Wednesday, February 4, 2026

Menjalani Setengah Hidup (lagi)

 

Aku pernah menyapa mbak dan mas barista di salah satu coffe shop Labuan Bajo. Sering sih malah. Satu dua menit kurang momen ngobrol yang enteng dan tanpa ada tujuan tertentu di akhir pembicaraan. Seakan sudah lama aku tidak basa basi dan ingin membahas sesuatu yang lumayan dalam.

Satu pertanyaan bermula dari,”Apa hasrat terdalam yang ingin kau capai?”. Sebuah pertanyaan yang kudapati aku sampaikan kepada mba barista. Dengan penuh semangat dia mulai mengeluarkan segala jawaban yang kurasa membangkitkan gairah akan mimpi-mimpinya. Mimpi yang dengan semangat ingin diwujudkan dengan upaya kerja keras.

Hingga kemudian, kulanjutnya dengan pertanyaan lainnya.

Sebuah Intro.

Aku coba membuka sebuah situasi dan kondisi. Hampir sebelas tahun bekerja dan kudapatkan diriku sudah berjalan jauh entah berada dimana. Pikiranku berkeliaran setelah kembali melihat sebuah pinguin yang memutuskan mencari jalan lain dari gerombolan. Aku pun sulit untuk hidup bergerombolan. Belakangan itu menjadi hal yang semakin sulit.

Usia sudah tak muda, tapi juga tak tua. Teman semakin sibuk dalam memantaskan dirinya di lingkungannya. Sesuatu yang dikejar dengan sangat mulai tidak mengairahkan. Bahkan mulai membuat jengah. Ada beberapa situasi dan kondisi yang seharusnya menjauh, namun semesta seakan tak lelah mendekatkan sedikit sebelum dijauhkan kembali. Intinya, mari membuat sebuah pola baru untuk menghadapi hari demi hari.

Pergerakan dunia yang begitu cepat tak lagi membuat bahagia. Apakah gairah yang sering ada karena hal sederhana masih menciptakan spark di dalam jiwa? Atau kini kuhadapi dengan dunia orang dewasa yang flat dan berupaya mencari sesuatu untuk diperjuangkan. Sambil berjuang tidak merasa sepi di dunia yang sangat padat.


Ceritakan Hasratmu, Please.

Pantas saja dulu aku sempat berpikir. Sepertinya tidak begitu menyenangkan menjadi orang dewasa atau usia yang semakin matang. Setiap orang yang sedang berjuang dalam jalur trackingnya sendiri. Berupaya melihat jalur tetangga dan terkadang ingin menikung, mencoba, serta mengambil jalur tersebut. Tanpa paham bahwa tidak semua jalur sesuai dengan kebutuhanmu.

”Coba sebutkan apa sebenarnya hasratmu saat ini?”, tanyaku kepada salah seorang barista berusia kurang lebih 20an tahun. Dengan mata berbinar kemudian dia menyampaikan semua hal menyenangkan yang belum terwujud dan ingin dicapainya. Tanpa sadar aku membuat sebuah list tak kasat mata. Sebagian besar sudah kujalani dengan mantap di masa lalu. Kini, itu sudah tak lagi menggairahkan. Semua ada masanya dan semua masa ada batasnya.

Sangat kurindukan mata berbinar saat berbicara dengan seseorang. Berupaya menceritakan hal antusias dan menyebalkan yang terjadi di hari tersebut. Terkadang pernah kudapati diriku mengulang hal-hal yang membuat bosan lawan bicaraku. Bahkan satu diantaranya dengan gamblang mengatakan dirinya lelah mendengarkan (MDP). Lalu, apa hasrat terdalammu saat ini Asri Vitaloka?


Mata Berbinar = Bahagia?

Pertanyaanku kemudian bergerak dari hasrat menjadi hal bahagia. Aku pernah mendapatkan hawa rutinitas dan kemampuan untuk bertahan membuat para orang dewasa bergerak dengan kaku, tidak bahagia, serta marah-marah (kadang-kadang). Apakah aku sudah sampai disana?

Kulanjutkan pertanyaanku kepada mba barista,”Lalu apa itu bahagia?”. Kudapatkan beberapa jawaban seperti bahagia adalah saat kita sudah tidak perlu memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan kita. Namun, apa sebenarnya kebutuhan yang sangat diinginkan? Aku kembali berputar terhadap kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan yang sangat diinginkan jiwa.

Tak sulit kadang untuk mendapatkan satu hal yang terukur, seperti harta, keinginan menonton konser, dan sejenisnya. Yang sulit menurutku, disaat dirimu merasa cukup dan tidak tahu lagi menginginkan apa. Apakah ada rasa bahagia? Aku rasa tidak. Atau sebenarnya bukan apa yang dibutuhkan? Jangan sampai, rasa sepi karna sendirian? Tapi apakah bersama seseorang atau lebih bisa membuat dirimu cukup. Kurasa juga tidak.

Keinginan apa yang benar diinginkan.

Pernah ga sih merasa lelah dengan berupaya mendapatkan semua hal. Bahkan hingga saat ini aku merasa kewalahan jika memiliki satu barang besar yang harus dirawat secara terus-menerus. Bukan bermaksud menyalahkan orang-orang. Tapi, banyak orang yang kujumpai dengan aura merasakan keinginan untuk menjadi kaya dan memiliki segalanya.

Kemudian, muncul satu pertanyaan. Setelah hampir sebelas tahun bekerja dan hidup sendiri di kaki sendiri. Sesungguhnya keinginan apa yang benar-benar kuinginkan? Apakah memiliki keluarga, anak, melanjutkan sekolah, memiliki rumah, mobil, motor, atau apa? Entahlah.

Usia kebanyakan manusia mungkin rata-rata di 70-80 tahun. Itupun jika hidup sangat sehat dan tidak memiliki penyakit atau kejadian yang begitu luar biasa. Kini sedang kujalani usia 34 tahun. Aku baru setengah jalan. Lalu, setengah jalan lagi akan kujalani dengan cara apa?

Kudapati diriku bekerja dan berupaya mengusahakan gym dengan rutin. Kemudian kudapati diriku mulai bepergian baik sendiri maupun bersama teman. Lalu apa? Berupaya mendapatkan karir dan mengejar semuanya, kurasa agak melelahkan. Kemudian apa? Entahlah.

Menjalani Setengah Hidup (lagi).

Kuputuskan untuk kembali berdamai dengan diri sendiri. Berupaya tidak hanya mencari rasa ramai semu. Aku duduk sebentar di kafe dan berjalan tanpa arah di pusat keramaian. Berada di sekitar banyak kawanpun ternyata tidak membuat sesuatu terasa penuh.

Ingatanku kembali diantara sebelas tahun perjalananku saat sudah bekerja. Jika pilihan paling mudah kuinginkan untuk memilih mengulang perjalanan hidup yang mana? Sepertinya aku ingin mengulang kehidupanku di 2018-2022. Hidupku tidak ramai, namun aku merasa lengkap. Thankyu MDP.

Aku bukan wanita independen yang menginginkan semua hal ambisius. Kudapati diriku hanya bekerja cukup keras untuk bisa memperjuangkan satu-satunya hal stabil yang bisa kupegang, yaitu semangat bekerjaku. Sampai pada titik semesta seakan memberikan hadiah-hadiah kecil berupaya satu-dua pencapaian. Hingga aku tiba di langkahku pada hari ini.

Suatu saat chapter hidup bergerak. Kuinginkan untuk mengulang kembali periode tahun tertentu. Tapi, aku sadar. Setiap pribadi tak pernah sama, walaupun orangnya sama. Setiap perjalanan akan dirasakan berbeda walaupun lokasinya sama. Tapi hasil tempaan semesta sudah menghasilkan pribadi yang berbeda. Akupun sudah berubah. Anda juga berubah.

(Kembali) pada Topik Setengah Hidup Lagi.

Aku ingin sekali berjumpa dengan orang-orang luar biasa dengan pengalaman hidup beragam. Pengalaman hidup orang lain adalah sebuah cerita paling mudah untuk mendapatkan pelajaran tanpa harus menjalaninya. Jika sulit mungkin akan kudapati diriku mulai membuka youtube dan mencari hal yang disesali saat usia menyentuh usia yang matang.

Apakah ada yang akan kusesali? Apakah kaya menjadi hal yang harus kukejar? Apakah aku perlu mengupayakan untuk menciptakan sebuah keluarga? Apakah aku harus mengantungkan diriku kepada orang lain. Siapkah menghadapi rasa kecewa yang akan muncul kemudian. Ah, capek kali kurasa.

Satu hal yang kuingat. Seorang yang pernah kupercaya dengan sangat mengajarkanku untuk bisa menikmati saat ini. Duduk dan diam. Tidak melakukan apa-apa. Mencoba menikmati waktu berdua yang saat itu tidak kupahami maknanya. Seakan dia sudah memahami bahwa momen tersebut akan sulit untuk dipertahankan selamanya. Hingga akhirnya dia muak dan kami pun berpisah.

Sampai tulisan ini dibuat, seorang aku juga masih kesulitan mencari makna hidup yang mana untuk dikejar dan dijalani dalam setengah sisa hidup (yang kalau dikasi umur panjang). Akan kujalani hidup dengan berupaya tidak membuat orang lain kewalahan dengan diriku. (Kayanya sulit). Akan kupastikan diriku lumayan berguna bagi orang lain. (Jika masih ada kesempatannya).

(Out of Topic) Kembali Sering Bermimpi.

Ditengah pergulatan diri antara mencari makna hidup di antara usia 34 tahun yang sedang dijalani, aku kembali sering mendapatkan mimpi-mimpi aneh. Tak jarang orang terkasih yang pernah menemani hadir satu per satu. Konon katanya jika hadir dalam mimpi, ada sebuah proses pembersihan jiwa terjadi. Alam bawah sadar melakukan kegiatan sibuk dalam mencerna, menyembuhkan, dan menyadari rasa di masa lalu.

Aku pernah mendapatkan diriku sampai begitu takut tidur karena beragam mimpi aneh dan melelahkan. Hingga belakangan, ini terjadi lagi. Satu dua kali masuk bersama orang-orang yang pernah hadir. Kemudian muncul orang asing. Hingga mimpi acak yang tidak bisa dipahami secara gamblang. Konon katanya, alam bawah sadar berupaya memproses banyak hal agar tidak bertumpahan saking penuhnya.

Di segala rasa lelah secara fisik dan pikiran saat ini, ada alam bawah sadar yang juga lelah membersihkan dan mengupayakan banyak hal agar tetap stabil. Bahkan ditengah hari rutinitas sudah mengerogoti, paling tidak mimpi di malam hari cukup ramai untuk dipikirkan ketika bangun.

So, buat anda yang sedang mencari makna hidup. Aku juga. Justru ini hadir disaat sepi. Justru ini hadir disaat tidak ada yang menemani. Akan seperti apa dirimu dalam menjalani setengah hidupmu lagi? Akankah kita hanya mengulang yang pernah ada? Apakah lelah? Bisakah memilih hal lain yang lebih sejalan dengan makna dan tugas jiwa? Tapi bagaimana cara menemukannya.

 Asri Vitaloka.

No comments:

Post a Comment