Sunday, July 19, 2026

Apa Yang Sebenarnya Perlu Ditakutkan?


Emang paling bahaya banget punya meja di kosan. Meja profer yang kamu bisa duduk sambil lihat ikan cupang dengan cahaya kamar yang sudah sedikit redup (karna sudah jam tidur harusnya). Jam jam takut dimana semua isi pikiran yang tersimpan sementara kemudian keluar. Kadang happy, kebanyakan bikin mellow.

Hingga akhirnya kuputuskan untuk bertanya pada diri sendiri, ”Apa yang sebenarnya perlu ditakutkan didalam dirimu?. Setiap pribadi akan berbeda, menyesuaikan trauma diri. Menyesuaikan kondisi saat ini, dari hasil pilihan di masa lalu. Menyesuaikan dari siapa keluarga, kawan, pasangannya. Bahkan menyesuaikan dari kondisinya saat ini. Maka, berikan kesempatan aku untuk bercerita.

Takut Naik Kelas

Ini beneran bukan karna naik level efek ditantang semesta atau akhirnya kamu naik level karna sudah dewasa ya. Tapi beneran takut naik kelas. Di rentang usia sekolah dulu, saat 7-19 tahun yang kutakutkan hanya apa bisa nanti di kelas selanjutnya? Masa SD sudah berpikir tentang SMP, saat SMP mikir SMA. Kemudian SMA aku sudah memikirkan kuliah.

Dan taraammm.. sebagian dari kita secara normal bisa melewatinya. Bahkan kini aku sudah menyelesaikan masa kuliah keduaku secara tepat waktu. Agak mendidih ya melihat perjuangan tidak terlihat dan sampai dimana kita sudah berpijak.

Masa sekolah aku beruntung tidak berpikir mengenai biaya. Hanya menyelesaikan dengan baik dan benar apapun yang sudah ditujukan, direncanakan kedua orang tua. Bahkan kesempatan untuk memilih sekolah versi keinginan sendiripun tak ada. Jalan itu sudah dibuatkan, tinggal keputusanku untuk membuatnya terlewati tanpa berbalik arah atau keluar dari jalur.

Disinilah aku, dengan bermodal doa dan sertifikat lulus. Jaman itu, aku bahkan tidak tertarik mendalami spesifik dunia teknik. Aku sudah berpikir, ”Aku hanya membutuhkan ijazahku”. Disitulah periode momen Jakarta dimulai.

Takut Tidak Makan sd Akhir Bulan

Serem banget. Tinggal di pinggiran Jakarta dan selalu didukung keuangan dari kedua orang tua. Ternyata periode itu bergerak menuju keuangan yang sama, namun dari hasil gajiku sendiri. Bayangin ya aku sebulan dapat 2.7 juta sebagai sales Genset di sebuah perusahaan daerah Cakung, Jakarta Timur.

Herannya aku ga pernah takut sampai akhir bulan. Berhasil bertahan hingga akhir bulan dengan apapun caranya. Setiap tanggal 15 uangku sudah habis, wkwkwkw. Ga ada tuh kepikiran buat pinjol atau minjem temen. Bahkan aku sudah ngga minta orang tua untuk kebutuhan bulananku. Salut.

Ga pernah mudah menjadi sales di kota besar seperti Jakarta. Apalagi anak perantau yang ingin tidak bergantung dengan orang tuanya. Kuhadapi bersama sekelompok kawan (Tuhan memang baik) yang tinggal tidak jauh dari Cakung. Dari mereka, aku akhirnya bertahan sampai akhir bulan.

Semoga sukses selalu ya kalian. Thankyu buat periode itu. Diriku bisa bertahan dikerasnya kota Jakarta, keamanan diri dipertaruhkan, dan persaingan sengit dimana-mana. Hingga kemudian masuk ke chapter Nusa Tenggara Timur.

Takut Lokasi Penempatan & Pelanggan

Chapter Nusa Tenggara Timur dimulai. Dan saat aku menulis ini aku sudah tinggal dan berpindah hampir menuju 11 tahun. Awal periode penempatan, kudapati diriku menangis kencang sebelum penempatan diumumkan. Kudapati diriku menggati nomer handphone dengan kartu Halo (karna takut gada sinyal). Segitu takutnya jauh dari rumah. Eh, malah sekarang ga pernah pulang kerumah.

Kalau kubayangkan diriku dulu, berjumpa banyak teman baru, berusaha beradaptasi dengan baik dan benar dengan pekerjaan, dan berupaya memasuki dunia perkantoran sesungguhnya. Karena 11 bulan di kota Jakarta ternyata menjadi modal awal pengalaman untuk menjalani masa 11 tahun selanjutnya di NTT. Dimulai dengan Kota Kupang dan apakah akan diakhiri dengan Kota Labuan Bajo?

Aku ingat selain penempatan, yang kutakutkan selanjutnya adalah saat ditanyain pelanggan Pol PP tentang rumahku dimana (waktu itu dia marah karna layanan kami dan sempat mengancamku). Apa yang kutakutkan? Sudah merantau, diancam orang, dan nangislah kemudian. Wkwkwk.

Kuhabiskan masa awalku dengan bekerja dan berteman dengan geng ”Generasi Why” hingga satu per satu melanjutkan chapternya masing-masing. Sehat selalu semua, semoga yang kalian inginkan bisa terjadi. Dimulai dengan bertahan hingga titik start dimulai untuk mulai berkeliling.

Takut Berpindah Setiap Tahun

Sejak awal aku agak lama bekerja di Kota Kupang dan Kota Ba’a, Rote. Hampir lebih dari 2.5 tahun lamanya barulah aku bergerak. Ngebatin, kok lama banget ya pindahnya. Eh, didengarlah oleh Tuhan kemudian dijadikan oleh Tuhan. Sejak tahun 2021, aku terus berpindah. Hanya melewatkan tahun 2024 dengan cobaan begitu berat. Dan kini tahun 2026, sedang dinantikan apakah akan menjadi tahun berpindah lagi atau bisa beristirahat sejenak.

Syukurlah Tuhan memberikan sebuah periode bersama dengan seseorang dengan kota dan tanggung jawab dalam bentuk jabatan. Setiap jalan kadang kuhadapi dengan hidup didalamnya. Tapi, tak dipungkiri terkadang kuhadapi dengan mode auto-pilot. Berjalan namun tidak berada didalamnya. Hidup bergerak dengan mencapai target, semester 1, dan begitu hingga memulai tahun selanjutnya.

Disinilah awal mula kopi menjadi harian dan penunjang kehidupan agar tidak diseret kakinya. Agar bisa berjalan hidupnya. Agar bisa membersamai (walaupun kayanya engga wkwkkw) bersama timku. Kudapati diriku kemudian berpikir bagaimana hidup nomaden dengan barang disekitar. Selalu berpindah dengan packing dan unpacking di suatu tempat.

Hidupku tidak menetap seperti kebanyakan pria dan wanita yang sudah kembali ke daerah asal. Belum dapat momen dimana hidup menetap dan menjajaki kebiasaan yang sama. Justru kebiasaan baru akan terbentuk menyesuaikan dengan lokasi tinggalmu saat ini. Entah kebiasaan kopimu, kebiasaan olahragamu, atau kebiasaan tempat nongkimu. Dan semua berubah. Kadang bersama kawan, tak jarang harus sendirian.

Takut 10 Tahun Kemudian

Belakangan aku lumayan konsen dengan 10 tahun pertama yang sudah kujalani. Apakah aku menjalani hidup yang benar? Atau kesalahan apa yang perlu kusesali? Adakah pelajaran hidup yang perlu disesuaikan? Apakah ini ataukah itu?

Sepuluh tahun kudapati diriku masih berpindah kesana dan kemari. Untung masih sendiri, kalau sudah memiliki anak dan suami mungkin aku akan gila karna meninggalkan mereka. Atau apakah aku sanggup? Kulihat kembali kawan-kawan lamaku yang sudah melanjutkan hidupnya dengan kisah indah serta perjuangan masing-masing.

Sepuluh tahun perjalanan hidup yang kudapati dengan pekerjaan, penghasilan, hobby, dan pengeluaran, atau situasi di sekitarku. Apakah masih relevan dengan sepuluh tahun kemudian yang akan datang? Akhirnya aku mulai mempertanyakan tentang pengeluaranku, kesehatanku, dan semua yang terjadi padaku.

Single, no child, and 30++ years old. Apa yang harus kuputuskan hari ini dan masa ini agar tidak terlalu kusesali di masa depan. Aku suka dengan cerita bepergianku. Aku menyesali ketidakberhasilan hubunganku. Aku menghargai tanggung jawab yang kudapat. Dan aku berupaya bisa memberikan sesuatu yang berharga untuk orang disekitarku (walau tidak banyak).

The Last but Not Least

Sama seperti podcast keuangan yang kudengarkan beberapa kali. Setiap keputusan keuangan investasi yang dibuat, ada yang memberikan keuntungan dan ada yang tidak. Bahkan seorang ahli keuangan sekalipun dalam merasakan efek dampak Covid atau perang, tidak semua merasakan keuntungan. Lalu, apalah seorang manusia dengan keahlian yang berbeda-beda?

Datang dari seorang ahli saja bisa memunculkan ketakutan pribadi. Lalu, apa yang kamu takutkan dengan banyak ketidakpastian dimuka bumi ini?

Tapi dengan banyaknya perjalanan yang kudapati. Aku sudah melihat sekitar dengan timeline kesuksesan versi mereka. Aku juga melihat kesuksesan versi orang yang bepergian. Tidak semua memutuskan satu garis yang sama. Kuputuskan untuk kembali kedalam diri. Apa yang sebenarnya kusukai dan akan menjadi pilihanku saat ini serta tidak terlalu kusesali dimasa depan?

Sesederhana: Kenapa kamu tidak membeli mobil? Kenapa kamu jarang pulang? Kenapa kamu tidak menikah? Ada sebuah pola kehidupan yang sedang kujalani dimana akhirnya aku memaknai hidupku dengan nuansa, kepemilikan, dan memilih bersama siapa.

Kadang, ada yang memaknai sendiri sebagai ketakutan yang banyak. Kemudian, kudapati tidak sedikit orang memiliki ego sendiri tanpa melukai orang lain. Selalu memilih dirinya yang utama sebelum yang lain. Bukan dalam maksud untuk egois, namun ia menjaga kedamaiannya. Berupaya tidak melukai dirinya, hanya untuk menyenangkan orang lain. Takut terhadap masa depan, boleh. Tapi jangan terlalu. Tidak takut terhadap masa depan, juga perlu dikurangi. Karna kita juga masih perlu bertanggung jawab demi diri sendiri.


So, just let it go. Segala yang sudah tidak relevan. So, just fix it. Semua yang sudah rusak dan masih bisa berpengaruh padamu. And, make it consistent. Untuk segala hal yang sudah kamu ketahui akan kamu sukai dan memberimu kehidupan baik di masa depan berdasarkan pemikiranmu hari ini atau di masa lalu.

Setiap masa ada chapternya. Setiap pribadi punya pilihan dan ketakutannya masing-masing. Jangan lewatkan satu tulisanku di masa lalu "Kau Akan Baik-Baik Saja"Thankyu for enjoying my writing.

Asri Vitaloka.

Sunday, June 7, 2026

3 Years Ago

 

Konon kata sebuah alur drama Korea menyebutkan sebuah dialog. Yaitu, seorang penulis harus menyelami banyak emosi untuk dapat menghasilkan tulisan yang bagus. Pernah kudapati diriku tidak memiliki bahan untuk menulis. Ternyata saat itu aku terlalu bahagia untuk bisa menulis. Ya, disaat sedang jatuh cinta.

Tulisan ini tidak bermaksud menyingung siapapun. Hanya sebuah torehan kata-kata untuk dikenang kemudian hari. Sebuah lagu ”Luruh” milik Isyana mengulik emosi terdalam yang sedang diupayakan agar tidak terkuak dan menganggu keseharian. Ya, sudah 3 tahun lamanya sejak saat itu. Di bulan Juni kala itu.

Luruh milik Isyana.

Sebuah alunan piano masuk diantara kepalaku melalui earbuds yang kugunakan. Hari itu, hari Minggu dimana aku sedang menikmati segelas kopi susu DCA kesukaanku. Di sela bergulirnya foto instagram di jari-jemariku, kudapati diriku terenyuh dengan lirik lagu Luruh. Biasanya kulanjutkan tanpa merasakan sesuatu. Tapi, kali ini berbeda.

”Luruh seluruh harapku. Luruh semua janjimu. Ketika jalanku dan jalanmu tak bertemu. Runtuh seluruh maknaku. Ketika inginku dan inginmu tak menyatu. Di dalam pusaranmu, adakah ruang untuk kau dan aku mengarung mencari titik temu.” – sebuah cuplikan lirik lagu tersebut.

Hanya kata demi kata namun seakan memberikan gambaran kejadian tak singkat namun tergambar jelas. Seketika sekumpulan emosi terendam kembali naik ke permukaan, walaupun sudah tiga tahun lamanya.

“Aku Jarang Melihatmu Menulis Lagi”

Sesungguhnya aku pun terheran dengan kondisi tersebut. Tapi, selayaknya musik populer dari seorang penyanyi yang menuliskan liriknya dikala sedang patah hati, sedih, rapuh, dan kecewa. Pun terjadi saat seseorang menuliskan kata menjadi sebuah kalimat hingga tergabung dalam sebuah paragraf.

Kusadari diriku sibuk mengalami, menjalani, dan meresapi segala momen bahagia, canggung, sedih, bahkan marah. Berjalan dalam sepi dan menyimpan bom waktu. Seakan menghitung mundur setiap peristiwa dan akan berpisah pada waktunya. Seakan semesta pun memberi petunjuk melalui rasa ragu dan menjadikannya saat sudah habis waktunya.

Ternyata aku disiapkan untuk menulis kembali saat sekitar sudah mulai tenang. Ternyata bukan karena sudah tak merasakan. Ini hanya perkara sudah terbiasa dengan rasa sakit dan menggantung. Sekelibat masih terasa seakan baru kemarin, namun sudah 3 tahun lamanya.

Mimpi Indah dengan Jelas.

Entah dimana aku melihat dan membaca sebuah kutipan. Jika sudah selesai ceritanya, maka akan berjumpa dalam mimpi. Entah apapun cerita didalam mimpinya. Tidak hanya sekali, mimpi dengan beragam cerita. Tak jarang kupikir apakah ini sebuah bawah sadar dengan makna tertentu. Atau hanya sekelibat bawah sadar dari alam pikiranku sendiri.

Pernah dalam bentuk bepergian dengan motor berdua. Pernah dalam bentuk dirimu dengan seorang sosok wanita lainnya. Tapi, mimpi terakhir justru menciptakan cuplikan drama berbeda. Yaitu, kita berdua berjalan kaki berdampingan sambil bercengkrama diatas trotoar. Berjalan setelah duduk di kafe. Itupun dirimu menghampiriku sesaat setelah melihatku dari beranda sebuah bangunan.

Jikapun sudah selesai kisahnya, atau sudah berakhir masanya. Maka, lepaskanlah dalam bentuk apapun kisah lama dan bersiaplah menghadapi kisah didepan. Dengan atau tanpamu.

Tok Tok Tok

Pernah tidak merasakan keinginan begitu dalam. Seseorang datang dan mengetuk pintu kamarmu. Berupaya menyapa dengan canggung dan memberi kesimpulan berbagai cerita yang dibuat oleh otak pikiranmu sendiri. Dan hingga saat ini, tidak ada ”Tok Tok Tok” yang diharapkan.

Tidak sesederhana sebuah tok tok tok untuk memanggil orang didalam ruangan. Ini bukan sekedar ingin masuk. Tapi lebih besar dari itu. Sebuah rasa ingin, kemudian dipatahkan dengan realita bahwa tidak ada yang mengetuk. Ini juga bukan sebuah tok tok tok hanya untuk melihatnya datang. Melainkan sebuah closure atau penutupan dari masa seseorang dalam jangka waktu terbatas.

Berupaya dengan sangat untuk menutup sebuah cerita. Tapi bahkan pintu berpasangan dengan gagang pintu agar bisa menutup. Tidak pernah sendirian. Bahkan kalimat pembuka perlu dibuatkan kalimat penutup agar memiliki kesan selesai. Tapi, ini tidak terlihat. Atau seakan tidak terasa tertutup dengan benar.

3 Years and still going…

Kusampaikan dengan tenang bahwa sudah tiga tahun lamanya. Senyum tipis hadir dalam wajahku saat mengenang banyak hal indah. Tapi tidak bisa kujanjikan tidak dilanjutkan dengan rasa sedih kemudian. Satu yang bisa kupastikan, yaitu kadar emosinya sudah mulai berkurang. Berkurang dengan terurai oleh waktu dan kesadaran dalam pelajaran.

Setiap masa memiliki pelajaran dan akan dalam jika diselingi rasa sedih hebat selepas perpisahannya. Sudah dipastikan dengan sangat bahwa tidak pernah berpisah jika belum selesai. Namun, semesta akan menjadikannya jika memang sudah selesai waktunya. Menjadikan diri dan dirinya berpisah. Apapun alasan dan penyebabnya.

Kupikir aku memiliki ingatan yang lemah. Nyatanya, aku sangat jelas mengingat hal indah atau menyedihkan jika mengenaimu. Tidak pernah terasa terlalu lama atau terlalu cepat. Semua mengalir dalam kenangan indah yang tersimpan disuatu memori.

Dearest gentle reader,

Tulisan ini kuafirmasi untuk orang-orang yang sedang berjuang dalam menyembuhkan hati. Jikapun penyesalan masih lebih kuat saat ini, percayalah keikhlasan akan muncul di kemudian hari. Jikapun kamu menyesali segala kisah yang sudah dilewati, percayalah kamu pernah berada di momen paling beruntung. Yaitu, saling mencintai satu sama lain.

Baik perpisahan jarak maupun perpisahan beda dunia, tetaplah berpisah. Setiap perasaan benar adanya. Bahkan jikapun sudah mengetahui akhir cerita, aku tidak keberatan untuk kembali mengulangnya. 

Bagiku, hidup adalah sebuah kisah ujian yang tak pernah tuntas. Maka, ijinkanlah sesekali perjalanan cintamu diselingi ujian. Disitulah kamu bisa mendapatkan rasa paling dalam, entah rasa bahagia atau malah rasa menyakitkan.

Kudoakan dengan sangat bagi orang-orang diluar sana yang masih berusaha menyembuhkan hatinya. Sekian tahun dihabiskan bersama, kemudian malah menyisakan sekian tahun untuk berupaya melupakannya. Tidak pernah berlaku sia-sia. Apapun yang pernah dijalankan bersama sang pujaan hati, akan memberimu kebijaksanaan lain saat berjumpa dengan pujaan hati selanjutnya.

Sebelumnya aku menuliskan beragam kegiatan random dalam "The Single Days" yang kali kali aja bisa memberi ide buat ngabisin waktu yang banyak ya.

Thankyu, Asri Vitaloka.

Saturday, May 30, 2026

The Single Days

 

Masih di Labuan Bajo. Sudah setahun btw. Gitu dulu pertama ya. Menjalani pekerjaan yang hampir sama dalam tiga tahun terakhir. Dalam status single, kerja, dan berupaya menangani pra diabetes. Lah, apa hubungannya?

Sebenarnya tulisanku kali ini kuadopsi dari keseharian dan pengalamanku dalam tiga tahun terakhir. Dalam realita bener-bener menjalani pekerjaan, hobby, menangani kesehatan mental (canda) dengan status single, sedikit teman, dan kopi bergelas-gelas. How’s your single days? How’s my single days feels? Kali aja tulisan ini bisa menghibur buat yang single juga dan kemudian komen,”Haa, sama juga ya ternyata”. Atau buat yang ngga single dan sedang struggle dengan kesehariannya bisa memberi semangat dan bersyukur terhadap apa yang sedang dijalani. Love.

So, what’s the big picture?

Belakangan kudapati diriku mulai merasa lelah dengan banyak kebiasaan. Kebiasaan lari dari rutinitas, kebiasaan dalam mengejar semua penghargaan di pekerjaan, atau kebiasaan menjaga branding diri ditengah medan perang dunia pekerjaan. Haha, dramatis banget deh ya. Heran.

Berpindah terus dalam tahun ke tahun dan mendapati diriku berada di Labuan Bajo. Berupaya beradaptasi dan menorehkan cerita agar tidak menyesal di kemudian hari. Kuhabiskan waktuku untuk terus berpikir,”What’s next?” hingga kemudian kudapati diriku tidak menemukan ide melelahkan lainnya untuk dieksekusi. Apakah ini sudah mencapai titik jenuhnya? Beberapa tahun terakhir seakan mengulang cerita.

Biasanya jika sudah merasa jenuh, maka mulailah untuk duduk beristirahat hati dan pikiran. Cari dan dapati apa yang sudah kamu lewati, dimana kamu berada sekarang, serta apa posisimu saat ini. Kembalilah mengulik apa yang kamu pernah inginkan, namun lupa untuk dilakukan karena kesibukan. Disitulah, aku mulai mencari gambaran besar dari diriku saat ini.

Apa yang sudah dilepaskan dariku, maka sudah tidak selaras denganku. Dimana diriku berada saat ini, telah melalui perjalanan panjang dari tempat-tempat lain. Semua yang melemahkan agar dihempaskan dan semua yang menguatkanmu agar dijaga. Karena ini semua mengenai energi.


How’s my single days feels?

Sejujurnya sepi. Bangun tidur, bekerja, gym, dan kembali tidur. Sebagian kuhabiskan dengan scroll instagram, buat story, minum kopi enak, dan nonton netflix. Done.

Paling terasa di hari Sabtu Minggu ya, aku kadang mikir ini beneran hidup cuma ngurusin diri sendiri aja ya? Leh uga sih ya. Melihat sebagian besar wanita di usiaku sedang sibuk memikirkan kebutuhan suami dan anak, ternyata semesta berpikir,”kamu ga cocok, Asri”. Makan sendiri aja masih bingung, mau ngurus orang ya. Terlepas dari pemikirian kosong di hari libur, kadang terbersit mendadak jadi MUA, Baker, florist, dan hal gila lainnya. Tapi, terpatahkan dengan perasaan capek sebelum menjalani. Wkwkw.

Oke, karena tulisan ini berfokus pada ”The Single Days” maka kucoba menuliskan secuplik momen dan aktivitas yang masih membuat hariku penuh. Semoga bisa memberi ilham bagi beberapa wanita yang mungkin seumuran, sesibuk, dan se-bengong aku di usia kalian kali ini. Let’s check it dot!


Pelihara Ikan Cupang, si Cucu.

Si paling pernah melihara ikan cupang di tahun 2017 dan dengan tidak bangga kusampaikan bahwa ikannya meninggal hingga tak membekas di dalam akuarium mini. Jujur, sibuk bener dengan pekerjaan di unit terbesar di Nusa Tenggara Timur. Apalah.

Tahun ini, kucoba untuk mengulangi kembali peliharaanku. Pengennya pelihara anjing, ayam, burung, kadal, atau ular kan (canda) tapi apadaya tidak bisa ya. Lama lama ini peliharaan ngejerin aku ke kantor buat minta makan, atau aku nambah kamar kosan karena tidak tahan dengan bulu atau sejenisnya. Akhirnya kuputuskan untuk memelihara dua ikan cupang. Satu meninggoy dan satu bertahan. Sebut saja si red strong Cucu, atau ikan cupang merah kesayanganku.

Pernah denger ga? Bahkan setiap peliharaan yang hadir menemani kamu tidak pernah datang terlalu cepat atau terlalu lambat. Jika sudah habis masanya, maka dia akan meninggal, hilang, lepas, atau berpindah. Tapi si cucu (ikan cupang) kini sudah bisa makan dengan tanda ketukan dua kali dari aku di toples kacanya. Bangga.

Mencatat Pengeluaran Harian.

Aktifitas baruku saat single adalah mencatat pengeluaran harian. Sungguh, Asri! Penting banget heran ye kan. Pekerjaan yang ternyata membosankan, tapi satu langkah menuju kaya. Secara tidak sadar, kuhabiskan diriku dengan hidup ala anak raja minyak ye kan. Ternyata, ada kebiasaan yang berhubungan dengan uang dan perlu diperbaiki. Ini akan disadarkan dengan adanya angka dan catatan dari keseharianmu.

Cobain deh. Aku banyak melihat temanku sudah menerapkannya. Pentingnya budgeting akan memberi pengaruh besar bagi hidupmu. Apalagi makin merajalela pinjaman mudah yang bisa memberikan jalan sesat jika kamu tidak bertanggung jawab dengan pemasukan dan pengeluaranmu.

My single days number 2: kebiasaan mencatat pengeluaran harian. Ditengah banyaknya hari kosong akhirnya kudapati diriku mulai menerapkan budgeting secara tertulis. Mulai dari pengeluaran keseharian hingga travelling. Bagi aku, seru juga ya. Kenapa ga dari dulu aja ya.



Makin Candu dengan Kopi.

Aku pernah memikirkan kebiasaan lainku yang agak laen, tapi banyak dilakukan kaula muda ya. Apalagi kalau bukan kecanduan kopi. Versiku adalah kopi susu less sugar. Bahkan aku sampai latihan minum coldbrew lemonade less sugar saking serem sama gula setiap hari padahal tetap diminum terus.

Mari lihat lagi dalam satu hari dalam weekdays. Apa saya yang kamu habiskan dalam satu hari? Mulai dari bangun pagi jam 7, kemudian jam 8 sudah di kantor. Berupaya untuk sarapan sebelum jam 9 pagi. Menghadapi email, zoom meeting, dan mikir quick solution buat setiap problem yang muncul hingga jam 12 siang. Akhirnya mulai mikir mau makan siang dimana, makan siang sambil kopi siang sampai jam 1 atau setengah 2 siang. Kemudian kembali ke kantor dan menghadapi evaluasi, zoom meeting (lagi) sampai sore jam 5 sore. Persiapan gym jam 6 sore makan dulu, gym selama 1,5 jam. Akhirnya kelaparan jam 9 malam baru makan malam (lagi), balik kosan, persiapan tidur dan menye-menye diatas kasur sampai jam 12 malam. Sybuk kan ya.

Aku ngga ngebayangin ya, masi tinggal sendiri aja sudah padat merayap. Belum kalau punya pasangan ya. Tapi masih pengen sih ya. Hanya disisip sebelah mana juga bingung ini. Makanya untuk menjaga jadwal padat merayap, kudapati diriku bertahan dengan kopi susu hingga akhirnya kafein mengambil alih sebagian besar waktuku agar tetap melek dan bisa menjalani jadwal yang kususun sendiri.

Definisi mau ngeluh, tapi yang buat jadwal sendiri tuh gimana. Wkwkw.

Gym 6 hari-seminggu.

Kenapa sih mau gym 6x seminggu? Percayalah dulu aku yang tidak suka olahraga. Badanku terasa lelah duluan sebelum bergerak. Hingga akhirnya hasil MCU menyampaikan bahwa aku pradiabetes. Sudah hampir tiga tahun dengan dunia per-gym-an ini, dan sudah berhasil menormalkan kembali gula di hasil MCU-ku. Hhhh, thankyu gym.

Ternyata efek samping dari gym adalah ketagihan gym, kulit lebih cerah, makan lebih banyak, dan gulaku normal (padahal tidak mencoba mengurangi gula). Badan lebih tegap dan otot lebih terasa ya. Sebenarnya ada satu lagi yang kujaga di usia yang hampir mendekati kepala empat ya. Aku sedang menyiapkan diriku menghadapi perimenopause. See, nambah kan satu lagi masalah hidup.

Jadi, dengan status single, seorang wanita, hampir penderita pradiabet maka kudapati diriku perlu merubah atau menambah beberapa kebiasaan. Konon, katanya jika sudah bertahan hingga lebih dari 3 bulan maka akan menjadi gaya hidup. Maka, kusampaikan thankyu to my daily gym for make my life better than before.

Seru banget deh. Awalnya kumulai dengan mulai membiasakan diri untuk datang rutin, mulai membagi pola latihan, hingga kini ingin masuk mengatur makan sehari-hari. Buat mba-mba yang seusiaku, ternyata banyak juga yang perlu dipersiapkan ya. Asalkan informasinya tepat dengan pola makan, olahraga, dan asumsi suplemen serta vitamin yang pas kurasa semua bisa deh menghadapi pre-menopause. Hehe.


Jadwal Bepergian (Date with My Self).

Ada beberapa tipikal traveller yang aku lihat. Tipe jalan-jalan yang capek banget, mengutamakan staycation, atau mencari nilai khas dari suatu lokasi. Setelah kupahami kayanya aku bukan tipikal yang suka dengan jalan melelahkan dan semua dicobain. Padat jadwal hingga tak bisa napas gitu. Bukan aku banget.

Sejak sudah mendapatkan penghasilan sendiri baik single, jomblo, atau berpasangan, aku selalu mengupayakan bisa melihat tempat baru diluar tempat tinggalku. Karena aku takut dengan pemikiran tertutup dan kaku, hanya karena tidak melihat dunia luar selain disekitarku. Sebagai anak rumahan (di masa lalu), kupastikan diriku bersemangat untuk melihat sesuatu baru yang membuatku tetap hidup saat menjalaninya.

Belakangan, kudapati diriku wajib untuk date with my self. Ini terkadang tidak dapat dilakukan dengan segala rutinitas yang sudah autopilot. Bepergian sendirian akhirnya kujalani beberapa kali. Aku lebih mendapati diriku ternyata menyukai satu dan tidak menyukai lainnya. Hanya dengan bepergian sendirian, kuputuskan sendiri, dan bertanggung jawab sendiri.

Tak jarang di usia yang semakin tua tidak menjamin seseorang sudah mengenal dirinya sendiri. Tak banyak yang paham apa yang benar-benar diinginkan. Kita menjalani hidup dengan segala rutinitas yang sudah berjalan sebagaimana normalnya. Tanpa mencoba mencari waktu untuk mengenal diri dari dalam.

Dan, akhirnya periode single ini memberi aku jeda waktu untuk bisa mengetahui sebenarnya siapakah diriku? Apa yang kuinginkan dengan sangat?



Jangan lewatkan tulisanku yang lain mengenai "5 Kota Memanggil" dengan segala kisah kota yang pernah menjadi tempat tinggalku. Next, aku juga bakalan nulis tentang tripku ke Malaysia ya. Seru banget deh, penasaran dengan cantinya kota tua, George Town. Jatuh cinta!

Thankyu, Asri Vitaloka.