Emang paling bahaya banget punya meja di kosan. Meja profer yang kamu bisa duduk sambil lihat ikan cupang dengan cahaya kamar yang sudah sedikit redup (karna sudah jam tidur harusnya). Jam jam takut dimana semua isi pikiran yang tersimpan sementara kemudian keluar. Kadang happy, kebanyakan bikin mellow.
Hingga akhirnya kuputuskan untuk bertanya pada
diri sendiri, ”Apa yang sebenarnya perlu ditakutkan didalam dirimu?. Setiap
pribadi akan berbeda, menyesuaikan trauma diri. Menyesuaikan kondisi saat ini,
dari hasil pilihan di masa lalu. Menyesuaikan dari siapa keluarga, kawan,
pasangannya. Bahkan menyesuaikan dari kondisinya saat ini. Maka, berikan
kesempatan aku untuk bercerita.
Takut Naik Kelas
Ini beneran bukan
karna naik level efek ditantang semesta atau akhirnya kamu naik level karna
sudah dewasa ya. Tapi beneran takut naik kelas. Di rentang usia sekolah dulu,
saat 7-19 tahun yang kutakutkan hanya apa bisa nanti di kelas selanjutnya? Masa
SD sudah berpikir tentang SMP, saat SMP mikir SMA. Kemudian SMA aku sudah
memikirkan kuliah.
Dan taraammm.. sebagian
dari kita secara normal bisa melewatinya. Bahkan kini aku sudah menyelesaikan masa
kuliah keduaku secara tepat waktu. Agak mendidih ya melihat perjuangan tidak
terlihat dan sampai dimana kita sudah berpijak.
Masa sekolah aku beruntung tidak berpikir mengenai
biaya. Hanya menyelesaikan dengan baik dan benar apapun yang sudah ditujukan,
direncanakan kedua orang tua. Bahkan kesempatan untuk memilih sekolah versi
keinginan sendiripun tak ada. Jalan itu sudah dibuatkan, tinggal keputusanku
untuk membuatnya terlewati tanpa berbalik arah atau keluar dari jalur.
Disinilah aku, dengan bermodal doa dan sertifikat lulus.
Jaman itu, aku bahkan tidak tertarik mendalami spesifik dunia teknik. Aku sudah
berpikir, ”Aku hanya membutuhkan ijazahku”. Disitulah periode momen Jakarta
dimulai.
Takut Tidak Makan sd Akhir Bulan
Serem banget. Tinggal
di pinggiran Jakarta dan selalu didukung keuangan dari kedua orang tua.
Ternyata periode itu bergerak menuju keuangan yang sama, namun dari hasil gajiku
sendiri. Bayangin ya aku sebulan dapat 2.7 juta sebagai sales Genset di sebuah
perusahaan daerah Cakung, Jakarta Timur.
Herannya aku ga
pernah takut sampai akhir bulan. Berhasil bertahan hingga akhir bulan dengan apapun
caranya. Setiap tanggal 15 uangku sudah habis, wkwkwkw. Ga ada tuh kepikiran
buat pinjol atau minjem temen. Bahkan aku sudah ngga minta orang tua untuk
kebutuhan bulananku. Salut.
Ga pernah mudah menjadi sales di kota besar seperti
Jakarta. Apalagi anak perantau yang ingin tidak bergantung dengan orang tuanya.
Kuhadapi bersama sekelompok kawan (Tuhan memang baik) yang tinggal tidak jauh
dari Cakung. Dari mereka, aku akhirnya bertahan sampai akhir bulan.
Semoga sukses selalu ya kalian. Thankyu
buat periode itu. Diriku bisa
bertahan dikerasnya kota Jakarta, keamanan diri dipertaruhkan, dan persaingan
sengit dimana-mana. Hingga kemudian masuk ke chapter Nusa Tenggara Timur.
Takut Lokasi Penempatan & Pelanggan
Chapter Nusa Tenggara Timur dimulai. Dan saat aku
menulis ini aku sudah tinggal dan berpindah hampir menuju 11 tahun. Awal periode
penempatan, kudapati diriku menangis kencang sebelum penempatan diumumkan. Kudapati
diriku menggati nomer handphone dengan kartu Halo (karna takut gada
sinyal). Segitu takutnya jauh dari rumah. Eh, malah sekarang ga pernah pulang
kerumah.
Kalau kubayangkan
diriku dulu, berjumpa banyak teman baru, berusaha beradaptasi dengan baik dan
benar dengan pekerjaan, dan berupaya memasuki dunia perkantoran sesungguhnya. Karena
11 bulan di kota Jakarta ternyata menjadi modal awal pengalaman untuk menjalani
masa 11 tahun selanjutnya di NTT. Dimulai dengan Kota Kupang dan apakah akan
diakhiri dengan Kota Labuan Bajo?
Aku ingat selain penempatan, yang kutakutkan
selanjutnya adalah saat ditanyain pelanggan Pol PP tentang rumahku dimana
(waktu itu dia marah karna layanan kami dan sempat mengancamku). Apa yang kutakutkan?
Sudah merantau, diancam orang, dan nangislah kemudian. Wkwkwk.
Kuhabiskan masa awalku dengan bekerja dan berteman
dengan geng ”Generasi Why” hingga satu per satu melanjutkan chapternya
masing-masing. Sehat selalu semua, semoga yang kalian inginkan bisa terjadi.
Dimulai dengan bertahan hingga titik start dimulai untuk mulai berkeliling.
Takut Berpindah Setiap Tahun
Sejak awal aku
agak lama bekerja di Kota Kupang dan Kota Ba’a, Rote. Hampir lebih dari 2.5
tahun lamanya barulah aku bergerak. Ngebatin, kok lama banget ya pindahnya. Eh,
didengarlah oleh Tuhan kemudian dijadikan oleh Tuhan. Sejak tahun 2021, aku
terus berpindah. Hanya melewatkan tahun 2024 dengan cobaan begitu berat. Dan kini
tahun 2026, sedang dinantikan apakah akan menjadi tahun berpindah lagi atau
bisa beristirahat sejenak.
Syukurlah Tuhan
memberikan sebuah periode bersama dengan seseorang dengan kota dan tanggung
jawab dalam bentuk jabatan. Setiap jalan kadang kuhadapi dengan hidup
didalamnya. Tapi, tak dipungkiri terkadang kuhadapi dengan mode auto-pilot.
Berjalan namun tidak berada didalamnya. Hidup bergerak dengan mencapai target,
semester 1, dan begitu hingga memulai tahun selanjutnya.
Disinilah awal mula kopi menjadi harian dan
penunjang kehidupan agar tidak diseret kakinya. Agar bisa berjalan hidupnya. Agar
bisa membersamai (walaupun kayanya engga wkwkkw) bersama timku. Kudapati diriku
kemudian berpikir bagaimana hidup nomaden dengan barang disekitar. Selalu berpindah
dengan packing dan unpacking di suatu tempat.
Hidupku tidak menetap seperti kebanyakan pria dan
wanita yang sudah kembali ke daerah asal. Belum dapat momen dimana hidup
menetap dan menjajaki kebiasaan yang sama. Justru kebiasaan baru akan terbentuk
menyesuaikan dengan lokasi tinggalmu saat ini. Entah kebiasaan kopimu, kebiasaan
olahragamu, atau kebiasaan tempat nongkimu. Dan semua berubah. Kadang bersama
kawan, tak jarang harus sendirian.
Takut 10 Tahun Kemudian
Belakangan aku
lumayan konsen dengan 10 tahun pertama yang sudah kujalani. Apakah aku
menjalani hidup yang benar? Atau kesalahan apa yang perlu kusesali? Adakah
pelajaran hidup yang perlu disesuaikan? Apakah ini ataukah itu?
Sepuluh tahun
kudapati diriku masih berpindah kesana dan kemari. Untung masih sendiri, kalau
sudah memiliki anak dan suami mungkin aku akan gila karna meninggalkan mereka. Atau
apakah aku sanggup? Kulihat kembali kawan-kawan lamaku yang sudah melanjutkan
hidupnya dengan kisah indah serta perjuangan masing-masing.
Sepuluh tahun perjalanan hidup yang kudapati
dengan pekerjaan, penghasilan, hobby, dan pengeluaran, atau situasi di
sekitarku. Apakah masih relevan dengan sepuluh tahun kemudian yang akan datang?
Akhirnya aku mulai mempertanyakan tentang pengeluaranku, kesehatanku, dan semua
yang terjadi padaku.
Single, no child, and
30++ years old. Apa yang
harus kuputuskan hari ini dan masa ini agar tidak terlalu kusesali di masa
depan. Aku suka dengan cerita bepergianku. Aku menyesali ketidakberhasilan
hubunganku. Aku menghargai tanggung jawab yang kudapat. Dan aku berupaya bisa
memberikan sesuatu yang berharga untuk orang disekitarku (walau tidak banyak).
The
Last but Not Least
Sama seperti podcast
keuangan yang kudengarkan beberapa kali. Setiap keputusan keuangan investasi
yang dibuat, ada yang memberikan keuntungan dan ada yang tidak. Bahkan seorang
ahli keuangan sekalipun dalam merasakan efek dampak Covid atau perang, tidak
semua merasakan keuntungan. Lalu, apalah seorang manusia dengan keahlian
yang berbeda-beda?
Datang dari
seorang ahli saja bisa memunculkan ketakutan pribadi. Lalu, apa yang kamu
takutkan dengan banyak ketidakpastian dimuka bumi ini?
Tapi dengan
banyaknya perjalanan yang kudapati. Aku sudah melihat sekitar dengan timeline
kesuksesan versi mereka. Aku juga melihat kesuksesan versi orang yang
bepergian. Tidak semua memutuskan satu garis yang sama. Kuputuskan untuk
kembali kedalam diri. Apa yang sebenarnya kusukai dan akan menjadi pilihanku
saat ini serta tidak terlalu kusesali dimasa depan?
Sesederhana: Kenapa kamu tidak membeli mobil?
Kenapa kamu jarang pulang? Kenapa kamu tidak menikah? Ada sebuah pola kehidupan
yang sedang kujalani dimana akhirnya aku memaknai hidupku dengan nuansa,
kepemilikan, dan memilih bersama siapa.
Kadang, ada yang memaknai sendiri sebagai
ketakutan yang banyak. Kemudian, kudapati tidak sedikit orang memiliki ego
sendiri tanpa melukai orang lain. Selalu memilih dirinya yang utama sebelum
yang lain. Bukan dalam maksud untuk egois, namun ia menjaga kedamaiannya.
Berupaya tidak melukai dirinya, hanya untuk menyenangkan orang lain. Takut terhadap
masa depan, boleh. Tapi jangan terlalu. Tidak takut terhadap masa depan, juga
perlu dikurangi. Karna kita juga masih perlu bertanggung jawab demi diri
sendiri.
So, just let it go.
Segala yang sudah tidak relevan.
So, just fix it. Semua
yang sudah rusak dan masih bisa berpengaruh padamu. And, make it
consistent. Untuk segala hal yang sudah kamu ketahui akan kamu sukai dan memberimu
kehidupan baik di masa depan berdasarkan pemikiranmu hari ini atau di masa
lalu.
Setiap masa ada
chapternya. Setiap pribadi
punya pilihan dan ketakutannya masing-masing. Thankyu for enjoying my
writing.
Asri Vitaloka.
No comments:
Post a Comment