Monday, September 16, 2019

Wanita dan 27 Tahunnya Yang Akan Datang.



Hai.

Pernah ada di masa yang lagi galau galaunya sebagai insan umat wanita. Mengenai kapan menikah? Sudah di umur berapa sekarang? Tidak hanya mengenai kapan menikah, kemudian muncul kepenatan-kepenatan di sela-sela sedang meniti karir. Yang kayanya kalau dilihat-lihat sudah habis masa menyenangkannya, dan hanya tersisa orang-orang menyebalkan juga tugas yang tak kunjung habis.

Kesempatan lalu. Lalu banget. Aku iseng aja jalan-jalan sendiri ke Bali. Pengen banget ngerasain jalan sendiri dengan harapan bisa refreshing. Namun, ditengah perjalanan ngga kusangka aku justru menemukan perbincangan sekilas dan tak panjang namun cukup bikin mikir saat itu. Jadi, kucoba mengingat apa aja percakapannya waktu itu ya.

Berusaha Menjadi Asing, Why Not?

Beneran deh, sebelumnya aku mungkin lagi mumet banget ya. Entah masalah percintaan yang ngga kunjung kelar-kelar. Entah kerjaan yang kayanya lagi ribet seribet-ribetnya. Hingga akhirnya kuputuskan untuk menghabiskan waktu beberapa hari di Ubud, Bali. Kucoba untuk memposisikan diriku layaknya backpacker ala bule-bule dan mencoba hal baru yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Kucoba untuk menemukan orang baru diluar lingkaran biasanya dan menjadi asing seasing-asingnya di kota orang. Ini nih seakan lagi melakukan reset kembali sama kehidupan yang sudah terlanjur kau selami. Cobain deh. Silahkan lakukan itu sekali-kali. Walaupun tak jarang kau akan tersesat dan menyerah. Namun paling tidak kamu sudah mencoba hal baru.

Diperjalanan aku bertemu dengan beberapa bule wanita yang melakukan perjalanan sendiri dan mereka memilih Bali yang jelas-jelas jaraknya tidak dekat dengan negara mereka lo ya. Kok mau? Kenapa berani?


Kupelajari bahwa mereka menjadi asing di negara orang dan berani untuk menjadi asing. Beranilah untuk mengambil momen asing di hidupmu, dengan begitu kau akan dapat melihat sesuatu dari sudut pandang berbeda dari biasanya.

Hai, Nice To Meet You.

Ceritanya karna budget terbatas dan aku cuma pergi sendirian. Akhirnya kuputuskan untuk menginap di salah satu hotel capsule di Ubud. Disana aku satu kamar dengan bule-bule. Kebanyakan datang dari Jerman atau Perancis gitu.

Beberapa kali aku bertemu tak sengaja di toilet dengan salah satu bule cantik asal Perancis. Lirik-lirik pengen nyapa tapi serem karena asli mukanya cantik-cantik galak. Eh, pas senyum dia malah bilang, ”Hai”. Jadi saling nyapa deh. Percakapan yang tidak panjang dan sekedar mengucap kalimat basa basi, tapi selalu berakhir dengan kata-kata, ”Nice To Meet You”. Dan, aku selalu suka dengan bagian itu. Ini seakan kami saling menyukai setiap pertemuan dengan orang yang baru dikenal. Lalu berharap apapun yang ditinggalkan dari setiap pertemuan akan menimbulkan kesan menyenangkan.


Kita ngga pernah bisa mengatur akan bertemu dengan siapa. Cukup ucapkan,”Hai, Nice To Meet You” dan berharap semua akan baik-baik saja. Jika tidak, berarti itu kondisi terbaik untukmu yang harus terjadi di saat itu.

Apa Kamu Ngga Takut?

Salah satu momen di ruang tamu bersama hotel capsule, aku bertemu dengan Jessica. Bule wanita yang sengaja datang dari negara seberang untuk mengunjungi Bali. Dan kembali aku bertanya,”Apa kamu tidak takut?”. Dia menjawab dengan mantap. Tidak ada yang perlu ditakutkan untuk datang ke Bali. Jessica merasa cukup aman untuk bepergian sendirian.

Ditengah paradigma bahwa wanita itu harus takut jika bepergian sendirian dan dilarang pergi jauh dikarenakan keselamatan. Hmm, justru berbanding terbalik dengan kondisi Jessica. Ia hanya seorang diri bepergian ke tempat asing dan berusaha melakukan apapun yang mereka suka.

Menjadi wanita selalu tidak pernah mudah. Berusaha menemukan jati diri, namun tidak memiliki ruang bebas dalam bergerak. Berusaha ditakuti dengan banyak hal, yang sesungguhnya tidak ada apa-apanya. Kita hanya takut, kemudian tidak melakukan apa-apa.

Kalau aku lebih takut tidak mencoba dan mati penasaran karna belum tau seperti apa pengalamannya.

Sendiri Bukan Takdir, Itu Pilihan.

Beberapa bule wanita yang kutemui kurasa bukan lagi a teenager anymore ya. Tapi mereka bepergian sendirian tanpa pasangan di sebelahnya. Terlihat more strong than wanita lainnya. Ah, seakan memberi ruang buat bertanya, “Kenapa sih kamu sendirian?”. Apa mereka enjoy ya?
 
Bukan menjadi rahasia ya. Wanita dengan budaya timur selalu dicekokin untuk menikah di usia yang pas kalau sudah 27 tahun belum nikah mah udah lah ya. Jangan harap hidup kalian tenang dengan pertanyaan mana pasangannya. Ngga sedikit beberapa kawan yang kutemui mengalami masalah dengan situasi “belum menikah” entah di lingkungan pertemanan dan bahkan keluarga mereka sendiri.

Hingga saat aku naik pesawat dan duduk dengan satu bule wanita yang berbeda dan kutanyakanlah mengenai wanita dan pernikahan. Dan disinilah kudapati diriku mendapatkan jawaban yang jauh berbeda dari sebagian besar jawaban orang yang pernah kutanyai pendapatnya.


Kira-kira bule wanita itu berkata bahwa pernikahan adalah sebuah privasi yang tidak dapat diukur dengan usia. Sebuah kebebasan jika anda memilih untuk hidup sendiri dulu atau memilih berpasangan. Dan keluargaku tidak mempermasalahkan hal seperti itu. 
Nahlo, syurga kan? Haha.

So, What You Get Asri?

So, what i get? Sampling percakapanku dengan orang-orang asing sedikit membuka pola pikirku. Tidak ada yang salah dengan pilihan hidup seseorang. Hiduplah dengan bagaimana anda melihat sudut pandang hidup dari kacamata anda, bukan orang lain. Menjadi berbeda bukan berarti ada sesuatu yang salah. Jika terlalu keruh untuk mencari jawaban di situasi anda saat ini maka bepergianlah dan menjadi asing. Siapa tau anda dapat melihat sudut pandang lain yang berbeda.

Tak perlu khawatir dengan orang-orang yang hadir silih berganti. Mereka bisa membawa bahagia juga kesedihan. Asalkan jangan lupa mengatakan,”Hai, Nice To Meet You” di awal pertemuan kalian. Siapa yang menyangka dia akan menjadi mantan atau soulmate kamu kan. Yah, syukur-syukur jadi pasangan sehati yang akan menemanimu di sisa harimu.

Ampun, mello!

Dan satu. Diluar sana, banyak wanita strong yang seakan tak butuh pasangan dan mereka aman untuk menentukan pilihan akan berjalan sendiri atau mencari sosok pasangan. Semua kembali pada dirimu sendiri. Karena itu privasi diri yang bahkan keluargapun tak punya hak untuk menentukan apakah seseorang memutuskan untuk sendiri atau berpasangan. Seakan menikmati hidup tanpa beban dengan apapun situasinya.

Gituh!
 
Ah, udah lah ya. Itu dia beberapa percakapanku dengan bule-bule ketjeh cantik. Lumayan menambah pengalamanku dalam menghadapi usia 27 tahun di bulan depan. Ayo berjalan, mari menikmati, dan memutuskan jalan hidup seperti apa yang akan kamu pilih!

Asri Vitaloka | coming soon 27 years old.

Next! Aku coba share beberapa jalan-jalanku yang kaya mau perpisahan di Rote. Pernah denger tentang Telaga Nirwana? Nah, kucoba untuk bahas sedikit di tulisan aku selanjutnya ya. Sampai jumpa lagi! Cheers!

No comments:

Post a Comment