Friday, March 6, 2026

5 Kota Memanggil

 

Konon katanya kalau kamu merasa sesuatu kepada sebuah kota, bisa saja sudah ada kisah yang disiapkan akan dijalankan olehmu dikemudian hari. Terbersit kemudian aku merasa beberapa kota yang lumayan memanggil. Entah karna aku pernah tinggal atau akan tinggal disana. Lima kota kucoba mencari tau dari kota paling memanggil versi hidup aku di tahun 2026.

Setiap kota memiliki rasa dan makna tertentu. Mungkin bisa dijadikan sebuah refleksi apakah anda atau saya memiliki kota indah yang akan memanggil dikemudian hari. Apakah kota tersebut anda dapatkan dari celetukan teman, tak sengaja jatuh cinta dari sebuah film, atau hanya tertarik saja gitu.

#1 Kupang: Indah dengan Keberagaman

Kota Kupang, kota kasih. Sebenarnya kota ini lumayan ada keterikatan emosi antara aku dan bapak. Beliau kudengar pernah mendapatkan kesempatan untuk bisa pindah dan dinas di Kota Kupang, namun tidak pernah sampai. Entah karena belum rejeki, dan beliau tidak ingin pindah jauh dari keluarganya. Hingga, akhirnya kupikir anaknya menggantikan beliau. Ya, anaknya yaitu aku.

Pergi menjajaki dunia kerja sejak tahun 2014 di Jakarta. Tidak begitu lama. Begitu tiba tahun 2015, seorang Asri Vitaloka harus pindah dan menetap di Kota Kupang hingga saat ini. Sudah 10 tahun lebih lamanya. Kaget dengan orang-orang, lokasi, dan segala budaya. Namun, disinilah aku masih sangat mencintai NTT ditengah gempuran sekitar yang ingin kembali pulang ke rumah masing-masing.

Kupang bagiku: Sebuah kota cantik dengan toleransi tinggi. Untuk pertamakalinya kudapati kota dengan warung babi dimana-mana dan tidak menjadi sangat minoritas karena mayoritas disini adalah Kristen atau Katolik. Sebagai kota pertama, hidup sendiri sebagai Asri Vitaloka dan berdiri di kaki sendiri. Mencoba mencari tau, apa yang terjadi kemudian. Kota pertama berdiri mandiri dan mengusahakan apapun yang diinginkan. Adakah kota seperti itu bagimu?


#2 Rote: Tidak Tersentuh hingga Jatuh Cinta

Pulau Rote, dengan pelabuhan kota Ba’a. Selalu sulit menjelaskan sedang tinggal dimana ditengah banyaknya orang yang tidak mengenal pulau tersebut. Hingga sebuah kalimat paling ampuh dan lumayan menjelaskan, ”Pulau paling selatan Indonesia”. Dan selesai, orang didepanmu akan menjawab,”Haaa, oke tau”.

Sebagian perjalanan karirku dalam 10 tahun di Nusa Tenggara Timur dihabiskan di pulau tersebut. Menikmati perjalanan karir dengan menerapkan slow living namun dengan pikiran liar yang selalu bertanya,”Sampai kapan disini?”. Aku bahkan pernah membayangkan akan menghabiskan usia 30-an ku disana. Sebuah pulau tanpa ada hiruk pikuk berlebih. Bahkan menjadi pulau sepi tanpa kendaraan saat bensin lagi langka.

Rote bagiku: Sebuah pulau yang memberikan aku harapan, pelajaran, dan sebuah rasa kasih serta cinta. Aku menjadi seorang yang berbeda disana. Rote menjadi teman personal brandingku dalam perjalanan karirku. Aku mendapatkan supervisor dan manjerial pertama di pulau tersebut. Bahkan sempat kujalani kasih cinta dalam jangka waktu hampir 4 tahun saat bertugas disana (tumben). Thankyu Rote, seorang Asri belajar menjalani slow living dengan indah beragam rasa dendam, cinta, dan kasih dari keluarga besar baru disana.

#3 Sumba: Perasaan Akan Menetap 

Sumba sebagai sebuah kota pertama yang kutebak saat berada di Rote. Aku ingat aku sedang bersama teman di sebuah kafe 777, Baa. Dan kuselentingkan bahwa kemungkinan setelah ini akan ke Sumba Timur. Beberapa bulan kemudian terjadi.

Sumba menjadi sebuah pulau dengan kenangan indah, akrab, dan juga memberi kesan yang tidak akan terlupa. Kasih dengan pasangan, akrab sementara dengan beberapa teman, dan menjalin indahnya hubungan pekerjaan antara teman sekantor. Banyak perjuangan dan tidak mudah. Namun akan ringan jika tidak dijadikan beban.

Thankyu team. Tidak mudah perjalanannya. Dijauhkan dengan teman, dijauhkan dengan kekasih, dan diuji oleh malapetaka bencana yang tidak terelakkan. Kejadian Covid-19, Seroja, dan peristiwa meninggal dunia seseorang tak hanya memberi kesan mendalam dalam sebuah keinginan untuk menyerah, bertahan, dan keinginan untuk harus menguatkan sekitar padahal sendirinya juga rapuh.


#4 Labuan Bajo: Candu hingga Berulang Kembali

Kalimat pertama yang terlintas adalah sailing trip Labuan Bajo. Sejak kuliah, aku sudah mendengar tentang Labuan Bajo. Belum juga tiba karena untuk bisa kesana butuh biaya yang lumayan besar. Bahkan sekarangpun bisa dikatakan sebagai trip premium ya.

Begitu tiba di Kupang tahun 2015 dan kuputuskan untuk menjajaki Labuan Bajo segera dalam waktu sesingkat-singkatnya. Hingga 2016 tiba, akupun sampai disana. Datang, berlibur, dan merasakan sailing trip yang sangat diidamkan sejak lama. Tidak pernah aku mengetahui kota Labuan Bajo, hanya lautnya saja. Hingga kemudian aku memutuskan untuk datang kembali bahkan sebelum aku menuntaskan trip pertamaku disana.

Labuan Bajo bagiku: Sebagai pencinta laut dengan sailing dan snorkling, aku sadar bahwa semua karena Labuan Bajo. Sulit menolak cantiknya bawah laut Bajo. Kudapati diriku beberapa kali sailing kembali sejak trip pertamaku. Bersama teman, bersama kekasih, bahkan orang asing. Hingga kemudian semesta memutuskan aku untuk tinggal disini. Saat ini. Sejak 2025.

#5 Jakarta: Penuh Pengharapan dan Titik Balik.

Sebelas Bulan di Kota Jakarta. Singkat, padat, dan menjadi titik balik perjalanan karir Asri Vitaloka. Dimana Jakarta menjadi tempat aku ditolak sebuah perusahaan BUMN lain, sebut saja Telkom. Padahal aku lulusan dari Universitas Telkom. Belum berjodoh. Masih terngiang beberapa kali, saat aku harus berkeliling kompleks United Tractors sambil menangis akibat ditolak perusahaan tersebut. Haha.

Namun, di Jakarta aku tidak sendirian. Bahkan aku mendapatkan Bapak Asuh bagi muda-mudi Jakarta saat aktif dengan kegiatan Pura Rawamangun. Tidak pernah aku melupakan saran beliau. ”Pergilah bersembahyang di sudut pura disana (Pura Rawamangun) dan mintalah yang terbaik agar diberikan jalan yang mudah untuk mendapatkan pekerjaan”. Boom! Aku kembali ditolak Bea Cukai dan berhasil masuk di kantor BUMN saat ini. Terimakasih Tuhan.

Jakarta bagiku: Dengan kerasnya perjuangan tinggal di Jakarta, sebenarnya kota ini yang mengajarkan aku untuk berani pertama kali. Bahkan bukan Kupang atau Rote. Sebagai sales saat itu, berkeliaran dari Timur hingga Barat Jakarta. Naik motor melawan tingginya ban truk yang melintas di perbatasan Bekasi. Ah, seru banget.

Setiap tahun, ada saja kesempatan untuk bisa tiba kesana. Kembali datang ke Pura Rawamangun. Sweet.


(Tambahan Kota) Scotlandia: Terasa Tidak Asing.

Setelah asyik menimbang, mengingat, dan meresapi indahnya kota-kota di Indonesia yang berarti bagi hidup aku. Akhirnya kudapati diriku jatuh cinta pada kota lainnya. Bukan Paris, bukan Hanoi, atau mungkin Bangkok. Tapi, Scotlandia.

Apa karena para pria dari sana rupawan? Haha, bisa saja. Tapi, ada sebuah perasaan unik saat melihat rok motif kotak-kotak dengan nuansa merah yang terkenal digunakan oleh para pria. Tidak sedikit film-film Barat yang mengenalkan aku pada kota tersebut. Hingga jatuh cinta tidak pada pria, tapi pada sebuah kota. Semoga ada masanya, ada panggilannya, dan bisa tiba disana kemudian hari.

Scotlandia bagiku: Belum pernah sedekat itu dari sisi jarak. Terasa tidak begitu asing bahkan saat melihatnya dalam film-film. Bahkan aku merasa senang saat film Bridgerton menayangkan tarian khas Scotlandia didalamnya. Suka, tenang, dan menarik hati.

OK, Thankyu.

Kota tidak sembarang kota. Dengan perasaan unik saat berada didalamnya, aku bahkan merasa ada kota yang menerimaku dan ada yang hanya mengijinkan untuk melihat-lihat. Satu dua kota begitu berarti karena dibarengi dengan pengalaman dan pelajaran hidup. Satu dua kota menjadi berarti karena membuat aku mengenal beberapa orang yang sempat menemani hidupku dalam beberapa periode.

Lalu, bagaimana dengan kota versimu? Adakah kota yang memberikan perasaan ingin pulang, ingin mengulang, atau bahkan memberikan perasaan tenang karena kamu suka dengan kota tersebut. Atau adakah kota yang bahkan tidak kamu sukai? Yah, semua tentunya ada warna dan warni saat berada didalamnya. Saat menginjakkan kaki. Saat datang dan kemudian berpamitan.

Ada kota yang membuatnya berarti dikarenakan people didalamnya. Ada karena nuansanya. Ada karena masa indahnya. Mungkin satu dua refleksi kota bisa membuat kita tahu seperti apa kehidupan yang diinginkan. Hanya dari memori dan kenangan saat berada di sebuah kota.

Baru kemarin aku berjumpa dengan teman sekolahku. Satu ucapannya begitu membekas di hati. Ini saat terakhir kamu di NTT. Entah kenapa, ucapannya malah menyesakkan ya. Di satu sisi, aku juga merasa sudah akan habis waktunya. (Mungkin) Sudah saatnya menuju tempat baru dan peran baru.

Thankyu, Asri Vitaloka.

Wednesday, February 4, 2026

Menjalani Setengah Hidup (lagi)

 

Aku pernah menyapa mbak dan mas barista di salah satu coffe shop Labuan Bajo. Sering sih malah. Satu dua menit kurang momen ngobrol yang enteng dan tanpa ada tujuan tertentu di akhir pembicaraan. Seakan sudah lama aku tidak basa basi dan ingin membahas sesuatu yang lumayan dalam.

Satu pertanyaan bermula dari,”Apa hasrat terdalam yang ingin kau capai?”. Sebuah pertanyaan yang kudapati aku sampaikan kepada mba barista. Dengan penuh semangat dia mulai mengeluarkan segala jawaban yang kurasa membangkitkan gairah akan mimpi-mimpinya. Mimpi yang dengan semangat ingin diwujudkan dengan upaya kerja keras.

Hingga kemudian, kulanjutnya dengan pertanyaan lainnya.

Sebuah Intro.

Aku coba membuka sebuah situasi dan kondisi. Hampir sebelas tahun bekerja dan kudapatkan diriku sudah berjalan jauh entah berada dimana. Pikiranku berkeliaran setelah kembali melihat sebuah pinguin yang memutuskan mencari jalan lain dari gerombolan. Aku pun sulit untuk hidup bergerombolan. Belakangan itu menjadi hal yang semakin sulit.

Usia sudah tak muda, tapi juga tak tua. Teman semakin sibuk dalam memantaskan dirinya di lingkungannya. Sesuatu yang dikejar dengan sangat mulai tidak mengairahkan. Bahkan mulai membuat jengah. Ada beberapa situasi dan kondisi yang seharusnya menjauh, namun semesta seakan tak lelah mendekatkan sedikit sebelum dijauhkan kembali. Intinya, mari membuat sebuah pola baru untuk menghadapi hari demi hari.

Pergerakan dunia yang begitu cepat tak lagi membuat bahagia. Apakah gairah yang sering ada karena hal sederhana masih menciptakan spark di dalam jiwa? Atau kini kuhadapi dengan dunia orang dewasa yang flat dan berupaya mencari sesuatu untuk diperjuangkan. Sambil berjuang tidak merasa sepi di dunia yang sangat padat.


Ceritakan Hasratmu, Please.

Pantas saja dulu aku sempat berpikir. Sepertinya tidak begitu menyenangkan menjadi orang dewasa atau usia yang semakin matang. Setiap orang yang sedang berjuang dalam jalur trackingnya sendiri. Berupaya melihat jalur tetangga dan terkadang ingin menikung, mencoba, serta mengambil jalur tersebut. Tanpa paham bahwa tidak semua jalur sesuai dengan kebutuhanmu.

”Coba sebutkan apa sebenarnya hasratmu saat ini?”, tanyaku kepada salah seorang barista berusia kurang lebih 20an tahun. Dengan mata berbinar kemudian dia menyampaikan semua hal menyenangkan yang belum terwujud dan ingin dicapainya. Tanpa sadar aku membuat sebuah list tak kasat mata. Sebagian besar sudah kujalani dengan mantap di masa lalu. Kini, itu sudah tak lagi menggairahkan. Semua ada masanya dan semua masa ada batasnya.

Sangat kurindukan mata berbinar saat berbicara dengan seseorang. Berupaya menceritakan hal antusias dan menyebalkan yang terjadi di hari tersebut. Terkadang pernah kudapati diriku mengulang hal-hal yang membuat bosan lawan bicaraku. Bahkan satu diantaranya dengan gamblang mengatakan dirinya lelah mendengarkan (MDP). Lalu, apa hasrat terdalammu saat ini Asri Vitaloka?


Mata Berbinar = Bahagia?

Pertanyaanku kemudian bergerak dari hasrat menjadi hal bahagia. Aku pernah mendapatkan hawa rutinitas dan kemampuan untuk bertahan membuat para orang dewasa bergerak dengan kaku, tidak bahagia, serta marah-marah (kadang-kadang). Apakah aku sudah sampai disana?

Kulanjutkan pertanyaanku kepada mba barista,”Lalu apa itu bahagia?”. Kudapatkan beberapa jawaban seperti bahagia adalah saat kita sudah tidak perlu memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan kita. Namun, apa sebenarnya kebutuhan yang sangat diinginkan? Aku kembali berputar terhadap kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan yang sangat diinginkan jiwa.

Tak sulit kadang untuk mendapatkan satu hal yang terukur, seperti harta, keinginan menonton konser, dan sejenisnya. Yang sulit menurutku, disaat dirimu merasa cukup dan tidak tahu lagi menginginkan apa. Apakah ada rasa bahagia? Aku rasa tidak. Atau sebenarnya bukan apa yang dibutuhkan? Jangan sampai, rasa sepi karna sendirian? Tapi apakah bersama seseorang atau lebih bisa membuat dirimu cukup. Kurasa juga tidak.

Keinginan apa yang benar diinginkan.

Pernah ga sih merasa lelah dengan berupaya mendapatkan semua hal. Bahkan hingga saat ini aku merasa kewalahan jika memiliki satu barang besar yang harus dirawat secara terus-menerus. Bukan bermaksud menyalahkan orang-orang. Tapi, banyak orang yang kujumpai dengan aura merasakan keinginan untuk menjadi kaya dan memiliki segalanya.

Kemudian, muncul satu pertanyaan. Setelah hampir sebelas tahun bekerja dan hidup sendiri di kaki sendiri. Sesungguhnya keinginan apa yang benar-benar kuinginkan? Apakah memiliki keluarga, anak, melanjutkan sekolah, memiliki rumah, mobil, motor, atau apa? Entahlah.

Usia kebanyakan manusia mungkin rata-rata di 70-80 tahun. Itupun jika hidup sangat sehat dan tidak memiliki penyakit atau kejadian yang begitu luar biasa. Kini sedang kujalani usia 34 tahun. Aku baru setengah jalan. Lalu, setengah jalan lagi akan kujalani dengan cara apa?

Kudapati diriku bekerja dan berupaya mengusahakan gym dengan rutin. Kemudian kudapati diriku mulai bepergian baik sendiri maupun bersama teman. Lalu apa? Berupaya mendapatkan karir dan mengejar semuanya, kurasa agak melelahkan. Kemudian apa? Entahlah.

Menjalani Setengah Hidup (lagi).

Kuputuskan untuk kembali berdamai dengan diri sendiri. Berupaya tidak hanya mencari rasa ramai semu. Aku duduk sebentar di kafe dan berjalan tanpa arah di pusat keramaian. Berada di sekitar banyak kawanpun ternyata tidak membuat sesuatu terasa penuh.

Ingatanku kembali diantara sebelas tahun perjalananku saat sudah bekerja. Jika pilihan paling mudah kuinginkan untuk memilih mengulang perjalanan hidup yang mana? Sepertinya aku ingin mengulang kehidupanku di 2018-2022. Hidupku tidak ramai, namun aku merasa lengkap. Thankyu MDP.

Aku bukan wanita independen yang menginginkan semua hal ambisius. Kudapati diriku hanya bekerja cukup keras untuk bisa memperjuangkan satu-satunya hal stabil yang bisa kupegang, yaitu semangat bekerjaku. Sampai pada titik semesta seakan memberikan hadiah-hadiah kecil berupaya satu-dua pencapaian. Hingga aku tiba di langkahku pada hari ini.

Suatu saat chapter hidup bergerak. Kuinginkan untuk mengulang kembali periode tahun tertentu. Tapi, aku sadar. Setiap pribadi tak pernah sama, walaupun orangnya sama. Setiap perjalanan akan dirasakan berbeda walaupun lokasinya sama. Tapi hasil tempaan semesta sudah menghasilkan pribadi yang berbeda. Akupun sudah berubah. Anda juga berubah.

(Kembali) pada Topik Setengah Hidup Lagi.

Aku ingin sekali berjumpa dengan orang-orang luar biasa dengan pengalaman hidup beragam. Pengalaman hidup orang lain adalah sebuah cerita paling mudah untuk mendapatkan pelajaran tanpa harus menjalaninya. Jika sulit mungkin akan kudapati diriku mulai membuka youtube dan mencari hal yang disesali saat usia menyentuh usia yang matang.

Apakah ada yang akan kusesali? Apakah kaya menjadi hal yang harus kukejar? Apakah aku perlu mengupayakan untuk menciptakan sebuah keluarga? Apakah aku harus mengantungkan diriku kepada orang lain. Siapkah menghadapi rasa kecewa yang akan muncul kemudian. Ah, capek kali kurasa.

Satu hal yang kuingat. Seorang yang pernah kupercaya dengan sangat mengajarkanku untuk bisa menikmati saat ini. Duduk dan diam. Tidak melakukan apa-apa. Mencoba menikmati waktu berdua yang saat itu tidak kupahami maknanya. Seakan dia sudah memahami bahwa momen tersebut akan sulit untuk dipertahankan selamanya. Hingga akhirnya dia muak dan kami pun berpisah.

Sampai tulisan ini dibuat, seorang aku juga masih kesulitan mencari makna hidup yang mana untuk dikejar dan dijalani dalam setengah sisa hidup (yang kalau dikasi umur panjang). Akan kujalani hidup dengan berupaya tidak membuat orang lain kewalahan dengan diriku. (Kayanya sulit). Akan kupastikan diriku lumayan berguna bagi orang lain. (Jika masih ada kesempatannya).

(Out of Topic) Kembali Sering Bermimpi.

Ditengah pergulatan diri antara mencari makna hidup di antara usia 34 tahun yang sedang dijalani, aku kembali sering mendapatkan mimpi-mimpi aneh. Tak jarang orang terkasih yang pernah menemani hadir satu per satu. Konon katanya jika hadir dalam mimpi, ada sebuah proses pembersihan jiwa terjadi. Alam bawah sadar melakukan kegiatan sibuk dalam mencerna, menyembuhkan, dan menyadari rasa di masa lalu.

Aku pernah mendapatkan diriku sampai begitu takut tidur karena beragam mimpi aneh dan melelahkan. Hingga belakangan, ini terjadi lagi. Satu dua kali masuk bersama orang-orang yang pernah hadir. Kemudian muncul orang asing. Hingga mimpi acak yang tidak bisa dipahami secara gamblang. Konon katanya, alam bawah sadar berupaya memproses banyak hal agar tidak bertumpahan saking penuhnya.

Di segala rasa lelah secara fisik dan pikiran saat ini, ada alam bawah sadar yang juga lelah membersihkan dan mengupayakan banyak hal agar tetap stabil. Bahkan ditengah hari rutinitas sudah mengerogoti, paling tidak mimpi di malam hari cukup ramai untuk dipikirkan ketika bangun.

So, buat anda yang sedang mencari makna hidup. Aku juga. Justru ini hadir disaat sepi. Justru ini hadir disaat tidak ada yang menemani. Akan seperti apa dirimu dalam menjalani setengah hidupmu lagi? Akankah kita hanya mengulang yang pernah ada? Apakah lelah? Bisakah memilih hal lain yang lebih sejalan dengan makna dan tugas jiwa? Tapi bagaimana cara menemukannya.

 Asri Vitaloka.

Saturday, January 31, 2026

Modal Menghadapi 2026

 

Sebut saja kita berhasil melewati tahun 2025. Apa yang sudah kamu lewati? Apa yang sedang dipertaruhkan? Adakah yang merasakan kehilangan, atau malah kebahagiaan? Adakah sesuatu atau seseorang yang sedang kamu ragukan?

Akupun terus merasa ragu bahkan hingga saat kini. Cobalah untuk berhenti sejenak. Sudah sejauh mana sudah bergerak. Sudah seperti apa perjuangan yang telah dilakukan. Apakah sudah membuatmu cukup? Atau malah membuatmu semakin jauh dari apa yang sesungguhnya kau inginkan? Atau justru dirimu tak paham apa yang sebenarnya kau inginkan di hari ini dan di kemudian hari.

6 bulan terakhir 2025

Susah payah kucoba untuk menyimpan, mengingat dan mengemas kenangan indah serta buruk yang bisa terjadi. Kemudian sadar bahkan ingatan tadi pagi saja terkadang tak menempel di pikiranku. Kucoba untuk kembali membuka galeri foto pada henponku dan mencoba mengingat beberapa hal, momen, dan perasaan.

Gejolak baru ya. Aku berpindah (lagi) ke tempat baru, yaitu Labuan Bajo. Berupaya mencoba tinggal dan kerja di tempat yang biasanya tempat berlibur. Berupaya beradaptasi dengan kerjaan baru, dengan upaya menuntaskan tesisku, dan mencoba menghibur diri dengan bepergian ke tempat-tempat. Oke, Boom! Semesta mewujudkan semua dalam satu kedipan yang seakan tak berkedip. Haha..

Dalam setiap perjalanan, kurasa aku mendapatkan beberapa pemahaman dan kucoba untuk mengingat satu per satu ya.

Kudapati diriku berupaya membuat hidup terus berjalan dengan menyisakan sedikit rasa menyesal di akhir hari, akhir minggu, dan bulan. Setiap tahun memberi rasa, upaya, dan perjuangan yang berbeda. Setiap periode memberi kawan dan lawan sebagai pemanis jalan kehidupan. Thankyu, universe.


Tempat Baru ditemani Kenangan Lama.

Ternyata perpisahan memang harus digantikan dengan orang baru (kadang-kadang). Memorinya menempel kuat seakan tak lekang waktu walau hampir tiga tahun lamanya. Bahkan kenangannya tak hanya muncul saat berada di lokasi yang pernah bersama. Ini muncul di tempat yang sama sekali baru, saat sendiri, dan pikiran lain tak sedang hinggap. Luar biasa deh.

Beberapa kisah kasih yang datang, menetap, dan kemudian kembali gagal. Setiap kisah memberi rasa suka sekaligus duka. Bukannya tak pernah ada kebahagiaan yang tak didampingi dengan rasa kepedihan? Apalagi jika masih kuat ketergantunganmu dengan manusia lainnya.

Patut kusadari terkadang orang terakhir memberi kenangan kuat dan susah untuk dilupakan. Terlebih lagi kau terus mengupayakan penganti ditengah momen sembuh yang sedang diupayakan. Begitu indah cinta sekaligus memberi rasa lelah, marah, dan menyedihkan dalam satu rasa.

Tahun baru, hari baru. Kita doakan saja setiap manusia yang berjuang menyembuhkan hatinya segera pulih. Yah, minimal bisa mengurangi rasa pedih serta melanjutkan hidup walaupun sedang berupaya sembuh dalam satu waktu.


Tak Perlu Memaksa Seseorang Pulang.

Sekilas terbersit di ingatanku. Seseorang meminta ijin untuk pulang dan berjumpa dengan orang tuanya. ”Kasih aku pulang dulu ya”, ucap seorang kekasih pada masanya. Aku lupa apa yang kupikirkan saat itu. Rasa ego kuat menjawab cepat untuk tidak mengizinkan. Dan rasa iba justru membuat diriku merasa orang paling kurang di seluruh dunia.

Disaat ada orang yang selalu mengupayakan untuk dekat dengan rumah dan mengupayakan dirinya kembali ke sekitar orang tuanya. Ditengah orang luar mencibir untuk aku agar kembali pulang. Kupahami bahwa tak semua rumah terasa rumah.

Ada beberapa orang yang justru merasa rumah tak aman bagi ketenangan diri dan mentalnya. Ada yang tak aman (benar-benar tidak aman secara real fisik) dan ada juga yang aman secara tempat, namun hatinya selalu dibuat terluka lagi dan lagi. Seakan teriris secara perlahan secara gesture, ucapan, dan perlakuan yang didapatnya.

Setiap sikap penolakan anak atau diri dari rumahnya merupakan sebuah jawaban sikap dan perilaku yang terbentuk dari hasil mendapatkan perlakuan, sikap, dan rasa kurang kasih sayang dalam jangka waktu bertahun-tahun. Jangan pernah berharap pulih dalam hitungan hari bahkan minggu.



Dinginnya Lantai Rumah Justru Membuat Hangat.

Belakangan aku kembali teringat disaat hari tak dipenuhi dengan upaya menjawab Whatsapp secara cepat dan segera. Disaat diri tak berupaya mencari waktu dan mengupayakan jam makan, minum kopi, dan rutinitas lain terjadi dalam satu hari. Tak berupaya mengejar waktu dan segala kesibukan orang dewasa pada usia 30 keatas. Akhirnya, ada momen-momen rindu dan sederhana yang mengundang banyak memori lama.

Kurasakan duduk di lantai dingin dari sebuah kamar kosan yang belakangan baru kutempati sekitar tujuh bulan lamanya. Duduk sambil memegang henpon dan mencoba mencari tempat untuk melipat kaki, serta merengangkan badan. Kemudian, sebuah memori masa sekolah hadir dimana aku duduk di rumah Danau Buyan sambil menunggu Bapak atau Emak membawa sesuatu dari luar rumah. Makanan atau apapun.

Aku tidak bisa menyadari kesibukan diri di usia sekarang tanpa paham lagi berada di fasa sibuk tersebut. Hingga kudapati diriku melihat kawanku yang lain. Dengan wajah tegang (ciri usia 30an keatas) selalu berupaya serius menghadapi kehidupan dengan gelutan dunia politik per-manusia-an ini, dunia keinginan untuk memiliki semuanya. Serta kesibukan segala hal yang di ada-adain.

Tak jarang kita perlu menarik mundur kembali. Berupaya menjadi anak kecil di usia dewasa. Walaupun terkadang tidak juga membuat hidup lebih sederhana, mudah, dan langsung berhasil. Namun, berdebat, berantem, kemudian menangis, dan bisa kembali bermain kemudiannya. Sederhana banget kan masa kecil itu.



Berupaya Meresapi Rasa Sepi-Damai di Usia 30-an.

Jangan pernah meragukan aura orang di usia 30-an dengan segala rasa pahit (kata orang tua dulu) yang sudah dijalani. Aku pernah melihat aura seorang wanita begitu dalam yang diam aja sudah bisa menunjukkan bahwa auranya mahal dan didapatkan dari perjalanan panjang. Perjalanan yang tak hanya memberikan kemenangan tapi juga kekalahan berkali-kali. Kekalahan yang tak hanya datang dari orang luar, tapi juga datang dari dirinya sendiri.

Ia kalah melawan ego dirinya. Ia tak sengaja membuat dirinya yakin telah kalah dengan berbagai hal. Seperti selalu berupaya keras terhadap dirinya, selalu merasa bersalah jika beristirahat, dan merasa yakin segala hal harus diantisipasi dan mencoba menang di semua kesempatan. Hingga akhirnya aura wanita dewasa yang pernah kujumpai seakan memberikan aku bayangan di masa depan bagaimana hasil tempaan semesta hadir untuk membuatmu menjadi seseorang.

Semakin bertambah usia kudapati semakin sedikit lingkar pertemanannya. Bahkan perlu ada pertanyaan ”Apa yang diinginkannya?” saat sedang berada di suatu lingkar pertemanan. Semakin sepi lingkarannya, namun anehnya semakin damai. Sedih pasti. Tapi berkurang dramanya. Wkwkw.



Modal menghadapi 2026 versi Aku.

Belakangan sungguh lelah mencoba membuat orang puas dengan dirimu. Maka, jadilah dirimu sendiri tanpa mencoba merebut hak orang lain. Berupaya memberikan yang terbaik dengan tidak menggadaikan dirimu dari berbagai sisi, seperti kesehatan mental dan fisik. Selalu menyadari peranmu di hidupmu sendiri, karir, dan keluarga. Jika tak bisa ketiganya, aku rasa it’s okay.

Hidup sendiri okay, hidup berdampingan luar biasa. Cukupkan dirimu untuk bisa bersama orang lain. Tak pernah tersesat dan tertukar jalan hidupmu. Tak pernah secara tidak sengaja, orang hadir tanpa tujuan di hidupmu. Tak pernah terlalu terlambat apapun segala keterlambatan dan segala yang hadir lebih dulu.

Modal paling tidak berat versi aku dalam menghadapi 2026 adalah kontrol apapun yang kau bisa kendalikan, seperti respon dirimu terhadap keadaan di luar. Berikan apapun yang ingin diberikan dan simpan secara teratur energi yang tidak seharusnya kau keluarkan. Berharap semua orang merasa dirimu baik adalah hal yang tidak mungkin. Maka jangan pernah percaya dan bertumpu pada yang tidak mungkin.

Jadikan kenangan di masa lalu sebagai fondasi untuk membentuk mental dari kenangan kuat yang sesekali hadir untuk menemani dirimu saat sedang berjuang di masa kini. Rasa tenang dan damai yang pernah terjadi seakan sebagai trailer untuk bisa membentuk rasa damai versi baru di masa kini dan masa depan yang diharapkan.

Kemudian, sekali lagi ucapkan thankyu 2025 dan mari sekali lagi berdiri serta mengupayakan 2026 berjalan dengan damai, aman, serta harmoni. Baik berperan sendiri, atau menjalankan peran pasangan seseorang di kemudian hari. Oiya, next aku akan menceritakan kepergian mendadak ke Eropa bersama beberapa kawan baik yang mendukung kelancaran selama persiapan hingga bisa sampai disana. Don't miss it!

Jangan lupa juga untuk menyimak "Hey, 33" bagi dirimu yang sedang berupaya melewati 33 tahun. Aku menulisnya sebagai seruan dalam tulisan bagaimana aku membuat topik lucu di usiaku ke-33. Mungkin saja ada insight yang serupa bagi dirimu. Enjoy.


Thankyu, Asri Vitaloka.