Sunday, August 20, 2017

Siapa yang bisa menolak Bandung?

 
 aku sih ngga bisa nolak Bandung

Lama waktu yang diperlukan untuk tau “Siapa diri kamu sebenarnya?” dan “Apa passion kamu sebenarnya?”. Untuk seseorang yang tak peduli, maka akan menghabiskan waktunya sesuai dengan apa yang terjadi disekitarnya. Diperlukan waktu sendiri, waktu merantau, menjajaki masa kuliah, hingga akhirnya memiliki kesempatan untuk dapat melakukan apapun yang kau inginkan. Kau yang berpikir, kau yang melakukan, dan silahkan bertanggung jawab dalam setiap mimpi, dan passion yang ingin diwujudkan.

Mendapatkan sebuah kesempatan untuk kembali ke Bandung. Dalam status yang berbeda, tak lagi memiliki kewajiban pada orang tua untuk membuatnya bangga sebagai lulusan mahasiswi sebuah perguruan tinggi swata. Kini kembali dalam aura, situasi, dan napas berbeda. Sebagai seseorang yang nyata yang ingin mengenang masa-masa pembentukan dirinya. Masa sebagai seorang anak yang baru merasakan keluar dari rumah. 

Weekend lalu kesempatan buat aku mengenang Bandung dari sisi berbeda. Beberapa tempat udah masuk list biar ngga lupa semenjak menyentuh kota itu. Yang pastinya harus sentuh kampus dan kosan lucu yang udah nemenin sekitar hampir 3,5 tahun lamanya.

 satu sudut penuh warna Bandung

Nah, sedikit waktu sebelum meninggalkan Bandung. Aku ada sedikit keinginan untuk bisa kembali dan sekedar mengenang kembali indahnya masa kuliah. Sekedar merasakan kembali kota Bandung tanpa rasa dikejar tugas akhir kuliah, tanpa takut terjebak macet dan ngga kembali tepat waktu untuk mata kuliah tertentu. Pokoknya dalam keadaan bebas.

1.     Kembali Rasakan Batagor Khas Bandung

CMIIW banget nih ya. Aku taunya beberapa makanan khas kota dingin ini, yah Batagor, ada Surabi, ada tahu gejrot. Dan masih banyak lainnya. Tapi makanan terpilih adalah Batagor & Siomay Kingsley!!!

Batagor Kingsley men, sapa berani?

Kaya ngga ada aja di luar Bandung yak? Pokoknya harus cobain, harganya mayan. Aku ngga tau sih mana batagor yang lebih enak kalau di Bandung. Pernah denger, muncul di map, sung deh disamperin! Hahahaha… 

Catatan aku ya!
Ada seorang selebram si Harival namanya. Dia memberikan info kalau mau nongkrong murah meriah dengan nuansa outdoor kamu bisa kunjungi Pasar Cisangkuy. Untuk nyicipin kuliner Bandung juga ngga perlu keliling cukup datang kesana kamu sudah bisa mencicipi banyak makanan. Hingga makanan steak juga dijual lo ya.  

2.      Sudah Sekilas Kuliner, Cuss Tangkuban Perahu

Dari sekian banyak pilihan yang bisa didatangi. Aku memilih Tangkuban Perahu sebagai lokasi alam satu-satunya yang akan didatangi. Sebenarnya banyak yang dapat didatangi, seperti kami melewati Rumah Miring, Farm House, Maribaya, dan lainnya. Tapi rame banget dan kaya pasar. Baru mau parkir aja sudah kalah sama massa yang baru keluar dari bus.

 hijaunya ya

 jangan tergoda dengan suhu dinginnya ya, ini panas juga lo
Begitu sampai Tangkuban Perahu, mata anda akan disajikan sebuah perjalanan dengan pemandangan hutan, kabut atau asap belerang, bau menyengat dari kawah, dan beberapa titik point wisata alam yang dapat dikunjungi. 

 kabut atau belerang?

bahagia gitu deh

 sok lu gaya selebgram

Catatan aku!
Disana ada banyak jualan mie instan, aksesoris oleh-oleh, dan ngga perlu khawatir kalau mau ibadah bagi Muslim karena ada Masjid besar disana. Perhatikan untuk membawa masker sendiri kalau tidak kuat dengan bau belerangnya ya. 

mie instan rasa view hutan sekitar

kalau cerobong asap suka suasana berasap

3.      Doyan Film Sherina ngga? Mampir Boscha kalau gitu!

Ini film kesukaan banget jaman SD atau TK? Diputar terus sampe elek pokoknya ya. Nah, liat-liat di map ternyata sejalan dengan arah pulang. Maka mampirlah kami menuju Boscha Observatory, ITB punya cuy. Aku baru tau!

udah mirip Sherina belum?

 udah ada semenjak 1932 

Biayanya murah kok cuma 15K, dan aku GRATIS. Seneng ya? Ngga bayar. Yaiyalah, orang sudah tutu psi Boscha. Jadi dengan penuh kecewa cuma bisa minta ijin berputar dan berfoto didepan gedungnya yang khas. Tempatnya si Sherina dulu lari-larian di filmnya yang berjudul “Petualangan Sherina”.

Catatan aku ya!
Kalau mau kesana bisa dapat informasi lewat http://bosscha.itb.ac.id/in/kunjungan dan ditutup di hari-hari tertentu. Mending searching dulu pokoknya di internet, kapan aja bukanya ya. Disekitar sana instagramable si dan ada took souvenir juga yang bangunannya lucu banget. Oiya, info dari bapak Satpam kalau di Kupang juga akan dibangun Boscha ala Kupang dan bisa di remote lewat Boscha Bandung. Semoga segera realisasi!!

toko souvenir buat beli buku

 gaya amat lu tong!

4.      Ingat Jaman Pacaran ke Pura Secapa AD (Religi amat yak)

Nah, kebetulan aku mau pencitraan dikit. Eh? Hahaha.. Waktu jaman kuliah aku pernah mengunjungi beberapa pura di Bandung dan menurut aku situasi Pura yang lokasi di Cihampelas dalam daerah TNI Secapa AD paling adem. Mungkin karena ditengah kota ya. Enak banget. 

 tenang banget ya...

Ada sebuah tempat semacam perpustakaan pribadi dengan buku-buku beraneka macam. Menggunakan konsep rumah tinggal dengan ruang tamu dan kamar namun disulap menjadi tempat pajangan buku-buku.

Bisa juga menyajikan makanan berat dan ringan untuk sekedar menikmati halaman belakang rumah tersebut. Namanya Kineruku. Buat yang penat dengan situasi macet jalanan atau pusingnya situasi kampus, kamu bisa nenangin diri disitu. Bener.

Kineruku
Catatan aku ya!
Dari belokan jalan Cihampelas sampai menuju pura Secapa AD ada rumah-rumah mewah bergaya alam dan bisa dijadikan rule model buat kamu yang pengen bikin rumah mewah atau sederhana tapi berkonsep alam. Lucu deh!

5.      Lewatin Pasupati jadi ingat…

Inget-inget jaman kuliah lampau waktu lagi naik daun pake sepeda apa ya namanya? Sepeda yang macam sepeda ontel tuh. Aih! Itu deh. Aku kena tipu yang dikira cuma naik sepeda keliling kampus. Eh, ternyata aku harus ngayuh sepeda dari kabupaten Dayeuh Kolot sampai ke Pasteur. Mati ngga tuh? 

hadiah : view seger, adem, ketjeh
Catatan aku ya!
Melihat sebuah kota Metropolitan emang paling bagus di tengah malam hingga subuh dimana kepadatan kendaraan sudah berkurang dan kamu bisa menikmati kota dengan cahaya lampu berpedar dimana-mana.
 Tapi hati-hati ya, dulu masih banyak geng motor tidak bertanggung jawab yang kabarnya sekarang sudah mulai berkurang di jaman bapak Ridwan Kamil! Akang ketjeh penguasa Bandung noh.

jalan layang Pasupati
 
6.      Kubangun Masa Depan semanjak di Dayeuh Kolot

Awalnya kurasa memulai cerita perjalanan semenjak berada di Kupang. Namun, tak kusadari kalau tidak kuliah di Universitas Telkom maka tak akan ada namanya masuk PLN. Bahkan mungkin bisa diragukan ada kesempatan untuk dapat menikmati kisah-kisah perjalanan hingga ke NTT ini.

tempat treadmillku dulu (kampus-kosan)

 hai, kampus biru jadi merah

 teteh aunch, penjaga puri Damai

Jaman kuliah hingga lulus aku terus fokus mencari apa yang sebenarnya aku inginkan dan bisa menjadi tujuan hidup yang bisa bikin greget! Akhirnya kuputuskan untuk menyukai tulisan.

Dimulai dari sebuah tulisan berjudul “First”, “Seorang Kawan Jimmi”, dan rencananya aku akan bikin sebuah kumpulan cerita yang mengambarkan banyak warna-warni selama menuntaskan job seeker dan mengembara di Nusa Tenggara Timur. Semoga aja bisa kesampaian sebelum aku ulang tahun ya.

Catatan aku ya!
Memulai kuliah elektro di 2010, lulus di 2014 awal, dan sempat menghabiskan waktu di Jakarta selama setahun. Hingga akhirnya saat ini menepi sementara di Kota penuh Kasih Kupang untuk menemukan semakin banyak orang, pengalaman, dan warna-warni kehidupan. Terimakasih Tuhan.

 maba, ini kakak ya bukan tante.

7.      Eiger Deui!

Habis galau dengan situasi Dayeuh Kolot? Maka sampailah perjalanan menuju Eiger. Maklum ya, di Kupang cuma satu dan akhirnya masuk juga di beberapa Eiger di Bandung. Nah, apalagi Eiger katanya asalnya dari Bandung ya? Yaudah deh sekalian liat-liat barang ketjeh dan bawa pulang.

love love orange jus

 selow dulu yaw!

8.      Keliling Kota

Perjalanan singkat dua hari di Bandung sudah cukup mengenang masa-masa indah semenjak kuliah. Beberapa tempat bersejarah yang pernah menghiasi hari juga sudah didatangi.

Tempatnya masih sama, tapi orangnya sudah berbeda. Sebelum mengejar waktu untuk boarding ke Lombok? Aku sempat mengunjungi beberapa wisata kota, seperti jalan Asia Afrika yang fundamental dan penuh dengan sejarah, terus pusat keramaian Alun-Alun yang terdapat rumput sintentis jadi hijau dimana-mana, dan sempat ngeliatin kantor PLN yang mungil diantara gedung-gedung tinggi kantor tetangga.

gedung sate yang ngga jual sate

 gedung Asia Afrika

kukayuh sepeda hingga kerumahmu ya

 rumput sintetis ditengah kota (leh uga)

Catatan aku ya!
Keliling kota Bandung pas weekend sebenarnya ngga terlalu pas. Jadi perhitungkan waktu yang pas. Mungkin di weekdays dan diluar jam berangkat atau pulang kantor ya. Untuk keliling Bandung kemarin hanya menggunakan sepeda motor sewaan selama dua hari sebesar 190K ditambah antar jemout hotel di Pasteur 20K. Seru kan?

 resapi, quote kehidupan!

Mungkin tidak sedikit anak muda yang pernah memiliki nilai-nilai penting selama berada di Kota dingin Bandung. Kota penuh cita, penuh kreatifitas, dan syarat dengan jiwa anak muda. Apalagi dengan bapak Ridwan Kamil yang bikin banyak taman lucu, bertema di seluruh penjuru kota. Bandung semakin menyenangkan dan enak untuk ditinggal, tentunya dengan melupakan macet di weekend ya.

Tapi, emang Bandung sebenarnya titik awal aku mulai mengenal dunia. Tekad besar berubah. Semenjak selesai membuat keinginan orang tua terwujud hingga berhasil mendapatkan pekerjaan yang mapan. Kini, saatnya mulai mengarahkan apa yang kau inginkan. Bandung pernah menjadi saksi titik perjuangan untuk bisa lulus, tempat menemukan bakad terpendam sebagai cenayang (eh,becanda), dan juga saksi bisu kisah cinta anak mahasiswa.

***

Kini? Terimakasih Bandung untuk semua cerita indah, haru, dan menyedihkan. Penuh suka cita juga duka. Tapi, itulah hidup. Tak akan terus berwarna cerah secerah biru awan, kadang harus mendung, bahkan turun hujan agar bisa menampilkan lebih banyak warna-warni pelangi dikemudian hari.

Asri Vitaloka | @asri_vitaloka | asrivitaloka@gmail.com

No comments:

Post a Comment