Sebut saja kita berhasil melewati tahun 2025. Apa
yang sudah kamu lewati? Apa yang sedang dipertaruhkan? Adakah yang merasakan
kehilangan, atau malah kebahagiaan? Adakah sesuatu atau seseorang yang sedang
kamu ragukan?
Akupun terus merasa ragu bahkan hingga saat kini.
Cobalah untuk berhenti sejenak. Sudah sejauh mana sudah bergerak. Sudah seperti
apa perjuangan yang telah dilakukan. Apakah sudah membuatmu cukup? Atau malah
membuatmu semakin jauh dari apa yang sesungguhnya kau inginkan? Atau justru
dirimu tak paham apa yang sebenarnya kau inginkan di hari ini dan di kemudian
hari.
6 bulan
terakhir 2025
Susah payah
kucoba untuk menyimpan, mengingat dan mengemas kenangan indah serta buruk yang
bisa terjadi. Kemudian sadar bahkan ingatan tadi pagi saja terkadang tak menempel
di pikiranku. Kucoba untuk kembali membuka galeri foto pada henponku dan
mencoba mengingat beberapa hal, momen, dan perasaan.
Gejolak baru ya.
Aku berpindah (lagi) ke tempat baru, yaitu Labuan Bajo. Berupaya mencoba
tinggal dan kerja di tempat yang biasanya tempat berlibur. Berupaya beradaptasi
dengan kerjaan baru, dengan upaya menuntaskan tesisku, dan mencoba menghibur diri
dengan bepergian ke tempat-tempat. Oke, Boom! Semesta mewujudkan semua dalam
satu kedipan yang seakan tak berkedip. Haha..
Dalam setiap
perjalanan, kurasa aku mendapatkan beberapa pemahaman dan kucoba untuk
mengingat satu per satu ya.
Kudapati diriku berupaya membuat hidup terus berjalan
dengan menyisakan sedikit rasa menyesal di akhir hari, akhir minggu, dan bulan.
Setiap tahun memberi rasa, upaya, dan perjuangan yang berbeda. Setiap periode
memberi kawan dan lawan sebagai pemanis jalan kehidupan. Thankyu, universe.
Ternyata perpisahan
memang harus digantikan dengan orang baru (kadang-kadang). Memorinya menempel
kuat seakan tak lekang waktu walau hampir tiga tahun lamanya. Bahkan
kenangannya tak hanya muncul saat berada di lokasi yang pernah bersama. Ini
muncul di tempat yang sama sekali baru, saat sendiri, dan pikiran lain tak
sedang hinggap. Luar biasa deh.
Beberapa kisah
kasih yang datang, menetap, dan kemudian kembali gagal. Setiap kisah memberi
rasa suka sekaligus duka. Bukannya tak pernah ada kebahagiaan yang tak didampingi
dengan rasa kepedihan? Apalagi jika masih kuat ketergantunganmu dengan manusia
lainnya.
Patut kusadari terkadang orang terakhir memberi
kenangan kuat dan susah untuk dilupakan. Terlebih lagi kau terus mengupayakan
penganti ditengah momen sembuh yang sedang diupayakan. Begitu indah cinta
sekaligus memberi rasa lelah, marah, dan menyedihkan dalam satu rasa.
Tahun baru, hari baru. Kita doakan saja setiap
manusia yang berjuang menyembuhkan hatinya segera pulih. Yah, minimal bisa mengurangi
rasa pedih serta melanjutkan hidup walaupun sedang berupaya sembuh dalam satu
waktu.
Tak Perlu Memaksa Seseorang Pulang.
Sekilas terbersit
di ingatanku. Seseorang meminta ijin untuk pulang dan berjumpa dengan orang
tuanya. ”Kasih aku pulang dulu ya”, ucap seorang kekasih pada masanya. Aku lupa
apa yang kupikirkan saat itu. Rasa ego kuat menjawab cepat untuk tidak mengizinkan.
Dan rasa iba justru membuat diriku merasa orang paling kurang di seluruh dunia.
Disaat ada orang yang
selalu mengupayakan untuk dekat dengan rumah dan mengupayakan dirinya kembali ke
sekitar orang tuanya. Ditengah orang luar mencibir untuk aku agar kembali
pulang. Kupahami bahwa tak semua rumah terasa rumah.
Ada beberapa orang yang justru merasa rumah tak
aman bagi ketenangan diri dan mentalnya. Ada yang tak aman (benar-benar tidak
aman secara real fisik) dan ada juga yang aman secara tempat, namun hatinya
selalu dibuat terluka lagi dan lagi. Seakan teriris secara perlahan secara
gesture, ucapan, dan perlakuan yang didapatnya.
Setiap sikap penolakan anak atau diri dari
rumahnya merupakan sebuah jawaban sikap dan perilaku yang terbentuk dari hasil
mendapatkan perlakuan, sikap, dan rasa kurang kasih sayang dalam jangka waktu
bertahun-tahun. Jangan pernah berharap pulih dalam hitungan hari bahkan minggu.
Belakangan aku
kembali teringat disaat hari tak dipenuhi dengan upaya menjawab Whatsapp
secara cepat dan segera. Disaat diri tak berupaya mencari waktu dan
mengupayakan jam makan, minum kopi, dan rutinitas lain terjadi dalam satu hari.
Tak berupaya mengejar waktu dan segala kesibukan orang dewasa pada usia 30
keatas. Akhirnya, ada momen-momen rindu dan sederhana yang mengundang banyak
memori lama.
Kurasakan duduk
di lantai dingin dari sebuah kamar kosan yang belakangan baru kutempati sekitar
tujuh bulan lamanya. Duduk sambil memegang henpon dan mencoba mencari tempat
untuk melipat kaki, serta merengangkan badan. Kemudian, sebuah memori masa
sekolah hadir dimana aku duduk di rumah Danau Buyan sambil menunggu Bapak atau Emak
membawa sesuatu dari luar rumah. Makanan atau apapun.
Aku tidak bisa menyadari kesibukan diri di usia
sekarang tanpa paham lagi berada di fasa sibuk tersebut. Hingga kudapati diriku
melihat kawanku yang lain. Dengan wajah tegang (ciri usia 30an keatas) selalu
berupaya serius menghadapi kehidupan dengan gelutan dunia politik per-manusia-an
ini, dunia keinginan untuk memiliki semuanya. Serta kesibukan segala hal yang
di ada-adain.
Tak jarang kita perlu menarik mundur kembali.
Berupaya menjadi anak kecil di usia dewasa. Walaupun terkadang tidak juga
membuat hidup lebih sederhana, mudah, dan langsung berhasil. Namun, berdebat,
berantem, kemudian menangis, dan bisa kembali bermain kemudiannya. Sederhana
banget kan masa kecil itu.
Jangan pernah
meragukan aura orang di usia 30-an dengan segala rasa pahit (kata orang tua
dulu) yang sudah dijalani. Aku pernah melihat aura seorang wanita begitu dalam
yang diam aja sudah bisa menunjukkan bahwa auranya mahal dan didapatkan dari
perjalanan panjang. Perjalanan yang tak hanya memberikan kemenangan tapi juga
kekalahan berkali-kali. Kekalahan yang tak hanya datang dari orang luar, tapi
juga datang dari dirinya sendiri.
Ia kalah melawan
ego dirinya. Ia tak sengaja membuat dirinya yakin telah kalah dengan berbagai
hal. Seperti selalu berupaya keras terhadap dirinya, selalu merasa bersalah
jika beristirahat, dan merasa yakin segala hal harus diantisipasi dan mencoba
menang di semua kesempatan. Hingga akhirnya aura wanita dewasa yang pernah
kujumpai seakan memberikan aku bayangan di masa depan bagaimana hasil tempaan semesta
hadir untuk membuatmu menjadi seseorang.
Semakin bertambah usia kudapati semakin sedikit
lingkar pertemanannya. Bahkan perlu ada pertanyaan ”Apa yang diinginkannya?” saat
sedang berada di suatu lingkar pertemanan. Semakin sepi lingkarannya, namun anehnya
semakin damai. Sedih pasti. Tapi berkurang dramanya. Wkwkw.
Belakangan
sungguh lelah mencoba membuat orang puas dengan dirimu. Maka, jadilah dirimu
sendiri tanpa mencoba merebut hak orang lain. Berupaya memberikan yang terbaik
dengan tidak menggadaikan dirimu dari berbagai sisi, seperti kesehatan mental
dan fisik. Selalu menyadari peranmu di hidupmu sendiri, karir, dan keluarga.
Jika tak bisa ketiganya, aku rasa it’s okay.
Hidup sendiri okay, hidup berdampingan luar biasa. Cukupkan dirimu untuk bisa bersama orang
lain. Tak pernah tersesat dan tertukar jalan hidupmu. Tak pernah secara tidak
sengaja, orang hadir tanpa tujuan di hidupmu. Tak pernah terlalu terlambat
apapun segala keterlambatan dan segala yang hadir lebih dulu.
Modal paling tidak berat versi aku dalam
menghadapi 2026 adalah kontrol apapun yang kau bisa kendalikan, seperti respon
dirimu terhadap keadaan di luar. Berikan apapun yang ingin diberikan dan simpan
secara teratur energi yang tidak seharusnya kau keluarkan. Berharap semua orang
merasa dirimu baik adalah hal yang tidak mungkin. Maka jangan pernah percaya
dan bertumpu pada yang tidak mungkin.
Kemudian, sekali lagi ucapkan thankyu 2025 dan
mari sekali lagi berdiri serta mengupayakan 2026 berjalan dengan damai, aman, serta
harmoni. Baik berperan sendiri, atau menjalankan peran pasangan seseorang di
kemudian hari. Love.


.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)


.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
No comments:
Post a Comment