulis sesuatu kepada dirimu sendiri. Ini berarti anda menyadari sesuatu yang sudah, sedang dan kemungkinan akan terjadi kedepannya. Ternyata 2019 menjadi satu tahun masih dalam proses mencari jati diri. Kesalahan dilakukan. Semoga tidak merugikan.

 Surat untuk Diriku.

Monday, November 11, 2019

Telaga Nirwana - Rote Island



Telaga Nirwana

Ada nih satu telaga di pulau Rote. Disebut-sebut namanya Telaga Nirwana. Kalau mau kesana mudah banget, akses gampang, dan ga perlu jalan jauh cam mau pingsan buat sampe disana. 

Sesungguhnya di umurku yang baru bulan lalu nyentuh 27 tahun, kaya malas aja gitu ya mau jalan kemana-mana. Mau berenang mikir nanti masuk angin. Mau tracking bukit, nanti takut engsel kaki copot. Mau ke pantai, takut kulit makin kusam. Haha.. emang dasar udah rada makin nambah umurnya, makin malas jalannya. Tapi kali ini kusuguhkan Telaga Nirwana ala jalan-jalan tipis di Pulau Rote. Yang ternyata saat itu satu kawan kami ultah dan dia ngga info. Men!!

Inginku menceritakan tempat yang seru, menyenangkan, dan penuh energi waktu datang kesana. Tapi tempat yang satu ini memberikan kesan berbeda. Satu telaga di pulau Rote, yang disebut dengan Telaga Nirwana. Berusaha memberikan sebuah warna di tengah heningnya suasana sekitar, namun tidak luput memberikan kesan mendalam sewaktu sampai di sana. 

Tidak Jauh Hanya 10 Menit, Kira-Kira.

Kukira aku akan berjalan jauh kedalam hutan. Jika anda akan pergi ke Telaga Nirwana, cukup datang kearah desa Oeseli. Naik kapal hanya 15 menit dan berjalan kaki sekitar 10 menit kearah dalam. Dan taram, anda sudah dapat menikmati Telaga Nirwana.


Ps. Mungkin naik kapal mau nyebrang kea rah Telaga Nirwananya ngga sampe setengah jam, tapi kalian juga harus mengeluarkan biaya perahu sekitar 300K hingga 500K kalau tidak salah. Maaf ye, udah tua rada lupaan.