Konon kata sebuah alur drama Korea menyebutkan sebuah dialog. Yaitu, seorang penulis harus menyelami banyak emosi untuk dapat menghasilkan tulisan yang bagus. Pernah kudapati diriku tidak memiliki bahan untuk menulis. Ternyata saat itu aku terlalu bahagia untuk bisa menulis. Ya, disaat sedang jatuh cinta.
Tulisan ini tidak bermaksud menyingung siapapun. Hanya
sebuah torehan kata-kata untuk dikenang kemudian hari. Sebuah lagu ”Luruh”
milik Isyana mengulik emosi terdalam yang sedang diupayakan agar tidak terkuak
dan menganggu keseharian. Ya, sudah 3 tahun lamanya sejak saat itu. Di bulan
Juni kala itu.
Luruh milik Isyana.
Sebuah alunan
piano masuk diantara kepalaku melalui earbuds yang kugunakan. Hari itu, hari
Minggu dimana aku sedang menikmati segelas kopi susu DCA kesukaanku. Di sela
bergulirnya foto instagram di jari-jemariku, kudapati diriku terenyuh dengan
lirik lagu Luruh. Biasanya kulanjutkan tanpa merasakan sesuatu. Tapi, kali ini
berbeda.
”Luruh seluruh
harapku. Luruh semua janjimu.
Ketika jalanku dan jalanmu tak bertemu. Runtuh seluruh maknaku. Ketika inginku
dan inginmu tak menyatu. Di dalam pusaranmu, adakah ruang untuk kau dan aku
mengarung mencari titik temu.” – sebuah cuplikan lirik lagu tersebut.
Hanya kata demi
kata namun seakan memberikan gambaran kejadian tak singkat namun tergambar
jelas. Seketika sekumpulan emosi terendam kembali naik ke permukaan, walaupun
sudah tiga tahun lamanya.
“Aku Jarang Melihatmu Menulis Lagi”
Sesungguhnya aku
pun terheran dengan kondisi tersebut. Tapi, selayaknya musik populer dari
seorang penyanyi yang menuliskan liriknya dikala sedang patah hati, sedih,
rapuh, dan kecewa. Pun terjadi saat seseorang menuliskan kata menjadi sebuah
kalimat hingga tergabung dalam sebuah paragraf.
Kusadari diriku sibuk mengalami, menjalani, dan
meresapi segala momen bahagia, canggung, sedih, bahkan marah. Berjalan dalam
sepi dan menyimpan bom waktu. Seakan menghitung mundur setiap peristiwa dan
akan berpisah pada waktunya. Seakan semesta pun memberi petunjuk melalui rasa
ragu dan menjadikannya saat sudah habis waktunya.
Ternyata aku
disiapkan untuk menulis kembali saat sekitar sudah mulai tenang. Ternyata bukan
karena sudah tak merasakan. Ini hanya perkara sudah terbiasa dengan rasa sakit
dan menggantung. Sekelibat masih terasa seakan baru kemarin, namun sudah 3
tahun lamanya.
Mimpi Indah dengan Jelas.
Entah dimana aku
melihat dan membaca sebuah kutipan. Jika sudah selesai ceritanya, maka akan
berjumpa dalam mimpi. Entah apapun cerita didalam mimpinya. Tidak hanya sekali,
mimpi dengan beragam cerita. Tak jarang kupikir apakah ini sebuah bawah sadar
dengan makna tertentu. Atau hanya sekelibat bawah sadar dari alam pikiranku
sendiri.
Pernah dalam bentuk bepergian dengan motor berdua.
Pernah dalam bentuk dirimu dengan seorang sosok wanita lainnya. Tapi, mimpi terakhir
justru menciptakan cuplikan drama berbeda. Yaitu, kita berdua berjalan kaki
berdampingan sambil bercengkrama diatas trotoar. Berjalan setelah duduk di
kafe. Itupun dirimu menghampiriku sesaat setelah melihatku dari beranda sebuah bangunan.
Jikapun sudah
selesai kisahnya, atau sudah berakhir masanya. Maka, lepaskanlah dalam bentuk
apapun kisah lama dan bersiaplah menghadapi kisah didepan. Dengan atau tanpamu.
Tok Tok Tok
Pernah tidak
merasakan keinginan begitu dalam. Seseorang datang dan mengetuk pintu kamarmu. Berupaya
menyapa dengan canggung dan memberi kesimpulan berbagai cerita yang dibuat oleh
otak pikiranmu sendiri. Dan hingga saat ini, tidak ada ”Tok Tok Tok” yang
diharapkan.
Tidak sesederhana sebuah tok tok tok untuk memanggil
orang didalam ruangan. Ini bukan sekedar ingin masuk. Tapi lebih besar dari
itu. Sebuah rasa ingin, kemudian dipatahkan dengan realita bahwa tidak ada yang
mengetuk. Ini juga bukan sebuah tok tok tok hanya untuk melihatnya datang. Melainkan
sebuah closure atau penutupan dari masa seseorang dalam jangka waktu terbatas.
Berupaya dengan
sangat untuk menutup sebuah cerita. Tapi bahkan pintu berpasangan dengan gagang
pintu agar bisa menutup. Tidak pernah sendirian. Bahkan kalimat pembuka perlu
dibuatkan kalimat penutup agar memiliki kesan selesai. Tapi, ini tidak
terlihat. Atau seakan tidak terasa tertutup dengan benar.
3
Years and still going…
Kusampaikan
dengan tenang bahwa sudah tiga tahun lamanya. Senyum tipis hadir dalam wajahku
saat mengenang banyak hal indah. Tapi tidak bisa kujanjikan tidak dilanjutkan
dengan rasa sedih kemudian. Satu yang bisa kupastikan, yaitu kadar emosinya
sudah mulai berkurang. Berkurang dengan terurai oleh waktu dan kesadaran dalam
pelajaran.
Setiap masa memiliki pelajaran dan akan dalam jika
diselingi rasa sedih hebat selepas perpisahannya. Sudah dipastikan dengan
sangat bahwa tidak pernah berpisah jika belum selesai. Namun, semesta akan
menjadikannya jika memang sudah selesai waktunya. Menjadikan diri dan dirinya
berpisah. Apapun alasan dan penyebabnya.
Kupikir aku
memiliki ingatan yang lemah. Nyatanya, aku sangat jelas mengingat hal indah
atau menyedihkan jika mengenaimu. Tidak pernah terasa terlalu lama atau terlalu
cepat. Semua mengalir dalam kenangan indah yang tersimpan disuatu memori.
Dearest gentle reader,
Tulisan ini kuafirmasi
untuk orang-orang yang sedang berjuang dalam menyembuhkan hati. Jikapun penyesalan
masih lebih kuat saat ini, percayalah keikhlasan akan muncul di kemudian hari.
Jikapun kamu menyesali segala kisah yang sudah dilewati, percayalah kamu pernah
berada di momen paling beruntung. Yaitu, saling mencintai satu sama lain.
Baik perpisahan jarak maupun perpisahan beda dunia, tetaplah berpisah. Setiap perasaan benar adanya. Bahkan jikapun sudah mengetahui akhir cerita, aku tidak keberatan untuk kembali mengulangnya.
Bagiku, hidup adalah sebuah kisah ujian yang tak pernah
tuntas. Maka, ijinkanlah sesekali perjalanan cintamu diselingi ujian. Disitulah
kamu bisa mendapatkan rasa paling dalam, entah rasa bahagia atau malah rasa
menyakitkan.
Kudoakan dengan
sangat bagi orang-orang diluar sana yang masih berusaha menyembuhkan hatinya. Sekian
tahun dihabiskan bersama, kemudian malah menyisakan sekian tahun untuk berupaya
melupakannya. Tidak pernah berlaku sia-sia. Apapun yang pernah dijalankan
bersama sang pujaan hati, akan memberimu kebijaksanaan lain saat berjumpa
dengan pujaan hati selanjutnya.
Thankyu, Asri Vitaloka.

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)


No comments:
Post a Comment