Sunday, July 19, 2026

Apa Yang Sebenarnya Perlu Ditakutkan?

Emang paling bahaya banget punya meja di kosan. Meja profer yang kamu bisa duduk sambil lihat ikan cupang dengan cahaya kamar yang sudah sedikit redup (karna sudah jam tidur harusnya). Jam jam takut dimana semua isi pikiran yang tersimpan sementara kemudian keluar. Kadang happy, kebanyakan bikin mellow.

Hingga akhirnya kuputuskan untuk bertanya pada diri sendiri, ”Apa yang sebenarnya perlu ditakutkan didalam dirimu?. Setiap pribadi akan berbeda, menyesuaikan trauma diri. Menyesuaikan kondisi saat ini, dari hasil pilihan di masa lalu. Menyesuaikan dari siapa keluarga, kawan, pasangannya. Bahkan menyesuaikan dari kondisinya saat ini. Maka, berikan kesempatan aku untuk bercerita.

Takut Naik Kelas

Ini beneran bukan karna naik level efek ditantang semesta atau akhirnya kamu naik level karna sudah dewasa ya. Tapi beneran takut naik kelas. Di rentang usia sekolah dulu, saat 7-19 tahun yang kutakutkan hanya apa bisa nanti di kelas selanjutnya? Masa SD sudah berpikir tentang SMP, saat SMP mikir SMA. Kemudian SMA aku sudah memikirkan kuliah.

Dan taraammm.. sebagian dari kita secara normal bisa melewatinya. Bahkan kini aku sudah menyelesaikan masa kuliah keduaku secara tepat waktu. Agak mendidih ya melihat perjuangan tidak terlihat dan sampai dimana kita sudah berpijak.

Masa sekolah aku beruntung tidak berpikir mengenai biaya. Hanya menyelesaikan dengan baik dan benar apapun yang sudah ditujukan, direncanakan kedua orang tua. Bahkan kesempatan untuk memilih sekolah versi keinginan sendiripun tak ada. Jalan itu sudah dibuatkan, tinggal keputusanku untuk membuatnya terlewati tanpa berbalik arah atau keluar dari jalur.

Disinilah aku, dengan bermodal doa dan sertifikat lulus. Jaman itu, aku bahkan tidak tertarik mendalami spesifik dunia teknik. Aku sudah berpikir, ”Aku hanya membutuhkan ijazahku”. Disitulah periode momen Jakarta dimulai.

Takut Tidak Makan sd Akhir Bulan

Serem banget. Tinggal di pinggiran Jakarta dan selalu didukung keuangan dari kedua orang tua. Ternyata periode itu bergerak menuju keuangan yang sama, namun dari hasil gajiku sendiri. Bayangin ya aku sebulan dapat 2.7 juta sebagai sales Genset di sebuah perusahaan daerah Cakung, Jakarta Timur.

Herannya aku ga pernah takut sampai akhir bulan. Berhasil bertahan hingga akhir bulan dengan apapun caranya. Setiap tanggal 15 uangku sudah habis, wkwkwkw. Ga ada tuh kepikiran buat pinjol atau minjem temen. Bahkan aku sudah ngga minta orang tua untuk kebutuhan bulananku. Salut.

Ga pernah mudah menjadi sales di kota besar seperti Jakarta. Apalagi anak perantau yang ingin tidak bergantung dengan orang tuanya. Kuhadapi bersama sekelompok kawan (Tuhan memang baik) yang tinggal tidak jauh dari Cakung. Dari mereka, aku akhirnya bertahan sampai akhir bulan.

Semoga sukses selalu ya kalian. Thankyu buat periode itu. Diriku bisa bertahan dikerasnya kota Jakarta, keamanan diri dipertaruhkan, dan persaingan sengit dimana-mana. Hingga kemudian masuk ke chapter Nusa Tenggara Timur.

Takut Lokasi Penempatan & Pelanggan

Chapter Nusa Tenggara Timur dimulai. Dan saat aku menulis ini aku sudah tinggal dan berpindah hampir menuju 11 tahun. Awal periode penempatan, kudapati diriku menangis kencang sebelum penempatan diumumkan. Kudapati diriku menggati nomer handphone dengan kartu Halo (karna takut gada sinyal). Segitu takutnya jauh dari rumah. Eh, malah sekarang ga pernah pulang kerumah.

Kalau kubayangkan diriku dulu, berjumpa banyak teman baru, berusaha beradaptasi dengan baik dan benar dengan pekerjaan, dan berupaya memasuki dunia perkantoran sesungguhnya. Karena 11 bulan di kota Jakarta ternyata menjadi modal awal pengalaman untuk menjalani masa 11 tahun selanjutnya di NTT. Dimulai dengan Kota Kupang dan apakah akan diakhiri dengan Kota Labuan Bajo?

Aku ingat selain penempatan, yang kutakutkan selanjutnya adalah saat ditanyain pelanggan Pol PP tentang rumahku dimana (waktu itu dia marah karna layanan kami dan sempat mengancamku). Apa yang kutakutkan? Sudah merantau, diancam orang, dan nangislah kemudian. Wkwkwk.

Kuhabiskan masa awalku dengan bekerja dan berteman dengan geng ”Generasi Why” hingga satu per satu melanjutkan chapternya masing-masing. Sehat selalu semua, semoga yang kalian inginkan bisa terjadi. Dimulai dengan bertahan hingga titik start dimulai untuk mulai berkeliling.

Takut Berpindah Setiap Tahun

Sejak awal aku agak lama bekerja di Kota Kupang dan Kota Ba’a, Rote. Hampir lebih dari 2.5 tahun lamanya barulah aku bergerak. Ngebatin, kok lama banget ya pindahnya. Eh, didengarlah oleh Tuhan kemudian dijadikan oleh Tuhan. Sejak tahun 2021, aku terus berpindah. Hanya melewatkan tahun 2024 dengan cobaan begitu berat. Dan kini tahun 2026, sedang dinantikan apakah akan menjadi tahun berpindah lagi atau bisa beristirahat sejenak.

Syukurlah Tuhan memberikan sebuah periode bersama dengan seseorang dengan kota dan tanggung jawab dalam bentuk jabatan. Setiap jalan kadang kuhadapi dengan hidup didalamnya. Tapi, tak dipungkiri terkadang kuhadapi dengan mode auto-pilot. Berjalan namun tidak berada didalamnya. Hidup bergerak dengan mencapai target, semester 1, dan begitu hingga memulai tahun selanjutnya.

Disinilah awal mula kopi menjadi harian dan penunjang kehidupan agar tidak diseret kakinya. Agar bisa berjalan hidupnya. Agar bisa membersamai (walaupun kayanya engga wkwkkw) bersama timku. Kudapati diriku kemudian berpikir bagaimana hidup nomaden dengan barang disekitar. Selalu berpindah dengan packing dan unpacking di suatu tempat.

Hidupku tidak menetap seperti kebanyakan pria dan wanita yang sudah kembali ke daerah asal. Belum dapat momen dimana hidup menetap dan menjajaki kebiasaan yang sama. Justru kebiasaan baru akan terbentuk menyesuaikan dengan lokasi tinggalmu saat ini. Entah kebiasaan kopimu, kebiasaan olahragamu, atau kebiasaan tempat nongkimu. Dan semua berubah. Kadang bersama kawan, tak jarang harus sendirian.

Takut 10 Tahun Kemudian

Belakangan aku lumayan konsen dengan 10 tahun pertama yang sudah kujalani. Apakah aku menjalani hidup yang benar? Atau kesalahan apa yang perlu kusesali? Adakah pelajaran hidup yang perlu disesuaikan? Apakah ini ataukah itu?

Sepuluh tahun kudapati diriku masih berpindah kesana dan kemari. Untung masih sendiri, kalau sudah memiliki anak dan suami mungkin aku akan gila karna meninggalkan mereka. Atau apakah aku sanggup? Kulihat kembali kawan-kawan lamaku yang sudah melanjutkan hidupnya dengan kisah indah serta perjuangan masing-masing.

Sepuluh tahun perjalanan hidup yang kudapati dengan pekerjaan, penghasilan, hobby, dan pengeluaran, atau situasi di sekitarku. Apakah masih relevan dengan sepuluh tahun kemudian yang akan datang? Akhirnya aku mulai mempertanyakan tentang pengeluaranku, kesehatanku, dan semua yang terjadi padaku.

Single, no child, and 30++ years old. Apa yang harus kuputuskan hari ini dan masa ini agar tidak terlalu kusesali di masa depan. Aku suka dengan cerita bepergianku. Aku menyesali ketidakberhasilan hubunganku. Aku menghargai tanggung jawab yang kudapat. Dan aku berupaya bisa memberikan sesuatu yang berharga untuk orang disekitarku (walau tidak banyak).

The Last but Not Least

Sama seperti podcast keuangan yang kudengarkan beberapa kali. Setiap keputusan keuangan investasi yang dibuat, ada yang memberikan keuntungan dan ada yang tidak. Bahkan seorang ahli keuangan sekalipun dalam merasakan efek dampak Covid atau perang, tidak semua merasakan keuntungan. Lalu, apalah seorang manusia dengan keahlian yang berbeda-beda?

Datang dari seorang ahli saja bisa memunculkan ketakutan pribadi. Lalu, apa yang kamu takutkan dengan banyak ketidakpastian dimuka bumi ini?

Tapi dengan banyaknya perjalanan yang kudapati. Aku sudah melihat sekitar dengan timeline kesuksesan versi mereka. Aku juga melihat kesuksesan versi orang yang bepergian. Tidak semua memutuskan satu garis yang sama. Kuputuskan untuk kembali kedalam diri. Apa yang sebenarnya kusukai dan akan menjadi pilihanku saat ini serta tidak terlalu kusesali dimasa depan?

Sesederhana: Kenapa kamu tidak membeli mobil? Kenapa kamu jarang pulang? Kenapa kamu tidak menikah? Ada sebuah pola kehidupan yang sedang kujalani dimana akhirnya aku memaknai hidupku dengan nuansa, kepemilikan, dan memilih bersama siapa.

Kadang, ada yang memaknai sendiri sebagai ketakutan yang banyak. Kemudian, kudapati tidak sedikit orang memiliki ego sendiri tanpa melukai orang lain. Selalu memilih dirinya yang utama sebelum yang lain. Bukan dalam maksud untuk egois, namun ia menjaga kedamaiannya. Berupaya tidak melukai dirinya, hanya untuk menyenangkan orang lain. Takut terhadap masa depan, boleh. Tapi jangan terlalu. Tidak takut terhadap masa depan, juga perlu dikurangi. Karna kita juga masih perlu bertanggung jawab demi diri sendiri.

So, just let it go. Segala yang sudah tidak relevan. So, just fix it. Semua yang sudah rusak dan masih bisa berpengaruh padamu. And, make it consistent. Untuk segala hal yang sudah kamu ketahui akan kamu sukai dan memberimu kehidupan baik di masa depan berdasarkan pemikiranmu hari ini atau di masa lalu.

Setiap masa ada chapternya. Setiap pribadi punya pilihan dan ketakutannya masing-masing. Thankyu for enjoying my writing.

Asri Vitaloka.

No comments:

Post a Comment