Monday, June 20, 2016

Teaching and traveling #6 Kupang

 1000 Guru Kupang di suatu tempat, Pantai Tak Bernama

Suatu hal yang baru dimana kegiatan traveling diikuti dengan kegiatan teaching. Siapakah komunitasnya? Seperti apa keseruannya? Apa motivasinya? Tidak kurang dan tidak lebih. Kami melakukan itu untuk suatu alasan, yaitu keinginan untuk berbagi. Berbagi untuk jiwa sendiri dan berbagi untuk anak-anak di Pulau Timor. 

Terjadilah dia, kegiatan “Teaching and Traveling #6” melibatkan tidak hanya orang asli Kupang, namun orang yang berdomisili di Nusa Tenggara Timur. Karena kami tidak hanya datang dan mencari rejeki. Ada makna lain yang ingin diberikan. Yaitu menjadi berguna dan memberikan sesuatu yang lebih bermakna bagi orang disekitar khususnya di bagian Pendidikan anak-anak Pulau Timor.
Sebuah komunitas bernama 1000 Guru menjadi sebuah komunitas yang memberikan fasilitas kepada anak-anak muda untuk memberikan perhatian lebih. Perhatian dan sarana sebagai tindakan langsung dalam memberikan pendidikan kepada anak-anak di Nusa Tenggara Timur. Tersebar di seluruh provinsi di Indonesia, salah satunya 1000 Guru Kupang. 

Kesempatan bagus mengantarkan aku dapat mengikuti kegiatan TnT #6 di Desa Sumlili, Kupang. Perjalanan 2 jam dari kota Kupang kami habiskan untuk sampai di SDN Batu Esa. Jangan harap perjalanan mulus yang dilalui. Kupang terkenal dengan jalanan yang masih bebatuan dan penuh dengan kapur. Itulah yang harus kami jalani hingga sampai kesana.

Pesta Penyambutan itu Sudah Keharusan

Siswa Siswi SD Batu Esa menari menyambut kami, tim 1000 Guru Kupang

Sesampai disana truk kami langsung mengambil posisi di pojokan halaman sekolah. Terlihat beberapa siswa siswi sudah memposisikan diri untuk menyambut kami yang baru sampai. Dengan sebuah tarian yang diiringi lagu daerah Sumlili, satu per satu kami mendapatkan sebuah kalung dari kain selendang dengan motif khas daerah tersebut. Terimakasih adik-adik, aku mendapatkan selendang merah.

Tidak Hanya Penyambutan, kami juga Diajak Berdansa

Orang NTT sangat suka menari. Mereka berdansa dengan musik kencang dan bersenda gurau dengan sesama. Begitu dekat satu sama lain. Siswa siswi SD Batu Esa akan bergandengan tangan. Mereka dari awal telah mengunakan pakaian adat, dan tak kalah menarik bagi para siswa menggunakan sebuah topi khas NTT. Membentuk sebuah lingkaran dan mereka mengajak para tamu untuk menari bersama. Gerakan kaki kanan kiri, maju mundur, dan kembali berjalan kekanan. Gerakan terus berulang hingga dinyatakan berhenti. Suasana awal seakan mencair dalam satu gerakan tarian bersama. Tidak hanya para siswa, namun orang tua murid juga ikut meramaikan kegiatan menari tersebut.

Situasi Kelas memberi Kesan Berbeda
  
Kegiatan penyambutan usai. Kami masuk untuk menuju kelas masing-masing. Pada awal sampai di Desa Batu Esa, aku melihat dua buah bangunan dengan papan tulis. Bangunan tidak terbuat dari semen selayaknya bangunan di kota besar. Hanya berdiri menggunakan batang bambu dengan ditutupi daun-daun yang biasa digunakan untuk membangun rumah di NTT. Sempat aku mengira itu adalah ruangan gudang. Ternyata itu kelas!

Yak! Kegiatan Mengajar dimulai..

Sebenarnya aku agak takut dengan kegiatan yang satu ini. Bukan karena tempatnya, bukan karena pak gurunya. Tapi ini masalah mengajar anak orang. Satu masalah aku dari dulu adalah susah dalam mengajar orang. 

Kebetulan aku bersama satu tim, yaitu kak Danang dan Kak Beti. Mereka tim yang luar biasa. Begitu mempersiapkan semuanya. Materi yang akan dibawakan adalah seputar sejarah Pancasila, makna dan lambing, juga pengamalan Pancasila. Awalnya sedikit canggung untuk mengajar. Untungnya mereka mudah diajak bekerja sama dengan orang seperti aku ya. Mereka belajar dengan situasi kelas yang seadanya namun tidak mengurangi esensi untuk dapat belajar. Sungguh luar biasa…

Untuk mempermudah proses pemahaman terhadap materi kami menggunakan beberapa alat bantu. Seperti gambar, stiker lambang Pancasila, bahkan menggunakan sejenis kuis untuk membantu mereka semakin cepat mengingat. Semua berjalan lancar, hingga proses belajar kami diselesaikan dengan pohon impian.

Mari tempel Mimpi kalian di Pohon Impian

Dokter muda kami di Tnt #6

Tidak hanya belajar. Komunitas 1000 Guru Kupang memberikan satu aktifitas lain. Anak-anak Desa Sumlili memiliki pengetahuan yang kurang mengenai dunia luar. Sebagian besar anak memiliki cita-cita sebagai polisi, dokter, guru, bahkan pendeta. Dengan ini, kami memberikan lebih banyak lagi pengetahuan lain. Bahwa dunia tidak hanya sebatas desa mereka. Tidak hanya sebatas menjadi polisi, dokter atau guru saja. Bahwa dunia jauh lebih luas, dan mereka memiliki kesempatan untuk menjadi apapun. Siapa pun. Selama mereka menginginkannya!

Siswa siswi SD Batu Esa menuliskan mimpi besar yang dicita-citakan dalam secarik kertas. Dalam sebuah doa penuh makna, mereka meminta agar dimudahkan dalam mewujudkan semuanya kepada Tuhan. Akhir dari pertemuan saat itu, kami bersama-sama menempelkan secarik kertas berisi mimpi masing-masing pada sebuah pohon impian yang sudah disiapkan oleh tim. Dalam hati mereka pun telah ditanamkan. Untuk menjadi sesuatu, kalian harus berusaha dan semua kesuksesan membutuhkan perjuangan sedemikian rupa.

Kami datang dan mengunjungi kalian wahai adik-adik. Waktu pertemuan singkat mungkin hanya bisa menorehkan sedikit sekali bekas di hati dan benak kalian. Namun besar harapan kami, agar kalian bisa mendapatkan pengalaman lebih dan mampu berimajinasi untuk mengembangkan pola pikir. Bahwa dunia ini luas. Dengan segala keterbatasan, siapapun mampu untuk menjadi orang terhebat di dunia sekalipun. Jadi, jangan menyerah dan selalu berjuang!

 Asri Vitaloka

Calon Penulis

Terimakasih sudah membaca “Teaching and Traveling #6”. Masih banyak lagi pengalaman seru yang aku temukan di NTT. Mau tau perjalanan aku ke Flores bersama tim jalan2terus? Silahkan lihat instagramnya di @jalan2terus. Ternyata laut juga bisa berbicara!

No comments:

Post a Comment