Friday, March 22, 2019

Perpisahan, Titik.

ngga pake koma si ya. 

Sudah lama ya aku ngga nulis di tahun 2019. Sama sekali ngga ada tulisan. Tidak ada perjalanan yang memang jalan-jalan. Semua dilakukan tanpa sengaja. Ada memberi makna, namun tidak punya banyak gairah untuk dituliskan dalam sebuah tulisan. Hingga akhirnya aku mencoba untuk menulis tulisan “Perpisahan, Titik”. Ya, titik. Tanpa koma. 

Kok bisa sedang galau? Atau patah hati? Mungkin ya, sebagian tidak. Anggap saja ini cuap-cuapanku di tahun baru. Nanti dosa aja kenapa ngga ada tulisan di tahun 2019. Jadi mari kembali menorah sebuah cerita yang siapa tau bisa mencolek sebagian khalayak yang baca. Kuharap tidak menyakiti hati beberapa orang yang memutuskan untuk membaca ini.

Perpisahan, titik. Sebuah judul yang kurasa cukup untuk menggambarkan seperti apa situasi yang diharapkan namun tak mudah di lakukan. Siapapun dapat menilai dengan mudah. Banyak pengingat disekitar yang sudah kau abaikan, demi kebahagiaan semu seperti kata orang. Sesekali rasanya ingin percaya apa kata orang. Tapi terlalu lelah untuk menepis. Hingga akhirnya kuputuskan menyerah dan aku percaya.

Percaya dulu aja deh!

Pernah melihat tulisanku mengenai “Pasangan Beda Agama”? Alih-alih percaya pada apa yang kuyakini, kemudian kuputuskan menyerah. Awalnya aku hanya percaya dan memutuskan masa bodo dengan banyak apa kata orang. Kujalani hidupku seakan musik dangdut ada di setiap langkah. Yah, walaupun menggerutu tetap ya dan ngga mungkin goyang pinggul tiap saat. Intinya kunikmati apapun perasaan yang ada saat itu.

Keliatan kan masa bodoku. 
Beneran nih masa bodo. Percaya bisa?

Kok kaya ada yang kurang pas.

Pernah ngerasa kaya pergi kemana terus berasa lupa sesuatu tapi ngga ingat? Yah, kurang lebih perasaannya kaya gitu. Ada yang hilang tapi ngga tau apa. Hingga akhirnya aku tau ada yang ngga beres. Kucoba untuk menikmati hidup, berusaha melanjutkan kisah bahagia yang setiap hari kupupuk. Tanpa mengindahkan perasaan hilang sebagian. Gitu, tau kan? Kaya ada yang ngga beres tapi ngga tau apaan.

 Itu tuh bukan topiku! Punya bli Made..


Kuputuskan diam sejenak.

Pas kamu ngga tau mau kemana? Dan mulai bingung dengan tulisan ini karena penulis ngga nulis secara gamblang mengenai patah hatinya. Tapi intinya kuputuskan untuk diam sejenak untuk melihat posisiku berdiri. Melihat kompas dan berusaha menemukan arah yang tepat. Yah, maksudku mikir gitu lo. Ngasi waktu ke badan dan pikiran buat melihat situasi sesungguhnya saat ini.


Kaki-kaki yang keliatan mungil, aslinya mah bengkak keleus ih!

Dan saatku bergerak ke suatu arah.

Aha! Sejenis memutuskan kau melihat arahku namun tak mengijinkanmu melihat arah kakiku. Ikutlah jika kau ingin dan menjauhlah jika itu sudah seharusnya. Bergerak ke suatu arah berarti memutuskan sesuatu. Kalau sudah diputuskan maka semua orang pun tau jawabannya, kecuali aku. Haha, arahku namun aku sendiri tak tau hingga satu keputusan dibuat. Keputusan dimana ini akan menjadi waktuku bergerak ke suatu arah yang ternyata membuatku harus memilih hari di masa depan tanpa seseorang.


Aku lo sementara senyum, keliatan ngga garis bibirku?

Arah yang ternyata berlawanan dengan arahmu, sorry.

Kuputuskan menjauh dikarenakan aku terlalu takut dengan Tuhanku. Aku terlalu takut untuk bahagia ditengah situasi yang mungkin membuat orang lain tidak bahagia. Maaf sadar terlalu lama. Harusnya bergerak lebih cepat dari saat ini. Tapi tenang aku tidak menjauh secara fisik, hanya saja jelas diinfokan bahwa arahku berbeda. Kaya mau pergi travelling bareng namun beli tiketnya dengan tujuan dan waktu yang berbeda. Padahal awalnya janjian. Sad.
 
Bak model salah arah dengan tangan kemana-mana..

Situasinya: Perpisahan, titik.

Aku selalu penasaran dengan ending cerita. Tapi rasanya aku sudah sampai di akhir bab. Atau malah klimaks cerita ya? Entah deh ya. Tapi mungkin perpisahan secara visi misi sudah diputuskan. Silahkan tetap berada di sekitarku dan tetap ijinkan untuk berada di sekitarmu. Entah menyakitkan atau malah masih membuatmu bahagia. Kuakui situasinya kini semakin jelas. Perpisahan, titik.

 Aku, Asri Vitaloka.

Biarkan dengan segala akhir yang diketahui ujungnya. Jangan membuatnya abu-abu kalau kau ingin berwarna. Jangan tambahkan putih, itu akan berlawanan. Sebaliknya percaya dirilah menambahkan warna hitam, tentunya lebih menyenangkan.

Pahit, jelas, namun lebih nyata. Dibandingkan harus abu-abu dengan segala harapan tanpa akhir yang jelas. Berusaha memberi makna, namun tak ada makna. Tapi apapun yang terjadi, semua perasaan suka duka bahagia akan selalu menjadi satu kisah nyata yang tidak bisa digambarkan. Jika diberikan kesempatan untuk mengulang? Aku akan tetap memilih hal yang sama, walaupun endingnya sama.

Ngga papa kok. Lebih bersyukur masih diberikan perasaan cinta dibandingkan tak merasakan sama sekali. Tidak ada orang yang salah. Ini hanya situasi yang tidak tepat. Mohon maaf untuk hati yang disakiti. Tak ada maksud. Terkadang sesuatu hadir tanpa bisa diberikan penjelasan.
Wahai pelaku kehidupan, terima saja. Inilah situasinya: Perpisahan, titik.

Calon penulis : Asri Vitaloka
Maxx Coffe, Kupang / 2019
Karya cameramen handal asal Bali, Bli Made (Fujifilm XT100)

No comments:

Post a Comment