Saturday, January 31, 2026

Modal Menghadapi 2026

 

Sebut saja kita berhasil melewati tahun 2025. Apa yang sudah kamu lewati? Apa yang sedang dipertaruhkan? Adakah yang merasakan kehilangan, atau malah kebahagiaan? Adakah sesuatu atau seseorang yang sedang kamu ragukan?

Akupun terus merasa ragu bahkan hingga saat kini. Cobalah untuk berhenti sejenak. Sudah sejauh mana sudah bergerak. Sudah seperti apa perjuangan yang telah dilakukan. Apakah sudah membuatmu cukup? Atau malah membuatmu semakin jauh dari apa yang sesungguhnya kau inginkan? Atau justru dirimu tak paham apa yang sebenarnya kau inginkan di hari ini dan di kemudian hari.

6 bulan terakhir 2025

Susah payah kucoba untuk menyimpan, mengingat dan mengemas kenangan indah serta buruk yang bisa terjadi. Kemudian sadar bahkan ingatan tadi pagi saja terkadang tak menempel di pikiranku. Kucoba untuk kembali membuka galeri foto pada henponku dan mencoba mengingat beberapa hal, momen, dan perasaan.

Gejolak baru ya. Aku berpindah (lagi) ke tempat baru, yaitu Labuan Bajo. Berupaya mencoba tinggal dan kerja di tempat yang biasanya tempat berlibur. Berupaya beradaptasi dengan kerjaan baru, dengan upaya menuntaskan tesisku, dan mencoba menghibur diri dengan bepergian ke tempat-tempat. Oke, Boom! Semesta mewujudkan semua dalam satu kedipan yang seakan tak berkedip. Haha..

Dalam setiap perjalanan, kurasa aku mendapatkan beberapa pemahaman dan kucoba untuk mengingat satu per satu ya.

Kudapati diriku berupaya membuat hidup terus berjalan dengan menyisakan sedikit rasa menyesal di akhir hari, akhir minggu, dan bulan. Setiap tahun memberi rasa, upaya, dan perjuangan yang berbeda. Setiap periode memberi kawan dan lawan sebagai pemanis jalan kehidupan. Thankyu, universe.


Tempat Baru ditemani Kenangan Lama.

Ternyata perpisahan memang harus digantikan dengan orang baru (kadang-kadang). Memorinya menempel kuat seakan tak lekang waktu walau hampir tiga tahun lamanya. Bahkan kenangannya tak hanya muncul saat berada di lokasi yang pernah bersama. Ini muncul di tempat yang sama sekali baru, saat sendiri, dan pikiran lain tak sedang hinggap. Luar biasa deh.

Beberapa kisah kasih yang datang, menetap, dan kemudian kembali gagal. Setiap kisah memberi rasa suka sekaligus duka. Bukannya tak pernah ada kebahagiaan yang tak didampingi dengan rasa kepedihan? Apalagi jika masih kuat ketergantunganmu dengan manusia lainnya.

Patut kusadari terkadang orang terakhir memberi kenangan kuat dan susah untuk dilupakan. Terlebih lagi kau terus mengupayakan penganti ditengah momen sembuh yang sedang diupayakan. Begitu indah cinta sekaligus memberi rasa lelah, marah, dan menyedihkan dalam satu rasa.

Tahun baru, hari baru. Kita doakan saja setiap manusia yang berjuang menyembuhkan hatinya segera pulih. Yah, minimal bisa mengurangi rasa pedih serta melanjutkan hidup walaupun sedang berupaya sembuh dalam satu waktu.


Tak Perlu Memaksa Seseorang Pulang.

Sekilas terbersit di ingatanku. Seseorang meminta ijin untuk pulang dan berjumpa dengan orang tuanya. ”Kasih aku pulang dulu ya”, ucap seorang kekasih pada masanya. Aku lupa apa yang kupikirkan saat itu. Rasa ego kuat menjawab cepat untuk tidak mengizinkan. Dan rasa iba justru membuat diriku merasa orang paling kurang di seluruh dunia.

Disaat ada orang yang selalu mengupayakan untuk dekat dengan rumah dan mengupayakan dirinya kembali ke sekitar orang tuanya. Ditengah orang luar mencibir untuk aku agar kembali pulang. Kupahami bahwa tak semua rumah terasa rumah.

Ada beberapa orang yang justru merasa rumah tak aman bagi ketenangan diri dan mentalnya. Ada yang tak aman (benar-benar tidak aman secara real fisik) dan ada juga yang aman secara tempat, namun hatinya selalu dibuat terluka lagi dan lagi. Seakan teriris secara perlahan secara gesture, ucapan, dan perlakuan yang didapatnya.

Setiap sikap penolakan anak atau diri dari rumahnya merupakan sebuah jawaban sikap dan perilaku yang terbentuk dari hasil mendapatkan perlakuan, sikap, dan rasa kurang kasih sayang dalam jangka waktu bertahun-tahun. Jangan pernah berharap pulih dalam hitungan hari bahkan minggu.



Dinginnya Lantai Rumah Justru Membuat Hangat.

Belakangan aku kembali teringat disaat hari tak dipenuhi dengan upaya menjawab Whatsapp secara cepat dan segera. Disaat diri tak berupaya mencari waktu dan mengupayakan jam makan, minum kopi, dan rutinitas lain terjadi dalam satu hari. Tak berupaya mengejar waktu dan segala kesibukan orang dewasa pada usia 30 keatas. Akhirnya, ada momen-momen rindu dan sederhana yang mengundang banyak memori lama.

Kurasakan duduk di lantai dingin dari sebuah kamar kosan yang belakangan baru kutempati sekitar tujuh bulan lamanya. Duduk sambil memegang henpon dan mencoba mencari tempat untuk melipat kaki, serta merengangkan badan. Kemudian, sebuah memori masa sekolah hadir dimana aku duduk di rumah Danau Buyan sambil menunggu Bapak atau Emak membawa sesuatu dari luar rumah. Makanan atau apapun.

Aku tidak bisa menyadari kesibukan diri di usia sekarang tanpa paham lagi berada di fasa sibuk tersebut. Hingga kudapati diriku melihat kawanku yang lain. Dengan wajah tegang (ciri usia 30an keatas) selalu berupaya serius menghadapi kehidupan dengan gelutan dunia politik per-manusia-an ini, dunia keinginan untuk memiliki semuanya. Serta kesibukan segala hal yang di ada-adain.

Tak jarang kita perlu menarik mundur kembali. Berupaya menjadi anak kecil di usia dewasa. Walaupun terkadang tidak juga membuat hidup lebih sederhana, mudah, dan langsung berhasil. Namun, berdebat, berantem, kemudian menangis, dan bisa kembali bermain kemudiannya. Sederhana banget kan masa kecil itu.



Berupaya Meresapi Rasa Sepi-Damai di Usia 30-an.

Jangan pernah meragukan aura orang di usia 30-an dengan segala rasa pahit (kata orang tua dulu) yang sudah dijalani. Aku pernah melihat aura seorang wanita begitu dalam yang diam aja sudah bisa menunjukkan bahwa auranya mahal dan didapatkan dari perjalanan panjang. Perjalanan yang tak hanya memberikan kemenangan tapi juga kekalahan berkali-kali. Kekalahan yang tak hanya datang dari orang luar, tapi juga datang dari dirinya sendiri.

Ia kalah melawan ego dirinya. Ia tak sengaja membuat dirinya yakin telah kalah dengan berbagai hal. Seperti selalu berupaya keras terhadap dirinya, selalu merasa bersalah jika beristirahat, dan merasa yakin segala hal harus diantisipasi dan mencoba menang di semua kesempatan. Hingga akhirnya aura wanita dewasa yang pernah kujumpai seakan memberikan aku bayangan di masa depan bagaimana hasil tempaan semesta hadir untuk membuatmu menjadi seseorang.

Semakin bertambah usia kudapati semakin sedikit lingkar pertemanannya. Bahkan perlu ada pertanyaan ”Apa yang diinginkannya?” saat sedang berada di suatu lingkar pertemanan. Semakin sepi lingkarannya, namun anehnya semakin damai. Sedih pasti. Tapi berkurang dramanya. Wkwkw.



Modal menghadapi 2026 versi Aku.

Belakangan sungguh lelah mencoba membuat orang puas dengan dirimu. Maka, jadilah dirimu sendiri tanpa mencoba merebut hak orang lain. Berupaya memberikan yang terbaik dengan tidak menggadaikan dirimu dari berbagai sisi, seperti kesehatan mental dan fisik. Selalu menyadari peranmu di hidupmu sendiri, karir, dan keluarga. Jika tak bisa ketiganya, aku rasa it’s okay.

Hidup sendiri okay, hidup berdampingan luar biasa. Cukupkan dirimu untuk bisa bersama orang lain. Tak pernah tersesat dan tertukar jalan hidupmu. Tak pernah secara tidak sengaja, orang hadir tanpa tujuan di hidupmu. Tak pernah terlalu terlambat apapun segala keterlambatan dan segala yang hadir lebih dulu.

Modal paling tidak berat versi aku dalam menghadapi 2026 adalah kontrol apapun yang kau bisa kendalikan, seperti respon dirimu terhadap keadaan di luar. Berikan apapun yang ingin diberikan dan simpan secara teratur energi yang tidak seharusnya kau keluarkan. Berharap semua orang merasa dirimu baik adalah hal yang tidak mungkin. Maka jangan pernah percaya dan bertumpu pada yang tidak mungkin.

Kemudian, sekali lagi ucapkan thankyu 2025 dan mari sekali lagi berdiri serta mengupayakan 2026 berjalan dengan damai, aman, serta harmoni. Baik berperan sendiri, atau menjalankan peran pasangan seseorang di kemudian hari. Love.


Thankyu, Asri Vitaloka.


Sunday, October 26, 2025

Hey, 33.

Asri, si batita.

Kusampaikan sepucuk surat buat diriku. “Thankyu, Asri sudah berjuang sejauh ini. Bergerak dengan mode penuh dalam posisi bertahan. Karna ada rasa tak sanggup, namun tetap bergerak. Memilih untuk tidak menyerah dengan cobaan dan ujian yang dicoba-cobain. Tarik napas panjang jika lelah. Bersyukurlah jika ingin menyerah. Dan berupayalah jika tak ingin menyesal. Sudah sejauh ini, sudah tak perlu dipertanyakan lagi. Usahamu sudah luar biasa, silahkan duduk menunggu dan melihat hasil panen terbaikmu.”

Peran wanita single masih mendominasi. Walaupun harapan banyak akan sedikit bergerak menjadi wanita karir dengan partner hidup dan baby-baby lucu dalam sebuah keluarga. Mengelitik sedikit melihat sekitar dengan ingatan,”Oh, ini yang dulu pernah kuinginkan”. So, kusapa dengan lembut usia baru 33 tahun dengan segala dilemma dan romantika dunia “Onty” (aku) belakangan.

Adakah yang berubah?

Yap. Lokasi tempatku tinggal. Labuan bajo akhirnya menjadi tempat ke-4 di Nusa Tenggara Timur. Memberi warna berbeda setelah Kupang, Rote, dan Sumba. Akhirnya kudapati diriku berada di tempat yang dulunya ingin kudatangi lebih dari sekali. Tapi ini bukan tentang tempat.

Aku rasa kita butuh satu titik poin istirahat untuk mengetahui sudah sejauh mana berjalan, sudah sejauh mana perubahan dalam diri, dan akan bepergian kemana setelah ini. Menuju arah hidup yang mana dan seperti apa? Jika sudah mulai mempertanyakan, bisa saja jalan hidup lama sudah tak sejalan dengan jalan hidup di kemudian hari. Ini bisa mengenai kebiasaan, orang sefrekuensi disekitar, atau bahkan setiap pilihan yang dipilih.

Adakah yang berubah? Yap, ada. Setiap kesalahan, kepergian, dan keputusan salah benar di sebelum hari ini telah terjadi. Dan itu terus berupaya merubah pola untuk membuatmu bergerak dan tak hanya memilih sesuatu yang tak tepat di kemudian hari. Membuatmu memiliki pilihan untuk menjadi orang baru di kemudian hari.

 

Apakah yang pernah disesali dengan sangat?

Sudah masuk ke pertanyaan yang mulai menoreh emosi ya. Aku sesali kenapa tidak bisa berdiam diri dengan beberapa orang sama dalam jangka waktu lama. Kusesali diriku hanya punya waktu terbatas. Entah itu orang tua, mantan pasangan, kawan lama, atau partner kerja.

Makin kesini, makin disadari bahwa setiap manusia punya cobaan, ujian, atau rasa baru tidak nyaman yang dihadirkan guna mengubah seseorang dengan sangat patah sehingga menjadi baru dan lebih kuat. Bahkan, pasangan pun tak pernah menjadi kekal dalam waktu. Terkadang cinta yang begitu dalam bisa berubah wujud menjadi asing dan lebih jauh dari musuh bebuyutan.

Nulisnya aja sudah mulai nangis deh. Kezel banget. Ditambah lagi nyambi dengerin lagu Raisa yang lagi potek hatinya sama si Hamish. Jadi, apa yang kusesali? Waktu terbatas dengan keluarga, orang baru rasa keluarga, dan bahkan hubungan yang diakhiri perpisahan dengan tujuan pembelajaran. Dan akhirnya selalu ada awal mula baru lagi, sendirian.

Bagaimana caramu bersyukur hingga hari ini?

Kadang aku mengeluh dengan banyak gaya. Tidak sekali, dan tidak sedikit. Kudapati diriku selalu diingatkan untuk bersyukur. Ada saja cara semesta menyampaikan satu dua hal yang sulit kupahami. Orang asing dan teman lama tak sedikit yang mengucapkan,” Kamu senang ngobrol ya, ramah”, “Positive vibes banget”, “Tidak sedang tertinggal kok”.

Akhirnya kudapati diriku sedang disadarkan bahwa tak sedikitpun yang dilakukan bisa saja memberi dampak bagi orang lain. Tak hanya semua tentang diri ini. Dan tidak sekali kupahami bahwa ada tim, teman, dan sekitar yang membutuhkan energiku.

Kusyukuri dengan sangat apapun yang hadir sebagai penyemangat, pembelajar, atau pemberi arahan. Setiap hal yang sedang dijalani saat ini bisa saja yang kuinginkan dengan sangat di beberapa waktu lalu. Jikapun dapat kesempatan untuk bisa memberikan energi lebih dalam bentuk hal positif, baik itu di lingkungan pekerjaan atau lingkar kecil di sekitarku. Aku akan sangat bersyukur.


Siapakah yang ingin dijumpai di masa depan?

Aku penasaran seperti apa the partner of my life. Adakah orangnya? Siapakah orangnya? Yang siap menjalani hidup berdua untuk bisa saling memberi, menerima, memaafkan, dan memulai kembali. Pernah kudapati momen jatuh cinta dengan sangat, ternyata juga memberikan sakit hati paling parah. Tapi, apakah memang suka selalu disandingkan dengan duka? Jika iya, maka aku rela.

Aku pun percaya tidak pernah ada perasaan bahagia yang begitu dalam jika tak menghadirkan kekecewaan dan kesedihan mendalam di kemudian hari. Ditengah berbagai kisah perpisahan baik di lingkungan dekat maupun di berita ya, masih banyak harapan untuk berjumpa dengan satu orang terkasih dikemudian hari. Love.

Siapakah yang ingin dijumpai? Pasangan hidup yang membuat hidup aman, nyaman, penuh kasih. Tidak menuntut sesuatu yang sama setiap saat. Karna hidup penuh gejolak. Tapi, putuskanlah satu jika sudah memilih dan memiliki seorang pasangan. Dengan harapan sehati dan sekata hingga akhir hayat.

Karena perasaan paling dalam dari cinta sejati tidak bisa hilang, namun dapat berubah wujud dalam perasaan menghargai dengan sangat bahwa pernah mencintai sebegitu dalamnya.


Satu Dua Penyemangat.

“Cinta begitu dalam tidak pernah bisa menghilang, hanya berubah menjadi rasa syukur pernah memberi rasa sedalam itu. Tidak pernah kurang sesuatu dalam diri, dirimu hanya berada bersama seseorang yang tidak ditakdirkan bersama. Semua memiliki cerita dan peran berbeda, jangan pernah berharap memiliki kisah sama. Bahkan orang lain tak jarang menginginkan kisah yang kau Jalani. Tidak perlu menjadi setengah, mantapkan diantara nol dan satu. Ini membuatmu tidak sia-sia atau menyesal dengan keputusanmu. Semua bergerak tidak secara acak. Semua masalah bisa diselesaikan, beberapa hanya perlu waktu untuk selesai”.

Jadi, topik usia 33?

Tidak pernah secara acak dan berantakan sesuatu terjadi dan bersama siapa. Usia 33 tahun menjadi usia yang kuharapkan tidak lagi berlari dengan sangat kencang walaupun masih berlari kecil. Tidak lagi terlalu lelah, walaupun satu dua kali dibutuhkan upaya dengan sangat. Tidak terlalu bergantung pada orang lain, walaupun masih ada harapan ingin bergantung pada seseorang.

Usia 33 tahun menjadi titik tolak sehingga selalu berupaya memilih diri sendiri yang utama kemudian bersyukur jika bisa memberikan dampak kepada orang lain. Tidak pernah bisa memberikan hal baik dan bahagia jika dirimu belum selesai terisi.

Usia menuju matang dengan harapan bisa berjumpa dengan orang-orang sefrekuensi dengan penuh cinta, hangat, dan bersahaja. Di manapun berada. Tidak perlu mengejar banyak hal. Butuh momen cantik, langka dalam perjalanan satu dua kali. Berupaya tidak diam dan tenggelam dalam hal yang tidak bisa diubah. Selalu ceria dan berikan apapun secara maksimal dengan kapasitas yang bisa diberikan. 

Penuh cinta, Asri Vitaloka.


Friday, July 18, 2025

About Love.

 


















About love.

Ada beberapa momen seseorang menorehkan karyanya. Satu, dalam keadaan super sedih. Dua, sedih dikarenakan mau bulanannya. Aku seorang wanita. Yang selalu berupaya menemukan rumah. Diantara beberapa lokasi dan beberapa orang yang datang juga pergi. Semua bergerak dalam sebuah periode hari, bulan, bahkan tahun. Hingga kubayangkan bersama seseorang memiliki batas waktu dan juga garis tutup diakhir penghujung hari. Dalam satu hari entah kapan. Dan itulah yang selalu kupikirkan.

Menjadi seseorang yang selalu terlihat harus kuat dan mengupayakan banyak hal untuk membuat diri merasa pantas. Justru datang dari seseorang yang ingin dianggap sesuatu pada awalnya, kemudian bergerak menjadi entah apa yang kulakukan jika tidak bergerak.

Kuupayakan diriku selalu bergerak membuat senang banyak orang. Hingga kuputuskan untuk menjadi egois dan ngga papa.




















About love.

Tidak hanya satu kali kujalani hidup berdampingan dengan beberapa orang. Satu, bersama seseorang yang kupikirkan akan menemaniku entah untuk apa. Dua, bersama seseorang yang kurasakan rasa kasih dan cintanya. Tiga, hingga kudapati diriku jatuh cintah sangat jatuh hingga terluka cukup parah tanpa darah.

Setiap perpisahan kuakui memiliki rasa sakit beragam dan semakin sakit belakangan. Kemelekatan diantara dua orang, aku dan orang lain. Sesuatu dan seseorang yang kuharap menjadi rumah aman serta kembali. Namun, tidak tercipta. Entah karena aku yang tidak siap menciptakan rumah. Atau orang lain yang belum merasa fit denganku.