Aku pernah menyapa mbak dan mas barista di salah satu coffe shop Labuan Bajo. Sering sih malah. Satu dua menit kurang momen ngobrol yang enteng dan tanpa ada tujuan tertentu di akhir pembicaraan. Seakan sudah lama aku tidak basa basi dan ingin membahas sesuatu yang lumayan dalam.
Satu pertanyaan bermula dari,”Apa hasrat terdalam
yang ingin kau capai?”. Sebuah pertanyaan yang kudapati aku sampaikan kepada
mba barista. Dengan penuh semangat dia mulai mengeluarkan segala jawaban yang
kurasa membangkitkan gairah akan mimpi-mimpinya. Mimpi yang dengan semangat ingin
diwujudkan dengan upaya kerja keras.
Hingga kemudian, kulanjutnya dengan pertanyaan
lainnya.
Sebuah Intro.
Aku coba membuka
sebuah situasi dan kondisi. Hampir sebelas tahun bekerja dan kudapatkan diriku
sudah berjalan jauh entah berada dimana. Pikiranku berkeliaran setelah kembali
melihat sebuah pinguin yang memutuskan mencari jalan lain dari gerombolan. Aku
pun sulit untuk hidup bergerombolan. Belakangan itu menjadi hal yang semakin
sulit.
Usia sudah tak
muda, tapi juga tak tua. Teman semakin sibuk dalam memantaskan dirinya di
lingkungannya. Sesuatu yang dikejar dengan sangat mulai tidak mengairahkan.
Bahkan mulai membuat jengah. Ada beberapa situasi dan kondisi yang seharusnya
menjauh, namun semesta seakan tak lelah mendekatkan sedikit sebelum dijauhkan
kembali. Intinya, mari membuat sebuah pola baru untuk menghadapi hari demi
hari.
Pergerakan dunia yang begitu cepat tak lagi membuat
bahagia. Apakah gairah yang sering ada karena hal sederhana masih menciptakan
spark di dalam jiwa? Atau kini kuhadapi dengan dunia orang dewasa yang flat dan
berupaya mencari sesuatu untuk diperjuangkan. Sambil berjuang tidak merasa sepi
di dunia yang sangat padat.
Ceritakan Hasratmu, Please.
Pantas saja dulu aku
sempat berpikir. Sepertinya tidak begitu menyenangkan menjadi orang dewasa atau
usia yang semakin matang. Setiap orang yang sedang berjuang dalam jalur trackingnya
sendiri. Berupaya melihat jalur tetangga dan terkadang ingin menikung, mencoba,
serta mengambil jalur tersebut. Tanpa paham bahwa tidak semua jalur sesuai
dengan kebutuhanmu.
”Coba sebutkan apa
sebenarnya hasratmu saat ini?”, tanyaku kepada salah seorang barista berusia
kurang lebih 20an tahun. Dengan mata berbinar kemudian dia menyampaikan semua
hal menyenangkan yang belum terwujud dan ingin dicapainya. Tanpa sadar aku
membuat sebuah list tak kasat mata. Sebagian besar sudah kujalani dengan
mantap di masa lalu. Kini, itu sudah tak lagi menggairahkan. Semua ada masanya
dan semua masa ada batasnya.
Sangat kurindukan mata berbinar saat berbicara
dengan seseorang. Berupaya menceritakan hal antusias dan menyebalkan yang
terjadi di hari tersebut. Terkadang pernah kudapati diriku mengulang hal-hal
yang membuat bosan lawan bicaraku. Bahkan satu diantaranya dengan gamblang
mengatakan dirinya lelah mendengarkan (MDP). Lalu, apa hasrat terdalammu saat
ini Asri Vitaloka?
Mata Berbinar = Bahagia?
Pertanyaanku
kemudian bergerak dari hasrat menjadi hal bahagia. Aku pernah mendapatkan hawa
rutinitas dan kemampuan untuk bertahan membuat para orang dewasa bergerak
dengan kaku, tidak bahagia, serta marah-marah (kadang-kadang). Apakah aku sudah
sampai disana?
Kulanjutkan
pertanyaanku kepada mba barista,”Lalu apa itu bahagia?”. Kudapatkan beberapa
jawaban seperti bahagia adalah saat kita sudah tidak perlu memikirkan bagaimana
memenuhi kebutuhan kita. Namun, apa sebenarnya kebutuhan yang sangat diinginkan?
Aku kembali berputar terhadap kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan yang sangat
diinginkan jiwa.
Tak sulit kadang untuk mendapatkan satu hal yang terukur, seperti harta, keinginan menonton konser, dan sejenisnya. Yang sulit menurutku, disaat dirimu merasa cukup dan tidak tahu lagi menginginkan apa. Apakah ada rasa bahagia? Aku rasa tidak. Atau sebenarnya bukan apa yang dibutuhkan? Jangan sampai, rasa sepi karna sendirian? Tapi apakah bersama seseorang atau lebih bisa membuat dirimu cukup. Kurasa juga tidak.
Keinginan apa yang benar diinginkan.
Pernah ga sih
merasa lelah dengan berupaya mendapatkan semua hal. Bahkan hingga saat ini aku
merasa kewalahan jika memiliki satu barang besar yang harus dirawat secara
terus-menerus. Bukan bermaksud menyalahkan orang-orang. Tapi, banyak orang yang
kujumpai dengan aura merasakan keinginan untuk menjadi kaya dan memiliki
segalanya.
Kemudian, muncul satu pertanyaan. Setelah hampir sebelas tahun bekerja dan hidup sendiri
di kaki sendiri. Sesungguhnya keinginan apa yang benar-benar kuinginkan? Apakah
memiliki keluarga, anak, melanjutkan sekolah, memiliki rumah, mobil, motor,
atau apa? Entahlah.
Usia kebanyakan manusia mungkin rata-rata di 70-80
tahun. Itupun jika hidup sangat sehat dan tidak memiliki penyakit atau kejadian
yang begitu luar biasa. Kini sedang kujalani usia 34 tahun. Aku baru setengah
jalan. Lalu, setengah jalan lagi akan kujalani dengan cara apa?
Kudapati diriku bekerja dan berupaya mengusahakan gym dengan rutin. Kemudian kudapati diriku mulai bepergian baik sendiri maupun bersama teman. Lalu apa? Berupaya mendapatkan karir dan mengejar semuanya, kurasa agak melelahkan. Kemudian apa? Entahlah.
Menjalani Setengah Hidup (lagi).
Kuputuskan untuk
kembali berdamai dengan diri sendiri. Berupaya tidak hanya mencari rasa ramai
semu. Aku duduk sebentar di kafe dan berjalan tanpa arah di pusat keramaian. Berada
di sekitar banyak kawanpun ternyata tidak membuat sesuatu terasa penuh.
Ingatanku kembali
diantara sebelas tahun perjalananku saat sudah bekerja. Jika pilihan paling
mudah kuinginkan untuk memilih mengulang perjalanan hidup yang mana? Sepertinya
aku ingin mengulang kehidupanku di 2018-2022. Hidupku tidak ramai, namun aku
merasa lengkap. Thankyu MDP.
Aku bukan wanita independen yang menginginkan semua
hal ambisius. Kudapati diriku hanya bekerja cukup keras untuk bisa
memperjuangkan satu-satunya hal stabil yang bisa kupegang, yaitu semangat
bekerjaku. Sampai pada titik semesta seakan memberikan hadiah-hadiah kecil
berupaya satu-dua pencapaian. Hingga aku tiba di langkahku pada hari ini.
Suatu saat chapter hidup bergerak. Kuinginkan untuk mengulang kembali periode tahun tertentu. Tapi, aku sadar. Setiap pribadi tak pernah sama, walaupun orangnya sama. Setiap perjalanan akan dirasakan berbeda walaupun lokasinya sama. Tapi hasil tempaan semesta sudah menghasilkan pribadi yang berbeda. Akupun sudah berubah. Anda juga berubah.
(Kembali) pada Topik Setengah Hidup Lagi.
Aku ingin sekali
berjumpa dengan orang-orang luar biasa dengan pengalaman hidup beragam. Pengalaman
hidup orang lain adalah sebuah cerita paling mudah untuk mendapatkan pelajaran
tanpa harus menjalaninya. Jika sulit mungkin akan kudapati diriku mulai membuka
youtube dan mencari hal yang disesali saat usia menyentuh usia yang matang.
Apakah ada yang akan
kusesali? Apakah kaya menjadi hal yang harus kukejar? Apakah aku perlu
mengupayakan untuk menciptakan sebuah keluarga? Apakah aku harus mengantungkan
diriku kepada orang lain. Siapkah menghadapi rasa kecewa yang akan muncul
kemudian. Ah, capek kali kurasa.
Satu hal yang kuingat. Seorang yang pernah
kupercaya dengan sangat mengajarkanku untuk bisa menikmati saat ini. Duduk dan
diam. Tidak melakukan apa-apa. Mencoba menikmati waktu berdua yang saat itu
tidak kupahami maknanya. Seakan dia sudah memahami bahwa momen tersebut akan
sulit untuk dipertahankan selamanya. Hingga akhirnya dia muak dan kami pun
berpisah.
Sampai tulisan ini dibuat, seorang aku juga masih
kesulitan mencari makna hidup yang mana untuk dikejar dan dijalani dalam
setengah sisa hidup (yang kalau dikasi umur panjang). Akan kujalani hidup
dengan berupaya tidak membuat orang lain kewalahan dengan diriku. (Kayanya
sulit). Akan kupastikan diriku lumayan berguna bagi orang lain. (Jika masih ada
kesempatannya).
(Out
of Topic) Kembali Sering Bermimpi.
Ditengah pergulatan
diri antara mencari makna hidup di antara usia 34 tahun yang sedang dijalani,
aku kembali sering mendapatkan mimpi-mimpi aneh. Tak jarang orang terkasih yang
pernah menemani hadir satu per satu. Konon katanya jika hadir dalam mimpi, ada
sebuah proses pembersihan jiwa terjadi. Alam bawah sadar melakukan kegiatan
sibuk dalam mencerna, menyembuhkan, dan menyadari rasa di masa lalu.
Aku pernah
mendapatkan diriku sampai begitu takut tidur karena beragam mimpi aneh dan
melelahkan. Hingga belakangan, ini terjadi lagi. Satu dua kali masuk bersama
orang-orang yang pernah hadir. Kemudian muncul orang asing. Hingga mimpi acak
yang tidak bisa dipahami secara gamblang. Konon katanya, alam bawah sadar berupaya
memproses banyak hal agar tidak bertumpahan saking penuhnya.
Di segala rasa lelah secara fisik dan pikiran saat
ini, ada alam bawah sadar yang juga lelah membersihkan dan mengupayakan banyak
hal agar tetap stabil. Bahkan ditengah hari rutinitas sudah mengerogoti, paling
tidak mimpi di malam hari cukup ramai untuk dipikirkan ketika bangun.
So, buat anda yang sedang mencari makna hidup. Aku
juga. Justru ini hadir disaat sepi. Justru ini hadir disaat tidak ada yang
menemani. Akan seperti apa dirimu dalam menjalani setengah hidupmu lagi? Akankah
kita hanya mengulang yang pernah ada? Apakah lelah? Bisakah memilih hal lain
yang lebih sejalan dengan makna dan tugas jiwa? Tapi bagaimana cara
menemukannya.






No comments:
Post a Comment