Sunday, June 7, 2026

3 Years.

 

Konon kata sebuah alur drama Korea menyebutkan sebuah dialog. Yaitu, seorang penulis harus menyelami banyak emosi untuk dapat menghasilkan tulisan yang bagus. Pernah kudapati diriku tidak memiliki bahan untuk menulis. Ternyata saat itu aku terlalu bahagia untuk bisa menulis. Ya, disaat sedang jatuh cinta.

Tulisan ini tidak bermaksud menyingung siapapun. Hanya sebuah torehan kata-kata untuk dikenang kemudian hari. Sebuah lagu ”Luruh” milik Isyana mengulik emosi terdalam yang sedang diupayakan agar tidak terkuak dan menganggu keseharian. Ya, sudah 3 tahun lamanya sejak saat itu. Di bulan Juni kala itu.

Luruh milik Isyana.

Sebuah alunan piano masuk diantara kepalaku melalui earbuds yang kugunakan. Hari itu, hari Minggu dimana aku sedang menikmati segelas kopi susu DCA kesukaanku. Di sela bergulirnya foto instagram di jari-jemariku, kudapati diriku terenyuh dengan lirik lagu Luruh. Biasanya kulanjutkan tanpa merasakan sesuatu. Tapi, kali ini berbeda.

”Luruh seluruh harapku. Luruh semua janjimu. Ketika jalanku dan jalanmu tak bertemu. Runtuh seluruh maknaku. Ketika inginku dan inginmu tak menyatu. Di dalam pusaranmu, adakah ruang untuk kau dan aku mengarung mencari titik temu.” – sebuah cuplikan lirik lagu tersebut.

Hanya kata demi kata namun seakan memberikan gambaran kejadian tak singkat namun tergambar jelas. Seketika sekumpulan emosi terendam kembali naik ke permukaan, walaupun sudah tiga tahun lamanya.

“Aku Jarang Melihatmu Menulis Lagi”

Sesungguhnya aku pun terheran dengan kondisi tersebut. Tapi, selayaknya musik populer dari seorang penyanyi yang menuliskan liriknya dikala sedang patah hati, sedih, rapuh, dan kecewa. Pun terjadi saat seseorang menuliskan kata menjadi sebuah kalimat hingga tergabung dalam sebuah paragraf.

Kusadari diriku sibuk mengalami, menjalani, dan meresapi segala momen bahagia, canggung, sedih, bahkan marah. Berjalan dalam sepi dan menyimpan bom waktu. Seakan menghitung mundur setiap peristiwa dan akan berpisah pada waktunya. Seakan semesta pun memberi petunjuk melalui rasa ragu dan menjadikannya saat sudah habis waktunya.

Ternyata aku disiapkan untuk menulis kembali saat sekitar sudah mulai tenang. Ternyata bukan karena sudah tak merasakan. Ini hanya perkara sudah terbiasa dengan rasa sakit dan menggantung. Sekelibat masih terasa seakan baru kemarin, namun sudah 3 tahun lamanya.

Mimpi Indah dengan Jelas.

Entah dimana aku melihat dan membaca sebuah kutipan. Jika sudah selesai ceritanya, maka akan berjumpa dalam mimpi. Entah apapun cerita didalam mimpinya. Tidak hanya sekali, mimpi dengan beragam cerita. Tak jarang kupikir apakah ini sebuah bawah sadar dengan makna tertentu. Atau hanya sekelibat bawah sadar dari alam pikiranku sendiri.

Pernah dalam bentuk bepergian dengan motor berdua. Pernah dalam bentuk dirimu dengan seorang sosok wanita lainnya. Tapi, mimpi terakhir justru menciptakan cuplikan drama berbeda. Yaitu, kita berdua berjalan kaki berdampingan sambil bercengkrama diatas trotoar. Berjalan setelah duduk di kafe. Itupun dirimu menghampiriku sesaat setelah melihatku dari beranda sebuah bangunan.

Jikapun sudah selesai kisahnya, atau sudah berakhir masanya. Maka, lepaskanlah dalam bentuk apapun kisah lama dan bersiaplah menghadapi kisah didepan. Dengan atau tanpamu.

Tok Tok Tok

Pernah tidak merasakan keinginan begitu dalam. Seseorang datang dan mengetuk pintu kamarmu. Berupaya menyapa dengan canggung dan memberi kesimpulan berbagai cerita yang dibuat oleh otak pikiranmu sendiri. Dan hingga saat ini, tidak ada ”Tok Tok Tok” yang diharapkan.

Tidak sesederhana sebuah tok tok tok untuk memanggil orang didalam ruangan. Ini bukan sekedar ingin masuk. Tapi lebih besar dari itu. Sebuah rasa ingin, kemudian dipatahkan dengan realita bahwa tidak ada yang mengetuk. Ini juga bukan sebuah tok tok tok hanya untuk melihatnya datang. Melainkan sebuah closure atau penutupan dari masa seseorang dalam jangka waktu terbatas.

Berupaya dengan sangat untuk menutup sebuah cerita. Tapi bahkan pintu berpasangan dengan gagang pintu agar bisa menutup. Tidak pernah sendirian. Bahkan kalimat pembuka perlu dibuatkan kalimat penutup agar memiliki kesan selesai. Tapi, ini tidak terlihat. Atau seakan tidak terasa tertutup dengan benar.

3 Years and still going…

Kusampaikan dengan tenang bahwa sudah tiga tahun lamanya. Senyum tipis hadir dalam wajahku saat mengenang banyak hal indah. Tapi tidak bisa kujanjikan tidak dilanjutkan dengan rasa sedih kemudian. Satu yang bisa kupastikan, yaitu kadar emosinya sudah mulai berkurang. Berkurang dengan terurai oleh waktu dan kesadaran dalam pelajaran.

Setiap masa memiliki pelajaran dan akan dalam jika diselingi rasa sedih hebat selepas perpisahannya. Sudah dipastikan dengan sangat bahwa tidak pernah berpisah jika belum selesai. Namun, semesta akan menjadikannya jika memang sudah selesai waktunya. Menjadikan diri dan dirinya berpisah. Apapun alasan dan penyebabnya.

Kupikir aku memiliki ingatan yang lemah. Nyatanya, aku sangat jelas mengingat hal indah atau menyedihkan jika mengenaimu. Tidak pernah terasa terlalu lama atau terlalu cepat. Semua mengalir dalam kenangan indah yang tersimpan disuatu memori.

Dearest gentle reader,

Tulisan ini kuafirmasi untuk orang-orang yang sedang berjuang dalam menyembuhkan hati. Jikapun penyesalan masih lebih kuat saat ini, percayalah keikhlasan akan muncul di kemudian hari. Jikapun kamu menyesali segala kisah yang sudah dilewati, percayalah kamu pernah berada di momen paling beruntung. Yaitu, saling mencintai satu sama lain.

Baik perpisahan jarak maupun perpisahan beda dunia, tetaplah berpisah. Setiap perasaan benar adanya. Bahkan jikapun sudah mengetahui akhir cerita, aku tidak keberatan untuk kembali mengulangnya. 

Bagiku, hidup adalah sebuah kisah ujian yang tak pernah tuntas. Maka, ijinkanlah sesekali perjalanan cintamu diselingi ujian. Disitulah kamu bisa mendapatkan rasa paling dalam, entah rasa bahagia atau malah rasa menyakitkan.

Kudoakan dengan sangat bagi orang-orang diluar sana yang masih berusaha menyembuhkan hatinya. Sekian tahun dihabiskan bersama, kemudian malah menyisakan sekian tahun untuk berupaya melupakannya. Tidak pernah berlaku sia-sia. Apapun yang pernah dijalankan bersama sang pujaan hati, akan memberimu kebijaksanaan lain saat berjumpa dengan pujaan hati selanjutnya.

Thankyu, Asri Vitaloka.

Saturday, May 30, 2026

The Single Days

 

Masih di Labuan Bajo. Sudah setahun btw. Gitu dulu pertama ya. Menjalani pekerjaan yang hampir sama dalam tiga tahun terakhir. Dalam status single, kerja, dan berupaya menangani pra diabetes. Lah, apa hubungannya?

Sebenarnya tulisanku kali ini kuadopsi dari keseharian dan pengalamanku dalam tiga tahun terakhir. Dalam realita bener-bener menjalani pekerjaan, hobby, menangani kesehatan mental (canda) dengan status single, sedikit teman, dan kopi bergelas-gelas. How’s your single days? How’s my single days feels? Kali aja tulisan ini bisa menghibur buat yang single juga dan kemudian komen,”Haa, sama juga ya ternyata”. Atau buat yang ngga single dan sedang struggle dengan kesehariannya bisa memberi semangat dan bersyukur terhadap apa yang sedang dijalani. Love.

So, what’s the big picture?

Belakangan kudapati diriku mulai merasa lelah dengan banyak kebiasaan. Kebiasaan lari dari rutinitas, kebiasaan dalam mengejar semua penghargaan di pekerjaan, atau kebiasaan menjaga branding diri ditengah medan perang dunia pekerjaan. Haha, dramatis banget deh ya. Heran.

Berpindah terus dalam tahun ke tahun dan mendapati diriku berada di Labuan Bajo. Berupaya beradaptasi dan menorehkan cerita agar tidak menyesal di kemudian hari. Kuhabiskan waktuku untuk terus berpikir,”What’s next?” hingga kemudian kudapati diriku tidak menemukan ide melelahkan lainnya untuk dieksekusi. Apakah ini sudah mencapai titik jenuhnya? Beberapa tahun terakhir seakan mengulang cerita.

Biasanya jika sudah merasa jenuh, maka mulailah untuk duduk beristirahat hati dan pikiran. Cari dan dapati apa yang sudah kamu lewati, dimana kamu berada sekarang, serta apa posisimu saat ini. Kembalilah mengulik apa yang kamu pernah inginkan, namun lupa untuk dilakukan karena kesibukan. Disitulah, aku mulai mencari gambaran besar dari diriku saat ini.

Apa yang sudah dilepaskan dariku, maka sudah tidak selaras denganku. Dimana diriku berada saat ini, telah melalui perjalanan panjang dari tempat-tempat lain. Semua yang melemahkan agar dihempaskan dan semua yang menguatkanmu agar dijaga. Karena ini semua mengenai energi.


How’s my single days feels?

Sejujurnya sepi. Bangun tidur, bekerja, gym, dan kembali tidur. Sebagian kuhabiskan dengan scroll instagram, buat story, minum kopi enak, dan nonton netflix. Done.

Paling terasa di hari Sabtu Minggu ya, aku kadang mikir ini beneran hidup cuma ngurusin diri sendiri aja ya? Leh uga sih ya. Melihat sebagian besar wanita di usiaku sedang sibuk memikirkan kebutuhan suami dan anak, ternyata semesta berpikir,”kamu ga cocok, Asri”. Makan sendiri aja masih bingung, mau ngurus orang ya. Terlepas dari pemikirian kosong di hari libur, kadang terbersit mendadak jadi MUA, Baker, florist, dan hal gila lainnya. Tapi, terpatahkan dengan perasaan capek sebelum menjalani. Wkwkw.

Oke, karena tulisan ini berfokus pada ”The Single Days” maka kucoba menuliskan secuplik momen dan aktivitas yang masih membuat hariku penuh. Semoga bisa memberi ilham bagi beberapa wanita yang mungkin seumuran, sesibuk, dan se-bengong aku di usia kalian kali ini. Let’s check it dot!


Pelihara Ikan Cupang, si Cucu.

Si paling pernah melihara ikan cupang di tahun 2017 dan dengan tidak bangga kusampaikan bahwa ikannya meninggal hingga tak membekas di dalam akuarium mini. Jujur, sibuk bener dengan pekerjaan di unit terbesar di Nusa Tenggara Timur. Apalah.

Tahun ini, kucoba untuk mengulangi kembali peliharaanku. Pengennya pelihara anjing, ayam, burung, kadal, atau ular kan (canda) tapi apadaya tidak bisa ya. Lama lama ini peliharaan ngejerin aku ke kantor buat minta makan, atau aku nambah kamar kosan karena tidak tahan dengan bulu atau sejenisnya. Akhirnya kuputuskan untuk memelihara dua ikan cupang. Satu meninggoy dan satu bertahan. Sebut saja si red strong Cucu, atau ikan cupang merah kesayanganku.

Pernah denger ga? Bahkan setiap peliharaan yang hadir menemani kamu tidak pernah datang terlalu cepat atau terlalu lambat. Jika sudah habis masanya, maka dia akan meninggal, hilang, lepas, atau berpindah. Tapi si cucu (ikan cupang) kini sudah bisa makan dengan tanda ketukan dua kali dari aku di toples kacanya. Bangga.

Mencatat Pengeluaran Harian.

Aktifitas baruku saat single adalah mencatat pengeluaran harian. Sungguh, Asri! Penting banget heran ye kan. Pekerjaan yang ternyata membosankan, tapi satu langkah menuju kaya. Secara tidak sadar, kuhabiskan diriku dengan hidup ala anak raja minyak ye kan. Ternyata, ada kebiasaan yang berhubungan dengan uang dan perlu diperbaiki. Ini akan disadarkan dengan adanya angka dan catatan dari keseharianmu.

Cobain deh. Aku banyak melihat temanku sudah menerapkannya. Pentingnya budgeting akan memberi pengaruh besar bagi hidupmu. Apalagi makin merajalela pinjaman mudah yang bisa memberikan jalan sesat jika kamu tidak bertanggung jawab dengan pemasukan dan pengeluaranmu.

My single days number 2: kebiasaan mencatat pengeluaran harian. Ditengah banyaknya hari kosong akhirnya kudapati diriku mulai menerapkan budgeting secara tertulis. Mulai dari pengeluaran keseharian hingga travelling. Bagi aku, seru juga ya. Kenapa ga dari dulu aja ya.



Makin Candu dengan Kopi.

Aku pernah memikirkan kebiasaan lainku yang agak laen, tapi banyak dilakukan kaula muda ya. Apalagi kalau bukan kecanduan kopi. Versiku adalah kopi susu less sugar. Bahkan aku sampai latihan minum coldbrew lemonade less sugar saking serem sama gula setiap hari padahal tetap diminum terus.

Mari lihat lagi dalam satu hari dalam weekdays. Apa saya yang kamu habiskan dalam satu hari? Mulai dari bangun pagi jam 7, kemudian jam 8 sudah di kantor. Berupaya untuk sarapan sebelum jam 9 pagi. Menghadapi email, zoom meeting, dan mikir quick solution buat setiap problem yang muncul hingga jam 12 siang. Akhirnya mulai mikir mau makan siang dimana, makan siang sambil kopi siang sampai jam 1 atau setengah 2 siang. Kemudian kembali ke kantor dan menghadapi evaluasi, zoom meeting (lagi) sampai sore jam 5 sore. Persiapan gym jam 6 sore makan dulu, gym selama 1,5 jam. Akhirnya kelaparan jam 9 malam baru makan malam (lagi), balik kosan, persiapan tidur dan menye-menye diatas kasur sampai jam 12 malam. Sybuk kan ya.

Aku ngga ngebayangin ya, masi tinggal sendiri aja sudah padat merayap. Belum kalau punya pasangan ya. Tapi masih pengen sih ya. Hanya disisip sebelah mana juga bingung ini. Makanya untuk menjaga jadwal padat merayap, kudapati diriku bertahan dengan kopi susu hingga akhirnya kafein mengambil alih sebagian besar waktuku agar tetap melek dan bisa menjalani jadwal yang kususun sendiri.

Definisi mau ngeluh, tapi yang buat jadwal sendiri tuh gimana. Wkwkw.

Gym 6 hari-seminggu.

Kenapa sih mau gym 6x seminggu? Percayalah dulu aku yang tidak suka olahraga. Badanku terasa lelah duluan sebelum bergerak. Hingga akhirnya hasil MCU menyampaikan bahwa aku pradiabetes. Sudah hampir tiga tahun dengan dunia per-gym-an ini, dan sudah berhasil menormalkan kembali gula di hasil MCU-ku. Hhhh, thankyu gym.

Ternyata efek samping dari gym adalah ketagihan gym, kulit lebih cerah, makan lebih banyak, dan gulaku normal (padahal tidak mencoba mengurangi gula). Badan lebih tegap dan otot lebih terasa ya. Sebenarnya ada satu lagi yang kujaga di usia yang hampir mendekati kepala empat ya. Aku sedang menyiapkan diriku menghadapi pra-menopause. See, nambah kan satu lagi masalah hidup.

Jadi, dengan status single, seorang wanita, hampir penderita pradiabet maka kudapati diriku perlu merubah atau menambah beberapa kebiasaan. Konon, katanya jika sudah bertahan hingga lebih dari 3 bulan maka akan menjadi gaya hidup. Maka, kusampaikan thankyu to my daily gym for make my life better than before.

Seru banget deh. Awalnya kumulai dengan mulai membiasakan diri untuk datang rutin, mulai membagi pola latihan, hingga kini ingin masuk mengatur makan sehari-hari. Buat mba-mba yang seusiaku, ternyata banyak juga yang perlu dipersiapkan ya. Asalkan informasinya tepat dengan pola makan, olahraga, dan asumsi suplemen serta vitamin yang pas kurasa semua bisa deh menghadapi pre-menopause. Hehe.


Jadwal Bepergian (Date with My Self).

Ada beberapa tipikal traveller yang aku lihat. Tipe jalan-jalan yang capek banget, mengutamakan staycation, atau mencari nilai khas dari suatu lokasi. Setelah kupahami kayanya aku bukan tipikal yang suka dengan jalan melelahkan dan semua dicobain. Padat jadwal hingga tak bisa napas gitu. Bukan aku banget.

Sejak sudah mendapatkan penghasilan sendiri baik single, jomblo, atau berpasangan, aku selalu mengupayakan bisa melihat tempat baru diluar tempat tinggalku. Karena aku takut dengan pemikiran tertutup dan kaku, hanya karena tidak melihat dunia luar selain disekitarku. Sebagai anak rumahan (di masa lalu), kupastikan diriku bersemangat untuk melihat sesuatu baru yang membuatku tetap hidup saat menjalaninya.

Belakangan, kudapati diriku wajib untuk date with my self. Ini terkadang tidak dapat dilakukan dengan segala rutinitas yang sudah autopilot. Bepergian sendirian akhirnya kujalani beberapa kali. Aku lebih mendapati diriku ternyata menyukai satu dan tidak menyukai lainnya. Hanya dengan bepergian sendirian, kuputuskan sendiri, dan bertanggung jawab sendiri.

Tak jarang di usia yang semakin tua tidak menjamin seseorang sudah mengenal dirinya sendiri. Tak banyak yang paham apa yang benar-benar diinginkan. Kita menjalani hidup dengan segala rutinitas yang sudah berjalan sebagaimana normalnya. Tanpa mencoba mencari waktu untuk mengenal diri dari dalam.

Dan, akhirnya periode single ini memberi aku jeda waktu untuk bisa mengetahui sebenarnya siapakah diriku? Apa yang kuinginkan dengan sangat?



Jangan lewatkan tulisanku yang lain mengenai "5 Kota Memanggil" dengan segala kisah kota yang pernah menjadi tempat tinggalku. Next, aku juga bakalan nulis tentang tripku ke Malaysia ya. Seru banget deh, penasaran dengan cantinya kota tua, George Town. Jatuh cinta!

Thankyu, Asri Vitaloka.

Friday, March 6, 2026

5 Kota Memanggil

 

Konon katanya kalau kamu merasa sesuatu kepada sebuah kota, bisa saja sudah ada kisah yang disiapkan akan dijalankan olehmu dikemudian hari. Terbersit kemudian aku merasa beberapa kota yang lumayan memanggil. Entah karna aku pernah tinggal atau akan tinggal disana. Lima kota kucoba mencari tau dari kota paling memanggil versi hidup aku di tahun 2026.

Setiap kota memiliki rasa dan makna tertentu. Mungkin bisa dijadikan sebuah refleksi apakah anda atau saya memiliki kota indah yang akan memanggil dikemudian hari. Apakah kota tersebut anda dapatkan dari celetukan teman, tak sengaja jatuh cinta dari sebuah film, atau hanya tertarik saja gitu.

#1 Kupang: Indah dengan Keberagaman

Kota Kupang, kota kasih. Sebenarnya kota ini lumayan ada keterikatan emosi antara aku dan bapak. Beliau kudengar pernah mendapatkan kesempatan untuk bisa pindah dan dinas di Kota Kupang, namun tidak pernah sampai. Entah karena belum rejeki, dan beliau tidak ingin pindah jauh dari keluarganya. Hingga, akhirnya kupikir anaknya menggantikan beliau. Ya, anaknya yaitu aku.

Pergi menjajaki dunia kerja sejak tahun 2014 di Jakarta. Tidak begitu lama. Begitu tiba tahun 2015, seorang Asri Vitaloka harus pindah dan menetap di Kota Kupang hingga saat ini. Sudah 10 tahun lebih lamanya. Kaget dengan orang-orang, lokasi, dan segala budaya. Namun, disinilah aku masih sangat mencintai NTT ditengah gempuran sekitar yang ingin kembali pulang ke rumah masing-masing.

Kupang bagiku: Sebuah kota cantik dengan toleransi tinggi. Untuk pertamakalinya kudapati kota dengan warung babi dimana-mana dan tidak menjadi sangat minoritas karena mayoritas disini adalah Kristen atau Katolik. Sebagai kota pertama, hidup sendiri sebagai Asri Vitaloka dan berdiri di kaki sendiri. Mencoba mencari tau, apa yang terjadi kemudian. Kota pertama berdiri mandiri dan mengusahakan apapun yang diinginkan. Adakah kota seperti itu bagimu?


#2 Rote: Tidak Tersentuh hingga Jatuh Cinta

Pulau Rote, dengan pelabuhan kota Ba’a. Selalu sulit menjelaskan sedang tinggal dimana ditengah banyaknya orang yang tidak mengenal pulau tersebut. Hingga sebuah kalimat paling ampuh dan lumayan menjelaskan, ”Pulau paling selatan Indonesia”. Dan selesai, orang didepanmu akan menjawab,”Haaa, oke tau”.

Sebagian perjalanan karirku dalam 10 tahun di Nusa Tenggara Timur dihabiskan di pulau tersebut. Menikmati perjalanan karir dengan menerapkan slow living namun dengan pikiran liar yang selalu bertanya,”Sampai kapan disini?”. Aku bahkan pernah membayangkan akan menghabiskan usia 30-an ku disana. Sebuah pulau tanpa ada hiruk pikuk berlebih. Bahkan menjadi pulau sepi tanpa kendaraan saat bensin lagi langka.

Rote bagiku: Sebuah pulau yang memberikan aku harapan, pelajaran, dan sebuah rasa kasih serta cinta. Aku menjadi seorang yang berbeda disana. Rote menjadi teman personal brandingku dalam perjalanan karirku. Aku mendapatkan supervisor dan manjerial pertama di pulau tersebut. Bahkan sempat kujalani kasih cinta dalam jangka waktu hampir 4 tahun saat bertugas disana (tumben). Thankyu Rote, seorang Asri belajar menjalani slow living dengan indah beragam rasa dendam, cinta, dan kasih dari keluarga besar baru disana.

#3 Sumba: Perasaan Akan Menetap 

Sumba sebagai sebuah kota pertama yang kutebak saat berada di Rote. Aku ingat aku sedang bersama teman di sebuah kafe 777, Baa. Dan kuselentingkan bahwa kemungkinan setelah ini akan ke Sumba Timur. Beberapa bulan kemudian terjadi.

Sumba menjadi sebuah pulau dengan kenangan indah, akrab, dan juga memberi kesan yang tidak akan terlupa. Kasih dengan pasangan, akrab sementara dengan beberapa teman, dan menjalin indahnya hubungan pekerjaan antara teman sekantor. Banyak perjuangan dan tidak mudah. Namun akan ringan jika tidak dijadikan beban.

Thankyu team. Tidak mudah perjalanannya. Dijauhkan dengan teman, dijauhkan dengan kekasih, dan diuji oleh malapetaka bencana yang tidak terelakkan. Kejadian Covid-19, Seroja, dan peristiwa meninggal dunia seseorang tak hanya memberi kesan mendalam dalam sebuah keinginan untuk menyerah, bertahan, dan keinginan untuk harus menguatkan sekitar padahal sendirinya juga rapuh.


#4 Labuan Bajo: Candu hingga Berulang Kembali

Kalimat pertama yang terlintas adalah sailing trip Labuan Bajo. Sejak kuliah, aku sudah mendengar tentang Labuan Bajo. Belum juga tiba karena untuk bisa kesana butuh biaya yang lumayan besar. Bahkan sekarangpun bisa dikatakan sebagai trip premium ya.

Begitu tiba di Kupang tahun 2015 dan kuputuskan untuk menjajaki Labuan Bajo segera dalam waktu sesingkat-singkatnya. Hingga 2016 tiba, akupun sampai disana. Datang, berlibur, dan merasakan sailing trip yang sangat diidamkan sejak lama. Tidak pernah aku mengetahui kota Labuan Bajo, hanya lautnya saja. Hingga kemudian aku memutuskan untuk datang kembali bahkan sebelum aku menuntaskan trip pertamaku disana.

Labuan Bajo bagiku: Sebagai pencinta laut dengan sailing dan snorkling, aku sadar bahwa semua karena Labuan Bajo. Sulit menolak cantiknya bawah laut Bajo. Kudapati diriku beberapa kali sailing kembali sejak trip pertamaku. Bersama teman, bersama kekasih, bahkan orang asing. Hingga kemudian semesta memutuskan aku untuk tinggal disini. Saat ini. Sejak 2025.

#5 Jakarta: Penuh Pengharapan dan Titik Balik.

Sebelas Bulan di Kota Jakarta. Singkat, padat, dan menjadi titik balik perjalanan karir Asri Vitaloka. Dimana Jakarta menjadi tempat aku ditolak sebuah perusahaan BUMN lain, sebut saja Telkom. Padahal aku lulusan dari Universitas Telkom. Belum berjodoh. Masih terngiang beberapa kali, saat aku harus berkeliling kompleks United Tractors sambil menangis akibat ditolak perusahaan tersebut. Haha.

Namun, di Jakarta aku tidak sendirian. Bahkan aku mendapatkan Bapak Asuh bagi muda-mudi Jakarta saat aktif dengan kegiatan Pura Rawamangun. Tidak pernah aku melupakan saran beliau. ”Pergilah bersembahyang di sudut pura disana (Pura Rawamangun) dan mintalah yang terbaik agar diberikan jalan yang mudah untuk mendapatkan pekerjaan”. Boom! Aku kembali ditolak Bea Cukai dan berhasil masuk di kantor BUMN saat ini. Terimakasih Tuhan.

Jakarta bagiku: Dengan kerasnya perjuangan tinggal di Jakarta, sebenarnya kota ini yang mengajarkan aku untuk berani pertama kali. Bahkan bukan Kupang atau Rote. Sebagai sales saat itu, berkeliaran dari Timur hingga Barat Jakarta. Naik motor melawan tingginya ban truk yang melintas di perbatasan Bekasi. Ah, seru banget.

Setiap tahun, ada saja kesempatan untuk bisa tiba kesana. Kembali datang ke Pura Rawamangun. Sweet.


(Tambahan Kota) Scotlandia: Terasa Tidak Asing.

Setelah asyik menimbang, mengingat, dan meresapi indahnya kota-kota di Indonesia yang berarti bagi hidup aku. Akhirnya kudapati diriku jatuh cinta pada kota lainnya. Bukan Paris, bukan Hanoi, atau mungkin Bangkok. Tapi, Scotlandia.

Apa karena para pria dari sana rupawan? Haha, bisa saja. Tapi, ada sebuah perasaan unik saat melihat rok motif kotak-kotak dengan nuansa merah yang terkenal digunakan oleh para pria. Tidak sedikit film-film Barat yang mengenalkan aku pada kota tersebut. Hingga jatuh cinta tidak pada pria, tapi pada sebuah kota. Semoga ada masanya, ada panggilannya, dan bisa tiba disana kemudian hari.

Scotlandia bagiku: Belum pernah sedekat itu dari sisi jarak. Terasa tidak begitu asing bahkan saat melihatnya dalam film-film. Bahkan aku merasa senang saat film Bridgerton menayangkan tarian khas Scotlandia didalamnya. Suka, tenang, dan menarik hati.

OK, Thankyu.

Kota tidak sembarang kota. Dengan perasaan unik saat berada didalamnya, aku bahkan merasa ada kota yang menerimaku dan ada yang hanya mengijinkan untuk melihat-lihat. Satu dua kota begitu berarti karena dibarengi dengan pengalaman dan pelajaran hidup. Satu dua kota menjadi berarti karena membuat aku mengenal beberapa orang yang sempat menemani hidupku dalam beberapa periode.

Lalu, bagaimana dengan kota versimu? Adakah kota yang memberikan perasaan ingin pulang, ingin mengulang, atau bahkan memberikan perasaan tenang karena kamu suka dengan kota tersebut. Atau adakah kota yang bahkan tidak kamu sukai? Yah, semua tentunya ada warna dan warni saat berada didalamnya. Saat menginjakkan kaki. Saat datang dan kemudian berpamitan.

Ada kota yang membuatnya berarti dikarenakan people didalamnya. Ada karena nuansanya. Ada karena masa indahnya. Mungkin satu dua refleksi kota bisa membuat kita tahu seperti apa kehidupan yang diinginkan. Hanya dari memori dan kenangan saat berada di sebuah kota.

Baru kemarin aku berjumpa dengan teman sekolahku. Satu ucapannya begitu membekas di hati. Ini saat terakhir kamu di NTT. Entah kenapa, ucapannya malah menyesakkan ya. Di satu sisi, aku juga merasa sudah akan habis waktunya. (Mungkin) Sudah saatnya menuju tempat baru dan peran baru.

Thankyu, Asri Vitaloka.