Thursday, April 18, 2019

Rasaku Ikut Pemilu di Selatan Indonesia

sudut potret pelabuhan Ba'a, Rote

Pertama kali nyoblos dalam pemilu Indonesia 2019 di pulau paling selatan Indonesia, yaitu Rote Ndao. Kebayang kaya apa mules dan deg-degannya?

Dari sekian banyak pro kontra akan memilih 01 atau 02, kubulatkan tekadku untuk tetap memilih salah satu diantara mereka. Paling tidak aku sudah mendapatkan satu hak dan juga kewajibanku untuk ikut bersuara untuk Indonesia dalam 5 tahun kedepannya. Nah, bedanya situasinya bukan di dekat rumah melainkan pulau paling selatan Indonesia. Jadi, aku mau share sedikit gimana sih perasaanku mengenai pemilu kemarin. Bukan perasaan tentang ebeb lo ya.

Pertamax Gan!

Kalian ngga akan bayangkan. Mau berangkat kantor aja bangunnya susah setengah mati. Tapi, demi memberikan satu suara berarti di Rote aku rela bangun jam 5 pagi. Mandi baru jam 6.15 sih. Demi hanya untuk merasakan sensasi men-coblos pertama kali seumur hidupku. Jadilah aku sudah di tempat pemilihan jam 7 teng! Jam 7 guys!

Drama Ga Terjadi Hanya di Korea, tapi ditempat TPS.

Awalnya si aku rada ngga percaya diri bisa nyoblos di 17 April 2019 kemarin. Tapi kunekatin aja pergi ke KPU sekitar seminggu sebelum pemilihan hanya untuk memastikan diriku dapat nyoblos di 17 April ini. Dan singkat cerita aku berhasil memegang surat A5. Surat sakti yang membuat namaku masuk dalam kategori DPTB (daftar pemilih tambahan) kira kira gitu singkatannya.

Sudah yakin banget bisa milih di hari pemilihan dari jam 7 pagi. Eh, ternyata bapak-bapak ketua TPS nya nyuru aku dating lagi jam 12. Rasanya kek miris kek mana gitu. Gagal sia-sia bangun pagi jam 5 pagiku. Hahaha…
3x Bolak-Balik TPS.

Perjalanan memilihku pertama kali ternyata tidak semulus bayanganku. Bangun pagi, dating ke TPS, nyoblos, nyelup jari ketinta, dan posting. Tetep yak kaum milenials!

Aku harus merasakan ditolak dua kali oleh pihak TPS dikarenakan surat A5 yang seharusnya masuk dalam DPTB dianggap masuk ke kategori DPK atau pemilih khusus yang tak terdaftar KTPnya. Patah hati berbie kemana-mana. Sampai drama pake ngomelin pihak TPS, kemudian balik ke KPU untuk bertanya seperti apa seharusnya. Baru akhirnya setelah perjalanan ketiga ke TPS baru aku disambut senyum hangat buat dikasi kesempatan nyoblos di jam 10 pagi. Rada agak-agak malas si ya..

Satu Suara Sangat Berarti.
 
Terlepas dari begitu ngga terkenalnya Asri Vitaloka, aku mulai sadar sesuatu. Begitu tidak pedulinya aku sebagai warga Negara dan entah berkontribusi apa aku sebagai diriku dalam sebuah Negara. Namun, jika ada kesempatan untuk menyuarakan satu pilihan saja. Rasanya ngga etis kalau kita melewatkan.

Mungkin ngga sedikit orang diluar sana yang ngga peduli mengenai pemilu 2019. Tapi ada juga yang perhatian banget dengan nasib Indonesia dalam 5 tahun kedepannya. Dan aku berusaha untuk menjadi satu dari sebagian kecil orang yang ingin memberikan suaranya.

Aku ga mau menjadi satu orang yang menjawab,”Aku belum pernah ikut pemilu sekalipun dalam hidupku!”. Entar kalau mati di tahun ke-4 setelah pemilu? Gimana? Ngga pernah nyoblos, ngga pernah rasainya pake tinta di kelingking. Duh, ngga mau ya aku.

Pro Kontra di Media Sesungguhnya Bikin Bingung.

Aku berpendapat makin banyak tau malah bikin makin pusing. Tapi ngga tau-tau banget juga bakal bikin kamu tersesat. Ngga lama sebelum pemilu aku juga sempat melihat sekilas mengenai berita seputar pilpres 01/02 dan jujur kutak sanggup menerima semua berita. Alias gagal paham sis.
Jadi, kuputuskan cap cip cup aja pas milih kemarin. Eh? Ya, ngga lah ya. Aku sih milih pak De ya karena bukan berarti menolak Prabowo, hanya saja satu-satunya presiden yang kurasa menyentuh segala lini dalam Negara baru ada di jaman Joko Widodo. Sementara Prabowo aku sungguh tak paham. Makanya ada pepatah tak kenal maka tak sayang. Jadi, kubelum sayang. Loh?

Jangan harap aku bakal bahas tentang kerennya 01 atau 02. Namun, pendapatku jika diharuskan memilih pemimpin Negara dengan segala pro kontra di media adalah tidak ada pemimpin yang sempurna dalam memimpin. Akan ada kelebihan kekurangan yang akan ditunjukan. Yah, syukur-syukur kalau punya pemimpin yang hampir sempurna. Hanya saja, aku bilang ya mimpin arisan aja ngga mudah apalagi mimpin Negara. Pemimpin Negara juga bisa bagus kalau punya pendukung yang luar biasa. Jadi, kita berharap saja tidak terlalu banyak kepentingan personal dan semoga saja Indonesia makin mantap kedepannya.

Yolo, umum kali bahasa kau Asri.

Jadi, mari “IYA” untuk Indonesia.

Tidak hanya kuputuskan “Iya” aku memilih hanya karena keren aja milih di pulau Rote, pulau paling selatan Indonesia. Namun akhirnya kuputuskan untuk ikut “Iya” aku memilih peduli pada negaraku. Paling tidak kontribusi paling sederhanaku dengan ikut melakukan penyoblosan dan ikutan gerakan hastag #antigolputgolputday. 



Tidaklah sederhana untuk dapat berkontribusi buat Negara. Harus nyaleg dulu? Harus jadi presiden dulu? Sampai mati juga kurasa ngga akan dapat kesempatan. Hanya saja, dengan pergi ke TPS dan memberikan satu suara untuk Indonesia, anda sudah menjadi satu bagian dari pergerakan Indonesia kedepannya. Bukan bagian kita untuk memikirkan akan dibawa kemana Indonesia. Tapi kuusahakan untuk tak melewatkan satu kesempatan menjadi bagian dari “akan dibawa kemana Indonesia?”.

Jadi, ya kuputuskan untuk “Iya” dalam mendukung Indonesia. Entah dari pulau paling selatan Indonesia atau dari manapun nanti kuakan berada.
 Asri Vitaloka

No comments:

Post a Comment