Sunday, September 26, 2021

FUDGY BROWNIES, MAU?


Kata orang kalau mau tau senengnya apa musti dicobain satu-satu, iye kan? Dihayati dengan penuh makna kalau bener ngga emang doyan atau sekedar letupan semangat pengalih hari doang. Alias pengen kabur dari rutinitas. Berniat mau mencari kesenangan dengan keluar kota, naik pesawat dan nyari lebih banyak junk food. Tapi kemarin akhirnya ku kesambet pengen banget bikin kue brownies. Nama bekennya fudgy brownies!

Kayanya brownies mah sama aja. Kupikir awalnya ini kue tergantung sama pelit atau ngganya mba mba kue buat masukin coklat, tepung, atau telur. Atau apapun itu pas ngaduk adonan. Ternyata bikin kue itu butuh kekuatan tangan kuli bangunan, hati selembut princess, dan tidak perlu insting yang penting peka sama takaran. Mamam ngga noh.

Kalau kamu baker amatir, mari saling menyapa. Saling bernostalgia waktu bikin brownies pertama kali sambil sok-sok pengen nyangkutin makna hidup ke pembuatan brownies. So drama!

HAI BAKER AMATIR, SALING SAPA DULU!

Semoga yang baca tulisanku buka Baker sejati dengan pengalaman puluhan tahun mengulen adonan kue atau brownies ya. Jujur aku si cuma remahan rempeyek ya. Baru dua kali ngocok telur sama gula, terakhir sih nyobain ngaduk dalgona coffee kemudian memutuskan ngga buat lagi karna pegelnya ngga nahan.

Tapi yang aku pengen sampaikan. Buat aku yang ngga pernah bisa mulai apa-apa yang berhubungan dengan membuat kue, brownies, atau apapun malah syok dan pengen nagih lagi buat bikinnya. Jangan sampai kalian salah satunya ya. Yang biasa paling sering ditanyakan. Mulai dari mana si buat amatir kaya aku? Jelas lah search di GOOGLE dan kemudian dites seperti sama persis dengan instruksinya.

Kebetulan searching brownies pertamaku itu fudgy dengan ukuran Loyang 20x20, tapi di toko bakery adanya 22x22. Wkwkwk. Maka dengan bermodalkan duit sekitar 200 ribu dan simsalabim.

I am ready for my first fudgy brownies!

GUGUP SEKALIGUS SPEECHLESS SAMA PROSESNYA.



Beruntung banget ibu-ibu pembuat brownies apik banget ya ngejelasin satu per satu pembuatannya. Dengan segala peralatan seadanya dan bersenjata sendok takaran pembuatan brownies dimulai. Ada ngga si yang kaya aku? Dari jaman masi tugas di Pulau Rote, aku pernah beli tepung 1 kg dan sampai pindah bingung mau dibuat apa. Akhirnya sekarang beli tepung dan coklat ngga cuma sebagai hiasan ya.

Baca satu satu. Bagi aku yang pemula, lumayan mudah si ngebuat fudgy brownies ya. Aku aja lumayan hapal urutannya walaupun takarannya masi tetep nyontek. Dimulai dari cairin coklat dan butter sekalian, kocok gula dan telur secara terpisah sampai pucat, kemudian di mix adonan coklat, butter, tambah tepung, sedikit garam serta vanili. Jangan banyak diaduk kemudian cetak, hias, dan adonan brownies siap dimasukan oven.

Sebagai orang PLN yang sayang jualannya, boleh dong aku bilang kalian mending pake oven listrik aja. Ngga riweh, ngga pake susah. Tinggal nyolok dan kita udah nge-bake! 

Pokoknya speechless sama adonannya dan jadi dalam sejam pembuatan.

DARI BUAT BROWNIES JADI KE MAKNA HIDUP.

Kalau ini bagaimana yak. Dari pembuatan brownies bisa jadi ke makna hidup. Hahaha.

Dalam pembuatan brownies ini aku jadi ngebatin ya. Kadang kita membuat sesuatu yang maksimal tapi malah jadi berlebihan, mau niat hati mengurangi malah jadi kekurangan rasa. Sama kaya bikin kue. Kurang telur satu, kelebihan coklat sedikit, bahkan sekedar tidak menghaluskan gula semua punya dampak berbeda pada hasil akhirnya.

Sama kaya hidup ga si? Kadang usaha terlalu keras malah berlebihan, ngga upaya malah ga dapat keinginannya. Dibikin aja sama kaya buat brownies, dibuat sama kaya takarannya. Diupayakan pas kalau ada rule modelnya, kalau ngga ada dicari referensinya. Jadi pas hidupnya, sama kaya adonan browniesnya.

YANG PENTING PARTNER!

Sama satu ini sih ya. Bayangkan aja kalian ngga pernah buat brownies terus kaya aku yang labil dan malas banget mikirnya. Kalau ngga ada kawan bikinnya, gimana mau jawab apa adonannya sudah pas ngga, sesuai ngga, ditambah lagi ngaduknya ngga? Bingung kan. Jadi partner adalah satu kunci penyemangat dan bisa disalahkan kalau kuenya ngga bener. Wkwkw.

Tapi jangan lupa ngucapin thankyou buat partner kamu waktu ngocokin telur sama gula dengan pembagian waktu aduk, aku 2 menit dia sisanya. Pokoknya tanpa partner dijamin Lelah, apalagi adinda belum punya mixer lucu yang tinggal colok dan teken kan.


“Ngaduknya kurang si, kebanyakan garam si, siapa tadi yang masukin tepungnya”. Kalau bikin sendiri salah sendiri, kan kaya sedih banget ga si. Tapi begitu kriuknya brownies jadi sebelum dipotong. Itu tuh kaya bangga banget!

Cukuplah segitu aja pengalaman pertama dan semoga tidak terakhir bikin browniesnya ya. Sampai tulisan ini dibuat aku udah 2x bikin brownies dengan percobaan mengganti coklat batang, ganti coklat bubuknya, sampai menambah satu urutan waktu baking! Pokoknya seru sih ya. Semoga aja kalian kesampean buat nyobain brownies eyke.

Oke Brownies, kamu nambah satu pencapaian di CV aku. Thankyu.

Salam dari halaman belakang kos.

Asri Vitaloka | Waingapu 

Thursday, August 26, 2021

Surga Dunia ala Sumba!

 

Kek pernah aja ke Surga yak? Belum lah ya. Tapi ini surga dunia ala Sumba atau ala aku? Setelah puas tahun lalu menghabiskan waktu dengan melihat pantai, air laut, matahari tengelam di Pelabuhan. Sekarang? Mata dikondisikan dimana lebih banyak melihat bukit-bukit cantik dan jalan berkelok kaya ular tangga di kertas permainan.

Hampir tujuh bulan lamanya di Sumba dan kemungkinan besar banyak yang mengira aku akan jalan-jalan. Tapi sesuai realita, begitu menjadi tempat kerja jangankan jalan-jalan. Sabtu-minggu bawaannya mager kemana-mana. Tapi minggu lalu, entah kesambet apa. Sempet pengen pake banget ke Waekelo Sawah. Liat story beberapa orang di Sumba hingga kawan pergi kesana. Ragu-ragu, tapi momen emang ga bisa bohong. Nyampe juga disana!


Surga dunia ala Sumba? Jujur aja ya, makin tua kadang makin permintaan makin banyak. Seakan merasa hidup udah paling tahu dan ngga ada sesuatu yang dengan mudah akan membuat surprise didalam hidupmu. Atau bisa dibilang dirimu ngga terlalu kreatif (lagi) dalam membuat hidupmu berwarna.

Oke, agak nyindir situasi PPKM dan sejenisnya. Ini lumayan membuat ribet untuk seseorang bepergian. Melihat hal baru, bertemu dengan orang asing, atau sekedar merasakan pengalaman berbeda dari keseharian. How can I escape my daily? Dan kemudian teringatlah sebuah tempat, yaitu Waekelo Sawah.


PIKNIK PIZZA PINGGIR AIR TERJUN

Aku ingat pernah piknik dengan makan siang di Hutan Bakau, masak mie instan di pinggir pantai, atau sekedar buka nasi Padang di pinggir hutan Nasional. Dan semua dihabiskan bersama ebeb. Dimasa yang lebih lama aku pernah makan nasi goreng buatan sendiri di pinggir taman Eceng Gondok bareng mba Ipma. Hahaha, jauh banget tiba-tiba ingatannya ya.

Akhirnya sampai di kesempatanku untuk bawa bekal roti Pizza dan teh Frestea di air terjun dengan pemandangan sawah disekitarnya. Berbeda dari pemandangan kamar, laptop, dan sejenisnya. Pengen aja gitu sedikit escape dari keseharian yang kadang bikin jenuh. Tanpa sadar kita terkukung dalam pemikiran yang sudah tak segar dan butuh sesuatu yang berbeda dari biasanya.

Bahkan pizza aja ngga cuma isi sosis dan ayam serta jagung bukan? Kadang-kadang pizza dibuat manis semanis ceres coklat dan susu keju. Menjadi sedikit berbeda walaupun dalam bentuk yang masih sama.


MINUM FRESTEA PEKAT ALA SELEBGRAM

Berjalan-jalan ke Waekelo Sawah membuat satu nuansa berbeda daripada perasaan snorkling dengan suasana kapal dan pemandangan air laut. Begitu sampai di sana anda akan melihat pemandian umum. Tapi semua seakan lebih private begitu anda menuju air terjun kecil yang ada di pusat sawah.

Tuesday, July 20, 2021

STOP YUK KASIAN TEMENMU!

 
taken by My Ebeb, Made Darsika

Perjalanan hidup seseorang tidak pernah ada yang tahu. Terkadang kamu di kota, kadang kamu di pulau terpencil. Begitu pula dengan beberapa tahun perjalananku dibelakang. Memulai karir di Jakarta dan kini berada di Sumba. Siapa yang menyangka?

Aku bertemu dengan beragam orang. Berusaha mencari apa yang diinginkan. Bahkan mulai bercita-cita ingin menjadi apa. Ternyata tidak semudah mencari di internet dan mengetikan,”Apa yang dapat aku lakukan?”. Tapi ini adalah sebuah perjalanan yang terkadang tidak terlihat ujungnya. Betapa susahnya pencarian yang dilakukan hingga jatuh bangun emosi yang ada didalamnya membuat aku akhirnya memutuskan banyak hal.

Enaknya kalau menuliskan opini dalam sebuah blogger, akan berkurangnya kemungkinan kamu bertukar emosi yang menyebabkan emosi beneran dalam sebuah komunikasi. Haha, intinya berantem gitu. Jadi, kucoba jabarin apa yang ada didalam pikiranku ya.

STOP COMPARE YOUR SELF WITH OTHERS

Semakin banyaknya media sosial membuat kita makin mudah ngga sih buat membandingkan diri dengan orang lain? Terlebih lagi nih ya, kalau kita ngga sengaja banget compare dirinya dengan yang lain. Dimulai dengan bertanya. Dan didalam segala jenis tanya mengandung semua kepo yang ada dalam diri, kemudian disimpulkan secara sepihak dengan diri sendiri. Terus yakin deh kesimpulannya apa? Tentang mana yang lebih keren dan lebih wow dari satu sudut pandang seseorang.



HARUS & NGGA BOLEH

Kamu tuh harus gini dan ngga boleh gitu. Satu kali moodku buyar kalau udah denger beginian. Apalagi kalau boleh info ya. Aku sudah tinggal di kota besar, kota kecil, hingga masuk pulau. Terus ada yang bilang harus dan ngga boleh selayaknya paling ngerti dan paling bisa.

Setiap orang punya kisah hidup yang berbeda, lingkungan, masa kecil, kemampuan bertahan hidup yang ngga mungkin sama bahkan kalau kalian tinggal serumah ya. Jadi, rasanya agak terlalu kelewatan kalau kita melihat sekilas kisah hidup orang melalui curhatan yang hitungan jam kemudian menyimpulkan apa yang harus dan ngga itu kaya ngga masuk diakal si.

Kayanya aku memutuskan percaya pada harus dan ngga boleh yang ada pada kitab suci agama. Titik.


ISTIRAHAT SEJENAK AJA KOK!

Ditengah pandemi Covid yang ngga kunjung selesai, sayup2 menghindar dari berita kematian dan kisah perjuangan bagi penyitas serta pejuang kesehatan. Ngeri-ngeri sedap dan sempat berharap bahwa penyakitnya ngga masuk di lokasi sekitar kita. Tapi, ngga mungkin. Ini real adanya dan kita sering banget dihadapkan dengan keadaan harus wfh atau berdiam diri dirumah.

Sunday, March 14, 2021

2021

 

Sewaktu aku masih menggunakan laptop lama berwarna putih, ternyata tulisanku jauh lebih banyak dibandingkan saat ini. Kupikir dengan laptop yang lebih baru kesempatanku untuk menulis akan berlipat. Ternyata lebih susah untuk menuangkan sesuatu.

Masih ingat dengan tulisanku “Will Sumba be the next?”. Ternyata jawabannya cukup sederhana walaupun tidak pernah menyangka. Dan ya, jawabannya adalah iya. Aku di sumba semenjak akhir Januari 2021. Tau gitu akhir tahun ngga ngabisin waktu ke Sumba ya.

 

MUSIM HUJAN DI SUMBA

Aku bersyukur ya disambut dengan musim hujan di awal tahun di Sumba. Ya, tepatnya Waingapu. Seakan alam semesta mengatakan bahwa disinilah kamu untuk beberapa saat kemudian. Siapa yang menyangka aku akan pindah ke tempat yang biasanya dijadikan lokasi berlibur bagi sebagian besar orang.

Dan disinilah aku, berusaha membangun cerita baru. Terlebih lagi, babang Kunyu ada di ujung pulau Sumba dan butuh sekitar kurang lebih 4 jam untuk dapat berjumpa. Seru kan.

KUTAK MENGURUSI METER LAGI, BERUBAH PROFESI

Banyak yang perlu di adaptasi. Lingkungan, pekerjaan, dan semua kawan sekitar. Mungkin beberapa orang paham akan pekerjaanku sebelumnya namun kini aku tak lagi mengurusi hal seputar meter dan hal Teknik lainnya. Namun berubah menjadi mengurusi pemasaran dan pelayanan pelanggan.

Sunday, December 27, 2020

Harapan Baru dibalik Terang kala Malam di Pulau Ndao

 

 Cerita mengenai pengalaman di pulau Ndao ternyata tidak hanya menunjukan harapan baru yang bisa didapatkan masyarakat disana. Harapan baru yang muncul seiring dengan masuknya aliran listrik di pulau tersebut, ternyata juga mampu mengubah pandangan saya mengenai melayani pelanggan hingga di ujung pulau. Pandangan yang seakan memunculkan semangat serta harapan baru bagi pribadi saya untuk menjalani kewajiban di perusahaan PLN dengan sepenuh hati. 

Dulu saya kira PLN hanya ada di perkotaan. Tidak pernah terbayang akan bekerja di daerah yang ternyata masih ada “daerah belum berlistrik” ataupun menyala sebatas 12 jam/hari. Dan kini saya pun menyaksikan dan merasakan langsung semenjak bertugas di pulau Rote Ndao.

Mari simak lebih lanjut!

Lima tahun lamanya bergabung dengan perusahaan PLN, namun tidak menyangka berbagai pengalaman berhasil didapatkan. Baik itu pengalaman dalam bekerja, berpindah tempat tinggal, dan banyak hal. Sebagai seorang wanita tentunya menjadi sebuah pengalaman luar biasa untuk tinggal berpindah-pindah. Pernah mendapatkan pengalaman menjalani on job trainee PLN di Pekanbaru, penempatan di Kupang, hingga mendapat tanggung jawab sebagai supervisor di ULP Rote Ndao.

Saat ini saya berada di divisi Transaksi Energi, dimana pekerjaan mengharuskan saya untuk melakukan pengecekan pada titik-titik transaksi energi. Memastikan pengukuran energi di bagian pembangkit hingga APP pelanggan berlangsung dengan baik. Entah pelanggan yang berada di Pulau Rote dan juga Ndao. Saat ini memang untuk supervisor Transaksi Energi di Area Kupang hanya saya saja yang wanita dan inilah yang kemudian memunculkan predikat sebagai Pejuang Srikandi. Sebutan tersebut datang dari mantan atasan saya sewaktu di Kupang. Sebutan pejuang Srikandi memang sederhana namun memberikan kesan kuat dan semangat yang dapat membuat saya mantap untuk melaksanakan tugas dan kewajiban selama di Rote Ndao.

Sekitar dua tahun lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi Pulau Ndao. Disinilah saya merasakan bahwa sangat bersyukur dapat menikmati listrik selama perjalanan hidup. Merasakan listrik di saat siang maupun malam hari.

Untuk pergi ke Ndao kita harus menyebrang menggunakan kapal penumpang dan berlayar sekitar satu jam lamanya. Pemandangan yang disuguhkan luar biasa. Pemandangan pantai dengan pasir putih dan birunya air laut. Mungkin kalau buat travelling akan menyenangkan, tapi rasanya untuk tinggal disana belum tentu anda betah. Kenapa?

Karena Ndao hanya menyala listrik selama 12 jam.

RASAKAN LISTRIK 12 JAM MENYALA

Saat tinggal di sebuah rumah warga, saya melihat sendiri perbedaan hiruk pikuk kehidupan disana. Saat siang keluarga akan menghabiskan waktu bersama atau sekedar menghabiskan kegiatan dengan hewan piaraan. Tidak ada nonton  TV di siang hari. Tidak ada gadget diantara kami. Yah, maklum sinyal di Ndao lumayan parah jika berada ditengah desa.

Friday, October 23, 2020

KOREKSI TUH DIRIMU DI TAHUN 28!

Aku lagi di bandara lagi. Melarikan diri. Dari orang-orang dan tempat toxic yang bikin diri pusing tujuh keliling. Tapi, kamu yakin bisa lari? Kayanya selama handphone masi menempel di sekitar badan, kayanya dirimu g bakal bisa jauh dari toxic people dan toxic place! Cuma yakin karna faktor eksternal, jangan sampe dirimu nih yang lagi ngga positif. Bawaannya pengen ngomel mulu, jadi koreksi tuh dirimu!

Menghitung hari menuju usia 28 ya. Tercetus judul “Koreksi tuh dirimu di tahun 28” yang sebenarnya mengarah ke diri aku sendiri. Tapi ditengah segala hal yang terjadi dan ga habis-habis bikin hati, jiwa dan pikiran stress. Harus ada yang diputar kembali untuk mengingatkan begitu banyak rasa syukur yang harus diucapkan sampai hari ini.

MISALNYA NANYA KE DIRI SENDIRI.

Beberapa pertanyaan perlu kutanyakan pada diri, untuk mengetahui sedalam apa kita mengenal diri kita. Cobain deh, kamu ngga bakal tau jawaban yang sebenarnya dari dalam diri. Jangan menjawab untuk terlihat baik, sesungguhnya kita ingin mengetahui apa yang perlu dikoreksi di usia yang tak lagi muda.

Nah, kira-kira begini pertanyaan kepada diriku.

Ngomel mulu sih sri, ngga capek?

Buset dah katanya mau lebih tenang dalam menjalani hari-hari. Boro-boro ya, mau tenang dikit liat WA Group bawaanku mau nyakar orang. Dikit-dikit minta ini, minta itu. Begitu lama dikit udah keluar kata-kata pedes dari mereka yang kubayangin dalam hati mereka pasti mencaci maki diriku. Nah, perlu deh dikit ngomel biar legaan gitu.

Makan terus, ngga takut melar?

Banyak banget si keinginanku buat menjaga badan. Tapi sumpah dah, kalau sudah ngomel tambah mikir dikit kerjaan dan sekaligus ga tau mau ngapain buat pelampiasan. Kujamin asli, pasti langsung ku cari tempat makan terenak dan ngga sadar terus mengunyah. Gimana tuh?

Jalan mulu, duit ngga takut habis?

Aku doyan banget jalan-jalan karna tak mudah mendapatkan sebuah rutinitas yang kusudah tau di akhir hari akan seperti apa. Memang si duit habis, tapi aku sangat rela. Aku bisa menghabiskan waktu diluar lingkungan yang toxic dan tidak ada udara segarnya. Berganti suasana selagi memungkinkan dengan pemandangan laut, danau, atau sekedar kamar penginapan. Beda banget, cobain deh.

Apa sih yang paling kamu bete dari orang?

Dari pengalamanku menjabat hampir 3 tahun, aku sadar kerja ngga cuma kerja. Aku benci dengan orang bermuka dua, ngga bisa kerja tapi songong, dan merendahkan orang lain hanya untuk membuat tinggi dirinya. Ku tak sanggup. Mending ku menghindar atau berharap didoakan segera pindah agar tak berjumpa. Bye.