Sunday, June 7, 2026

3 Years.

 

Konon kata sebuah alur drama Korea menyebutkan sebuah dialog. Yaitu, seorang penulis harus menyelami banyak emosi untuk dapat menghasilkan tulisan yang bagus. Pernah kudapati diriku tidak memiliki bahan untuk menulis. Ternyata saat itu aku terlalu bahagia untuk bisa menulis. Ya, disaat sedang jatuh cinta.

Tulisan ini tidak bermaksud menyingung siapapun. Hanya sebuah torehan kata-kata untuk dikenang kemudian hari. Sebuah lagu ”Luruh” milik Isyana mengulik emosi terdalam yang sedang diupayakan agar tidak terkuak dan menganggu keseharian. Ya, sudah 3 tahun lamanya sejak saat itu. Di bulan Juni kala itu.

Luruh milik Isyana.

Sebuah alunan piano masuk diantara kepalaku melalui earbuds yang kugunakan. Hari itu, hari Minggu dimana aku sedang menikmati segelas kopi susu DCA kesukaanku. Di sela bergulirnya foto instagram di jari-jemariku, kudapati diriku terenyuh dengan lirik lagu Luruh. Biasanya kulanjutkan tanpa merasakan sesuatu. Tapi, kali ini berbeda.

”Luruh seluruh harapku. Luruh semua janjimu. Ketika jalanku dan jalanmu tak bertemu. Runtuh seluruh maknaku. Ketika inginku dan inginmu tak menyatu. Di dalam pusaranmu, adakah ruang untuk kau dan aku mengarung mencari titik temu.” – sebuah cuplikan lirik lagu tersebut.

Hanya kata demi kata namun seakan memberikan gambaran kejadian tak singkat namun tergambar jelas. Seketika sekumpulan emosi terendam kembali naik ke permukaan, walaupun sudah tiga tahun lamanya.

“Aku Jarang Melihatmu Menulis Lagi”

Sesungguhnya aku pun terheran dengan kondisi tersebut. Tapi, selayaknya musik populer dari seorang penyanyi yang menuliskan liriknya dikala sedang patah hati, sedih, rapuh, dan kecewa. Pun terjadi saat seseorang menuliskan kata menjadi sebuah kalimat hingga tergabung dalam sebuah paragraf.

Kusadari diriku sibuk mengalami, menjalani, dan meresapi segala momen bahagia, canggung, sedih, bahkan marah. Berjalan dalam sepi dan menyimpan bom waktu. Seakan menghitung mundur setiap peristiwa dan akan berpisah pada waktunya. Seakan semesta pun memberi petunjuk melalui rasa ragu dan menjadikannya saat sudah habis waktunya.

Ternyata aku disiapkan untuk menulis kembali saat sekitar sudah mulai tenang. Ternyata bukan karena sudah tak merasakan. Ini hanya perkara sudah terbiasa dengan rasa sakit dan menggantung. Sekelibat masih terasa seakan baru kemarin, namun sudah 3 tahun lamanya.

Mimpi Indah dengan Jelas.

Entah dimana aku melihat dan membaca sebuah kutipan. Jika sudah selesai ceritanya, maka akan berjumpa dalam mimpi. Entah apapun cerita didalam mimpinya. Tidak hanya sekali, mimpi dengan beragam cerita. Tak jarang kupikir apakah ini sebuah bawah sadar dengan makna tertentu. Atau hanya sekelibat bawah sadar dari alam pikiranku sendiri.

Pernah dalam bentuk bepergian dengan motor berdua. Pernah dalam bentuk dirimu dengan seorang sosok wanita lainnya. Tapi, mimpi terakhir justru menciptakan cuplikan drama berbeda. Yaitu, kita berdua berjalan kaki berdampingan sambil bercengkrama diatas trotoar. Berjalan setelah duduk di kafe. Itupun dirimu menghampiriku sesaat setelah melihatku dari beranda sebuah bangunan.

Jikapun sudah selesai kisahnya, atau sudah berakhir masanya. Maka, lepaskanlah dalam bentuk apapun kisah lama dan bersiaplah menghadapi kisah didepan. Dengan atau tanpamu.

Tok Tok Tok

Pernah tidak merasakan keinginan begitu dalam. Seseorang datang dan mengetuk pintu kamarmu. Berupaya menyapa dengan canggung dan memberi kesimpulan berbagai cerita yang dibuat oleh otak pikiranmu sendiri. Dan hingga saat ini, tidak ada ”Tok Tok Tok” yang diharapkan.

Tidak sesederhana sebuah tok tok tok untuk memanggil orang didalam ruangan. Ini bukan sekedar ingin masuk. Tapi lebih besar dari itu. Sebuah rasa ingin, kemudian dipatahkan dengan realita bahwa tidak ada yang mengetuk. Ini juga bukan sebuah tok tok tok hanya untuk melihatnya datang. Melainkan sebuah closure atau penutupan dari masa seseorang dalam jangka waktu terbatas.

Berupaya dengan sangat untuk menutup sebuah cerita. Tapi bahkan pintu berpasangan dengan gagang pintu agar bisa menutup. Tidak pernah sendirian. Bahkan kalimat pembuka perlu dibuatkan kalimat penutup agar memiliki kesan selesai. Tapi, ini tidak terlihat. Atau seakan tidak terasa tertutup dengan benar.

3 Years and still going…

Kusampaikan dengan tenang bahwa sudah tiga tahun lamanya. Senyum tipis hadir dalam wajahku saat mengenang banyak hal indah. Tapi tidak bisa kujanjikan tidak dilanjutkan dengan rasa sedih kemudian. Satu yang bisa kupastikan, yaitu kadar emosinya sudah mulai berkurang. Berkurang dengan terurai oleh waktu dan kesadaran dalam pelajaran.

Setiap masa memiliki pelajaran dan akan dalam jika diselingi rasa sedih hebat selepas perpisahannya. Sudah dipastikan dengan sangat bahwa tidak pernah berpisah jika belum selesai. Namun, semesta akan menjadikannya jika memang sudah selesai waktunya. Menjadikan diri dan dirinya berpisah. Apapun alasan dan penyebabnya.

Kupikir aku memiliki ingatan yang lemah. Nyatanya, aku sangat jelas mengingat hal indah atau menyedihkan jika mengenaimu. Tidak pernah terasa terlalu lama atau terlalu cepat. Semua mengalir dalam kenangan indah yang tersimpan disuatu memori.

Dearest gentle reader,

Tulisan ini kuafirmasi untuk orang-orang yang sedang berjuang dalam menyembuhkan hati. Jikapun penyesalan masih lebih kuat saat ini, percayalah keikhlasan akan muncul di kemudian hari. Jikapun kamu menyesali segala kisah yang sudah dilewati, percayalah kamu pernah berada di momen paling beruntung. Yaitu, saling mencintai satu sama lain.

Baik perpisahan jarak maupun perpisahan beda dunia, tetaplah berpisah. Setiap perasaan benar adanya. Bahkan jikapun sudah mengetahui akhir cerita, aku tidak keberatan untuk kembali mengulangnya. 

Bagiku, hidup adalah sebuah kisah ujian yang tak pernah tuntas. Maka, ijinkanlah sesekali perjalanan cintamu diselingi ujian. Disitulah kamu bisa mendapatkan rasa paling dalam, entah rasa bahagia atau malah rasa menyakitkan.

Kudoakan dengan sangat bagi orang-orang diluar sana yang masih berusaha menyembuhkan hatinya. Sekian tahun dihabiskan bersama, kemudian malah menyisakan sekian tahun untuk berupaya melupakannya. Tidak pernah berlaku sia-sia. Apapun yang pernah dijalankan bersama sang pujaan hati, akan memberimu kebijaksanaan lain saat berjumpa dengan pujaan hati selanjutnya.

Thankyu, Asri Vitaloka.

No comments:

Post a Comment