Monday, July 27, 2015

No, Aku Hindu 100%


Perjalanan karir seseorang terkadang mengharuskannya untuk berpindah dan menetap di tempat baru dalam waktu yang lama. Adaptasi selalu diperlukan jika ia ingin cepat terlibat dengan lingkungan sekitarnya. Ini pula yang dialami oleh sebagian besar perantau yang sedang mengejar karir. Apakah anda salah satunya?

Aku adalah seorang penganut Hindu. Dengan pengalaman berpindah tempat ke beberapa daerah yang menjadikan diri kaum minoritas, namun disitulah terkadang seseorang dikenalkan yang namanya toleransi. Toleransi beragama dilakukan dengan mengerti atau memahami orang lain yang berbeda dengan diri dan juga tetap saling menghargai. Terimakasih teman-teman.

Ada beberapa cerita yang sedikit menggelitik dalam beberapa minggu ini. Aku penganut Hindu 99,99% atau dibulatkan menjadi 100% namun pernah menggunakan jilbab dan pernah masuk ke dalam gereja. Itu dilakukan tanpa ada paksaan dari siapapun dan keinginan dari diri sendiri. 

Pengalaman baru aku dapatkan saat mengunjungi daerah Pasir Pangarayan kemarin hari. Perjalanan dari Pekanbaru-Pasir ditempuh selama kurang lebih 6 jam bolak-balik. Berangkat pukul 9 pagi dan tiba disana pada 12 siang. Perjalanan kami tempuh selama itu untuk mengunjungi rumah bapak Ami di Pasir. Selesai melakukan halal bihalal dengan menyantap banyak sekali makanan bersantan, kue bolu, durian, dan minuman bersoda, akhirnya satu tim anggota kantor Pekan baru kembali pulang.

 

Gambar foto pribadi di Masjid Islamic Center Pasir Pangarayan

Sebelum balik, waktu sudah menunjukkan untuk waktu sholat ashar. Akhirnya kami mengunjungi sebuah mesjid besar di daerah Pasir Pangarayan. Depan masjid terdapat sebuah tangga besar menuju ke atas dan dijaga seorang satpam berkumis tebal. Ternyata ada sebuah larangan masuk untuk wanita yang tidak menutup kepalanya. Dan aku salah satu dari beberapa orang yang tidak menggunakan penutup kepala. 

Aku memang tidak ikutan bersembahyang, hanya saja terdapat keinginan untuk masuk dan melihat besarnya bangunan tersebut. Untungnya aku membawa sebuah penutup kepala yang pernah diberikan, biasa disebut dengan jilbab. Dan aku menggunakannya walaupun masih terlihat rambut dibagian depan. Oiya, mungkin sudah pada tahu kan? Jika anda menggunakan jilbab maka rambut tidak boleh terlihat sedikitpun. Dan disitu pertama kali aku mendapatkan pengalaman baru menggunakan penutup kepala.

Pengalaman sebelumnya baru aku dapatkan saat menemani beberapa kawan ke gereja di Pekanbaru. Ini pengalaman pertama juga untuk aku masuk ke gereja. Dengan tanda salib ditengah ruangan dan beberapa orang menggunakan sejenis jubah hitam didalam ruangan. Kata teman aku, saat itu aku sedang beruntung karena dapat menonton sejumlah penampilan musik dari North Sumatra Brass. Yaitu kumpulan pemain musik dari anak-anak kuliah dari Jogjayakarta. Aku mengikuti dari awal mula kegiatan hingga ditutup oleh penampilan musik nuansa sangat Jazz dari NBS. Kegiatan persembahyangan terkesan khusyuk dan romantis dengan alunan-alunan musik yang diperdengarkan.

Dua kegiatan berbeda namun tetap satu tujuan, yaitu untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa. Keinginanku untuk merasakan banyak nuansa berbeda dalam pemujaan Tuhan bukan dengan maksud mengejek salah satu kepercayaan. Aku tetaplah seorang Hindu mulai dari lahir hingga detik ini dan kuhargai apapun bentuk kepercayaan orang lain karena seperti itulah Hindu mengajarkan. Selalu fleksibel dengan segala tempat dan keadaan namun tetap mengajarkan kedamaian serta kebahagiaan baik diri sendiri maupun dengan lingkungan sekitar. Walaupun berada dimanapun tidak mengubah keyakinan seseorang dengan mudah. Menjadi minoritas tentu tidak mudah. Namun, akan sangat luar biasa jika anda begitu yakin dengan kepercayaanmu dan tetap merasakan ketenangan didalamnya bahkan ditengah minoritasnya diri anda.

Gejolak diri akan terjadi jika anda merasa kurang mantap dengan kepercayaan yang sedang dianut dan berada dalam lingkungan minoritas. Tapi, jangan sekali-kali menjadikan itu sebuah masalah. Seorang kawan yang kukenal belum lama ini (Rahayu) menceritakan sebuah kisah dimana ia harus menggunakan penutup kepala dari SD hingga SMA padahal ia seorang Hindu dikarenakan terdapat peraturan daerah yang mengharuskan seperti itu. Ia tidak mempermasalahkannya bahkan tetap setia menggunakannya saat sedang berada di sekolah. Dan mengejutkannya ia tetap Hindu hingga saat ini. Hingga saat ia menceritakan kembali kisah tersebut kepadaku. Dan aku salut dengannya.

Tempat anda berada bukanlah sebuah alasan untuk menjadikan anda ragu dengan keyakinan yang sedang dianut. Aku boleh berada dimanapun dan melihat kegiatan agama apapun, tapi “No, Aku Hindu 100%”, sahutku dalam hati dan semoga tidak goyah. Mungkin pengetahuan tentang agamaku boleh sedikit, berbagai pertanyaan seputar Hindu terkadang kujawab dengan ragu-ragu, tetapi satu hal yang aku yakin adalah aku seorang Hindu hingga detik ini. Dan satu hal lagi yang dapat kuyakini adalah sesungguhnya begitu luar biasa jika terdapat toleransi begitu besar antara penganut agama.

Itulah beberapa pengalaman menarik yang kualami. Perjalanan karir terkadang mengharuskan seseorang untuk berpindah tempat dan akan susah jika tidak terbiasa dengan suasana tersebut. Ada beberapa tips dan trik jika itu terjadi pada anda :

  1. Sibukkan diri anda dengan kegiatan berkualitas, seperti melakukan hobi dan passion anda
  2. Ikuti kegiatan di tempat ibadah
  3. Cari kenalan sebanyak-banyaknya saat berada di tempat ibadah, maka anda tidak akan merasa sendiri.

Tulisan ini dibuat bukan untuk mengomentari suatu agama tertentu. Ini hanyalah sebuah tulisan yang menggambarkan pengalaman pribadi saat merasakan pengalaman baru di tempat yang berbeda. Dan mungkin terjadi juga pada beberapa pembaca di luar sana. Maka bisa kukatakan, indahnya rasa saling menghargai. Walaupun terdapat perbedaan, ternyata semuanya begitu sama. Sama-sama mengajarkan kebahagiaan, kebaikan, dan intinya melakukan pemujaan kepada Tuhan. Dan jangan lupa Tuhan tetap satu, walaupun beragam cara untuk memuja, menyembah, atau mengucap syukur kepadaNya. (AV)

No comments:

Post a Comment